Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Ketahanan Ekonomi Warga Rifa’iyah di Krisis Global 2026

Tim Redaksi by Tim Redaksi
April 8, 2026
in Kolom
0
ketahanan ekonomi warga

Bibit sayuran hidroponik dengan akar sehat sebagai langkah kemandirian pangan rumah tangga. (infarm)

0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meledak di awal 2026 bukan hanya soal perang di negeri orang. Dalam waktu singkat, getarannya sudah sampai ke pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah — harga sembako naik, rupiah melemah, dan biaya hidup terasa semakin berat. Bagi kita yang tinggal di desa atau kota kecil, krisis global ini terasa nyata dalam bentuk yang paling sederhana: dompet yang lebih cepat habis sebelum akhir bulan.

Di sinilah Rifa’iyah — sebagai organisasi dengan akar panjang dalam sejarah kemandirian dan perlawanan terhadap ketidakadilan — memiliki peran yang sangat penting. Tulisan ini adalah panduan praktis sekaligus refleksi agar warga Rifa’iyah tidak hanya bertahan di tengah badai, tetapi juga mampu menjadi pelita bagi sesama.

Mengapa Harga-Harga Naik? Memahami Akar Masalahnya

Untuk memahami apa yang sedang terjadi, kita perlu mengenal satu nama: Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini adalah ‘pintu gerbang’ energi dunia. Setiap hari, sekitar seperlima dari seluruh pasokan minyak dan gas bumi dunia melewati jalur ini. Ketika konflik AS-Iran menyebabkan jalur ini terganggu sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia langsung melonjak. Pada awal April 2026, harga minyak mentah jenis Brent menembus USD 109,77 per barel, padahal anggaran negara kita (APBN) hanya memperhitungkan harga USD 70 per barel.

Artinya, pemerintah harus merogoh kocek jauh lebih dalam dari yang sudah direncanakan. Setiap kenaikan satu dolar saja dalam harga minyak dunia bisa menambah defisit anggaran Indonesia hingga Rp 6 triliun. Belum lagi nilai tukar rupiah yang melemah ke angka Rp 17.055 per dolar AS — jauh dari asumsi awal Rp 15.500–16.000. Akibatnya, harga barang impor naik, dan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya adalah kita.

Kondisi ini diperparah dengan ancaman El Nino ‘Godzilla’ — kemarau panjang yang diprediksi berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Kombinasi harga energi mahal dan gagal panen bisa menjadi ‘badai sempurna’ yang menekan daya beli masyarakat, khususnya mereka yang berpenghasilan rendah dan tetap.

Apa yang Terancam? Kebutuhan Dasar di Bawah Tekanan

Dampak krisis ini bukan hanya angka-angka di berita. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari dalam berbagai wajah:

Energi. Meski pemerintah menjamin harga BBM subsidi tidak naik sampai akhir 2026, ada risiko nyata kenaikan BBM non-subsidi hingga 10%. Ini berarti ongkos angkut barang naik, dan ujungnya adalah kenaikan harga di warung dan pasar.

Pangan. Beras, jagung, dan sayuran terancam karena El Nino menekan produksi pertanian. Sementara tempe, tahu, dan produk tepung — yang bahan bakunya (kedelai dan gandum) masih diimpor — ikut naik karena rupiah melemah.

Logistik. Indonesia adalah negara kepulauan. Biaya distribusi dari sentra produksi ke pasar sangat bergantung pada harga BBM. Ketika BBM mahal, biaya pengiriman naik — dan daerah-daerah terpencil yang paling merasakan akibatnya.

Kesehatan. Biaya impor bahan baku obat-obatan dan alat kesehatan ikut meningkat, yang pada akhirnya bisa mengurangi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang terjangkau.

Kekuatan Rifa’iyah: Modal Sosial yang Sudah Teruji

Di sinilah kita perlu melangkah mundur sejenak dan bertanya: apa yang membuat Rifa’iyah berbeda? Jawabannya ada dalam sejarah. Didirikan oleh rantai silsilah murid-murid KH. Ahmad Rifa’i di Kalisalak, Batang, pada pertengahan abad ke-19, organisasi ini lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari perlawanan terhadap ketidakadilan di masa kolonial. Semangat itulah yang mengalir hingga hari ini.

Ajaran Rifa’iyah dalam kitab Tarjumah bukan sekadar tuntunan ibadah formal. Di dalamnya ada panduan tentang muamalah — cara hidup, cara bekerja, cara berdagang, dan cara saling menolong. Doktrin kemandirian yang diajarkan menegaskan bahwa seorang mukmin yang bekerja keras — meski hanya dengan menanam ketela — jauh lebih mulia daripada yang menggantungkan hidup pada pihak yang zalim.

