Lan saben wong tan ilmu gawe amal lakune
iku ditolak sekeh amal tan katarimane
Ugo taksir ing ilmu tan nono binahune
suko bungah keno penglulu gedhe dosane
Dalam denyut nadi komunal Rifa’iyah, kita tumbuh dengan satu prinsip yang sudah mendarah daging: Ngilmu sebelum Ngamal. Nadham-nadham Mbah Rifa’i yang kerap kita lantunkan bukanlah sekadar warisan sastra lama, melainkan sebuah manifestasi metodologi hidup yang luar biasa modern. Di tengah era yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan yang serba cepat ini, tradisi “mencari ilmu sebelum melangkah” menjadi jangkar yang menjaga kita agar tidak hanyut terseret arus.
Esensi dari ajaran ini adalah kesadaran penuh (mindfulness). Sebagai warga Rifa’iyah, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang teliti. Kita dididik untuk tidak menjadi “makmum” yang buta terhadap keadaan, atau sekadar menjadi objek yang dipermainkan oleh tren zaman. Setiap tindakan yang kita ambil, mulai dari ibadah mahdhah yang paling privat hingga aktivitas sosial yang paling kompleks, haruslah berpijak pada landasan argumen hukum dan keilmuan yang kokoh.
Relevansi budaya ini melampaui batas-batas ruang kelas maupun pesantren. Tradisi ini adalah jawaban nyata atas tantangan dunia hari ini:
- Dalam Muamalah: Kita tidak hanya sekadar bertransaksi, tetapi memahami syariat jual beli agar keberkahan tetap terjaga.
- Dalam Sosial-Politik: Kita tidak mudah terprovokasi atau menjadi korban hoaks karena kita terbiasa menimbang segala sesuatu dengan timbangan ilmu.
- Dalam Teknologi & AI: Kita tidak gagap menghadapi kecerdasan buatan. Sebaliknya, kita mempelajarinya, mencari batas-batas etikanya, lalu menggunakannya sebagai alat untuk kemaslahatan, bukan sekadar menjadi konsumen pasif yang kehilangan jati diri.
Inilah yang membuat warga Rifa’iyah berpotensi menjadi expert dalam kondisi apa pun. Kemampuan untuk mendalami “ilmu” di balik setiap “amal” adalah kunci ketangguhan kita. Kita tidak hanya melakukan sesuatu karena diperintah, tetapi karena kita paham mengapa dan bagaimana hal itu harus dilakukan.
Di zaman yang penuh kebisingan ini, mari kita terus merawat tradisi Ngilmu sebelum Ngamal. Dengan ilmu, kita tidak akan pernah menjadi objek zaman. Dengan ilmu, kita adalah subjek yang mampu mewarnai zaman dengan cahaya kebenaran dan ketelitian. Sebab, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan, namun amal dengan ilmu adalah puncak kemuliaan seorang hamba.
AMS, Benteh, 27 Februari 2026
Baca Juga: Andap Asor: Cermin Hakikat Mukmin dalam Ajaran KH. Ahmad Rifa’i
Penulis: Muhammad Agus Syafaat, Pegiat Omah Tanbihun
Editor: Yusril Mahendra


