Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Sejarah

KH. Abu Salim, Perintis Dakwah Rifa‘iyah di Kedungwuni

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
January 26, 2026
in Sejarah, Tokoh
0
KH. Abu Salim, Perintis Dakwah Rifa‘iyah di Kedungwuni
0
SHARES
61
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Latar Belakang dan Posisi Historis

KH. Abu Salim merupakan murid generasi pertama KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, seorang ulama besar pelopor ajaran Islam Tarajumah (Rifā‘iyah). Ia tercatat sebagai tokoh paling awal yang menyebarkan ajaran Rifā‘iyah di wilayah Paesan Tengah, Kecamatan Kedungwuni, Pekalongan, terutama pada paruh akhir abad ke-19.

Menurut KH. Ahmad Syadzirin Amin—sebagaimana dikutip dalam Islam Tarajumah: Komunitas, Doktrin, dan Tradisi—Abu Salim adalah figur sentral generasi awal yang menanamkan ajaran Tarajumah di Kedungwuni, dan membentuk fondasi sosial-keagamaan masyarakat Paesan antara tahun 1870 hingga 1900.

Nama dan Identitas: Kunyah sebagai Jejak Tradisi Ulama

Nama “Abu Salim” bukanlah nama asli, melainkan kunyah, yaitu sebutan kehormatan yang disandarkan pada nama anak. Abu Salim berarti “bapaknya Salim”, karena beliau memiliki anak bernama Salim.

Fenomena ini bukanlah hal yang unik. Tradisi serupa juga ditemukan pada K. Abu Ilham dari Batang, yang juga satu angkatan dengan Abu Salim dan dikenal berdasarkan nama anak sulungnya. Hingga kini, nama asli kedua tokoh tersebut tidak diketahui, menandakan kuatnya tradisi lisan dan kultural dalam komunitas Rifā‘iyah pada masa itu.

Hubungan Keilmuan dengan KH. Ahmad Rifa’i

KH. Abu Salim dikenal sebagai santri setia dan murid langsung KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, Limpung, Batang. Berdasarkan penuturan K. Zainal Askar Meduri (Tirto, Pekalongan), Abu Salim secara rutin menghadiri majelis selapanan KH. Ahmad Rifa’i, yang diselenggarakan di Wonoyoso, Buaran, Pekalongan, bertempat di kediaman K. Asnawi.

Majelis selapanan tersebut awalnya direncanakan di Masjid Wonoyoso, namun karena keberatan sebagian tokoh masyarakat setempat—yang kemungkinan juga dipengaruhi situasi politik dan tekanan kolonial—majelis akhirnya dipindahkan ke rumah K. Asnawi.

Dalam majelis itu hadir para murid utama KH. Ahmad Rifa’i, antara lain:

  • Asnawi
  • Ilyas Kampil (Wiradesa)
  • Hasan Dimejo (Wiyanggong, Pekalongan)
  • Kentol Jariyah
  • Kyai Khalifah (Pemalang)
  • serta murid-murid lainnya

Keikutsertaan Abu Salim secara rutin menunjukkan kedalaman loyalitas ilmiah dan spiritualnya kepada sang guru.

Masa Krisis: Pengasingan Guru dan Pembubaran Pesantren Kalisalak

Tahun 1859 menjadi titik balik penting. KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon oleh pemerintah kolonial Belanda, sementara pesantren Kalisalak dimusnahkan oleh aparat kolonial beserta kaki tangannya.

Pasca peristiwa itu, KH. Abu Salim:

  • Pulang ke kampung halamannya di Paesan Tengah, Kedungwuni
  • Menghilang selama beberapa tahun, menghindari kejaran dan pengawasan aparat kolonial
  • Hidup dalam situasi ketakutan yang nyata, karena murid-murid Rifa’i kerap dicurigai sebagai penggerak perlawanan ideologis

Menghilangnya Abu Salim bukan tanda berhenti berdakwah, melainkan strategi bertahan hidup dalam situasi kolonial yang represif.

Konteks Kebijakan Hindia Belanda: Sekolah Liar dan Represi Pendidikan

Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda semakin ketat mengawasi pendidikan pribumi dan Islam. Puncaknya adalah kebijakan yang kemudian dikenal sebagai Wilde Schoolen Ordonnantie (Ordonansi Sekolah Liar), yang walaupun resmi diberlakukan tahun 1932, semangat pengawasannya telah hidup jauh sebelumnya.

