Dalam salah satu bait nadzamnya, KH. Ahmad Rifa’i menghadirkan pandangan yang tajam sekaligus membebaskan tentang makna kerja, martabat diri, dan pilihan moral seorang mukmin. Pesan ini bukan sekadar nasihat individual, tetapi juga kritik sosial yang lahir dari realitas pahit Jawa pada awal 1800-an—masa ketika struktur kolonial menekan rakyat kecil dan menjadikan kekuasaan sebagai sarang kemaksiatan yang dilembagakan.
Mukmin kasab podo nenandur jagung
Iku luwih becik tinimbang ngawulo tumenggung
Kang partelo ngenani doso luwih agung
Parek parek wong hino ciloko digunggung.
Menanam jagung, bekerja dengan tangan sendiri, dipandang lebih mulia daripada mengabdi kepada pejabat yang bergelimang dosa. Pada masa kolonial, tumenggung dan priyayi sering menjadi perpanjangan tangan pemerintah Hindia Belanda: menarik pajak, memaksa tanam, dan menindas rakyat. Dalam konteks ini, ngawulo tumenggung bukan sekadar bekerja, tetapi ikut menopang sistem zalim. KH. Ahmad Rifa’i mengajarkan bahwa kemerdekaan iman lebih penting daripada kenyamanan ekonomi yang dibangun di atas ketidakadilan.
Mukmin bungkuk kasab nenandur ketelo
Iku luwih becik timbang bungkuk sebo ing wong olo
Nanggung duso gede tan biso tobat katulo
Ora patut wong duroko gede dipilolo.
Bungkuk karena mencangkul ladang sendiri lebih terhormat daripada bungkuk karena tunduk kepada penguasa lalim. Ini adalah kritik terhadap mental feodal yang tumbuh subur di bawah kolonialisme: budaya tunduk, sebo, dan mencari perlindungan pada kekuasaan meski harus mengorbankan nurani. Dalam realitas 1800-an, banyak rakyat dipaksa “membungkuk” bukan karena kerja, tetapi karena ketakutan. Nadzam ini membalik logika itu—kerja keras adalah kemuliaan, sementara tunduk pada kezaliman adalah kehinaan spiritual.
Ngalim sholeh milih ing angger tinemu merdeko
Sanadiyan disengitono dene wong duroko
Ngalindung ing Allah saking fitnahe wong ciloko
Lubo ngareparep ing rohmate Allah manjing sawargo.
Pilihan untuk merdeka—secara moral dan spiritual—sering berujung pada kebencian dari penguasa. Sejarah mencatat, KH. Ahmad Rifa’i sendiri mengalami pengasingan karena sikap kritisnya terhadap ulama istana dan struktur kolonial. Namun bagi beliau, kebencian manusia bukanlah ukuran kebenaran. Perlindungan sejati ada pada Allah, dan harapan akhir bukan pada dunia yang timpang, melainkan rahmat-Nya di akhirat.
Suko kasab mikul nediyo milalah beburuh
Timbang saking ngawulo ing wong gede duso rusuh
Laku gede maksiat ginawe adat kukuh
Tangane gulat wentah doso tan nejo wisuh.
Buruh, kuli, dan pekerja kasar—yang pada masa kolonial sering dieksploitasi—justru diposisikan mulia selama kerja itu halal dan tidak menopang kemaksiatan. Sebaliknya, kekuasaan yang menjadikan dosa sebagai adat, dan kezaliman sebagai sistem, dikritik habis-habisan. Ini adalah bentuk perlawanan sunyi: bukan dengan senjata, tetapi dengan prinsip hidup.
Refleksi untuk Masa Kini
Apa yang ditulis KH. Ahmad Rifa’i dalam Syarihul Iman bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin lintas zaman. Kolonialisme mungkin telah berakhir, tetapi bentuk-bentuk pengabdian pada sistem yang tidak adil masih sering kita jumpai. Nadzam ini mengajak kita bertanya: apakah pekerjaan kita memerdekakan iman, atau justru mengikatnya?
Di tengah dunia modern yang menawarkan kenyamanan dengan kompromi nilai, pesan ini tetap relevan: bekerja dengan jujur, meski sederhana, lebih mulia daripada hidup mapan tetapi ikut menormalisasi kezaliman. Sebab pada akhirnya, kemerdekaan sejati bukan soal status dan kedudukan, melainkan keberanian memilih jalan yang diridhai Allah.
(Disarikan dari KH. Ahmad Rifa’i, Syarihul Iman, halaman 48)
Baca Juga: Isra’ Mi’raj dan Ujian Pilihan: Jalan Kebenaran di Tengah Godaan
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