Basis massa Rifa’iyah yang tersebar di Batang, Pekalongan, Wonosobo, dan Kendal — mayoritas wilayah agraris — adalah kekuatan, bukan keterbatasan. Komunitas pembatik Rifa’iyah di Desa Kalipucang Wetan, Batang, UMKM Konveksi yang tersebar di Pemalang, Pekalongan, dan Batang, adalah contoh nyata; mereka menjadikan berwirausaha sebagai ibadah, dan hasilnya menciptakan lapangan kerja lokal yang tidak mudah goyah oleh krisis global.

Langkah Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Doktrin kemandirian Rifa’iyah bukan hanya filosofi — ia harus menjadi tindakan konkret. Berikut tiga langkah strategis yang perlu segera dijalankan.

1. Kembali ke Tanah: Kemandirian Pangan Dimulai dari Pekarangan

Tidak perlu lahan luas untuk mulai mandiri pangan. Setiap jengkal pekarangan adalah potensi. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang sudah dikenal pemerintah bisa diadopsi di level keluarga Rifa’iyah: tanam cabai, sayuran hijau, dan umbi-umbian dalam pot atau polybag. Menanam pohon buah seperti jambu atau pepaya di sekitar rumah tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi keluarga, tapi juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan jika hasilnya melimpah.Menanam ketela, singkong, jagung juga sebagai alternatif pangan, ketika beras menipis.

Di tingkat ranting atau masjid, pengurus bisa memfasilitasi pembentukan kebun bibit komunal — tempat warga bisa mengambil bibit secara gratis atau murah. Ini bukan sekadar soal hemat uang. Ini soal menjaga martabat keluarga agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga di pasar yang bisa kapan saja bergejolak.

2. Bersatu Lebih Kuat: Hidupkan Koperasi dan Baitul Maal

Ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, dan krisis ekonomi adalah salah satunya. Di sinilah kekuatan berjemaah menjadi senjata paling ampuh. Koperasi syariah seperti yang sudah dirintis koperasi Jabodetabek, harus menjadi model yang direplikasi di setiap ranting. Koperasi ini bisa menjadi tempat warga menjual hasil pertanian, membeli sembako secara kolektif (sehingga lebih murah), dan mendapatkan pembiayaan tanpa riba.

Sementara itu, Baitul Maal Rifa’iyah perlu diperkuat perannya — bukan sekadar menyalurkan zakat untuk konsumsi, tetapi juga sebagai motor pemberdayaan. Dana zakat, infak, dan sedekah di masa krisis ini harus diprioritaskan untuk membantu warga yang terkena PHK, memberikan modal usaha kecil bagi pelaku UMKM yang terdampak inflasi, dan memperbaiki infrastruktur dasar di lingkungan jemaah yang paling rentan. Walaupun secara lembaga semacam LAZIZ belum ada di setiap ranting RIfaíyah, tetapi setiap kampung sudah ada panitia Zakat Fitrah yang bisa dihidupkan untuk mengatasi berbagai usaha antisipatif.

Prinsip sederhananya: belilah produk warga Rifa’iyah. Batik Rifa’iyah, produk UMKM jemaah, makanan dari ibu-ibu pengajian — dengan memilih produk sesama jemaah, uang berputar di dalam komunitas dan memperkuat daya tahan ekonomi lokal kita.

3. Disiplin Keuangan Keluarga: Hidup Bersahaja, Masa Depan Terjaga

Di tengah inflasi, cara kita mengelola keuangan keluarga menentukan seberapa lama kita bisa bertahan. Ajaran hidup bersahaja yang ditanamkan Rifa’iyah kini menjadi modal paling relevan. Dengan dasar kaidah hidup yang sejak lama diajarkan oleh KH. Ahmad Rifa’i dalam mengonsumsi apapun, warga Rifa’iyah berpedoman: Sekadar hajat kanggo tulung thoat (sesuai kadar kebutuhan hajat kebutuhan hidup manusia, untuk tegak sehat jasmani sebagai wasilah taat kepada Allah SWT). Beberapa panduan praktis yang bisa langsung diterapkan:

Prioritaskan kebutuhan pokok. Alokasikan setidaknya 50% pendapatan untuk sembako dan energi. Hindari belanja impulsif, terutama untuk barang-barang tersier.

Siapkan dana darurat. Sisihkan uang setara 3–6 bulan pengeluaran rutin dalam bentuk tabungan atau emas. Ini adalah ‘bantal’ keluarga jika terjadi hal-hal yang tidak terduga.

Kurangi utang konsumtif. Jika ada utang berbunga tinggi, usahakan lunasi lebih dulu. Hindari mengambil kredit baru untuk membeli barang yang tidak mendesak.

Hemat BBM dan energi. Kurangi makan di luar rumah. Gunakan transportasi umum atau sepeda untuk perjalanan pendek. Matikan listrik yang tidak digunakan.

Ajak seluruh anggota keluarga — termasuk anak-anak — untuk ikut mendiskusikan keuangan rumah tangga. Kesadaran bersama dalam satu keluarga adalah langkah awal menuju ketahanan yang sesungguhnya.

