Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Khutbah

Khutbah Jumat: Menjaga Kehormatan – Pelajaran dari Tragedi Pencabulan di Lingkungan Pesantren

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
May 7, 2026
in Khutbah
0
Khutbah Jumat

Jemaah mendengarkan Khutbah di dalam masjid. (Ampelsa/ANTARA)

0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَأَمَرَهُ بِحِفْظِ الْفُرُوْجِ وَصِيَانَةِ الْأَعْرَاضِ مِنْ كُلِّ تَحْرِيْمٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Hari-hari ini, kita kembali dihadapkan pada kabar yang mengiris hati — berita pencabulan yang terjadi di lingkungan pesantren, sebuah tempat yang semestinya menjadi benteng kesucian, ladang ilmu, dan surga pembentukan akhlak mulia. Kabar ini bukan hanya menampar wajah institusi pendidikan Islam, tetapi juga mengguncang keyakinan masyarakat terhadap lembaga yang selama berabad-abad menjadi tulang punggung peradaban Islam Nusantara.

Khatib berdiri di mimbar ini bukan untuk menghakimi, bukan untuk mempermalukan, dan bukan pula untuk mematahkan semangat umat terhadap pesantren. Khatib berdiri untuk merenung bersama, belajar bersama, dan bangkit bersama — dengan cahaya ilmu dari para ulama kita, termasuk dari kitab Tabyinal Ishlah li Muridin Nikah karya KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar Nusantara yang hidup di abad ke-19, yang dengan penuh keberanian dan kejernihan akal menuangkan ajaran fiqih penjagaan kehormatan dalam syair-syair nazam yang indah dan dalam.

Islam Memuliakan Kehormatan Manusia

Hadirin yang dirahmati Allah,

Islam adalah agama yang menempatkan kehormatan (al-’irdh) sebagai salah satu dari lima hal pokok yang wajib dijaga — bersama jiwa, akal, harta, dan agama. Penjagaan atas kehormatan bukan sekadar anjuran moral biasa; ia adalah kewajiban syariat yang memiliki aturan terperinci dalam setiap lini kehidupan.

Allah Ta’ālā berfirman dengan tegas:

ولا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isrā’: 32)

Perhatikan redaksi ayat ini: Allah tidak hanya melarang zina, tetapi melarang mendekatinya — lā taqrabū, jangan dekati. Ini menunjukkan bahwa Islam membangun sistem pagar berlapis agar manusia tidak terjerumus ke dalam kehinaan. Dan di sinilah kitab Tabyinal Ishlah memberikan kontribusinya yang amat berharga.

Ajaran Tabyinal Ishlah sebagai Nilai Preventif

Larangan Memandang dengan Syahwat

Hadirin rahimakumullāh,

Syaikh Ahmad Rifa’i dalam Tabyinal Ishlah membahas tentang hukum memandang (hukm al-nadzar). Beliau mengutip pandangan para ulama Syafi’iyyah dengan sangat rinci, bahwa:

“Haram seorang lelaki baligh melihat bagian aurat seorang wanita merdeka yang sudah baligh. Dan haram pula melihat dengan sengaja kepada seorang remaja amrad (yang belum tumbuh jenggotnya) dengan syahwat.”

Inilah realitas yang kita saksikan. Kasus-kasus pelecehan seksual hampir selalu berawal dari pandangan yang tidak terjaga, interaksi yang tidak berbatas, dan ikhtilath (percampuran) yang dibiarkan tanpa kendali. Islam telah menetapkan pagar-pagar preventif ini jauh sebelum ilmu psikologi modern berbicara tentang “grooming” dan “eskalasi perilaku menyimpang.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا عَلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ الثَّانِيَةُ

“Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Sesungguhnya bagimu pandangan pertama (yang tidak disengaja), namun tidak bagimu yang kedua (yang disengaja).”

Penjagaan Batas antara Laki-laki dan Perempuan

Tabyinal Ishlah memerinci tujuh macam pandangan antara laki-laki dan perempuan dengan berbagai statusnya: mahram, ajnabiyah, calon istri, dan lain-lain. Seluruh perincian ini mengarah pada satu prinsip agung: setiap interaksi antara laki-laki dan perempuan non-mahram memiliki batas dan aturannya.

Allah Ta’ālā berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nūr: 30)

Dalam konteks pesantren: pengawasan atas interaksi santri putra dan santri putri adalah kewajiban syar’i, bukan semata aturan administrasi. Membiarkan ikhtilath yang tidak terkendali di lembaga pendidikan Islam adalah kelalaian yang berbuah dosa.

