Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Kebiasaan yang Merusak Otak: Kenapa Kita Semakin Bodoh di Era Digital

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
June 15, 2026
in Kolom
0
Kebiasaan yang Merusak Otak: Kenapa Kita Semakin Bodoh di Era Digital

Seseorang menggunakan smartphone untuk mengakses media sosial. (charlesdeluvio/Unsplash)

0
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

النَّائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمُضْطَجِعِ، وَالْمُضْطَجِعُ خَيْرٌ مِنَ الْقَاعِدِ، وَالْقَاعِدُ خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ…

“Orang yang tidur lebih baik daripada yang berbaring; yang berbaring lebih baik daripada yang duduk; yang duduk lebih baik daripada yang berdiri…” -al-Hadits-

Bayangkan ini: kamu sedang rebahan, scrolling TikTok, sambil ngemil, di ruangan ber-AC, tidak ada aktivitas fisik berarti. Secara fisik, kamu sedang istirahat. Tapi di dalam kepala — di dalam 1,4 kilogram organ paling kompleks di alam semesta — ada badai yang tengah berlangsung.

Itulah yang sesungguhnya terjadi.

Bengong adalah Kemewahan

Kita hidup di zaman di mana diam dianggap dosa. Nunggu kereta? Buka Instagram. Antre kopi? Scroll Twitter. Duduk sendiri di kafe? Pasti dikira pengangguran kalau tidak pegang handphone. Ada sebuah tekanan sosial yang tidak tertulis namun sangat nyata: kamu harus terlihat sibuk, atau kamu tidak ada nilainya.

Tapi Dr. Edmi, seorang neurosaintis terapan yang telah meneliti otak dan perilaku manusia selama lebih dari satu dekade, menyampaikan sesuatu yang menohok:

“Di era sekarang, punya waktu untuk bengong dan merenung adalah sebuah kemewahan.”

Bukan lebay. Ini sains. Ketika kita tidak melakukan apa pun — ketika pikiran mengembara bebas tanpa stimulus — otak kita mengaktifkan sesuatu yang disebut Default Mode Network (DMN). Inilah mode di mana otak benar-benar bebas memproses, menyaring, dan menghubungkan informasi yang telah terakumulasi. Bukan kebetulan kalau ide-ide terbaik sering muncul di kamar mandi, di atas kasur menjelang tidur, atau di perjalanan kereta yang membosankan. Di situlah DMN bekerja.

Kalau kamu seorang kreator konten, pebisnis, atau siapa pun yang hidupnya bergantung pada ide-ide segar — maka bengong bukan pemborosan waktu. Itu adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri.

Scrolling Tidak Membuat Kamu Istirahat

Ini kesalahan yang hampir semua dari kita lakukan. Setelah bekerja keras, kita merasa berhak “istirahat” dengan membuka media sosial. Seolah-olah rebahan sambil scrolling adalah padanannya tidur. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Setiap konten yang muncul di feed kamu — entah itu video lucu, berita politik, drama artis, atau tutorial masak — membutuhkan waktu 5 hingga 6 detik bagi otak untuk memprosesnya. Dalam waktu 30 menit scrolling, otak kamu telah dipaksa memproses ratusan potongan informasi yang tidak berkaitan satu sama lain. Dan setiap kali kamu berpindah dari satu konten ke konten berikutnya, otak harus melakukan rapid switching — menghabiskan energi kognitif hanya untuk beradaptasi.

Hasilnya? Kamu merasa lelah. Bukan lelah fisik. Tapi brain fog — kabut otak — yang membuat kamu sulit fokus, mudah lupa, dan pikiran terasa berat seperti berkendara di jalan berlumpur.

Yang lebih mengkhawatirkan: kebiasaan ini perlahan-lahan mengikis kemampuan kita untuk mempertahankan atensi. Attention span yang dulu sanggup membaca novel berjam-jam kini terkikis habis. Kita menjadi generasi yang tidak tahan dengan konten lebih dari 3 detik sebelum jempol bergerak lagi ke bawah.

Mitos Multitasking yang Merugikan

Banyak yang bangga bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Di CV, multitasking dicantumkan sebagai keahlian. Di kantor, orang yang bisa handle banyak tugas bersamaan dianggap produktif.

Dr. Edmi dengan tegas membantah ini. Multitasking tidak ada. Yang ada hanyalah rapid task switching — berpindah-pindah tugas dengan kecepatan tinggi. Dan setiap perpindahan itu memakan biaya: energi kognitif, waktu adaptasi, dan konsentrasi yang harus dibangun ulang dari nol.

Bayangkan kamu sedang menulis laporan penting. Tiba-tiba notifikasi WhatsApp muncul. Kamu buka, baca, balas. Lalu kembali ke laporan. Dari luar, kamu terlihat produktif — mengerjakan dua hal sekaligus. Tapi di dalam otak, kamu baru saja memaksa sistem saraf kamu untuk keluar dari satu konteks, masuk ke konteks lain, lalu kembali lagi. Setiap transisi itu menguras energi. Dan energi yang seharusnya dipakai untuk menghasilkan tulisan terbaik, sudah habis di jalan.

Solusinya sederhana tapi terasa susah di era notifikasi tanpa henti ini: single-tasking. Satu tugas, satu fokus, dalam satu blok waktu.

Pomodoro Bukan Sekadar Teknik Produktivitas

Dr. Edmi mengajar mahasiswanya dengan pendekatan yang tidak biasa. Setiap kuliah dibagi dalam blok 20 menit. Dalam 20 menit itu, tidak boleh ada yang membuka smartphone, tidak ada yang ke toilet. Setelah 20 menit — istirahat.

Kenapa 20 menit? Karena di situlah batas alami konsentrasi manusia. Bukan kelemahan. Itu adalah desain.

Tapi istirahatnya pun ada aturannya. Bukan buka TikTok. Bukan balas chat. Karena media sosial dan konsentrasi sama-sama menggunakan atensi — satu-satunya sumber daya kognitif yang tidak bisa di-multitask. Istirahat yang sesungguhnya adalah: berdiri, berjalan, bikin kopi, naik turun tangga.

Di sinilah ada sains yang elegan. Otak butuh glukosa dan oksigen untuk bekerja. Oksigen dibawa oleh darah. Darah dipompa oleh jantung. Dan jantung bekerja lebih baik ketika otot-otot tubuh bergerak — terutama otot betis, yang sering disebut sebagai “jantung kedua”. Dengan sekadar berdiri dan berjalan 5 menit setelah duduk lama, kamu secara harfiah memompa lebih banyak oksigen ke otak.

Sesimpel itu.

Kenapa Kita Sering Lupa

Pernahkah kamu masuk ke sebuah ruangan dan tiba-tiba lupa mau mengambil apa? Atau meletakkan kunci di suatu tempat, lalu 10 menit kemudian kebingungan mencarinya?

Banyak yang mengira itu tanda otak mulai “tua” atau bermasalah. Dr. Edmi meluruskan: itu bukan masalah memori. Itu masalah distraksi.

Otak manusia tidak dirancang untuk mengingat hal-hal yang dianggap tidak urgen. Meletakkan kunci adalah aktivitas otomatis — otak tidak memberi perhatian penuh padanya. Lalu datang distraksi kecil — suara notifikasi, teman yang menyapa, pikiran yang melayang — dan informasi tentang “letak kunci” itu hilang begitu saja, bahkan sebelum sempat tersimpan dengan baik.

Solusinya bukan suplemen otak atau latihan memori yang rumit. Solusinya adalah mengurangi distraksi dan mencatat hal-hal penting. Sesederhana membawa buku catatan ke rapat, atau mematikan notifikasi ketika sedang fokus bekerja.

Overthinking, Anxiety, dan Cara Membebaskan Diri

Dua kata ini sering dipakai bergantian, padahal maknanya berbeda secara neurologis.

Overthinking berakar di masa lalu. Ia muncul dari trauma, dari kegagalan yang belum selesai dicerna, dari pengalaman buruk yang masih menempel di sistem limbik. Orang yang banyak mengalami kegagalan tanpa pernah merefleksikannya akan terus-menerus memutar ulang kemungkinan terburuk sebelum mengambil langkah apa pun.

Anxiety sebaliknya menatap masa depan. Ia adalah ketidakmampuan memprediksi apa yang akan terjadi. Itulah kenapa macet di Jakarta bisa membuat kita sangat stres — bukan karena macetnya sendiri, tapi karena kita tidak tahu kapan akan berakhir, dan konsekuensi apa yang menanti di ujungnya.

Cara mengatasinya pun berbeda. Anxiety berkurang ketika kita bisa membuat masa depan lebih predictable — dengan memiliki plan B, menetapkan ekspektasi yang realistis, atau sekadar memilih naik kereta daripada mobil karena jadwalnya lebih pasti.

Sementara overthinking sembuh melalui proses yang lebih dalam: refleksi jujur atas masa lalu, penerimaan bahwa kegagalan adalah data bukan kutukan, dan perlahan-lahan membangun memori-memori baru yang lebih positif. Tidak ada jalan pintas. Tapi ada jalannya.

IQ Tinggi Bukan Jaminan

Di suatu waktu, beredar kabar bahwa rata-rata IQ Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Berita itu memancing banyak reaksi — ada yang marah, ada yang malu, ada yang defensif.

