Kadang, tanpa sadar, kita hidup di zaman yang serba aneh. Ilmu agama mudah diakses, ceramah bertebaran, kitab-kitab tersedia di genggaman. Namun anehnya, tidak semua yang tampak alim benar-benar selamat hatinya. K.H. Ahmad Rifa’i sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita lewat nadzam yang terasa semakin relevan hari ini:
“Satengah alim fasiq saiki zaman
Tiru ing ulama Bal’am dunyo kekarepan
Milahur dunyo tinggal akhirat kabegjan
Podo nyenyuwun ing Allah Pengeran temenan.”
Ada sebagian orang berilmu, tetapi langkah hidupnya justru terseret arus dunia. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena tahu, namun memilih menoleh. Ia meniru jejak “ulama Bal’am”, sosok yang ilmunya tinggi tetapi hawa nafsunya lebih berkuasa. Dunia dipeluk erat, akhirat ditinggalkan perlahan. Ironisnya, di lisan masih terdengar doa, seolah-olah kedekatan dengan Allah tetap terjaga.
“Mugi pinaringono arto dunyo agung
Temahane pinaringan arto akeh bingung
Tan gugu ing satuhune syara’ kahitung
Angger kinasihan dene Tumenggung.”
Doa meminta harta dunia terus dipanjatkan. Namun ketika benar-benar diberi, justru kebingungan yang datang. Harta melimpah, tetapi kompas syariat ditinggalkan. Ukuran benar–salah bukan lagi dalil, melainkan siapa yang berkuasa dan siapa yang disukai. Selama “dianggap baik” oleh penguasa atau manusia, aturan Allah bisa dinegosiasikan.
Nadzam ini bukan sekadar kritik, melainkan cermin. Ia mengajak kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri: apakah ilmu yang kita miliki masih menuntun pada ketaatan, atau justru menjadi alat pembenaran keinginan?
Apakah doa kita masih tulus ingin dekat dengan Allah, atau hanya ingin dunia lebih ramah pada kita?
Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, sebagai pengingat lembut agar ilmu tetap berpulang pada tujuan awalnya: mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan kita dari akhirat. Sebab, alim sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa dalam ilmu itu mengubah arah hidup.
(Disarikan dari KH. Ahmad Rifa’i, Abyan al-Hawaij, juz 4, hal. 986)
Baca Juga: Musibah Hati yang Lalai
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


