Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلإِيمَانِ وَالإِسْلَامِ، وَأَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْعُلَمَاءِ الأَعْلَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُودِ وَالْفَضْلِ الْعَمِيمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَئِمَّةِ الْهُدَاةِ الأَعْلَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقْوَاهُ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Sidang Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang dibuktikan dengan keseriusan mempelajari syariat-Nya, memenuhi rukun dan syarat ibadah kita, serta menjaga diri dari sikap ikut-ikutan tanpa dasar ilmu yang jelas.
Hari ini, jika kita merefleksikan fenomena sosial masyarakat kita di Indonesia, kita sedang dihadapkan pada tantangan spiritual yang luar biasa. Media sosial telah mengubah lanskap bagaimana kita belajar agama.
Otoritas keagamaan mengalami pergeseran. Begitu mudahnya seseorang mendadak diikuti oleh ribuan orang, berbicara tentang hukum halal-haram dan sah-batalnya suatu ibadah, tanpa kejelasan dari mana ia merujuk ilmunya.
Fenomena ini sangat selaras dengan apa yang telah diingatkan oleh ulama besar Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i dari Kalisalak, dalam karya monumentalnya, Kitab Tanbih.
Melalui bait-bait nazam arab pegonnya, beliau memberikan tanbih (peringatan keras) tentang bahaya hidup beragama yang hanya bersandar pada tradisi, adat kebiasaan belaka (muhung anut adat), atau mengikuti figur-figur pemimpin yang salah dan tidak mengerti syariat (anut ing wong salah).
Beliau menegaskan bahwa rusaknya tatanan sosial sebuah wilayah dan gugurnya keabsahan ibadah terjadi karena masyarakat mengabaikan rukun dan syarat yang sah, demi mengikuti hawa nafsu atau tren yang menyesatkan (sasar bid’ah).
Sidang Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Pesan luhur dari Kitab Tanbih tersebut setidaknya menggarisbawahi tiga pilar penting yang harus kita rawat dalam fenomena sosial hari ini:
Pertama: Kewajiban Merujuk pada Ulama yang Alim dan Adil
Beragama tidak bisa mengandalkan tebak-tebakan atau sekadar “kata orang”. Masyarakat awam wajib bersandar (i’timad) kepada ulama yang memiliki dua kualifikasi utama: Alim (mendalam ilmunya) dan Adil (konsisten menjalankan syariat serta bersih dari dosa besar secara terang-terangan).
Ketika sebuah bangsa atau daerah dipandu oleh ulama yang alim dan adil, serta didengar oleh para pemimpinnya, maka keberkahan akan turun. Sebagaimana digambarkan dalam Kitab Tanbih: “Desa negara rejeng gemah” (negara akan menjadi makmur, damai, dan sentosa).
Allah SWT telah menegaskan prinsip ini dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 43:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُون
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Rasulullah SAW juga mengingatkan posisi krusial para ulama sejati ini dalam sebuah hadis:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kedua: Bahaya Taklid Buta (Anutan) yang Merusak Amal
Dalam fenomena sosial saat ini, kita sering melihat fenomena fanatisme buta. Mengikuti seorang tokoh secara mutlak tanpa mempedulikan apakah fatwanya menabrak syariat atau tidak.
KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan bahwa sikap asal ikut-ikutan ini berisiko membatalkan keabsahan ibadah, termasuk salat dan ibadah Jumat kita, karena tidak terpenuhinya rukun dan syarat secara valid (syahadah salat muhung anut adat).
Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA memberikan atsar (peringatan) yang sangat tajam mengenai bahaya menjadi pengikut buta:
لَا يَكُونَنَّ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً، يَقُولُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتُ، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi ‘imma’ah’ (orang yang ikut-ikutan tanpa prinsip), yang berkata: ‘Aku ikut orang banyak saja; jika orang-orang berbuat baik maka aku berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk aku pun berbuat buruk.’ Akan tetapi, mantapkanlah hati kalian (di atas prinsip kebenaran).” (Atsar Riwayat At-Tirmidzi)
Ketiga: Keseriusan Memenuhi Rukun dan Syarat Ibadah
KH. Ahmad Rifa’i menekankan pentingnya “pepek rukun syarat” (sempurnanya rukun dan syarat) agar iman dan ibadah kita bernilai sah di hadapan Allah. Ibadah yang dilakukan tanpa dasar ilmu fikih yang benar akan melahirkan keraguan berujung pada penolakan amal. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya (tuntunannya) dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Sidang Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Di akhir bagian salah satu tema dari naskah Kitab Tanbih tersebut, KH. Ahmad Rifai mengutip surah At-Taubah ayat 68 untuk mengingatkan kita semua akan bahaya sifat munafik—yaitu mereka yang secara lahiriah menampakkan keislaman (ikut salat, ikut Jumat) namun hatinya ingkar dan mengabaikan syariat Allah SWT:
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ هِىَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknat mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.”
Namun, beliau memberikan penutup yang penuh harapan. Di tengah carut-marutnya fenomena sosial dan kebodohan, pintu Allah tidak pernah tertutup. Bagi siapa saja yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh (sah tobat), memperbaiki cara ibadahnya, dan kembali mengaji kepada ulama yang lurus, maka “gedhe kabekjan”—keberuntungan yang besar dan ampunan Allah yang luas—pasti akan ia raih di dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرِّرِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ كَرِيمٍ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ (إِنْدُونِيسِيَا) بَلْدَةً آمِنَةً، مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةً حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Download file PDF: Khutbah Jumat: Menjaga Iman dan Ibadah di Era Krisis Otoritas Keagamaan
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


