Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Putus Lobane, Merdeka Sejati

Merajut Spirit Karbala dalam Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i dan Jamaah Rifa’iyah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
March 8, 2026
in Kolom
0
Putus Lobane, Merdeka Sejati

Pertempuran Karbala (Abbas Al-Musavi)

0
SHARES
14
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada benang merah yang tersembunyi namun kuat, menghubungkan padang Karbala di abad ke-7 Hijriah dengan pesisir Jawa Tengah di abad ke-19 Masehi. Di Karbala, Imam Husain memilih mati daripada tunduk terhadap pemerintah zalim. Di Batang, Mbah Rifa’i memilih diasingkan daripada bersujud kepada kuasa penjajah. Keduanya berteriak dengan cara yang berbeda, namun dengan jiwa yang sama: merdeka bukan jadi jongos — ia adalah pilihan.

Merdeka: Kata yang Sering Disalahpahami

Kata “merdeka” terdengar sederhana. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai: bebas dari perhambaan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Definisi ini tidak salah, tetapi ia hanya menyentuh kulitnya saja.

Mbah Rifa’i — ulama besar yang lahir di Kendal sekitar 1786 dan diasingkan kolonial Belanda ke Ambon hingga wafatnya pada 1870 — justru menawarkan pemahaman yang jauh lebih dalam. Dalam kitab Bayan Akhir, beliau menulis:

أنْتَ حُرٌ مِمَّا لَهُ اَئِسٌ

Sira mardika saking barang anane — sira saking sawiji wiji putus lobane

(Engkau) merdeka dari segala sesuatu yang ada — merdeka karena segala keinginan (loba-mu) telah putus.

Luar biasa dalamnya. Menurut Mbah Rifa’i, manusia yang belum memutus ikatan hawa nafsunya — rasa loba (tamak) dan raghab (rakus berlebih) — sejatinya belum merdeka, meski ia secara fisik tak berada dalam kurungan siapa pun. Justru sebaliknya: dari dalam dirinya sendiri, ia sudah membangun penjara yang paling kokoh.

“Tidak ada yang bisa mengikat manusia kalau hatinya telah terbebas dari loba. Sebab lobanya lah yang menjadi magnet bagi penjajah untuk mendekat.”

Ini bukan sekadar teori rohani. Ini adalah diagnosis sosial yang sangat tajam. Mbah Rifa’i menunjukkan bagaimana raja-raja Jawa bisa diadu domba oleh VOC, bukan semata karena tipu muslihat Belanda, melainkan karena para raja itu memiliki penyakit thoma’ — ambisi untuk berkuasa. Selama nafsu itu hidup, pintu penjajahan akan selalu terbuka.

Karbala: Ketika Merdeka Dibuktikan dengan Nyawa

Di padang Karbala, 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bin Ali berdiri di hadapan tentara Yazid yang jumlahnya puluhan kali lipat. Ia bukan tidak tahu konsekuensinya. Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia pertaruhkan: kebenaran.

Pemikir besar Ali Shariati merumuskannya dengan indah — Karbala adalah “Darah”, dan Damaskus adalah “Pesan”. Imam Husain menuangkan darah untuk membuktikan bahwa ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar bertahan hidup. Sayyidah Zaynab, saudara perempuannya, kemudian membawa pesan itu melewati kota-kota, bahkan ketika ia sendiri berstatus tawanan.

“Mati dengan bermartabat jauh lebih mulia daripada hidup dalam kehinaan.” — Imam Husain

Imam Ali, ayahanda Husain, pernah mengategorikan manusia berdasarkan niat ibadahnya: ada yang beribadah karena ingin pahala — itu ibadah pedagang. Ada yang beribadah karena takut siksa — itu ibadah budak. Dan ada yang beribadah karena syukur — itulah ibadah orang merdeka.

Husain bin Ali termasuk golongan ketiga. Ia tidak berjuang untuk mendapat kursi kekuasaan. Ia berjuang karena ada sesuatu dalam dirinya yang — dalam bahasa Al-Qur’an — disebut fitrah: kodrat ketuhanan yang Allah tanamkan sejak sebelum manusia dilahirkan ke dunia. Fitrah itu berteriak ketika kebenaran diinjak.

Fitrah vs. Loba: Dua Kutub Manusia

Fitrah adalah kodrat ilahiah dalam diri manusia — dorongan untuk mengenali kebenaran, berkeadilan, dan menyembah hanya kepada Allah. Sementara loba adalah tarikan ke arah sebaliknya: keserakahan, ketergantungan pada makhluk, dan ketundukan pada kuasa duniawi. Perjuangan Imam Husain dan KH. Ahmad Rifa’i adalah perjuangan untuk mempertahankan fitrah dari serangan loba.

Satu Ruh, Dua Zaman: Imam Husain dan Mbah Rifa’i

Mungkin Mbah Rifa’i tidak pernah secara eksplisit menulis “Karbala” dalam setiap kitabnya. Namun jika kita meletakkan ajaran beliau bersebelahan dengan spirit Karbala, kita akan menemukan kesamaan yang menakjubkan. Keduanya berdiri di atas tiga fondasi yang sama:

  1. Kemerdekaan dari Dalam, Bukan dari Luar

Imam Husain tidak menunggu situasi politik berubah dulu sebelum berjuang. Demikian pula Mbah Rifa’i. Saat tanam paksa mencekik rakyat Jawa (1830-an), Mbah Rifa’i tidak mengajak rakyat menunggu Belanda pergi. Ia mengajak rakyat merdeka mulai dari diri: jangan tundukkan hatimu kepada penguasa zalim.

