Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Dari Tanahbaya untuk Nusantara: Perjalanan Pondok Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah

Merawat Api Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i di Bumi Pemalang

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
February 24, 2026
in Kolom, Sejarah
0
Dari Tanahbaya untuk Nusantara: Perjalanan Pondok Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah
0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pada hari Senin di bulan Februari 1993, di sebuah desa bernama Tanahbaya, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sebuah peristiwa sejarah berlangsung dengan penuh khidmat. Bupati Pemalang, Drs. Suwartono, meresmikan sebuah pondok pesantren yang kelak akan menjadi penjaga nyala tradisi keislaman Nusantara yang telah berusia lebih dari satu abad. Pondok itu bernama Pesantren Rifa’iyah—kemudian dilengkapi namanya menjadi Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah—sebuah nama yang sarat sejarah dan makna.

Tak banyak yang tahu bahwa di balik peresmian sederhana itu tersimpan warisan intelektual dan spiritual yang akarnya menghunjam jauh ke abad ke-19, ke sosok seorang ulama pejuang yang namanya terpahat dalam sejarah Islam Nusantara: KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak.

KH. Ahmad Rifa’i: Ulama Pejuang dari Batang

KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak adalah salah satu ulama Nusantara abad ke-19 yang paling produktif. Ia lahir di Kalisalak, Batang, dan sejak muda telah mendalami berbagai cabang ilmu Islam—dari fikih hingga tasawuf. Dalam bidang fikih ia mengikuti empat mazhab sekaligus: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalam akidah, ia berpegang pada mazhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Sementara dalam tasawuf, ia meneladani Imam Junaidi Al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali—tradisi yang sama yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia hingga hari ini.

Yang membedakan KH. Ahmad Rifa’i dari ulama semasanya adalah keberaniannya menembus tembok bahasa. Di tengah dominasi kitab-kitab berbahasa Arab, ia menulis karya-karyanya dalam huruf Arab Pegon—aksara Arab yang dimodifikasi untuk mengakomodasi bahasa Jawa. Karya-karya itu dikenal sebagai kitab tarajumah, sebuah terjemahan yang bukan sekadar alih bahasa, melainkan sebuah upaya demokratisasi ilmu agama: agar setiap petani, nelayan, dan wong cilik di pesisir utara Jawa pun dapat memahami ajaran Islam yang benar.

Di dalam kitab-kitab tarajumah itu pula KH. Ahmad Rifa’i merumuskan konsep pendidikan karakter yang khas. Ia menetapkan delapan sifat terpuji yang harus ditanamkan—zuhud, qanaah, tawakal, sabar, syukur, ikhlas, tawadhu’, dan wara’—dan delapan sifat tercela yang harus dijauhi. Ajaran ini oleh para pengikut Rifa’iyah dikenal dengan ungkapan Sifat Pinuji Wolu lan Cinelo Wolu, dan hingga kini menjadi fondasi pendidikan akhlak di lembaga-lembaga pendidikan Rifa’iyah.

Lahirnya Sebuah Pondok di Tanahbaya

Adalah Bapak KH. Ahmad Hambali yang menjadi pelopor berdirinya pesantren di desa Tanahbaya. Pada 8 Februari 1993—bertepatan dengan hari Senin, hari yang penuh keberkahan dalam tradisi Islam Jawa—Pondok Pesantren Rifa’iyah resmi berdiri di Randudongkal, Pemalang. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pemalang, disertai pemberian sumbangan sebesar Rp5.000.000 sebagai wujud dukungan pemerintah daerah.

Dalam acara peresmian yang dihadiri para ulama, tokoh masyarakat, dan santri itu, ceramah agama disampaikan oleh KH. Ahmad Syadzirin Amin dari Pekalongan. Pesannya sederhana namun dalam: umat Islam harus ta’aruf (saling mengenal), tasamuh (toleransi), ta’awun (tolong-menolong), tadhamun (saling mendukung), tarahum (kasih sayang), dan ta’afuf (saling memaafkan). Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh pesantren sejak hari pertamanya.

