Rifaiyah.or.id – Momen Idulfitri identik dengan tradisi silaturahmi dan kumpul keluarga besar. Di tengah kehangatan saling bermaafan, sering kali muncul interaksi fisik maupun sosial yang perlu ditinjau kembali secara syariat. Memahami siapa saja yang termasuk mahram (orang yang haram dinikahi) dan siapa yang merupakan ajnabiyah (orang asing/bukan mahram) menjadi krusial guna menjaga batasan pergaulan yang tepat.
Secara terminologi, mahram adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki tertentu untuk selamanya karena alasan yang dibenarkan syariat. Ketidaktahuan mengenai status mahram dapat berimplikasi pada pelanggaran hukum fikih lainnya, seperti batasan bersentuhan (jabat tangan), berkhalwat (berduaan), hingga urusan safar (bepergian jauh) dengan non mahram (ajnabiyah).
Rincian 14 Golongan Mahram
Ke-14 golongan ini terbagi menjadi tiga jalur utama:
I. Jalur Nasab (7 Golongan)
-
Ibu: Termasuk nenek ke atas, baik dari jalur ayah maupun ibu. Biyang lan sanedyan sependuwur
-
Anak Perempuan: Termasuk cucu perempuan ke bawah, baik dari anak laki-laki maupun perempuan. Anak wadon haram tinutur lan sandeyan sepengisor banjur. KH Ahmad Rifa’i menjelaskan bahwa anak hasil zina perempuan termasuk halal dinikahi. Sebaliknya bagi ibu dengan anak laki-laki hasil zina, lan haram biyangane ngelakeaken ing anake lanang nyatane.
-
Saudara Perempuan: Baik saudara kandung, seayah saja, maupun seibu saja. Lan wernane haram sedulur wadonan tunggal bapa biyang tuwin tunggal bapaane tuwin tunggal biyang haram kinaweruhan.
-
Keponakan (Anak Perempuan dari Saudara Laki-laki): Hingga ke bawah. Lan anake wadon sedulur lanangan.
-
Keponakan (Anak Perempuan dari Saudara Perempuan): Hingga ke bawah. Lan anake wadon sedulur wadon anane.
-
Bibi dari Jalur Ayah (‘Ammah): Saudara perempuan ayah (termasuk bibinya ayah). Lan biyange wadon sedulur bapa temenan.
-
Bibi dari Jalur Ibu (Khalah): Saudara perempuan ibu (termasuk bibinya ibu). Lan biyangane wadon sedulure biyang kenyataan
II. Jalur Persusuan/Radha’ (2 Golongan)
-
Ibu yang Menyusui (Ibu Susu). Biyang kang nusoni nyatane
-
Saudara Perempuan Persusuan. Lan sedulur wadon nunggal susune. Demikian juga setiap hubungan yang haram karena nasab, juga haram karena persusuan, namun dua ini adalah yang utama disebutkan dalam nash. Lan harame syarido` kinaweruhan barangkang haram senasab pitung wilangan.
III. Jalur Mushaharah/Pernikahan (5 Golongan)
-
Ibu Mertua: Ibu dari istri (haram sejak akad nikah dilakukan). Biyangane rabine tinemune lan senadyan sependuwur sama anane saking senasab tuwun syaridho`. Mahram ini berlaku baik istri sudah di-dukhul atau belum.
-
Anak Tiri (Rabibah): Jika sang ayah sudah melakukan hubungan intim (dukhul) dengan ibunya. Lan anak kuwalon anake wadonan saking rabine tetkolo wis kewathen biyangane.
-
Istri Ayah (Ibu Tiri): Bagi anak laki-laki, istri ayahnya haram dinikahi selamanya. Lan rabine bapa kenyataaan
-
Istri Anak (Menantu): Bagi ayah, istri dari anak kandungnya haram dinikahi selamanya. Lan rabine anak lanang tinemune lan sepengisore anak anane
-
Istri dari Ayah Mertua/Istri dari Kakek: (Masuk dalam kategori istri leluhur/istri ayah). Lan rabine bapa kenyataaan lan sependuwur
Di atas adalah kategori wanita yang haram dinikahi secara permanen (mu’abbad). KH Ahmad Rifa’i menyampaikan kategori mahram (haram dinikahi) lainnya yaitu ghoiru mu`abbad (muaqqot): perempuan haram dinikahi yang sifatnya hanya sementara. Larangan ini muncul hanya karena sebab menghimpun (al-jam’u). yaitu ipar. Sedulur wadon rabine kenyataan iku tan keno diwayoh nikah kumpulan antarane rabine lan sedulur wadone saking tunggal bopo tuwin biyang anane atawo saking karone senasab nyatane tuwin syaridho` dadiyo podo ridhone.
Selain saudara kandung, dalan kitab lain menerangkan seorang laki-laki dilarang menikahi seorang wanita sekaligus dengan bibi dari wanita tersebut.
Berbeda dengan mahram mu’abbad (seperti ibu/saudara kandung yang haram selamanya), mahram muaqqat tetap bukan mahram dalam hal batasan aurat dan berduaan (khalwat). Ipar, misalnya, adalah orang asing (ajnabi) yang tetap wajib menutup aurat, tidak boleh berduaan dan mushofahah.
Sumber: Tabyinal Islah, Fathul Qorib
Baca Juga: Adab Halal Bihalal & Larangan Ikhtilath Menurut KH Ahmad Rifa’i
Penulis: Ahmad Zahid Ali
Editor: Ahmad Zahid Ali