Alim shalih milih angger tinemu merdeka
(Orang alim dan shalih memilih jalan hidup untuk merdeka)

Senadyan disengitana wong duraka
(Meskipun dibenci oleh orang-orang durhaka)

Bait dalam kitab Syarikhul Iman (1838) itu ditulis di masa paling kejam tanam paksa, sebuah undangan untuk merdeka secara batin, bahkan sebelum kemerdekaan fisik terwujud.

  1. Bekerja Mulia, Menolak Tunduk pada yang Hina

Mbah Rifa’i mengajarkan: lebih baik mengangkat cangkul dan menanam jagung untuk keluarga sendiri daripada membungkuk-bungkuk di depan penguasa zalim demi sesuap nasi. Lebih baik jadi buruh yang bermartabat daripada abdi yang hina.

Mukmin kasab pada nandur jagung. Iku luwih becik tinimbang ngawula tumenggung.

(Mukmin yang bekerja menanam jagung itu lebih baik daripada mengabdi kepada penguasa yang zalim.)

Bukankah ini gema dari ucapan Imam Husain? Bahwa ada martabat yang tidak bisa dibeli dengan keselamatan duniawiyah. Bahwa ada kondisi di mana tunduk justru adalah bentuk kematian yang paling memilukan, karena ia membunuh jiwa sebelum raga tiada.

  1. Melawan dengan Ilmu dan Suara, Bukan Hanya Pedang

Sayyidah Zaynab berdiri di istana Yazid sebagai tawanan, tetapi ia bersuara lebih keras dari pemenang. Mbah Rifa’i diasingkan ke Ambon, tetapi kitab-kitabnya dalam aksara Pegon Jawa terus dibaca dan diajarkan. Keduanya memilih senjata yang paling abadi: kata-kata yang jujur.

Penulis Jawad Iqbal Amiri dalam kajian Karbala-nya mengingatkan: “Karbala adalah darah yang menjelma pesan. Tanpa Zaynab yang berbicara, Karbala hanya akan menjadi tragedi yang terlupakan.”

Mbah Rifa’i pun demikian — ia tidak hanya berjuang secara fisik; ia menyemai kesadaran melalui kitab-kitabnya agar perlawanan terus hidup lintas generasi.

Warisan yang Hidup: Spirit untuk Jamaah Rifa’iyah

Lantas, apa artinya semua ini bagi Jamaah Rifa’iyah hari ini?

Kita mungkin tidak sedang menghadapi bedil kompeni atau pedang Yazid. Tetapi tantangan kemerdekaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Bentuknya berubah. Kini ia hadir dalam wujud ketergantungan pada jabatan, ketundukan pada patron politik, atau sekadar loba yang membuat kita tidak berani berkata benar di depan yang salah.

“Seberapa miskin pun tak akan ada yang bisa mengikatnya kalau hatinya terbebas dari loba.”

Mbah Rifa’i telah mewariskan tiga amanat besar yang sangat selaras dengan spirit Karbala:

  • Putus Lobane: Beranikan diri memutus ikatan ketamakan. Selama hati masih bergantung pada pujian manusia dan pemberian penguasa, kita belum merdeka.
  • Kasab Mulia: Bekerja dengan tangan dan pikiran sendiri. Pilih jalan yang halal meski tampak kecil daripada jalan yang menghinakan meski tampak besar.
  • Ilmu sebagai Senjata: Seperti Mbah Rifa’i dengan kitab-kitabnya dan Sayyidah Zaynab dengan pidatonya, gunakan ilmu untuk membela kebenaran. Suara yang jujur adalah warisan terbesar.

Husain bin Ali tidak gugur untuk dikenang dengan tangisan semata. Ia gugur untuk menjadi kompas: menunjukkan ke mana arah manusia yang benar-benar hidup seharusnya melangkah. Begitu pula Mbah Rifa’i — ia bukan sekadar leluhur historis Jamaah Rifa’iyah. Ia adalah mercusuar yang terus menyala, memberitahu kita: jalan kemerdekaan itu ada, dan ia selalu dimulai dari dalam dirimu sendiri.

Penutup: Karbala Selalu Hidup di Antara Kita

Shariati pernah berkata: “Mereka yang telah gugur masih hidup; kita yang hidup sudah mati.” Kalimat itu bukan tuduhan — ia adalah undangan. Undangan untuk benar-benar hidup: dengan pilihan yang sadar, dengan keberanian yang tidak bergantung pada keselamatan pribadi, dan dengan cinta kepada kebenaran yang melampaui rasa takut.

Jamaah Rifa’iyah mewarisi dua aliran sumber mata air yang sama jernihnya: spirit Karbala yang melampaui zaman dan jalan Mbah Rifa’i yang membumi di tanah Jawa. Maka biarlah perjuangan kita hari ini — dalam bentuk apa pun — menjadi jawaban atas dua suara itu. Bukan sekadar dikenang, tetapi diteruskan dan diperjuangkan.

Sumber

  1. Jawad Iqbal Amiri, “Towards Freedom and Dignity in the Paradigm of Karbala and Damascus”, Message of Thaqalayn Vol. 6 No. 2, 2001.
  2. KH. Ahmad Rifa’i, Syarikhul Iman.
  3. KH. Ahmad Rifa’i, Bayan Akhir.

Baca Juga: Dari Dapur ke Mimbar, dari Pekalongan ke Nusantara: Perempuan Rifa’iyah Menulis Sejarahnya Sendiri


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KarbalaKH. Ahmad RifaiKitab BayanMerdeka sejatiPeristiwa KarbalaPerjuangan Rifa'iyahSyarikhul Iman
Previous Post

Perkuat Silaturahmi dan Konsolidasi, PD Rifa’iyah Temanggung Gelar Tarawih Keliling ke 25 Ranting

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id