Rifa’iyah di Pekalongan bukan sekadar nama, bukan pula hanya label organisasi atau identitas kultural. Ia adalah warisan perjuangan, hasil jerih payah para ulama yang dengan penuh keberanian menyebarkan ajaran K.H. Ahmad Rifa’i di tanah ini, di tengah tekanan kolonial dan keterbatasan zaman.
Ironisnya, hari ini kita justru menjumpai kenyataan yang menggelisahkan: banyak warga Rifa’iyah Pekalongan yang tidak tahu, bahkan tidak pernah menziarahi makam para pembawa ajaran Rifa’iyah di daerahnya sendiri.
Padahal, tanpa mereka, Rifa’iyah mungkin tak pernah tumbuh dan berakar kuat di Pekalongan.
Mereka Bukan Sekadar Nama dalam Cerita
Para pembawa ajaran Rifa’iyah di Pekalongan adalah santri-santri langsung K.H. Ahmad Rifa’i, yang mengorbankan tenaga, waktu, dan keselamatan demi menjaga kemurnian akidah dan ajaran. Di antara mereka adalah:
- K.H. Abu Ilham Paesan
- Kyai Asnawi Wonoyoso
- Kyai Kentol Jariyah Wonoyoso
- Kyai Ahmad Hasan Wiyanggong
- Kyai Ilyas Sembung
Mereka bukan tokoh pinggiran. Mereka adalah pilar awal Rifa’iyah di Pekalongan. Dari merekalah majelis-majelis lahir, dari mereka ajaran menyebar, dan dari keteladanan mereka Rifa’iyah bertahan hingga hari ini.
Namun pertanyaannya sederhana, sekaligus menohok:
Bagaimana mungkin mengaku sebagai penerus, jika jejak para pendahulu saja tidak dikenal?
Ziarah Bukan Kultus, tetapi Kesadaran Sejarah
Menziarahi makam para ulama bukan untuk mengkultuskan, apalagi menyembah. Ziarah adalah cara merawat ingatan, menundukkan ego, dan mengingat bahwa kita berdiri di atas fondasi perjuangan orang-orang saleh sebelum kita.
Jika warga Rifa’iyah rajin menghadiri pengajian, aktif dalam kegiatan, bahkan fasih menyebut nama K.H. Ahmad Rifa’i, tetapi asing dengan makam para murid beliau sendiri, maka ada yang timpang dalam cara kita memahami Rifa’iyah.
Rifa’iyah bukan hanya teks nadzam dan kitab, tetapi juga sejarah hidup yang membumi.
Jangan Sampai Terputus dari Akar
Salah satu tanda kemunduran sebuah jamaah adalah ketika generasinya putus dari akar sejarahnya. Tidak tahu siapa yang membawa ajaran ke daerahnya, tidak peduli di mana mereka dimakamkan, dan tidak merasa perlu mendoakan mereka.
Jika keadaan ini dibiarkan, Rifa’iyah berisiko berubah menjadi identitas kosong: ramai nama, sepi makna.
Saatnya Kembali Menoleh ke Belakang
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi menggugah. Bukan untuk menghakimi, tetapi mengajak sadar. Sudah saatnya warga Rifa’iyah Pekalongan:
- mengenal para pembawa ajaran di daerahnya,
- mengajarkan sejarah mereka kepada generasi muda,
dan sesekali, dengan rendah hati, menziarahi makam-makam mereka, mengirim doa, serta mengingat perjuangan.
Karena siapa yang lupa pada orang-orang yang memperjuangkan agama, lambat laun akan lupa pada nilai perjuangan itu sendiri.
Baca Juga: Syekh Ahmad Hasan, Ulama Penyebar Rifa’iyah di Pantura Pekalongan
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra






