Dalam khazanah ajaran KH. Ahmad Rifa’i, terdapat banyak nasihat yang tajam namun penuh kasih. Salah satunya termuat dalam kitab Tafriqoh, halaman 269, yang mengingatkan tentang bahaya merasa diri paling alim dan paling benar.
Berikut petikan nadzam tersebut:
“Tanbihun gholib alim seneng den mulyaaken menungso
Ngaku alim sarta adil salahe tan mirso
Sarirane fasiq rumoso ora doso
Angger tinemu kuncoro wong sak deso.”
“Ora ngerti sababe fasiq ing sariro
Anakalane fasiq saking anak rabine ora ngiro
Lan anakalane fasiq saking ibadahe tan benero
Iku kabeh kang dadi sababe fasiq ora bicoro.”
Peringatan bagi yang Merasa Alim
Dalam bait tersebut, beliau menegur fenomena yang sering terjadi: seseorang yang dikenal alim, dimuliakan manusia, bahkan mengaku adil dan berilmu—namun tidak menyadari kesalahan dirinya sendiri. Ia merasa bersih dari dosa, padahal kefasikan justru melekat dalam dirinya.
Inilah penyakit hati yang halus namun berbahaya: merasa suci, tetapi buta terhadap aib pribadi.
Tidak Sadar Sumber Kefasikan
Lebih jauh lagi, nadzam ini menjelaskan bahwa seseorang kadang tidak memahami sebab kefasikan dalam dirinya. Bisa jadi kefasikan itu bersumber dari keluarganya—anak dan istrinya—yang tidak dibimbing dengan benar. Atau bahkan dari ibadahnya sendiri yang tidak sah dan tidak benar tata caranya.
Namun ironisnya, semua sebab itu tidak pernah ia bicarakan, tidak pernah ia koreksi. Ia sibuk melihat orang lain, tetapi lalai menghisab dirinya sendiri.
Introspeksi Sebelum Menghakimi
Pesan ini sangat relevan sepanjang zaman. Kemuliaan di mata manusia bukan jaminan kemuliaan di sisi Allah. Gelar alim tidak otomatis menjadikan seseorang selamat dari kefasikan. Justru semakin tinggi ilmu, semakin besar tuntutan untuk jujur pada diri sendiri.
Nasihat ini mengajak kita untuk:
- Tidak tergesa-gesa mengaku alim dan adil.
- Tidak merasa paling benar.
- Selalu mengevaluasi ibadah dan keluarga kita.
- Berani mengakui kekurangan diri sebelum menilai orang lain.
Karena sejatinya, yang paling berbahaya bukanlah kefasikan yang tampak, tetapi kefasikan yang tidak disadari.
Semoga nasihat dari KH. Ahmad Rifa’i dalam Tafriqoh ini menjadi cermin bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, membersihkan hati, dan menjaga keikhlasan dalam berilmu serta beribadah.
Baca Juga: Alim? Kok gitu?
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


