Para ulama sejak dulu sudah memberi peringatan yang sebenarnya sangat sederhana, tapi sering diabaikan—terutama di era status, story, dan caption panjang penuh emoji.
قال العلماء : من اظهر المعصية عند ارتكابها او بعدها ازدادت اثامها وعقوبها
“Ngandiko ulomo sopo wonge ginawaruhan
Ngedhohiraken maksiat tan kaudzuran
Tetkolo ngelakoni sarirane kadosan
Atowo sawuse maksiat linakonan.”
Terjemahan bebasnya kira-kira begini: maksiat itu sudah dosa, tapi kalau dipamerkan—baik saat dilakukan atau setelahnya—dosa dan hukumannya naik level. Ibarat main game, ini bukan naik rank, tapi naik beban.
Lucunya, di zaman sekarang, sebagian orang justru merasa maksiat itu kurang afdal kalau belum diceritakan. Kalau bisa, sekalian dibikin konten. Padahal ulama sudah mengingatkan sejak lama: maksiat yang diumumkan itu seperti dosa yang dikasih mikrofon.
“Ing wong liyone maksiat tinutur
Mongko soyo wuwuh dusone pinilahur
Lan siksane teko akhirat wuwuh tinutur
Ikulah wong maksiyate ginawe masyhur.”
Kalau maksiat diceritakan ke orang lain, dosanya bukan malah berkurang karena “jujur”, tapi justru bertambah. Kenapa? Karena selain bermaksiat, ia juga mengajak orang lain untuk menormalkan dosa. Dari yang awalnya salah pribadi, berubah jadi tontonan umum.
Ini seperti orang jatuh ke got, lalu bukannya cepat-cepat naik dan mandi, malah live streaming sambil bilang, “Teman-teman, gotnya dalam, ya.” Jatuhnya dapat, baunya dapat, dosanya juga dapat bonus.
KH. Ahmad Rifa’i رحمه الله melalui Abyanal Hawaij mengingatkan dengan sangat halus tapi menohok: maksiat yang dibuat masyhur itu bukan keberanian, tapi kebodohan spiritual. Karena dosa itu sejatinya aib, bukan prestasi.
Maka, kalau memang pernah salah—yang namanya manusia ya wajar—cukup Allah saja yang tahu. Tak perlu diumumkan, apalagi dibanggakan. Sebab di akhirat nanti, kita tidak akan ditanya: “Berapa banyak yang like?” tapi: “Kenapa tidak malu?”
Semoga kita diberi rasa malu yang sehat, iman yang waras, dan jempol yang tidak gatal untuk menceritakan dosa sendiri.
Referensi: KH. Ahmad Rifa’i, Abyanal Hawaij, juz 4, hlm. 891.
Baca Juga: Alim? Kok gitu?
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


