Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Ketika Kaca Hati Berdebu

Catatan dari Majelis Salapan Pimpinan Pusat Rifa’iyah: Menyimak Wathahiril Qolba di Kitab Riayatul Himmah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
July 11, 2026
in Kolom
0
Ketika Kaca Hati Berdebu
0
SHARES
58
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada malam-malam yang tidak direncanakan menjadi istimewa, namun justru di situlah hikmah paling dalam turun tanpa diduga.

Malam itu, sebagaimana malam-malam yang lain sepanjang hampir dua tahun terakhir, majelis selapan kembali digelar. Para sesepuh, kiai, asatidz, dan warga Rifa’iyah duduk berjajar, sebagian menenteng kitab tarajumah yang sudah lusuh dimakan usia. Malam itu dijadwalkan kajian kitab Ushul Fiqih Tasawuf, Riayatul Himmah — sebuah forum yang telah menjelma rutinitas batin bagi warga Rifa’iyah: tempat mereka pulang, sebulan sekali, untuk menakar ulang arah hidupnya.

Namun sebelum kitab itu sempat dibuka, terjadi sesuatu yang justru menjadi pelajaran pertama malam itu — jauh sebelum satu kalimat pun dari kitab dibacakan.

Ketika Jadwal Berubah, Ketawadhuan Bicara

Pembawa acara menyampaikan permohonan maaf. Kiai yang dijadwalkan mengisi malam itu, KH. Khairuddin, yang biasa mengaji kitab Tahsinah, berhalangan hadir karena ada uzur. Kekosongan itu lalu dipasrahkan kepada Kiai Akramuddin dari Biro Syariah. Tetapi Kiai Akramuddin menolak halus — bukan karena enggan, melainkan karena ketawadhuannya sendiri yang tak membiarkannya merasa pantas menempati posisi itu. Permintaan lalu berpindah kepada Kiai Ahmad Riyadin Al-Hafidz, anggota Biro Syariah yang lain. Jawabannya pun serupa: belum sanggup.

Pada akhirnya, giliran jatuh — atau lebih tepat, terpaksa didesak dengan cara yang akrab di telinga Jawa — kepada KH. Muhammad Abidun, Lc., Ketua Biro Syariah Pimpinan Pusat Rifa’iyah. Beliau duduk di meja Muallim sambil tersenyum, mengakui dengan jujur di hadapan jamaah bahwa malam itu ia hadir bukan sebagai kiai yang terjadwal, melainkan sebagai orang yang didesak maju.

Ada sesuatu yang menyentuh dari peristiwa kecil ini. Di tengah budaya yang kerap memuja jabatan dan panggung, para kiai di majelis itu justru saling menghindar dari mimbar, saling mendorong yang lain untuk maju lebih dulu. Ketawadhuan bukan lagi teori yang dikaji dari kitab, melainkan yang benar-benar dipraktikkan sebelum pengajian dimulai.

KH. Muhammad Abidun sendiri menjelaskan filosofi di baliknya: mengaji kitab secara runtut, dari halaman ke halaman, adalah hak istimewa para masyayikh yang memiliki sanad muttasil hingga KH. Ahmad Rifa’i. Bila terjadi kekosongan seperti malam itu, pengisi pengganti cukup menyampaikan tema, tidak harus melanjutkan urutan kitab. Maka malam itu pun bukan kelanjutan dari kitab Tahsinah, melainkan sebuah tema besar yang justru menjadi induk dari seluruh laku spiritual: watahhiril qolba — bersihkanlah hatimu.

Satu Bait, Tiga Perintah

Kitab yang dibuka adalah nazam dari kitab Riayatal Himmah, berisi ilmu telung perkara: Ushul Fiqih Tasawwuf, karya Syekhina KH. Ahmad Rifa’i. Nazam ini begitu akrab di telinga warga Rifa’iyah — dihafal turun-temurun, dilantunkan dalam bahasa Jawa pegon yang khas, namun maknanya menghunjam jauh melampaui susunan kata-katanya yang sederhana.

Dari satu bait pembuka itu, KH. Muhammad Abidun mengurai tiga pesan inti yang saling menopang satu sama lain.

Pertama, membersihkan kalbu. Di antara kotoran hati yang paling sering menyusup tanpa disadari adalah riya’ — pamer di dalam amal ibadah. Sesuatu yang tampak seperti kebaikan di luar, namun keropos di dalamnya.

Kedua, meluruskan niat. Setiap langkah menuju Allah, kata beliau, harus dimulai dari niat yang jujur. Jangan sampai orientasi ibadah bergeser tanpa kita sadari.

