Rifaiyah.or.id – Apa pelajaran terbesar yang bisa diambil dari Iran ketika menghadapi perang melawan Amerika dan Israel? Jawabannya ternyata bukan sekadar strategi perang asimetris yang mampu menundukkan kedigdayaan Amerika; bukan sekadar kecanggihan drone dan rudal yang berhasil memorak-porandakan pangkalan militer Amerika; dan bukan pula sekadar kehebatan diplomasi yang memaksa Amerika beralih ke meja perundingan.
Lebih dari semua itu, rahasia terdalam yang bisa dipetik dari ketangguhan Iran tak lain adalah resiliensi. Resiliensi adalah daya lenting: kemampuan untuk tidak hancur saat ditekan, tidak menyerah meski dibatasi, dan tidak kehilangan harga diri ketika diremehkan. Bangsa yang resilien bukan berarti bangsa yang bebas dari luka. Ia bisa saja babak belur, kehilangan banyak hal, bahkan dipaksa berjalan pincang. Namun, ia menolak untuk berhenti. Di tengah segala keterbatasan, ia menata kembali kekuatannya, menjaga marwahnya, lalu bergerak maju dengan kepala tegak untuk menunjukkan eksistensinya.
Betapa kita harus belajar dari resiliensi Iran. Revolusi Iran tahun 1979 mengubah konstitusi negeri itu: dari negara monarki absolut menjadi Republik Islam Iran yang berbasis teokrasi-demokrasi. Keputusan yang ditempuh melalui referendum ini mengangkat Ayatullah Khomeini menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Akibat Revolusi Iran, Amerika yang semula menjadi sekutu Iran berbalik arah menjadi musuh. Amerika mengajak sekutunya melakukan embargo terhadap Iran. Relasi dagang dipersempit. Jangankan menjual produksi minyaknya ke negara lain, aset keuangan Iran di beberapa negara lain pun dibekukan akibat terputusnya Iran dari sistem keuangan global. Total aset Iran di luar negeri yang dibekukan mencapai 100 miliar dolar AS. Bukan angka yang sedikit.
Kerja sama penguatan sains dan persenjataan militer dilarang. Dalam banyak forum global, Iran lebih sering diperlakukan sebagai problem daripada sebagai negara berdaulat yang punya hak menentukan jalan hidupnya sendiri. Embargo selama empat puluh tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Negeri kaya minyak itu harus bertahan dengan segala keterbatasan.
Namun, bukan Iran namanya jika tidak mampu bangkit. Iran adalah riwayat panjang sebuah negeri tua yang berakar pada peradaban besar Persia. Literatur sejarah menyebutkan, Kekaisaran Persia kuno di bawah Dinasti Achaemenid berdiri sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, kurang lebih 2.500 tahun lalu. Kekaisaran itu pernah menjadi imperium besar yang membentang dari Mesir, Asia Barat, hingga tepian Sungai Indus. Karena itu, membicarakan Iran bukan sekadar membicarakan keberadaannya saat ini, melainkan juga membicarakan sebuah bangsa dengan ingatan sejarah yang panjang.
Dalam studi kebudayaan Islam, Iran mempunyai catatan emas. Dari leluhur Iran, Persia, kita mengenal banyak ilmuwan Muslim yang karyanya berkontribusi membentuk wajah peradaban Islam dan ilmu pengetahuan modern, jauh sebelum kemajuan sains Eropa. Sebut saja Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang masyhur disebut sebagai bapak aljabar dan dari namanya lahir istilah algoritma. Ada pula Ibnu Sina (Avicenna), dokter dan filsuf besar yang menulis Al-Qanun fi al-Thibb, kitab kedokteran yang menjadi salah satu fondasi penting ilmu kedokteran Eropa.
Ada nama Abu Bakar al-Razi, dokter sekaligus ahli kimia yang dikenal dalam sejarah kedokteran dan kimia karena penggunaan alkohol sebagai antiseptik untuk membersihkan luka dan mensterilkan peralatan bedah. Ia juga disebut sebagai salah satu pelopor praktik bedah. Lalu ada Al-Biruni, ilmuwan besar yang menulis Al-Saydanah fi al-Tibb, kitab tentang pengobatan yang menyebutkan sedikitnya 720 jenis bahan obat, lengkap dengan nama, karakteristik, dan khasiatnya. Dan masih banyak ilmuwan besar lainnya.
Warisan spirit dari sebuah peradaban besar itulah yang menjadikan Iran memiliki ketahanan dan daya juang luar biasa. Iran menggabungkan kekuatan agama, ekonomi, dan sains menjadi satu kesatuan. Meski mengalami tekanan embargo ekonomi hampir setengah abad, negara tersebut mampu bertahan dengan caranya sendiri. Ia mengencangkan ikat pinggang. Bergulat dengan sains untuk menemukan inovasi. Intelektualitas warganya diperkuat. Kekayaan alamnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Keterbatasan menjadi semacam sekolah panjang tentang kemandirian. Kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya pun sangat tinggi. Hasilnya mengejutkan. Iran mampu mempermalukan kesombongan militer Amerika serta memaksa negara adidaya tersebut merengek di meja perundingan.
