Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

RA Kartini, Mbah Sholeh Darat, Mbah Tubo Purwosari & KH. Ahmad Rifa’i

Muhammad Nawa Syarif by Muhammad Nawa Syarif
April 21, 2026
in Kolom
0
Sanad keilmuan Kartini
0
SHARES
32
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nama Raden Ajeng Kartini kerap dihadirkan dalam wacana modernitas, pendidikan, dan emansipasi perempuan. Surat-suratnya yang terkenal menggambarkan kegelisahan intelektual sekaligus harapan akan masa depan yang lebih adil bagi kaum perempuan. Namun, tidak banyak yang menyoroti satu sisi penting dalam perjalanan hidupnya: kedekatannya dengan tradisi keilmuan Islam, khususnya melalui pertemuannya dengan seorang ulama besar Jawa, KH. Sholeh Darat.

Tulisan ini mencoba menelusuri kembali jejak tersebut—bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai refleksi tentang bagaimana ilmu, adab, dan sanad membentuk peradaban.

Pengajian di Rumah Bupati: Awal Ketertarikan

Kisah ini bermula di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga merupakan paman dari RA Kartini. Dalam sebuah kesempatan, diselenggarakan pengajian yang diisi oleh KH. Sholeh Darat. Saat itu, beliau tengah mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah—sebuah surat pembuka dalam Al-Qur’an yang menjadi inti dari ajaran Islam.

Di tengah majelis itulah Kartini hadir dan mendengarkan secara langsung penjelasan sang kiai. Bagi Kartini, yang selama ini hidup dalam tradisi priyayi dengan akses terbatas terhadap pendidikan agama secara mendalam, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Tafsir yang disampaikan dalam bahasa yang dapat dipahami membuka cakrawala baru dalam memahami ajaran Islam.

Ketertarikan itu tidak berhenti di satu pertemuan. Setiap kali berkunjung ke rumah pamannya di Demak, Kartini menyempatkan diri untuk kembali mengikuti pengajian. Dari sini, tampak bahwa pencarian ilmu bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan batin yang mendalam.

KH. Sholeh Darat dalam Rantai Sanad Ulama

Untuk memahami posisi KH. Sholeh Darat, penting melihatnya dalam konteks jaringan ulama Nusantara. Ia bukan hanya seorang pengajar tafsir, tetapi bagian dari mata rantai keilmuan yang bersambung dari generasi ke generasi.

KH. Sholeh Darat adalah murid dari Mbah Asy’ari Kaliwungu, seorang ulama yang memiliki hubungan erat dengan KH. Ahmad Rifa’i. Mbah Asy’ari bukan hanya guru, tetapi juga kakak ipar dari KH. Ahmad Rifa’i—menunjukkan bahwa hubungan keilmuan di masa itu sering kali berpadu dengan hubungan kekeluargaan.

Dalam tradisi pesantren, sanad (rantai transmisi ilmu) bukan sekadar formalitas. Ia adalah jaminan otoritas, keberkahan, dan kesinambungan pemahaman. Dengan demikian, posisi KH. Sholeh Darat tidak dapat dilepaskan dari jejaring keilmuan yang lebih luas, yang berakar pada tokoh-tokoh besar seperti KH. Ahmad Rifa’i.

Tidak Bertemu Guru Besar, Tetap Mencari Jalan Ilmu

Menariknya, KH. Sholeh Darat tidak ditakdirkan bertemu langsung dengan KH. Ahmad Rifa’i. Namun, keterbatasan ini tidak menghentikan pencariannya terhadap ilmu. Ia kemudian berguru kepada salah satu murid KH. Ahmad Rifa’i, yakni Mbah Tubo.

Di sinilah tampak satu nilai penting dalam tradisi keilmuan Islam: kesinambungan ilmu tidak selalu harus melalui pertemuan langsung dengan tokoh utama, tetapi bisa melalui murid-muridnya yang terpercaya.

Bahkan, terdapat kisah yang menunjukkan ketawadhuan (kerendahan hati) KH. Sholeh Darat. Meskipun ia telah dikenal sebagai seorang kiai, ia rela “nyantri” kembali kepada Mbah Tubo untuk mendalami karya-karya KH. Ahmad Rifa’i. Konon, ia menetap selama kurang lebih 40 hari untuk belajar secara intensif.

Sikap ini menjadi pelajaran penting: bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya untuk terus belajar.

Kartini dan Tradisi Tafsir: Sebuah Titik Temu

Pertemuan Kartini dengan KH. Sholeh Darat bukan sekadar peristiwa personal, tetapi juga simbol pertemuan dua dunia: dunia tradisi pesantren dan dunia intelektual modern.

Kartini, yang selama ini dikenal sebagai pembaharu pemikiran, ternyata menemukan inspirasi dari tradisi tafsir yang diajarkan secara langsung oleh ulama. Dari sini, kita bisa melihat bahwa gagasan emansipasi yang ia usung tidak berdiri di ruang hampa, tetapi bersinggungan dengan nilai-nilai spiritual dan keagamaan.

Pengajian tafsir Al-Fatihah yang ia ikuti bukan hanya memberikan pemahaman tekstual, tetapi juga membuka akses terhadap makna yang lebih dalam—bahwa agama dapat dipahami secara rasional sekaligus spiritual.

Refleksi: Ilmu, Adab, dan Sanad

Kisah ini memberikan beberapa refleksi penting.

Pertama, ilmu tidak mengenal batas status. Kartini, seorang bangsawan, duduk sebagai santri dalam majelis ilmu. KH. Sholeh Darat, seorang kiai besar, tetap bersedia menjadi murid.

Kedua, sanad keilmuan adalah fondasi penting dalam menjaga otentisitas ilmu. Dari Mbah Asy’ari, KH. Ahmad Rifa’i, hingga Mbah Tubo dan KH. Sholeh Darat, kita melihat bagaimana ilmu diwariskan dengan penuh tanggung jawab.

Ketiga, adab menjadi inti dari proses belajar. Ketawadhuan KH. Sholeh Darat dan kesungguhan Kartini dalam mencari ilmu menunjukkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh sikap.

Baca Juga: KH. Ahmad Rifa’i, Pesantren, dan Rifa’iyah


Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Hari KartiniKartiniKH. Ahmad RifaiKH. Sholeh Daratsanad keilmuanUlama Nusantara
Previous Post

Perizinan Tuntas, Muskerwil V Rifaiyah Siap Digelar: Panitia Optimistis Hadirkan Kekuatan Besar Organisasi

Muhammad Nawa Syarif

Muhammad Nawa Syarif

Khadim di Ponpes Faidlul Qodir, Kepala MTs Rifa'iyah Wonokerto, Sekjend PP. AMRI, Pegiat literasi KH. Ahmad Rifa'i.

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id