Tapi Dr. Edmi menawarkan perspektif yang lebih jernih: IQ hanyalah satu foto, diambil dalam kondisi terkontrol, mengukur kemampuan spesifik di momen tertentu. Ia bukan film dokumenter tentang kehidupan nyata.

Yang lebih penting dari IQ adalah kecerdasan emosional — kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi sendiri maupun orang lain. Karena di kehidupan nyata, otak kita tidak pernah bekerja dengan logika murni. Sistem limbik — pusat emosi — selalu ikut campur. Dan ketika emosi sedang tinggi, logika turun. Bukan metafora. Itu adalah mekanisme neurologis yang nyata.

Itulah kenapa kita tidak boleh membalas pesan ketika sedang marah. Itulah kenapa keputusan bisnis yang dibuat dalam kepanikan hampir selalu buruk. Dan itulah kenapa orang dengan EQ tinggi — bukan sekadar IQ tinggi — yang lebih sering berhasil menavigasi kompleksitas dunia nyata.

Tiga Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Otak

Di penghujung percakapan, Dr. Edmi merangkumnya dengan gamblang:

Pertama, terlalu banyak menggunakan smartphone. Bukan karena smartphonenya jahat, tapi karena stimulasi tanpa henti yang ia hadirkan menguras energi kognitif tanpa kita sadari.

Kedua, menggunakan smartphone sambil rebahan tanpa tujuan. Kombinasi posisi pasif dan konsumsi konten tak terbatas adalah resep sempurna untuk brain fog.

Ketiga, scrolling + ngemil + rebahan + begadang sekaligus. Combo ini adalah serangan terkoordinasi terhadap otak: kurang tidur merusak konsolidasi memori, makanan berlebihan menyebabkan kantuk, dan scrolling tanpa henti memperparah semuanya.

Tiga Cara Menjaga Otak Tetap Tajam

Dan sebagai penyeimbang, ada tiga hal sederhana yang bisa kita lakukan:

Pertama, olahraga. Tidak harus gym atau lari maraton. Jalan kaki 20 menit sudah cukup untuk meningkatkan aliran darah ke otak, memicu produksi BDNF (protein yang mendukung pertumbuhan sel saraf), dan memperbaiki suasana hati. Naik tangga daripada lift. Sapu rumah. Gerakkan badan.

Kedua, makan dengan kesadaran kalori. Jangan makan sampai kenyang — makan sampai cukup. Kelebihan kalori bukan hanya membuat badan melar, tapi membuat otak mengantuk dan performa kognitif menurun.

Ketiga, sosialisasi yang bermakna. Tidak harus kenal banyak orang. Untuk introvert sekalipun, berbincang dalam dengan satu atau dua orang yang benar-benar dekat sudah cukup untuk menjaga fungsi kognitif.

Dan satu bonus yang mungkin terdengar kontra-intuitif: baca buku atau majalah. Bukan artikel 500 kata. Buku sungguhan, yang memaksa otak mempertahankan atensi selama puluhan halaman. Itu adalah latihan terbaik untuk mengembalikan attention span yang telah terkikis bertahun-tahun oleh dunia digital.

Penutup: Izinkan Dirimu Melamun

Di antara semua yang disampaikan Dr. Edmi, ada satu hal yang paling saya ingat.

Suatu hari nanti, mungkin kamu sedang duduk di kereta, atau menunggu kopi selesai diseduh, atau berdiri di antrean kasir. Tidak ada yang kamu lakukan. Tidak ada yang kamu tonton. Tidak ada yang kamu scroll. Dan mungkin ada suara kecil di kepalamu yang berbisik, “Kamu buang-buang waktu.”

Abaikan suara itu.

Karena di saat itulah, diam-diam, otakmu sedang melakukan pekerjaannya yang paling penting: memilah, menyusun, menghubungkan. Bersiap melahirkan ide berikutnya.

Bengong bukan kemalasan. Dalam dunia yang tidak pernah berhenti berteriak, diam adalah bentuk perlawanan paling cerdas.

Ditulis berdasarkan siniar (podcast) Dr. Rizky Edmi Edison, PhD — Applied Cognitive Neuroscientist, Associate Professor, dan peneliti otak dan perilaku manusia.

Baca Juga: Menjaga Amanah Terbesar: Sistem Saraf, Otak, dan Tanggung Jawab Seorang Muslim


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: brain fogkesehatan mentalliterasi digitalMedia SosialmultitaskingneurosainsOtakpsikologi
Previous Post

Menjaga Amanah Terbesar: Sistem Saraf, Otak, dan Tanggung Jawab Seorang Muslim

Next Post

Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah Lengkap dengan Terjemahannya

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah Lengkap dengan Terjemahannya

Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah Lengkap dengan Terjemahannya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id