Di luar kemampuan militer, Iran juga tercatat sebagai negara dengan Indeks Pembangunan Manusia yang bagus. Data dari Human Development Report 2025 menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia Iran berada di angka 0,799 dan masuk kategori high human development.
Dari sisi ekonomi, Iran juga tidak dapat disebut kecil. Bank Dunia menyebut, PDB Iran pada 2024 mencapai sekitar 475 miliar dolar AS, dengan PDB per kapita sekitar 5.190 dolar AS. Ekonominya memang tidak bebas dari masalah. Inflasi tinggi, akses global terbatas, dan sanksi membuat ruang gerak ekonominya tidak selapang negara-negara lain. Namun, justru di situlah letak daya tahannya: dalam keadaan tidak normal, Iran masih mampu menjaga mesin ekonominya tetap bergerak. Iran mampu menghadirkan layanan kebutuhan dasar rakyatnya—seperti pangan, pendidikan, kesehatan, energi, dan perumahan—dengan biaya sangat murah.
Dalam soal kapasitas kognitif, Iran juga sering muncul dalam percakapan global. Beberapa pemeringkatan IQ berbasis tes online menempatkan Iran pada posisi tinggi, sementara kajian akademik berbasis tes Wechsler memperkirakan rata-rata IQ total Iran sekitar 97,12, dengan kelompok usia dewasa di atas 20 tahun mencapai 105,61. Angka-angka ini tidak perlu dibaca secara berlebihan, tetapi data tersebut cukup memberi tanda bahwa tradisi pendidikan, sains, dan kemampuan intelektual masyarakat Iran tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tentu, Iran bukan negeri dongeng yang semuanya indah. Ia juga mengalami banyak dinamika internal. Namun, dalam soal daya tahan, harga diri, dan kemampuan bertahan di tengah tekanan, Iran memberi pelajaran yang tidak bisa dianggap remeh. Iran menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya hidup dari uang, akses global, dan pujian dunia luar. Ia juga hidup dari keyakinan bahwa dirinya tidak boleh menyerah.
Sekali lagi, resiliensi itu terlihat lebih terang ketika Iran diserang Amerika dan Israel pada 28 Februari 2026. Banyak pihak mengira Iran akan segera lumpuh. Apalagi pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei, gugur bersama sejumlah jenderal dan ilmuwan. Dalam hitungan militer modern, itu pukulan yang sangat telak. Jika kepala dipukul, tubuh biasanya kehilangan arah. Begitu kira-kira kalkulasi para penyerangnya.
Namun, Iran tidak berjalan sesuai perkiraan itu. Ia memang terluka, tetapi tidak roboh. Pemerintahnya menyusun kembali komando. Rakyatnya tidak serta-merta tercerai-berai. Mesin negara tetap bekerja. Perlawanan muncul, bahkan makin solid. Dunia lalu melihat satu pemandangan yang mungkin tidak diantisipasi: Iran bukan negara yang mudah dibuat bertekuk lutut hanya dengan eskalasi militer yang dahsyat dan kematian pemimpinnya. Iran justru mengirim pesan bahwa bangsa yang lama ditempa tekanan bisa menyimpan daya lenting yang mengejutkan.
Di sinilah cerita Iran menjadi dekat dengan Rifa’iyah. Tentu dengan skala yang berbeda. Iran adalah negara. Rifa’iyah adalah ormas keagamaan. Tetapi, keduanya punya satu irisan: sama-sama tumbuh dalam keterbatasan. Rifa’iyah, dibanding ormas-ormas besar lain di Indonesia, tidak memiliki akses politik dan ekonomi sebesar mereka. Jumlah warganya juga tidak sebesar organisasi keagamaan lain. Dalam banyak hal, Rifa’iyah lebih sering harus berjalan dengan kaki sendiri.
Tetapi justru di situlah kekuatannya. Rifa’iyah tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari perjuangan. Ia tidak dibesarkan oleh fasilitas kekuasaan, tetapi oleh keikhlasan jemaah untuk menghidupi organisasi; persatuan antarjemaah; pengajian-pengajian kecil; madrasah; pesantren; kitab; guru; dan tradisi keilmuan yang dijaga turun-temurun. Rifa’iyah mungkin tidak selalu tampak besar di panggung nasional, tetapi ia punya akar yang dalam di hati warganya.
