Dalam khazanah keimanan Islam, terdapat perkara-perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra, namun wajib diyakini oleh seorang mukmin. Salah satunya adalah Burok, makhluk istimewa yang Allah jadikan sebagai kendaraan Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa agung Isra’ Mi‘raj. Keimanan terhadap Burok bukan sekadar menerima bentuk fisiknya, melainkan mencerminkan keteguhan iman dalam menerima kebenaran wahyu dan kabar Rasul.
KH. Ahmad Rifa’i al-Jawi, seorang ulama besar Nusantara, menjelaskan gambaran Burok secara rinci dalam karya nadzamnya Arja. Penjelasan ini bukan bertujuan membangun imajinasi kosong, melainkan sebagai sarana penguatan iman dan peneguhan akidah.
Gambaran Fisik Burok dalam Nadzam Arja
Dalam Nadzam Arja halaman 5, KH. Ahmad Rifa’i menuliskan:
Rupane burok iku hewan
Luwih gede saking himar badane
Lan luwih cilik saking bighol anane
Pupune koyo menungso sukune
Buntute koyo unto tinggalane
Teracake koyo lembu dadane ginawaruhan
Koyo yaqut lan jumrut tiningalan
Nduweni suwiwi loro kenyataan
Surine koyo jaran bebagusan
(KH. Ahmad Rifa’i, Nadzam Arja, halaman 5)
Dari nadzam tersebut, Burok digambarkan sebagai makhluk yang memiliki ciri khas yang tidak sepenuhnya menyerupai hewan dunia. Tubuhnya lebih besar dari keledai, namun lebih kecil dari bagal (hasil kawin silang antara keledai dan kuda). Kakinya menyerupai manusia, ekornya seperti unta, dadanya indah bak permata yaqut dan zamrud, bersayap dua, serta wajah yang elok seperti kuda terbaik.
Makna di Balik Penggambaran Burok
Penggambaran ini mengajarkan bahwa Burok adalah makhluk yang berada di luar batas kebiasaan alam. Ia bukan hasil rekaan manusia, melainkan ciptaan Allah yang disiapkan khusus untuk peristiwa luar biasa. Dengan kata lain, keistimewaan Burok sejalan dengan keagungan Isra’ Mi‘raj itu sendiri.
KH. Ahmad Rifa’i menyampaikan ciri-ciri Burok secara detail agar umat Islam tidak ragu, tidak menakwilkan secara berlebihan, dan tidak terjebak pada penolakan akal semata. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah, perkara gaib yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ wajib diterima dengan sikap taslim (tunduk) dan iman.
Keteguhan Iman terhadap Perkara Gaib
Mengimani Burok sejatinya adalah latihan keteguhan iman. Akal diberi ruang untuk memahami, namun iman tidak boleh dikalahkan oleh keterbatasan logika. Sebagaimana para sahabat menerima peristiwa Isra’ Mi‘raj tanpa keraguan, umat Islam dituntut untuk bersikap sama: meyakini dengan penuh keyakinan, tanpa menuntut pembuktian material.
Dalam konteks ini, ajaran KH. Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengetahuan, melainkan sikap batin yang tunduk kepada kebenaran wahyu. Siapa yang kokoh imannya dalam perkara gaib, maka ia akan lebih kuat dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah dalam kehidupan nyata.
Penutup
Burok bukan sekadar makhluk dengan rupa yang menakjubkan, tetapi simbol dari ketaatan, keagungan kuasa Allah, dan ujian keimanan bagi hamba-Nya. Melalui Nadzam Arja, KH. Ahmad Rifa’i mengajarkan bahwa memahami ciri-ciri Burok harus berujung pada penguatan iman, bukan perdebatan tanpa ujung.
Keteguhan dalam mengimani Burok adalah cermin keteguhan iman kepada seluruh ajaran Islam—baik yang tampak maupun yang gaib. Dari sinilah seorang mukmin belajar untuk percaya sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan hati yang lapang dan keyakinan yang mantap.
Baca Juga: Kekuasaan, Kebijakan Keliru, dan Tipuan Dunia
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


