Kyai Asnawi Wonoyoso merupakan salah satu khalifah sekaligus murid generasi awal dari Hadratussyaikh KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, tokoh besar pembaharu Islam dan perintis gerakan Rifa’iyah di Jawa Tengah. Peran Kyai Asnawi sangat penting dalam mata rantai penyebaran ajaran Rifa’iyah, khususnya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.
Asal-Usul dan Nasab
Kyai Asnawi dilahirkan di Desa Kranji, Kedungwuni. Secara nasab, beliau adalah putra dari Mbah Raden Anom, cucu dari Mbah Wali Cangkring yang berasal dari Wonobodro, Batang, Jawa Tengah. Dari garis keturunan ini, Kyai Asnawi mewarisi tradisi keulamaan, kewalian, dan keteguhan spiritual yang kuat.
Keistimewaan Masa Muda
Sejak muda, Kyai Asnawi telah menunjukkan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Dalam cerita tutur yang berkembang di masyarakat, tangan beliau memiliki keistimewaan luar biasa. Jika digunakan untuk memukul sesuatu, objek yang dipukul dapat langsung hancur atau mati. Karena itu, ayahandanya, Mbah Raden Anom, senantiasa mewanti-wanti agar Asnawi muda menjaga kesabaran dan tidak menggunakan keistimewaan tersebut untuk berkelahi atau melukai makhluk lain.
Suatu hari, ketika Asnawi muda membantu membajak sawah menggunakan kerbau, ia merasa jengkel karena kerbau tersebut terus rewel dan tidak mau bekerja. Tanpa disadari, ia memukul kerbau itu dengan tangannya. Seketika, kerbau tersebut terkapar dan mati. Peristiwa inilah yang menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Kyai Asnawi.
Pengembaraan Mencari Ilmu
Setelah kejadian tersebut, Asnawi muda memilih untuk mengembara. Masa pengembaraan itu beliau gunakan sepenuhnya untuk menuntut ilmu agama, memperdalam pemahaman ushuluddin, fikih, dan tasawuf. Dari pengembaraan panjang itu, beliau tumbuh menjadi sosok yang alim dan matang secara spiritual, hingga akhirnya menetap di Desa Wonoyoso.
Bertemu Sang Guru: KH. Ahmad Rifa’i
Seiring berjalannya waktu, Kyai Asnawi dipertemukan dengan KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak. Pertemuan ini menjadi momentum yang sangat menentukan. Kyai Asnawi sendiri menggambarkan pertemuan itu “bagai sungai kecil bertemu lautan luas”. Beliau mengakui kealiman, kedalaman ilmu, serta keteguhan perjuangan Mbah Rifa’i, hingga akhirnya menyatakan taslim dan menjadi murid setia beliau.
Wonoyoso sebagai Pusat Pengajian Rifa’iyah
Dalam perjalanan dakwahnya di wilayah Pekalongan, Mbah Rifa’i beberapa kali singgah di rumah Kyai Asnawi di Wonoyoso. Dikisahkan, beliau menunggang kuda putih, ditemani sejumlah murid terdekat, di antaranya Mbah Kyai Ilham Kalipucang.
Rumah Kyai Asnawi kemudian berkembang menjadi pusat pengajian dan halaqah, tempat Mbah Rifa’i bertemu dan mengajarkan ilmu kepada para santrinya. Banyak santri dari Pekalongan dan Batang yang hadir, di antaranya:
- Mbah Muhammad Ilyas Kampil
- Mbah Ahmad Hasan Wiyanggong, Wiradesa
- Kyai Abu Salim Paesan, Kedungwuni
- Kyai Kenthol Jariyah, Wonoyoso
serta santri-santri lainnya.
Ikatan Persaudaraan Antar Santri
Sesama santri KH. Ahmad Rifa’i memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Hubungan Kyai Asnawi dengan Mbah Kyai Ilham Kalipucang menjadi salah satu contohnya. Kyai Asnawi memiliki empat putri, dan dua di antaranya—Nyai Sopiah dan Nyai Aminah—dipersunting oleh kerabat Mbah Kyai Ilham yang berasal dari Mberan dan Kalipucang, Batang. Ikatan ini mempererat jaringan dakwah Rifa’iyah antarwilayah.
Dakwah Rifa’iyah di Wonoyoso
Kyai Asnawi dikenal sebagai penyebar Islam ala Rifa’iyah pertama di Desa Wonoyoso dan sekitarnya. Dari desa ini tercatat dua murid utama KH. Ahmad Rifa’i, yaitu Kyai Asnawi dan Kyai Kenthol Jariyah. Pada masa itu, warga Rifa’iyah berpusat di Wonoyoso, khususnya di sekitar area timur Masjid Jami’ Wonoyoso.
Tekanan Kolonial dan Kemunduran Dakwah
Setelah penangkapan dan pembuangan KH. Ahmad Rifa’i oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ambon, perkembangan dakwah Rifa’iyah mengalami hambatan besar. Banyak kitab karya Mbah Rifa’i disita, ruang gerak para santrinya dibatasi, dan aktivitas dakwah selalu berada dalam pengawasan ketat.
Dampaknya, dakwah Rifa’iyah di Wonoyoso yang dipimpin Kyai Asnawi pun mengalami berbagai kesulitan, bahkan kemunduran. Fitnah, tekanan, dan situasi politik yang keras menyebabkan ajaran Rifa’iyah di Wonoyoso perlahan menyusut, hingga kini hanya menyisakan jejak sejarah.
Wafat dan Warisan Dakwah
Kyai Asnawi wafat dan dimakamkan di pemakaman umum Wonoyoso Gang 1, tepatnya di sebelah timur MTs Wonoyoso. Dari keempat putrinya, hanya Nyai Ngalimah yang menetap di Wonoyoso dan memiliki keturunan yang tetap memegang teguh ajaran Rifa’iyah.
Sebagian pengikut dan keluarga Kyai Asnawi memilih hijrah dari Wonoyoso, terutama ke desa tetangga Sapugarut. Di antaranya adalah Nyai Musdah, putri Nyai Ngalimah, yang dipersunting Mbah Kyai Askar dan menetap di Sapugarut. Hijrahnya keluarga dan pengikut Kyai Asnawi ini secara tidak langsung menjadi jalan tersebarnya ajaran Rifa’iyah di Desa Sapugarut, yang jejaknya masih dapat dirasakan hingga kini.
Baca Juga: Biografi Kyai Muhammad Ilyas bin ‘Ilmah, Santri Militan KH. Ahmad Rifa’i
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