Akar itu bernama KH. Ahmad Rifa’i (1786-1870 M). Beliau bukan sekadar ulama yang mengajar akidah, fikih, dan tasawuf. Beliau adalah guru yang menanamkan keberanian dan patriotisme. Ia melawan kolonial Belanda bukan dengan pasukan bersenjata, tetapi dengan ilmu, tulisan, dakwah, dan sikap. Ia mengajarkan bahwa umat tidak boleh kehilangan harga diri; bahwa agama tidak boleh dijadikan alat untuk tunduk kepada penguasa dan ketidakadilan; bahwa ilmu harus membebaskan, bukan meninabobokan.
Tak heran, atas perlawanan tersebut, Belanda berkali-kali memenjarakan dan mengasingkannya dari Batang, Jawa Tengah, ke Ambon dan Tondano, Manado, karena dianggap sebagai pemberontak hingga akhir hayatnya. Belanda juga menyebar propaganda dan stigma dengan menyebut pengikut KH. Ahmad Rifa’i sebagai santri celeng. Tujuannya untuk mengadu domba.
Tidak berhenti di situ. Upaya mematikan ajaran dan pengikutnya terus berlanjut. Bahkan, setelah Indonesia—negara yang ikut diperjuangkannya—merdeka, praktik mematikan ajaran beliau masih berlangsung. Ketika keberadaan pengikut KH. Ahmad Rifa’i tidak menguntungkan Orde Baru, Kejaksaan pernah melarang pengkajian dan peredaran kitab karya beliau. Melalui kajian yang sepihak, ajarannya dianggap sesat. Beruntung, atas perjuangan para pengikutnya, label sesat tersebut akhirnya dicabut. Pengikut KH. Ahmad Rifa’i kemudian mendirikan Ormas Keagamaan Rifa’iyah sebagai wadah untuk mengamalkan ajaran dan melanjutkan perjuangan beliau. Pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, KH. Ahmad Rifa’i dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Karena itu, keterbatasan Rifa’iyah hari ini semestinya tidak dibaca sebagai kelemahan. Ia justru bisa menjadi modal moral. Tidak punya akses besar ke pemerintah? Berarti harus memperkuat kemandirian warga. Tidak punya sumber dana melimpah? Berarti harus membangun koperasi, wakaf, iuran jemaah, jaringan usaha, dan solidaritas ekonomi. Tidak sebesar ormas lain? Berarti harus lebih rapi dalam kaderisasi, lebih serius dalam pendidikan, dan lebih hangat dalam merawat jemaah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, pernah menyampaikan pesan penting bahwa dalam menjalankan organisasi, Rifa’iyah tidak berangkat dari kemewahan, tetapi sering kali berangkat dari keterbatasan yang disertai kebulatan tekad dan semangat. Kalimat ini sederhana, tetapi dalam. Sebab, banyak gerakan besar memang tidak dimulai dari gedung megah dan rekening tebal. Banyak gerakan besar justru dimulai dari tekad orang-orang biasa yang menolak menyerah.
Maka warga Rifa’iyah tidak perlu merasa kecil. Tidak perlu iri melihat organisasi lain lebih dekat dengan pusat kekuasaan. Tidak perlu minder karena jumlahnya tidak sebesar yang lain. Yang lebih penting adalah bertanya: apakah jemaahnya makin solid? Apakah pendidikannya makin kuat? Apakah ekonomi warga makin mandiri? Apakah anak-anak muda Rifa’iyah diberi ruang untuk tumbuh? Apakah warisan KH. Ahmad Rifa’i benar-benar menjadi api perjuangan, bukan sekadar nama yang disebut dalam acara seremonial?
Dari Iran, Rifa’iyah bisa belajar bahwa tekanan tidak selalu membunuh. Dari KH. Ahmad Rifa’i, Rifa’iyah sudah lama belajar bahwa keterbatasan bisa menjadi jalan perjuangan. Maka tugas warga Rifa’iyah hari ini adalah menyatukan dua pelajaran itu: berani berdiri dengan kaki sendiri, rapi membangun kekuatan, dan tidak kehilangan harga diri.
Sebab, resiliensi bukan soal siapa yang paling keras berteriak. Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap bekerja ketika keadaan tidak mudah; tetap mendidik ketika dana terbatas; tetap berdakwah ketika panggung tidak luas; tetap membangun ekonomi umat ketika akses modal tidak besar; dan tetap menjaga jemaah ketika zaman berubah cepat.
Iran telah menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa yang dikepung bisa tetap berdiri. Rifa’iyah memiliki warisan yang tidak kalah berharga: semangat KH. Ahmad Rifa’i, ulama pejuang yang menanamkan kemandirian, keberanian, dan keteguhan iman. Jika warisan itu dirawat dengan serius, Rifa’iyah tidak hanya akan bertahan. Ia akan tumbuh, pelan-pelan, mungkin. Tidak gaduh, barangkali, tetapi kuat, berakar, dan bermartabat.
Baca Juga: Menyalakan Kembali Api Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i
Penulis: Sohirin, Wakil Ketua PD Rifa’iyah Kabupaten Batang
Editor: Yusril Mahendra