Ciri kebijakan pendidikan kolonial saat itu:

  • Pengajian dan madrasah non-resmi dianggap berbahaya
  • Kitab-kitab Islam yang kritis, termasuk kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i, dicurigai
  • Guru agama yang mengajar tanpa izin dianggap menghasut dan subversif

Dalam konteks inilah, dakwah Abu Salim berjalan di bawah bayang-bayang represi negara kolonial.

Strategi Dakwah: Mengaji di Dekat Kandang Kambing

Setelah situasi relatif aman, Abu Salim kembali menampakkan aktivitas sosial- keagamaannya. Namun, pengawasan pemerintah Hindia Belanda belum pernah benar- benar hilang.

Menghadapi kondisi tersebut, Abu Salim menerapkan strategi dakwah yang sangat cerdas dan membumi:

  • Pengajian dilakukan di dekat kandang kambing
  • Kitab Tarajumah disiapkan untuk diselipkan ke dalam tumpukan rumput makanan kambing
  • Bila terjadi razia atau pengawasan mendadak, kitab dapat segera disembunyikan agar tidak dirampas aparat kolonial

Strategi ini menunjukkan bahwa:

  • Pendidikan Islam Rifā‘iyah berjalan sebagai “sekolah liar” versi rakyat
  • Ilmu dijaga dengan risiko besar
  • Dakwah dilakukan dengan kearifan, kehati-hatian, dan keberanian sunyi

Membangun Masyarakat Paesan (1870–1900)

Dalam rentang waktu 1870 hingga 1900, KH. Abu Salim berperan besar dalam:

  • Menanamkan nilai-nilai Islam Tarajumah
  • Membentuk karakter masyarakat Paesan yang religius
  • Menjadikan Paesan sebagai kantong awal komunitas Rifā‘iyah di Kedungwuni

Semua itu dilakukan:

  • Tanpa lembaga resmi
  • Tanpa izin kolonial
  • Dengan risiko pengawasan dan represi

Namun justru di situlah kekuatan dakwah Abu Salim: sunyi, konsisten, dan mengakar.

Penutup: Abu Salim dan Makna Sekolah Liar

Dalam perspektif kolonial, pengajian Abu Salim adalah “sekolah liar”. Dalam perspektif sejarah bangsa, ia adalah pendidikan merdeka.

KH. Abu Salim bukan hanya murid KH. Ahmad Rifa’i, tetapi penjaga api ilmu di tengah badai kolonialisme.

Dari kandang kambing dan tumpukan rumput, ajaran Rifā‘iyah tetap hidup—dan dari sanalah sejarah bergerak pelan, namun pasti. Generasi setelah K. Abu Salim adalah KH. Abdul Karim bin Terima yang pernah belajar di Makkah selama tujuh tahun, kemudian estafet generasi berikutnya diantaranya adalah K. Mudhaf, KH. Sholeh bin Dasiban, KH. Sholih bin Bukhairi dan K. Munajat. Dari sanalah mulai ada majelis-majelis yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren INSAP (Ikatan Santri Paesan). Di tahun 70-an K. Ahmad Nasikhun bin Abu Hasan mulai merintis berdirinya Pondok Pesantren INSAP.

Paesan Tengah, 23 Januari 2026

Baca Juga: KH. Subakhir bin Ronowijoyo Pandu: Ulama Rifa’iyah Peneguh Dakwah di Baturejo


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KedungwuniKH. Abu SalimPaesanPekalonganSejarah Rifa’iyahtokoh Rifa'iyah
Previous Post

Maksiat Kok Diumumkan? Diskon Pahala Langsung Hangus

Next Post

Haul Akbar Syekh Abdul Mannan Ke-94: Meneguhkan Tradisi Ilmu, Uswah, dan Keikhlasan Ulama

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Haul Akbar Syekh Abdul Mannan Ke-94: Meneguhkan Tradisi Ilmu, Uswah, dan Keikhlasan Ulama

Haul Akbar Syekh Abdul Mannan Ke-94: Meneguhkan Tradisi Ilmu, Uswah, dan Keikhlasan Ulama

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id