Sebagaimana umumnya di seantero penjuru Indonesia, kalau musim Lebaran, umat Islam di sana pasti melakukan kegiatan wajib yang biasa disebut Halalbihalal.
Halalbihalal sudah menjadi istilah umum dan sudah membudaya yang selalu dilestarikan umat Islam Indonesia di setiap momen Lebaran, meskipun istilah tersebut menurut sebagian ulama pakar bahasa Arab secara ilmu nahwu shorof kurang tepat. Namun, tidak mengapa karena merupakan kegiatan yang positif dan menjadi ciri khas sekaligus keunikan bagi umat Islam Indonesia.
Bagi kami pegiat AMRI zaman now, khususnya AMRI Cabang Kesesi, di setiap momen Lebaran punya agenda Halalbihalal keliling dari ranting ke ranting yang belakangan ini kami sebut dengan istilah Hiling (Halalbihalal Keliling). “Hiling kesane men kekinian raaa leh.. hehehe”.
Kegiatannya sih biasa saja, silaturahmi dan sowan AMRI dengan pinisepuh Rifa’iyah. Namun, di momen Lebaran banyak teman yang merantau pada pulang kampung, dan dengan adanya kegiatan Hiling ini kita jadi bisa bertemu dan banyak bercerita memori kenangan bersama di masa lalu, gendu rasa keadaan sekarang, dan ngobrolin bagaimana masa depan, seneng nemen pokokmen.
Kegiatan Hiling tahun ini dimulai dari Ranting Besimahan yang disambut penuh bangga dan bahagia oleh Ustadz Erlani yang miris melihat keadaan anak-anak dan pemuda zaman now yang sulit diajak untuk ngaji, apalagi berkegiatan bahkan berorganisasi.
Beliau tahadduts binni’mah dengan menceritakan semangat generasi awal para perintis AMRI Cabang Kesesi yang dikomandoi oleh almaghfurlah K. Abdullah Hamzah yang sangat semangat dan ramai sekali pada era itu.
“Orang tua tergantung bagaimana pemudanya.. kalau pemudanya loyo ya orang tuanya loyo..” salah satu komentar beliau karena orang tua ikut bagaimana pemuda yang masih lincah pergerakannya.
Tapi melihat antusiasme para AMRI di kegiatan Hiling kali ini, beliau yakin ke depannya ghirroh para perintis AMRI akan selalu terwariskan dan pasti lebih menyala.
Dilanjut sambutan full senyum “Pepsodent” dari Bapak Rosidin di Ranting Srinahan karena melihat yang hadir begitu ramai,
“Kalau pengajian selapanan Rifa’iyah pemudanya bisa ramai kayak begini mantap sekali, ya maklum karena kebanyakan pemuda pada merantau..” lalu disahuti gelak tawa dan riuh tepuk tangan AMRI.
Dipungkasi sambutan Ustadz Ghofur di Ranting Jenggul yang berpesan mengutip nadhom Imrithi:
اذ الفتى حسب اعتقاده رفع
وكل من لم يعتقد لم ينتفع
Sebagai pemuda harus punya keyakinan. Kalau tidak punya keyakinan, tidak akan bisa bermanfaat. Maka dari itu, sebagai pemuda harus punya tekad yang yakin supaya bisa bermanfaat.
Dan untuk yang terakhir ini cuma disahuti dengan senyuman, mata sayu, dan helaan napas.. ya karena sudah siang, capek, kwaregen mangan jajan, sing nyambut napa ustadz barengane dewek (ustadz esih AMRI tapi wes senior).. ya ora patiya durusi.. pora temen!!
Demikian cerita Hiling AMRI Cabang Kesesi.
Share juga dong cerita HBH di tempat kalian 😊
Mangli, Randudongkal, 3 Syawal 1447 H
Baca Juga: Mas’ad dan Mbah Mad: Malaikat Ketipu Mobil Takbiran
Penulis: Hikman Adli
Editor: Yusril Mahendra

