Suasana alam di Pekalongan diliputi awan nan mendung, seakan menangis mengiringi kepergian seorang ulama besar ke negeri seberang. Burung-burung yang biasa terbang menari dan menyanyi menyongsong terbitnya sang surya nan jauh di sana, saat itu membisu lesu dan pilu, merintih menangis, seolah ikut berduka cita atas kepergian seorang panutan dan penuntun jalan lurus menuju pantai kebahagiaan.
Suasana mencekam menghantui murid-murid di Pesantren Kalisalak . Umul Umrah, Sujainah, Fatimah dan keluarga bercucuran air mata melepas kepergian seorang pembimbing yang bijaksana. Anak lelaki yang baru beberapa bulan lahir menangis tiada henti-hentinya, seolah merasakan kepedihan yang mendalam, karena bapak telah pergi. Hancur luluh hati keluarga dan murid-murid yang setia, dan hanya kalimat Istirja’ yang dapat mereka ucapkan. Itulah suratan takdir. Itulah kehendak Allah. Semuanya merupakan Sunnatullah yang tak pernah bergeser. Hanya dengan sabar dan tawakal beriringan dengan imanlah yang akan menentramkan hati dalam menghadapi segala ragam godaan dan cobaan.
Pada suatu kesempatan, dua orang ulama murid datang menemui Syaikh Ahmad Rifa’i di Pekalongan. Muhammad Ilham dan Haji Abdul Qahhar datang menghampiri seorang Guru yang sedang menjalani uji coba kesekian kalinya dalam kancah dan langkah perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan di bumi pertiwi yang tercinta.
Muhammad Ilham berkata: “Ayah kami melihat Ayah sudah tua, tanggung jawab kepada ummat cukup berat, keluarga Ayah memerlukan bimbingan. Kami berdua masih muda-muda, tanggung jawab kami masih ringan, dan kami siap membantu kepentingan Ayah. Maka perkenankanlah kami menggantikan Ayah untuk pergi ke Ambon atau kami berdua menyertai Ayah kesana.”
Baca Juga: Gema Takbir di Balik Jeruji: Mengenang 13 Hari Luka Pekalongan
Syaikh Ahmad Rifa’i menjawab: Anakku Ilham, anakku H. Abdul Qahhar, terima kasih atas kebaikanmu, semoga Allah melimpahkan rahmat untukmu. Allah telah mentakdirkan kita untuk berpisah. Ambon dan Jawa sama-sama bumi Allah, dimanapun kita berada senantiasa akan memohon kepada Allah atas pertolongan-Nya. Kepergianku ke Ambon seperti kepergian Rasulullah ke Madinah. Maka kepergianku ini tidak perlu kalian tangisi. Bagiku cukup didampingi dengan kekuasaan Allah. Usia tuaku semoga tidak mengurangi semangatku dalam beribadah dan berjuang.
Anakku Ilham dan Abdul Qahhar, jagalah dirimu dan keluargamu baik-baik. Binalah murid-murid supaya selalu beriman, beribadah dan berjuang karena Allah, agar memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Kitab Abyanal yang belum diharkati segera dikerjakan, supaya dapat dibaca dan diamalkan oleh murid-murid yang menghajatkan. Aku titipkan anakku bungsu lelaki yang masih bocah itu kepadamu, agar kalian didik ilmu agama, saatnya besar nanti, agar menjadi seorang muslim yang taat mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah. Untuk sementara kita berpisah. Suatu saat kita akan bertemu kembali. Kalau tidak di dunia, insya Allah akan bertemu di akhirat nanti. Jalinlah kerukunan ummat agar kokoh dan kuat. Aku titipkan amanah Allah kepadamu. Sampaikan salamku kepada murid-muridku. Aku tetap akan menjaga keadilanku sebagai guru, insya Allah. Inilah janji Allah telah datang, aku harus berpisah menuju negeri seberang.
Anakku Muhammad Ilham, anakku Abdul Qahhar sampailah disini perjumpaan kita, selamat berjuang, selamat beribadah. Relakan aku pergi meninggalkan anak istri dan murid-murid. Selamat berpisah sampai jumpa lagi. Semoga anak muridku dapat mengenang peristiwa ini sebagai takdir Illahi.”
Sementara para ulama tradisional dan birokrat pribumi serta orang-orang yang membenci berpesta ria menyambut keputusan pengadilan: mengasingkan Syaikh Ahmad Rifa’i ke Ambon. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk melampiaskan balas dendam yang selama ini terpendam. Barangkali mereka juga menduga bahwa tidak lama lagi gerakan Rifa’iyah akan bubar dengan sendirinya, karena sudah ditinggalkan founding father -nya. Namun ternyata, gerakan Rifa’iyah tetap hidup dan berkembang hingga sekarang.
Dikutip dari Buku Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’I dalam Menentang Kolonial Belanda, KH. Ahmad Syadzirin Amin
Penulis: Agus Muhammad Shodiq
Editor: Sofarul Wildan Akhmad

