(Refleksi atas Kitab Syarḥul Īmān halaman 297 karya KH. Ahmad Rifa’i)
قال ابن عباس: إنّ الله جعل الدنيا ثلاثة أجزاء، جزءٌ للمؤمن وجزءٌ للمنافق وجزءٌ للكافر، فالمؤمن يتزوّد والمنافق يتزيّن والكافر يتمتّع
Saktuhune Allah ta’ala iku ndade’aken ing dunyo tetelu sekehe juz, sawiji juz kaduwe sekehe wong mukmin, lan sawiji juz kaduwe sekehe wong munafik, lan sawiji juz kaduwe sekehe wong kafir dhohir lan batin. Mongko kelakuhane wong mukmin angalap ingdalem dunyo sangu kang dadi manfa’at ingdalem akhirat, lan wong munafiq kelakuhane ingdalem dunyo iku pepahes ibadah ugo kerono kabecikan dunyo beloko, lan wong kafir nyoto kelakuhane ingdalem dunyo angalap suko-suko seneng.
Kita hidup di dunia yang sama, menikmati fasilitas yang serupa, dan menjalani aktivitas yang hampir mirip. Namun, menurut Ibnu Abbas—sebagaimana dijelaskan kembali oleh K.H. Ahmad Rifa’i—nilai dunia tidak ditentukan oleh bentuknya, tetapi oleh cara kita memakainya.
Orang Beriman: Dunia sebagai Bekal
Bagi orang beriman, dunia bukan tujuan akhir. Ia bekerja, belajar, dan beribadah sambil menata niat: apa yang aku lakukan hari ini harus punya arti untuk akhirat. Harta dicari secukupnya, jabatan dijalani seperlunya, dan kesenangan dinikmati tanpa lupa batas.
Dunia dipakai, bukan dipuja.
Orang Munafiq: Dunia sebagai Panggung
Orang munafiq masih beribadah, bahkan terlihat rajin. Namun ibadahnya lebih sering menjadi hiasan. Amal baik dilakukan selama mendatangkan pujian, popularitas, atau keuntungan. Ketika tidak lagi menguntungkan, ibadah pun terasa berat.
Di sini kita diingatkan: tidak semua amal yang tampak baik benar-benar bernilai di sisi Allah.
Orang Kafir: Dunia sebagai Tujuan
Bagi orang kafir, dunia adalah segalanya. Hidup diukur dari seberapa banyak kesenangan yang diraih. Tidak ada beban memikirkan akhirat, karena dunia dianggap sebagai akhir perjalanan.
Maka wajar jika kesenangan sesaat menjadi fokus utama hidupnya.
Pertanyaan untuk Kita
Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang benar atau salah, tetapi untuk mengajak kita jujur pada diri sendiri. Dunia yang kita jalani hari ini—apakah sudah menjadi bekal akhirat, sekadar sarana pencitraan, atau hanya tempat mencari kesenangan?
K.H. Ahmad Rifa’i seakan mengingatkan:
Dunia itu netral. Ia bisa mengantar kita ke surga, atau justru menjauhkan kita darinya.
Semua tergantung niat, arah, dan pilihan kita setiap hari.
Baca Juga: Tradisi Ilmiah K.H. Ahmad Rifa’i: Terbuka terhadap Kritik, Tegas Menjaga Adab
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


