(Refleksi atas Abyanal Hawaij karya KH. Ahmad Rifa’i)
Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur nilai manusia dari harta, jabatan, dan kelimpahan materi, ajaran para ulama klasik justru hadir sebagai cermin yang menyejukkan. KH. Ahmad Rifa’i, melalui karya Abyanal Hawaij, mengajak kita menata kembali cara pandang terhadap kefakiran, kekayaan, dan kemuliaan sejati.
Beliau menuliskan sebuah bait yang sederhana, namun sarat makna:
Mukmin feqir sah iman syarat kapepekan
Kedik rizqine qona’ah kebatinan
Iku nyoto luwih luhur kaderajatan
Mungguh Allah wus kasebut ning Qur’an
(KH. Ahmad Rifa’i: Abyanal Hawaij, Korasan 66)
Bait ini menegaskan bahwa kefakiran seorang mukmin tidak serta-merta menjatuhkan derajat keimanannya. Justru, ketika kefakiran itu disertai qana’ah kebatinan—rasa cukup dalam hati—maka ia menjadi tanda kesempurnaan iman. Kedik rizqine (rezeki yang sedikit) tidak dipandang sebagai kekurangan, selama hati tetap lapang dan bersandar penuh kepada Allah.
Dalam pandangan KH. Ahmad Rifa’i, qana’ah bukanlah sikap pasrah tanpa ikhtiar, melainkan ketenangan batin setelah usaha dilakukan. Seorang mukmin yang faqir namun qana’ah memiliki kemuliaan derajat yang tinggi, bahkan lebih luhur dibanding mereka yang berlimpah harta tetapi hatinya gelisah dan tak pernah merasa cukup.
Menariknya, beliau menegaskan bahwa prinsip ini bukan sekadar pandangan moral atau kearifan budaya, melainkan memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an: “Mungguh Allah wus kasebut ning Qur’an.” Artinya, kemuliaan mukmin yang qana’ah telah ditegaskan langsung oleh Allah, bukan hasil romantisasi kemiskinan, apalagi glorifikasi penderitaan.
Dalam konteks hari ini, bait ini menjadi kritik halus terhadap gaya hidup konsumtif dan budaya pamer yang kerap mengikis ketenangan jiwa. Ajaran KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kedalaman iman, keteguhan hati, dan rasa cukup yang menumbuhkan syukur.
Maka, menjadi mukmin faqir dalam pandangan beliau bukanlah aib, melainkan potensi kemuliaan—selama iman dijaga dan qana’ah dijadikan sandaran hidup. Sebuah pesan yang relevan lintas zaman, menuntun manusia untuk kembali menimbang hidup dengan timbangan ilahi, bukan sekadar ukuran duniawi.
Baca Juga: Dunia: Bekal, Pencitraan, atau Sekadar Kesenangan?
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