KH. Ahmad Hambali sempat bercita-cita melengkapi nama pesantren menjadi ‘Rifa’iyah Ahlis Sunnah’, bahkan berangan-angan mendirikan Baitul Mal—lumbung padi dan kas sosial seperti di era kekhalifahan—sebagai wujud Islam yang tak hanya spiritual namun juga membangun sektor sosial ekonomi. Meski mimpi itu belum sepenuhnya terwujud, semangatnya tetap hidup.

Estafet Perjuangan: dari Ayah ke Putra

Sebagaimana tradisi pesantren salaf pada umumnya, kepemimpinan pondok kemudian dilanjutkan oleh putra KH. Ahmad Hambali, yaitu KH. Zainal Khafidzin. Di tangan generasi kedua inilah identitas pondok semakin mengkristal: nama resminya diperkukuh menjadi Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah—sebuah nama yang merangkum tiga poros: salafiyah (berpegang pada tradisi ulama terdahulu), rifa’iyah (meneruskan ajaran KH. Ahmad Rifa’i), dan raudlotul ri’ayah (taman pengasuhan dan pendidikan).

Kesinambungan antargenerasi ini bukan sekadar pewarisan jabatan. Ia adalah pewarisan tanggung jawab: bahwa kitab-kitab tarajumah harus tetap dikaji, bahwa nilai-nilai akhlak KH. Ahmad Rifa’i harus terus dihidupkan dalam kehidupan nyata para santri, dan bahwa pesantren harus tetap menjadi jangkar spiritual masyarakat pedesaan di tengah arus modernisasi yang tak kenal jeda.

Gerakan Rifa’iyah: Akar Lokal, Jangkauan Nasional

Pesantren di Tanahbaya ini tidak berdiri dalam kesunyian. Ia adalah bagian dari sebuah gerakan keislaman yang akarnya menjalar jauh melampaui batas geografis Pemalang. Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, terjadi kebangkitan kesadaran bersama di kalangan warga Rifa’iyah di seluruh Jawa.

Momentum penting terjadi pada Desember 1990, ketika sebuah Seminar Nasional bertajuk “Mengungkap Pembaruan Islam Abad XIX: Gerakan KH. Ahmad Rifa’i—Kesinambungan dan Perubahannya” digelar di Yogyakarta. Seminar itu membangkitkan kesadaran kolektif: bahwa warisan intelektual KH. Ahmad Rifa’i terlalu berharga untuk dibiarkan tenggelam. Setahun kemudian, 1991, warga Rifa’iyah turut meramaikan Festival Istiqlal di Jakarta—sebuah pentas kebudayaan Islam terbesar Indonesia kala itu.

Gelombang kebangkitan ini pun sampai ke Jawa Barat. Komunitas Rifa’iyah di sepanjang pantai utara—di Cirebon, Karawang, Indramayu, dan Subang—mulai berorganisasi. Pada 1996, berdiri Forum Silaturahmi Jamaah Rifa’iyah Jawa Barat, yang secara rutin menggelar pengajian selapanan (setiap Ahad Pahing) secara bergantian antarkabupaten. Ribuan jamaah berkumpul di halaman masjid-masjid kecil, meneruskan tradisi mengaji yang pernah dihidupkan oleh para pendahulu mereka di pesantren-pesantren Kendal, Pekalongan, dan Wonosobo.

Fakta bahwa ajaran Rifa’iyah telah menyebar ke Jawa Barat jauh sebelum pesantren di Tanahbaya berdiri—dibawa oleh Kiai Ahmad Idris dari Batang hingga ke Cirebon—membuktikan daya sebar sebuah tradisi yang berakar kuat: bukan karena paksaan, melainkan karena relevansinya bagi kehidupan masyarakat bawah.

Karakter sebagai Inti Pendidikan

Di era ketika Indonesia sibuk membicarakan pendidikan karakter sebagai agenda nasional, Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah sesungguhnya telah lama mempraktikkannya—jauh sebelum istilah itu populer di ruang-ruang seminar akademik.

Konsep pendidikan karakter KH. Ahmad Rifa’i, yang tertuang dalam kitab-kitab tarajumahnya, melampaui sekadar teori. Ia bersifat holistik: menyentuh ranah kognitif (mengetahui kebaikan), afektif (mencintai kebaikan), sekaligus psikomotorik (melakukan kebaikan). Dalam bahasa pendidikan modern, itulah yang disebut Thomas Lickona sebagai knowing, desiring, and doing the good.

