Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Menjembatani Jurang Generasi: Memahami Dunia Digital Anak dengan Bijak

Tim Redaksi by Tim Redaksi
February 11, 2026
in Kolom
0
Menjembatani Jurang Generasi: Memahami Dunia Digital Anak dengan Bijak

Dua anak sedang asyik menggunakan gawai (iStock/AzmanL)

0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika HP Menjadi Titik Tegang di Rumah

“Dari tadi main HP terus. Itu gunanya apa sih?” suara itu terdengar agak meninggi, dari seorang ibu kepada anaknya.

Anak itu tak menjawab. Tangannya tetap menggenggam ponsel, matanya fokus pada layar. Dalam benaknya, game yang sedang ia mainkan bukan sekadar permainan. Di sana ada tantangan, strategi, kerja sama dengan teman, dan rasa senang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Apalagi kalau sudah mabar (main bareng), dunia nyata seperti tidak ada, yang ada seperti hanya dunia dalam jaringan (daring).

Bagi sang ibu, pemandangan itu adalah simbol kemalasan. Bagi sang anak, itu adalah dunianya, yang asyik digeluti.

Seperti pengakuan seorang Guru BK dalam satu sesi tanya jawab di forum Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK): ia bertahun-tahun merasa setengah frustasi menasihati anaknya untuk mengurangi main HP, khususnya untuk game. Tapi usahanya tak membuahkan hasil. Ia merasa bahwa produktivitas anaknya “dibunuh” oleh ketagihan HP.

Selang beberapa tahun menjalani kesabaran, ibu yang juga Guru Bimbingan dan Konseling itu merasa heran, karena anaknya sudah lama tidak minta uang, ternyata juga mampu membiayai kuliahnya sendiri. Ketika ibu bertanya, “Uang dari mana, Mas?” “Dari ngegame, Bu.” Ibu tercengang setengah tidak percaya.

Sejak peristiwa itu, ibu mulai menyadari bahwa ngegame juga ada manfaatnya. Game menghasilkan uang untuk biaya hidup dan kuliah. Ia mulai bertanya-tanya kepada anaknya tentang game yang menghasilkan uang.

Anaknya menjelaskan bahwa dalam game ada sistem iklan dan reward: aplikasi game mendapatkan uang dari pengiklan dan membagikan sebagian keuntungan tersebut kepada pengguna yang menonton iklan, melakukan check-in harian, atau menyelesaikan misi.

Atau bisa juga gamer menjadi konten kreator/streamer. Mereka menayangkan permainannya di YouTube.

Gamer juga bisa menghasilkan uang melalui donasi, iklan, dan sponsorship saat melakukan penayangan (streaming) permainan di YouTube.

Akhirnya hati ibu yang semula gundah berangsur reda. Bahwa anak yang kelihatan ngegame ternyata juga nyambut gawe.

Bagi seorang ibu yang lahir di zaman kentongan, walaupun tiap hari pegang HP, pengetahuan dan penguasaannya tentu berbeda dengan anak-anaknya yang sejak lahir bersanding dengan gadget.

Sebagai orang tua, saya juga pernah dibilangin anakku, “Jangan HP-nya saja yang smart, orangnya juga.”

Hal itu menunjukkan bahwa sebagai generasi pendahulu, kita perlu meluaskan hati untuk selalu terbuka belajar kepada siapa pun, termasuk kepada anak-anak kita.

Bukan Tentang HP, Tapi Tentang Makna

Konflik antara orang tua dan anak soal gawai sering dianggap persoalan disiplin, permasalahan tercecernya waktu secara sia-sia (lagha). Padahal, apabila ditelisik lebih dalam, masalah utamanya bukan pada bendanya, melainkan pada bagaimana cara manusia memaknai aktivitas.

Setiap generasi manusia mempunyai dunia maknanya sendiri.

Orang tua tumbuh dalam dunia yang menilai manfaat secara kasat mata: belajar berarti membuka buku, menghadiri majelis taklim, bekerja berarti bergerak secara fisik, keberhasilan berarti hasil nyata. biso tempel iki, biso tempel iku, bisa beli ini bisa beli itu.

