Temanggung – Pengurus Daerah (PD) Rifa’iyah Temanggung secara resmi memulai kembali kegiatan organisasi pasca bulan Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (28/3) di halaman Masjid Jami’ At-Taqwa, Mbatok, Desa Kebonsari, Kecamatan Wonoboyo.
Pembukaan kegiatan ini dirangkaikan dengan peringatan Khaul ke-97 Kiai Hasan Marwi, tokoh sentral yang dikenal sebagai peletak dasar ajaran agama di lingkungan Ranting Rifa’iyah Mbatok. Acara semakin khidmat dengan kehadiran penceramah, Habib Mustofa Al Alydrus dari Bangilan, Tuban, Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Ketua PD Rifa’iyah Temanggung yang diwakili oleh K. Sobikun menyampaikan bahwa kegiatan selapanan yang dikolaborasikan dengan khaul memiliki nilai strategis dalam membangun semangat warga.
Menurutnya, mengenal biografi dan perjuangan para ulama dapat memberikan dampak psikologis yang kuat bagi jemaah untuk meneladani nilai-nilai perjuangan mereka.
“Nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para ulama akan memberikan energi positif bagi umat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa kepengurusan PD Rifa’iyah Temanggung akan berakhir pada Juli 2026, sehingga seluruh ranting diharapkan mulai menyiapkan kader-kader terbaiknya.
Selain itu, Temanggung juga akan menjadi tuan rumah Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) tahun ini.
“Kami mohon dukungan semua pihak. Mengelola organisasi bukan hal ringan, karena harus mengurus jam’iyah dan jemaah sekaligus. Dakwah harus diiringi gerakan, inovasi, dan sentuhan seni,” tambah Sobikun yang juga Kepala MI Rifa’iyah Seneng, Desa Pateken.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Habib Mustofa Al Alydrus menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam kegiatan pengajian rutin seperti selapanan.
Ia menyebut bahwa pengajian umum hanyalah pelengkap, sedangkan kekuatan utama terletak pada rutinitas yang berkelanjutan.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab pribadi serta memperbanyak rasa syukur dalam segala kondisi.
Menurutnya, terdapat dua dosa yang balasannya kerap disegerakan di dunia, yaitu berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.
“Banyak orang menderita di akhir hidupnya akibat kezaliman dan murka orang tua. Rida dan murka orang tua sangat menentukan,” jelasnya.
Habib Mustofa juga mengingatkan agar ibadah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga diimbangi dengan kepedulian sosial.
“Orang yang bangkrut adalah mereka yang rajin beribadah, tetapi gemar menggunjing orang lain. Amal kebaikannya bisa habis karena diberikan kepada orang yang dizalimi,” tuturnya.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari warga Rifa’iyah. Sekitar 1.000 jemaah dari berbagai ranting di Temanggung memadati lokasi acara dan mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.
Sejumlah tokoh dan ulama turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya KH Syihabudin (PP Al-Hadist Wonorejo), K. Imbuh Jumali (PP Riyadhotus Sholihin), K. Nur Yasin (PIPP Mambaul Hikmah Bantengan), K. Samsul Ma’arif, K. Muhyidin, KH Sargito Rohmat, serta jajaran pengurus daerah dan ranting Rifa’iyah se-Kabupaten Temanggung.
Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Konsolidasi, PD Rifa’iyah Temanggung Gelar Tarawih Keliling ke 25 Ranting
Penulis: Abdul Mannan
Editor: Yusril Mahendra








