Peristiwa Dua Kiblat
Bulan Sya’ban Tahun ke-2 Hijriyah merupakan momentum yang sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin zaman now, agar dapat memetik hikmah.
Di bulan tersebut terjawablah doa Rasulullah SAW setelah terusir dari tanah kelahirannya (Mekah), sehingga beliau bersama para sahabat berhijrah ke Madinah (Yatsrib).
Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis bersama para sahabat. Namun di dalam hati beliau terpaut rindu pada tanah air, sehingga beliau berdoa agar dapat shalat menghadap kampung halaman, yaitu Masjidil Haram.
Setelah belasan purnama, Allah SWT finally mengabulkan doa Sang Kekasih melalui ayat-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 144:
“Sungguh, Kami (sering) melihat wajahmu (Muhammad) menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) benar-benar mengetahui bahwa (perubahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
Sahabat Al-Barra’ RA menceritakan detail peristiwa ini dalam riwayat hadis:
“Dari Al-Barra’, bahwa Nabi SAW ketika pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah kepada nenek moyangnya atau paman-pamannya dari Anshar.
Dan beliau melakukan shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan.
Baitul Maqdis dijadikan kiblat sebelum Ka’bah, hal itu membuat beliau takjub. Shalat pertama yang beliau lakukan adalah shalat Ashar, dilakukan bersama kaumnya.
Salah seorang yang shalat bersama beliau keluar dari masjid menemui para jamaah masjid yang sedang dalam posisi rukuk seraya berkata: ‘Saya bersaksi dengan nama Allah, saya telah shalat bersama Rasulullah SAW menghadap ke Mekah,’ maka mereka pun memutar arah menghadap Ka’bah.
Dalam riwayat lain, saya mendengar Al-Barra’ RA berkata: ‘Kami shalat bersama Nabi SAW menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian berubah arah menghadap kiblat.’”
Hikmah
Dengan memahami ayat dan hadis tersebut, dapat diketahui the purpose Rasulullah SAW dan para sahabat shalat menghadap Baitul Maqdis, kemudian berpindah ke Masjidil Haram, yaitu agar disaksikan oleh ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Allah SWT hendak menguji keimanan kaum muslimin dan orang-orang ahli kitab, serta membuktikan siapa yang benar-benar mau mengikuti Rasulullah SAW.
Peristiwa ini menjadi sebab terfitnahnya sebagian kaum muslimin yang masih lemah imannya; mereka murtad dan kembali kepada agama semula.
Orang-orang ahli kitab melancarkan kecaman keras terhadap Islam akibat perpindahan arah kiblat ini. Mereka tidak menyadari bahwa milik Allah-lah timur dan barat. Dialah yang memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Peristiwa ini terjadi di Masjid Bani Salamah yang sekarang dikenal dengan Masjid Qiblatain.
Referensi
- Al-Arba‘un Al-Maqdisiyyah
- Moraweh Mosa Naser Nassar
- Nurul Yaqin fii Siiroh Sayyid Al-Mursaliin, Muhammad Khudlori
Srinahan, 15 Februari 2026
Baca Juga: Syahidah Pertama Tanpa Pembela
Penulis: Hikman Adli
Editor: Yusril Mahendra