Anak-anak hari ini hidup di dunia digital. Proses belajar bisa melalui layar, relasi bisnis dibangun lewat jaringan, dan ekspresi diri menemukan ruangnya secara virtual.

Seperti cerita seorang guru di madrasah kami yang mempunyai putra usia belasan tahun. Ketika ditanya guna main game, menurut putranya bahwa tujuan ngegame dalam rangka mengembangkan dan merekatkan relasi bisnisnya untuk kepentingan perdagangan online (olshop).

Perbedaan dunia ini melahirkan perbedaan bahasa nilai. Ketika bahasa itu tak saling diterjemahkan dan dipahami, yang muncul adalah saling curiga. Kalau hal ini berkelanjutan, akan berakibat terjadinya jurang komunikasi dan membuahkan ketidakharmonisan keluarga.

Dalam suasana tersebut, anak mulai merasa asing hidup dalam keluarga, karena aktivitasnya dirasa sebagai penyimpangan. Apabila berkelanjutan, hal tersebut akan menanamkan suasana “baiti naari”. Akhirnya, fenomena kemunculan anak punk sebenarnya merupakan efek dari gap keluarga tanpa solusi.

Perspektif Islam: Mendengar Sebelum Menasihati

Al-Qur’an memberi teladan komunikasi yang sangat halus. Dalam Surah Ali Imran ayat 159, Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan adalah pintu masuk pendidikan. Nasihat yang benar bisa ditolak jika disampaikan dengan cara yang melukai. Dalam suasana kasih sayang keluarga, anak selalu merindukan ayah-ibunya dan keluarganya.

Rasulullah ﷺ juga dikenal sebagai pendidik yang lebih banyak mendengar sebelum mengarahkan. Kepada para pemuda, beliau tidak mematikan potensi, tetapi mengarahkan energi mereka.

Dalam konteks ini, mendengar cerita anak tentang dunianya adalah bagian dari adab mendidik.

Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara: Menuntun, Bukan Menarik Paksa

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa tugas pendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Menuntun berarti berjalan bersama, bukan menyeret. Anak-anak hari ini memiliki kodrat zaman digital. Mengingkari kodrat itu hanya akan membuat pendidikan kehilangan relevansinya.

Prinsip among—asah, asih, asuh—menjadi sangat kontekstual:

  • Asah: mengarahkan potensi digital menjadi kemampuan berpikir dan berkarya.
  • Asih: menerima dunia anak dengan empati.
  • Asuh: memberi batas dan nilai, bukan kebebasan tanpa arah.

Dari Larangan ke Kesepakatan

Islam dan pendidikan sama-sama mengajarkan tanggung jawab. Maka solusi bukan pada pelarangan total, melainkan kesepakatan yang mendidik.

Orang tua dapat berkata:

“Ayah/Ibu paham ini menyenangkan buatmu. Tapi ada kewajiban yang harus kamu jaga. Mari kita atur waktunya bersama.”

Di sini anak belajar bahwa kebebasan selalu berdampingan dengan amanah.

Menyempitkan Jurang, Membuka Jalan

Jurang generasi tidak akan hilang. Tapi ia bisa dipersempit dengan empati, dialog, dan nilai.

Ketika orang tua mau sedikit belajar tentang dunia anak, dan anak mau sedikit memahami kekhawatiran orang tua, rumah kembali menjadi ruang aman untuk bertumbuh. Mengusahakan rutin makan bersama untuk saling ngobrol merupakan langkah positif membangun komunikasi, untuk keindahan baiti jannati.

Bukan HP yang memisahkan generasi, melainkan kegagalan kita dalam berinteraksi dan saling memahami.

Dan pendidikan—dalam Islam maupun dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara—selalu dimulai dari relasi yang manusiawi.

Baca Juga: Belajar Kelas Sosial dari Cara Kita Berjabat Tangan


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: gap generasijurang generasikecanduan gamekonflik generasiparentingperbedaan generasi
Previous Post

KH. Ahmad Nasikhun: Sang Pemimpin Visioner dari Paesan

Tim Redaksi

Tim Redaksi

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id