Keprihatinan atas Korban

Hadirin, dalam tragedi ini, kita tidak boleh melupakan para korban. Mereka adalah anak-anak yang datang ke pesantren membawa harapan, membawa mimpi, membawa kepercayaan — dan kepercayaan itu dikhianati dengan cara yang paling keji.

Allah Ta’ālā berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzāb: 58)

Mendukung korban, mempercayai kesaksian mereka, memastikan mereka mendapatkan keadilan dan pemulihan — adalah kewajiban moral dan syar’i bagi seluruh umat.

Solusi dari Tabyinal Ishlah Menghidupkan Fiqih Penjagaan

KH. Ahmad Rifa’i menulis kitab Tabyinal Ishlah justru untuk kalangan murīdīn nikāh — orang-orang yang hendak menikah dan membangun keluarga. Namun substansinya jauh lebih luas: ia adalah panduan penjagaan hubungan antar manusia agar tidak terjatuh ke dalam keharaman.

Maka kurikulum pesantren perlu memasukkan secara serius:

  1. Fiqih batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan;
  2. Pendidikan tentang tubuh, privasi, dan kehormatan diri;
  3. Pemahaman bahwa tidak ada satupun manusia — termasuk kiai — yang memiliki hak untuk melanggar kehormatan orang lain.

Membangun Sistem Pengawasan yang Islami

Islam bukan agama yang naif. Islam memahami bahwa nafsu manusia perlu dikelola dengan sistem, bukan hanya dengan niat baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan (khalwat) dengan seorang perempuan, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.”

Larangan khalwat ini bukan sekadar norma sosial, tetapi mekanisme perlindungan sistemis. Pesantren yang sehat adalah pesantren yang menjadikan larangan khalwat sebagai aturan hidup, bukan hanya tulisan di papan pengumuman.

Membuka Ruang Pengaduan yang Aman

Imam Nawawī rahimahullāh berkata:

الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ قَوَاعِدِ الدِّيْنِ

“Amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib berdasarkan ijma’, dan ia termasuk salah satu kaidah terbesar dalam agama.” (Al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab)

Santri yang menjadi korban harus berani melapor, dan lingkungan pesantren harus berani menerima laporan itu tanpa menyalahkan korban. Budaya diam yang menutupi aib lembaga, namun membiarkan pelaku bebas, adalah pengkhianatan terhadap Islam itu sendiri.

Penutup Khutbah Pertama

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Tragedi pencabulan di lingkungan pesantren adalah ujian bagi kita semua. Ujian bagi para pemimpin lembaga: seberapa serius mereka menjaga amanah. Ujian bagi para orang tua: seberapa cermat mereka memilih dan mengawasi. Ujian bagi masyarakat: seberapa berani mereka menegakkan keadilan tanpa memilih-milih siapa yang diadili.

Dan ini adalah ujian bagi kita semua: apakah kita akan belajar, berbenah, dan bergerak — atau sekadar berduka sesaat, lalu kembali ke kebiasaan lama.

Khatib mengakhiri khutbah pertama ini dengan firman Allah Ta’ālā:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْفَاحِشَةَ وَالْبَغْيَ مِنْ أَعْظَمِ الْكَبَائِرِ الَّتِيْ نَهَى اللهُ عَنْهَا فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ

ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ فَاحِشَةٍ وَبَاطِلٍ، وَاجْعَلِ الْمَعَاهِدَ الدِّيْنِيَّةَ فِيْ بِلَادِنَا مَنَارَاتٍ لِلْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ وَالطَّهَارَةِ

اَللَّهُمَّ آسِ الضَّحَايَا وَاشْفِ جُرُوْحَهُمْ، وَأَعِنِ الْقُضَاةَ وَالسُّلْطَاتِ عَلَى إِحْقَاقِ الْحَقِّ وَرَدِّهِ إِلَى أَهْلِهِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ إِنْدُوْنِيْسِيَا وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَّةً قَائِمَةً بِالْقِسْطِ شَاهِدِيْنَ عَلَى النَّاسِ

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Download file pdf: Khutbah Jumat: Menjaga Kehormatan – Pelajaran dari Tragedi Pencabulan di Lingkungan Pesantren


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: khutbah jumatkhutbah jumat terbarumenjaga kehormatanPendidikan PesantrensantriTabyinal Ishlahteks khutbah jumat
Previous Post

Hidup Tanpa Arah: Awal Laku Sasar dan Jalan Menuju Kefasikan

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id