Pengajian, Pesantren dan Madrasah: Benteng Ketenangan di Tengah Kegaduhan

Di saat krisis, bukan hanya perut yang perlu dijaga, tetapi juga hati dan pikiran. Pengajian-pengajian kitab Tarajumah dan madrasah Rifa’iyah memiliki peran vital sebagai pusat ketenangan dan literasi di tengah kegaduhan informasi.

Agama mengajarkan kita untuk tidak panik. Jangan terjebak panic buying — memborong barang berlebihan hanya akan merugikan sesama yang lebih membutuhkan. Nilai moderasi beragama yang selalu diajarkan dalam pengajian Rifa’iyah justru sangat relevan di saat seperti ini: tetap tenang, tetap ukhuwah, dan tetap berpikir jernih.

Pengajian Rifa’iyah yang menggunakan bahasa Jawa melalui syair dan nazam memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menyentuh hati masyarakat pedesaan. Pesan-pesan tentang kesabaran, etos kerja (kasab), dan kewajiban tolong-menolong yang disampaikan lewat tradisi lisan ini bisa menjadi perekat sosial yang kuat. Musibah yang menimpa satu jemaah adalah urusan seluruh jemaah.

Tidak ada salahnya pula jika majelis-majelis pengajian mulai memasukkan materi literasi ekonomi syariah — bagaimana cara mengelola keuangan yang sesuai syariat, apa itu koperasi syariah, dan bagaimana memanfaatkan zakat secara produktif. Literasi tentang Kedaulatan Pangan – bagaimana bertani yang ramah lingkungan, bertani dengan lahan yang sempit, bertani efektif untuk ketahanan pangan, Ilmu ini sama pentingnya dengan ilmu fiqih dan akhlak.

Rifa’iyah dan Negara: Saling Dukung untuk Ketahanan Bersama

Pemerintah Indonesia tentu tidak tinggal diam. Program pompanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, dan penguatan cadangan beras nasional adalah langkah-langkah yang nyata. Cadangan beras pemerintah bahkan dilaporkan berada di titik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 4,59 juta ton. Namun demikian, ketahanan nasional tidak bisa dibangun dari atas semata. Ia harus tumbuh dari bawah — dari rumah tangga, dari komunitas, dari desa.

Di sinilah Rifa’iyah bisa menjadi mitra strategis pemerintah. Program-program nasional soal ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat akan jauh lebih efektif jika berjalan beriringan dengan kearifan lokal dan jaringan sosial yang sudah lama terbangun di komunitas Rifa’iyah. Kemandirian nasional bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi memiliki ‘bantalan’ yang cukup kuat agar tidak terjungkal saat guncangan datang dari luar.

Rekomendasi Strategis untuk Pengurus dan Warga

Sebagai penutup, ada empat rekomendasi konkret yang perlu dijalankan bersama:

Pertama, pengurus dari tingkat pusat hingga ranting perlu segera mendata potensi lahan dan sumber daya ekonomi warga. Data ini penting agar distribusi bantuan dan program pemberdayaan bisa tepat sasaran di saat dibutuhkan.

Kedua, koperasi-koperasi Rifa’iyah perlu mulai mengadopsi teknologi digital — minimal untuk pencatatan keuangan dan pemasaran produk warga. Ini akan meningkatkan efisiensi, transparansi, dan jangkauan pasar.

Ketiga, kurikulum madrasah dan pesantren Rifa’iyah perlu diperkaya dengan keterampilan bertani dan manajemen keuangan dasar. Generasi muda yang paham cara mengelola tanah dan uang akan jauh lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Keempat, integrasikan nilai-nilai agama dan pelestarian lingkungan dalam praktik pertanian jemaah. Menjaga tanah berarti menjaga keberlanjutan sumber pangan untuk anak cucu — dan itu adalah wujud nyata rasa syukur kepada Allah SWT.

Krisis 2026 adalah ujian. Tapi ujian bukanlah akhir — ia adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan KH Ahmad Rifa’i bukan sekadar teks dalam kitab, melainkan bekal nyata untuk menghadapi dunia. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, Hadis, dan ajaran para ulama, serta didukung langkah-langkah konkret yang terencana, jemaah Rifa’iyah dapat melewati badai ini dengan kepala tegak — menjaga martabat, kesejahteraan, dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Disarikan dari kajian strategis Litbang Rifa’iyah Antisipasi Krisis Ekonomi Warga Rifa’iyah, April 2026.

Baca Juga: Kebohongan Publik Donald Trump


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: ekonomi globalketahanan pangankoperasi syariahkrisis ekonomimanajemen keuangan
Previous Post

Maria Al-Qibtiyah, Cinta dan Kecemburuan di Rumah Nabi

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Yusril Mahendra, Warga Sipil.

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id