Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Tokoh

KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
February 10, 2026
in Tokoh
0
KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sosok Karismatik yang Melampaui Zamannya

Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman, dari era kolonial Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka, lahir seorang ulama yang kelak menjadi legenda di Pekalongan. KH. Ahmad Nasikhun, atau yang akrab dipanggil Sang Blawong, bukan sekadar kiai yang disegani karena ilmunya, tetapi juga pemimpin masyarakat yang mampu membaca kebutuhan zamannya dengan jernih.

Lahir tahun 1915 di Dukuh Menjangan, putra pasangan KH. Abu Hasan dan Wasri ini tumbuh di masa yang penuh gejolak. Ketika bangsa ini masih berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajah, Nasikhun muda sudah memulai pengembaraan intelektualnya—sebuah perjalanan spiritual yang akan membentuk karakter kepemimpinannya kelak.

Menimba Ilmu: Dari Pesantren ke Pesantren

Kehausan akan ilmu membawa Nasikhun berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Dimulai dari berguru kepada Kiai Samian (Mbah Siti) di Srinahan, Kesesi, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Watesalit, Batang, untuk belajar pada K. Imam Basyari. Tidak cukup sampai di situ, setiap minggu ia juga mengaji kepada KH. Badjuri di Kretegan, Kendal.

Yang menarik, meski telah mendalami kitab-kitab tarajumah Rifaiyah, Nasikhun tidak berhenti. Ia memahami pentingnya memperkaya khazanah keilmuan dengan tradisi pesantren salaf. Maka dengan tekad bulat, ia melesat hingga ke Pesantren Tebuireng, Jombang, menimba ilmu langsung dari sang pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari.

Perpaduan keilmuan Rifaiyah dan tradisi salaf inilah yang kelak membentuk karakternya sebagai pemimpin yang inklusif dan visioner.

Kepemimpinan yang Menundukkan Hati

Kharisma Nasikhun memang luar biasa. Konon, suara “kletek-kletek” bakiaknya saja sudah cukup membuat para pemuda yang sedang nongkrong sambil merokok berhamburan lari bagaikan teroris dikejar Densus 88. Ada kisah lucu tentang seorang pemuda yang begitu paniknya sampai memasukkan rokok yang masih menyala ke saku celananya—menahan perih terbakar daripada ketahuan merokok di hadapan sang kiai.

Namun di balik kewibawaannya yang luar biasa itu, Nasikhun justru sangat mengakrabi anak-anak. Di Masjid Istiqomah Paesan, ia sering bercanda dengan anak-anak kecil, mengajak mereka belajar qira’ah dengan cara yang menyenangkan. Pengajiannya dihadiri semua kalangan—dari anak-anak hingga kakek-kakek—sebuah pemandangan langka yang menunjukkan kemampuannya menjembatani generasi.

Demokrasi Musyawarah ala Nasikhun

Di era ketika suara rakyat jelata kerap tenggelam dalam forum-forum formal, Nasikhun menerapkan metode kepemimpinan yang sangat demokratis. Sebelum musyawarah desa dimulai, ia berkeliling dari rumah ke rumah, mendengarkan pendapat warga—termasuk mereka yang dianggap “orang biasa” oleh masyarakat.

KH. Fakhruddin, muridnya, mengenang: “Pola pikir Kiai Nasikhun jarang dimiliki kiai sekarang. Kalau ada gagasan bagus, meski dari orang miskin, tetap dipakai. Tidak seperti sekarang yang hanya mendengar ide orang kaya saja.”

Metode ini memastikan bahwa keputusan musyawarah bukan sekadar formalitas, melainkan benar-benar mewakili aspirasi rakyat. Ketika musyawarah berlangsung, hampir hanya Nasikhun dan H. Abdul Karim yang berbicara—bukan karena otoriter, tetapi justru karena beliau sudah lebih dulu menyerap semua aspirasi warga.

Inovasi Pendidikan: Menulis untuk Mengingat

Dalam pengajian, Nasikhun menerapkan metode yang sangat efektif: para jamaah yang belum punya kitab diwajibkan menulis. Dengan telaten, kiai yang juga tukang kayu ini menuliskan bait demi bait kitab tarajumah untuk ditiru murid-muridnya. Setiap pengajian minimal dua jam, dan target satu kuras (sekitar 20 halaman) harus tercapai.

Metode ini ternyata sangat efektif untuk daya ingat. H. Abdul Kholik mengenang bahwa generasinya yang belajar dengan menulis masih hafal kitab hingga tua, sementara generasi yang hanya membaca fotokopian cepat lupa.

Nasikhun bahkan sempat belajar ke Jakarta untuk mempelajari teknologi cetak demi memperbanyak kitab tarajumah—sebuah visi yang melampaui zamannya. Meski kemudian dilanjutkan oleh KH. Rahmatullah dan putranya Ahmad Rifai, ide ini menunjukkan kepeduliannya terhadap aksesibilitas ilmu pengetahuan.

Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman

Di masa ketika jamaah Rifaiyah kerap mendapat perlawanan dari kelompok lain, Nasikhun justru dipercaya oleh warga NU untuk memegang peranan penting di Masjid Jami NU Menjangan. Ini bukan kebetulan—kepercayaan ini lahir dari kebijaksanaan dan sikapnya yang mengutamakan kemaslahatan bersama di atas kepentingan golongan.

Bahkan di internal Rifaiyah sendiri, ketika muncul “kerenggangan” akibat berdirinya beberapa mushola baru di Paesan (yang hanya berpenduduk 80 rumah), Nasikhun mengambil langkah konkret: membentuk kepanitiaan bersama dan membagi wilayah jamaah secara merata. Ia bahkan melarang pendirian salat Jumat di Paesan Utara demi menjaga konsentrasi dan persatuan umat.

Dakwah Ekonomi: Saat Masjid Menjadi Pasar

Nasikhun memahami bahwa kesejahteraan ekonomi dan spiritualitas harus berjalan beriringan. Ia mempelopori pengajian selapanan di Masjid Istiqomah yang dihadiri jamaah dari Pemalang, Pekalongan, dan Batang—bukan hanya untuk mengaji, tetapi juga membawa dagangan masing-masing.

Selepas pengajian, jamaah bertransaksi: ada yang kulakan pakaian, menawarkan kain batik hasil karya sendiri, atau berjualan door to door. Bahkan bekas rumah Nasikhun sendiri kini menjadi tempat kulakan batik selepas pengajian.

Di bidang usaha, ia membuka konveksi, bengkel kayu, dan batik—memberikan lapangan kerja bagi banyak orang. Putrinya, Nur Aini (istri KH. Abdul Aziz), dididik langsung mengelola pembukuan keuangan batik dan mebeler. Ilmu ini sangat bermanfaat, hingga kini Bu Nyai tersebut mengelola distributor batik yang menjangkau hingga luar kota, sampai Temanggung, dan mampu membiayai pendidikan keenam anaknya.

Visi Organisasi: Mengelola Perbedaan Menjadi Rahmat

Kesadaran tentang perlunya organisasi muncul dari sebuah eksperimen sederhana namun mendalam. Suatu ketika selepas Lebaran, Nasikhun memanggil tiga santrinya yang dikirim ke tiga pesantren berbeda. Ia bertanya: “Rokok itu hukumnya bagaimana?”

Ketiga santri menjawab berbeda: halal, haram, dan makruh—masing-masing dengan dalil yang kuat. Nasikhun tertegun. Ia khawatir tentang masa depan santri Rifaiyah jika perbedaan pendapat (ikhtilaf) tidak dikelola dengan baik. Perbedaan bisa menjadi rahmat, sekaligus bisa menjadi laknat.

Maka lahirlah gagasan mendirikan organisasi. Setelah berdiskusi dengan K. Hambali Randudongkal dan bermusyawarah dengan Pak Carbin (sarjana pertama Rifaiyah di Tanahbaya, Randudongkal), terbentuklah Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah—sebuah wadah untuk menyatukan visi dan mengelola keragaman menjadi kekuatan.

Warisan yang Tak Lekang Waktu

KH. Ahmad Nasikhun adalah bukti bahwa seorang ulama sejati bukan hanya ahli dalam kitab kuning, tetapi juga memahami realitas sosial masyarakatnya. Ia adalah pemimpin yang demokratis di era feodal, ekonom di tengah kemiskinan, pendidik yang inovatif, dan pemersatu di tengah fragmentasi.

Di masa ketika banyak pemimpin agama terjebak pada formalitas dan eksklusivitas, Nasikhun justru merangkul semua kalangan. Di era ketika ekonomi dan spiritualitas dianggap terpisah, ia membuktikan keduanya bisa berjalan harmonis. Di saat perbedaan sering menjadi sumber konflik, ia mengajarkan cara mengelolanya menjadi berkah.

Sang Blawong telah tiada, namun jejak langkahnya tetap terdengar dan terbaca—bukan lagi dalam bunyi “kletek-kletek” bakiak yang membuat para pemuda berhamburan, melainkan dalam setiap langkah generasi penerusnya yang terus membangun peradaban berbasis nilai-nilai yang ia wariskan: inklusivitas, keadilan, inovasi, dan kemaslahatan bersama.

Baca Juga: KH. Abu Salim, Perintis Dakwah Rifa‘iyah di Kedungwuni


Penulis: Ahmad Saifullah
Narasumber Lisan: KH. Ahmad Syadzirin, KH. Zaenal Abidin, KH. Ali Nahri, KH. Fakhruddin, KH. Abdul Khamid, Hj. Nur Aini, Mbah Saluhi, KH. Amruddin Nasikhun, Abdul Jalil, Alif Ayatullah, Nasir, Mufid Bani Adam.
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KH Ahmad NasikhunPaesanPekalonganRifaiyah PekalonganSang BlawongSejarah Rifa’iyahUlama Rifa’iyahYayasan Pendidikan Islam Rifa‘iyah
Previous Post

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 23: Macam-macam Iman (Bagian 2)

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id