Temanggung – Pengurus Daerah Rifa’iyah Kabupaten Temanggung memanfaatkan momentum Ramadan 1447 H untuk memperkuat konsolidasi organisasi melalui kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) di sejumlah ranting. Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi, memperkuat koordinasi, sekaligus menjaring aspirasi warga Rifa’iyah di tingkat bawah.
Sekretaris Pengurus Daerah Rifa’iyah Temanggung, Ustadz Budi Utomo, menjelaskan bahwa bulan Ramadan menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan antarwarga organisasi serta menyamakan persepsi dalam menghadapi berbagai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.
“Ramadan merupakan momen penting untuk merajut silaturahmi dalam rangka memperkuat organisasi, menyamakan persepsi, serta mengantisipasi potensi konflik yang dapat mengancam eksistensi organisasi,” ujarnya.
Menurut Budi Utomo, dinamika dan perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, hal tersebut tidak boleh sampai meretakkan ukhuwah dan menimbulkan perpecahan di dalam organisasi.
“Konflik tetap kita buka sebagai bagian dari dinamika masyarakat, tetapi jangan sampai merusak ukhuwah dan menimbulkan perpecahan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan Tarling ini dibagi menjadi empat tim yang masing-masing dikoordinasikan oleh ketua bidang di kepengurusan daerah. Setiap tim ditugaskan mengunjungi enam ranting, sehingga diharapkan hingga akhir Ramadan seluruh 25 ranting Rifa’iyah di Kabupaten Temanggung dapat terkunjungi.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah materi disampaikan kepada jamaah, di antaranya pentingnya organisasi sebagai sarana menyebarkan ajaran KH. Ahmad Rifa’i, sosialisasi Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) yang akan digelar di Temanggung, rencana Musyawarah Daerah (Musda) Rifa’iyah pada Juni 2026, serta penguatan program infak melalui gerakan kalengisasi sebagai sumber pendanaan organisasi.
Salah satu tim pelaksana, Ustadz Dimyatie Nur Asikin, saat memberikan pemaparan di hadapan jamaah salat tarawih di Masjid Darussalam Ranting Senet pada Kamis malam (5/3), menekankan pentingnya komunikasi langsung antara pengurus daerah dengan warga di tingkat ranting.
Menurutnya, selama ini interaksi dengan jamaah lebih banyak terjadi dalam kegiatan selapanan dan bahtsul masail yang fokus pada pendalaman keagamaan.
“Tarling menjadi momentum penting untuk membangun kedekatan sekaligus membicarakan program organisasi secara lebih intens,” ujar Dimyatie yang juga pengajar PIPP Mambaul Hikmah Bantengan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memotivasi warga untuk lebih aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.
“Organisasi membutuhkan dan mewadahi semua orang dengan berbagai perbedaan untuk memperkuat kepengurusan. Yang terpenting, kita meyakini bahwa Rifa’iyah membawa ajaran yang benar, namun tidak merasa paling benar, sehingga harmonisasi di tingkat bawah tetap terjaga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Ranting Rifa’iyah Senet, Ahmad Masodin, menyambut baik kegiatan Tarling tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi sarana penting untuk berbagi pengalaman sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan organisasi yang muncul di tingkat ranting.
Menurutnya, ranting merupakan ujung tombak organisasi. Jika ranting kuat, maka organisasi secara keseluruhan juga akan kuat.
“Keberhasilan organisasi di tingkat ranting dalam membangun dan melaksanakan program berarti keberhasilan organisasi di tingkat atasnya, begitu pula sebaliknya,” ungkap Masodin yang juga alumni Pondok Pesantren Riadhotus Solihin Pomahan.
Kegiatan Tarling tersebut mendapat respons positif dari warga Rifa’iyah. Hal ini terlihat dari antusiasme jamaah yang hadir serta banyaknya pertanyaan dan harapan yang disampaikan selama kegiatan berlangsung.
Penulis: Abdul Manan
Editor: Yusril Mahendra