Yang membuat konsep ini khas adalah cara penyampaiannya: tidak dalam bahasa Arab yang jauh dari jangkauan rakyat biasa, melainkan dalam bahasa Jawa berhuruf Pegon yang akrab di telinga para petani dan pedagang kecil. KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya seorang teolog—ia adalah seorang pendidik rakyat.

Tantangan Zaman, Keteguhan Tradisi

Perjalanan pesantren ini tidak selalu mulus. Ketika Dr. KH. Abdul Djamil dari IAIN Walisongo Semarang mengunjungi komunitas Rifa’iyah di Jawa Barat pada 1999, ia menemukan sebuah tantangan yang juga relevan bagi pesantren-pesantren Rifa’iyah di Jawa Tengah, termasuk Tanahbaya: generasi muda yang bersemangat namun kurang akrab dengan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i, karena tidak nyantri di pesantren Rifa’iyah.

Fenomena ini adalah tantangan universal yang dihadapi oleh semua tradisi keislaman di era modern: bagaimana mewariskan substansi, bukan sekadar identitas? Bagaimana agar nama Rifa’iyah bukan cuma label, melainkan juga nilai yang terinternalisasi dalam keseharian?

Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah di Tanahbaya, dengan keistiqamahannya mengkaji kitab-kitab tarajumah, adalah salah satu benteng terakhir dari upaya itu. Di sinilah kitab-kitab yang ditulis lebih dari 150 tahun lalu masih dibaca, didiskusikan, dan diamalkan. Di sinilah warisan KH. Ahmad Rifa’i tidak menjadi fosil sejarah, melainkan tetap menjadi panduan hidup.

Tanahbaya: Simpul Kecil dalam Jalinan Besar Sejarah Islam Nusantara

Sebuah desa kecil di lereng Gunung Slamet mungkin tidak tertera dalam peta besar sejarah Islam Indonesia. Tapi Tanahbaya adalah bukti bahwa sejarah tidak selalu ditulis di kota-kota besar. Sejarah yang bermakna sering kali lahir dari sudut-sudut yang sunyi: dari sebuah bilik pesantren di mana seorang kiai tua membacakan kitab tarajumah kepada santri-santrinya, dari sebuah pengajian Ahad Pahing di halaman masjid yang diterangi lampu petromaks, dari sepasang tangan yang dengan tekun menyalin huruf Arab Pegon agar ilmu Allah tidak berhenti mengalir.

Dalam konteks Indonesia yang sedang terus mencari fondasi karakter bangsanya, Pesantren Salafiyah Rifa’iyah Raudlotul Ri’ayah menyodorkan jawaban yang tidak baru, tapi tetap relevan: bahwa karakter sejati lahir bukan dari kurikulum tertulis semata, melainkan dari pembiasaan hidup dalam nilai-nilai luhur—jujur, sabar, ikhlas, dan rendah hati—yang dilakoni hari demi hari, generasi demi generasi.

Lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak Bupati Suwartono meresmikan pesantren itu di sore hari bulan Februari 1993. Banyak yang telah berubah: Pemalang telah berkembang, akses internet telah menjangkau Randudongkal, generasi santri telah berganti puluhan kali. Namun satu hal tetap: di Tanahbaya, api yang dinyalakan KH. Ahmad Rifa’i lebih dari seabad yang lalu masih terus menyala.

Dan selama ada yang merawatnya dengan tekun dan penuh cinta, ia tidak akan padam.

Feature ini disusun berdasarkan dokumen arsip KH. Ahmad Syadzirin Amin dan disertasi akademik Bapak Dr. Muktamar tentang pemikiran pendidikan karakter KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak.

Baca Juga: Reportase Inspiratif: Dari Lumbung Padi ke Cahaya Zaman


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: islam nusantaraKitab TarajumahPemalangpendidikan karakter islamPondok PesantrenrandudongkalSejarah Rifa’iyahtanahbaya
Previous Post

PD AMRI Pati Gelar Diskusi “Kamu Bertanya, AMRI Menjawab”, Bahas Zakat dan Penguatan Keilmuan Kader

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id