Kyai Muhammad Ilyas bin ‘Ilmah adalah salah satu ulama pejuang dan penyambung mata rantai dakwah Hadratussyaikh KH. Ahmad Rifa’i di wilayah Kesesi dan Pantura Pekalongan. Beliau dikenal sebagai sosok alim, bijaksana, serta santri yang sangat militan dalam membela, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Rifa’iyah di tengah tekanan kolonial Belanda.
Asal-usul dan Latar Belakang
Kyai Muhammad Ilyas berasal dari Semampir, Kesesi, Pekalongan. Lingkungan masyarakat santri serta kuatnya tradisi keilmuan Islam di daerah tersebut membentuk karakter beliau sejak dini sebagai pencari ilmu yang tekun dan istiqamah.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Sebelum berguru kepada KH. Ahmad Rifa’i, Kyai Ilyas telah lebih dahulu nyantri di wilayah Jawa Timur. Dalam suatu perjalanan, ketika hendak kembali melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Jawa Timur, beliau singgah dan beristirahat di Alas Roban, Batang.
Di tempat inilah terjadi peristiwa penting dalam hidupnya. Kyai Ilyas menjumpai seorang alim yang tampak sederhana, namun memancarkan kebijaksanaan dan kedalaman ilmu. Pertemuan itu menjadi titik balik yang menentukan. Sosok alim tersebut adalah KH. Ahmad Rifa’i.
Alih-alih melanjutkan perjalanan, Kyai Ilyas justru menetap dan nyantri dalam waktu yang lama di Kalisalak, Limpung, Batang—pondok asuhan KH. Ahmad Rifa’i. Di bawah bimbingan langsung sang guru, Kyai Ilyas menempa ilmu, keberanian, serta semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan.
Kepribadian dan Keteladanan
Kyai Muhammad Ilyas dikenal sebagai pribadi yang alim, bijaksana, dan teguh pendirian. Kesetiaannya kepada KH. Ahmad Rifa’i tidak hanya tampak dalam penguasaan ilmu, tetapi juga dalam sikap hidup dan perjuangan. Ia termasuk santri yang militan, berani, dan konsisten dalam menjaga kemurnian ajaran gurunya, meski harus menghadapi risiko besar.
Keluarga dan Keturunan
Kyai Ilyas memiliki empat orang anak. Di antara yang dikenal adalah Abu Nawas dan Musyrifah. Keluarga beliau tumbuh dalam tradisi keilmuan dan keteladanan, meneruskan nilai-nilai keislaman yang diwariskan sang kyai.
Murid-murid dan Pengaruh Keilmuan
Dalam perjalanan dakwahnya, Kyai Muhammad Ilyas melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi tokoh penting. Di antara murid-murid beliau yang dikenal adalah Kyai Siti Sami’an serta Kyai Abu Bakar dari Cirebon. Melalui para murid inilah ajaran KH. Ahmad Rifa’i terus menyebar lintas daerah dan generasi.
Perjuangan dan Dakwah
Kyai Muhammad Ilyas aktif menyebarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i di wilayah Kesesi dan sepanjang Pantura Pekalongan. Dakwah beliau tidak lepas dari tekanan dan pengawasan ketat kolonial Belanda. Karena aktivitas keagamaannya yang dianggap membahayakan kekuasaan kolonial, Kyai Ilyas bahkan pernah harus bersembunyi di daerah Sembung, Wiradesa, Pekalongan, demi menjaga keselamatan dan kelangsungan dakwah.
Karya dan Warisan Intelektual

Di antara karya Kyai Muhammad Ilyas adalah “Kalimah Tauhid hasyiyah atas Syekh Ibrahim al-Bajuri” yang ditulis dalam aksara Arab Pegon. Karya ini menunjukkan kedalaman keilmuan beliau sekaligus kepedulian agar ajaran tauhid mudah dipahami oleh masyarakat Jawa.
Dahulu, beberapa karya tulis Kyai Ilyas disimpan dan dijaga oleh Kyai Khairil Hikam di Krandon, Kesesi, sebagai bentuk penghormatan dan amanah keilmuan.
Penutup
Kyai Muhammad Ilyas bin ‘Ilmah merupakan figur ulama pejuang yang layak dikenang. Beliau bukan hanya murid setia KH. Ahmad Rifa’i, tetapi juga pengemban risalah perjuangan ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang berani, tulus, dan istiqamah. Jejak dakwah, karya, serta keteladanannya menjadi bagian penting dari sejarah Rifa’iyah di Pekalongan dan Pantura Jawa Tengah.
Baca Juga: Syekh Ahmad Hasan, Ulama Penyebar Rifa’iyah di Pantura Pekalongan
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