Ketiga, disertai ikhtiar yang sungguh-sungguh — wabtaghi bil asbab. Di sinilah letak pembeda penting yang ditegaskan malam itu: antara rojak dan umniyah. Rojak adalah harapan yang disertai usaha nyata. Umniyah adalah sekadar angan-angan kosong — cita-cita yang tak pernah beranjak menjadi langkah angen-angen belaka.

Kepada siapa ketiga hal ini digali? Nazam itu menjawab tegas: kepada seorang alim adil — bukan sembarang guru, melainkan sosok yang dapat dipercaya keadilannya. Dan di atas semua itu, ada satu rambu yang paling mudah terlewat: jangan pernah merasa bahwa amal yang berhasil kita lakukan adalah murni buah usaha sendiri. Sedekah yang tertunai, salat yang terjaga, langkah kaki yang sampai ke majelis ilmu — semua itu semata kanugerahan dari Allah. Melupakan hal ini, kata KH. Muhammad Abidun, adalah pintu masuk penyakit ujub: membanggakan amal seolah semuanya berasal dari diri sendiri.

Segumpal Daging yang Menentukan Segalanya

Mengapa hati — bukan akal, bukan tubuh — yang harus dibersihkan lebih dulu? Pertanyaan ini dijawab dengan sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang begitu masyhur namun tak pernah kehilangan kedalamannya:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

KH. Muhammad Abidun mengibaratkannya sesederhana mungkin agar mengena di hati jemaah: seperti teko atau ceret. Jika isinya kopi, yang keluar kopi. Jika isinya air comberan, yang keluar pun comberan. Tak ada keajaiban di situ — hanya hukum sebab-akibat yang berlaku pasti. Lisan yang tajam menyakiti, tangan yang bergerak buruk, semuanya berpangkal dari satu ruang yang sama: kalbu.

Ada catatan sejarah yang menarik disampaikan malam itu. Fase dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah, justru dipenuhi penekanan pada tazkiyatun nafs — pembersihan jiwa. Ayat-ayat tentang zakat, puasa, dan haji belum banyak turun di masa itu. Bahkan pengharaman khamr secara tegas baru turun dua bulan menjelang Rasulullah wafat. Semua itu menunjukkan satu prinsip penting dalam syariat: tadaruj, bertahap. Namun fondasi paling awal, yang tak pernah ditunda, selalu sama — membersihkan hati lebih dulu, sebelum yang lain menyusul.

Tiga Wajah Hati

Bagian yang paling banyak menyentuh jemaah malam itu adalah ketika KH. Muhammad Abidun mengurai klasifikasi hati menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah: qolbun mayitun (hati yang mati), qolbun maridun (hati yang sakit), dan qolbun salimun (hati yang selamat).

Qolbun mayitun adalah kondisi hati orang kafir dan munafik — hati yang sudah tertutup rapat dari cahaya kebenaran, betapa pun banyak dalil disodorkan kepadanya. Ada satu penjelasan yang begitu tajam malam itu: kebutaan yang sesungguhnya bukanlah kebutaan mata di kepala, melainkan kebutaan mata hati, basirah. Seseorang bisa saja melihat dengan sempurna, namun tetap buta dalam arti yang paling menentukan.

Qolbun maridun, hati yang sakit, justru lebih dekat dengan kita semua — inilah hatinya orang beriman yang lebih banyak dikuasai hawa nafsu ketimbang syariat. Cirinya sederhana namun menohok: tidak merasakan kenikmatan beribadah. Mengaji terasa berat, salat hambar, zikir tak berbekas — meski secara lahiriah rajin melaksanakannya. KH. Muhammad Abidun mengutip peringatan Nabi tentang kaum Khawarij, yang salat dan bacaan Al-Qur’annya jauh melampaui banyak orang, namun bacaan itu tak pernah menembus melewati kerongkongan mereka — karena hati mereka disumbat kesombongan dan rasa paling benar sendiri.

Ada pesan penting yang disisipkan di sini: klasifikasi ini bukan alat untuk menghakimi orang lain, melainkan cermin untuk menakar diri sendiri. “Jangan sampai dari majelis ini kita keluar lalu memvonis orang lain berhati sakit,” pesan beliau. Diibaratkan seperti orang yang sedang demam — makanan paling lezat sekalipun akan terasa hambar di lidahnya, bukan karena makanannya buruk, tetapi karena tubuhnya sedang sakit.

Dan qolbun salimun — hati yang selamat, hati para kekasih Allah — adalah yang paling banyak ketaatannya dibanding kemaksiatannya. Inilah satu-satunya bekal yang benar-benar berguna kelak:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Jabatan, kekayaan, bahkan keturunan — semuanya tak berdaya di hadapan-Nya, kecuali satu hal yang dibawa pulang: kebersihan hati.

Dua Pintu Menuju Cahaya

Dari mana ilmu yang menerangi hati itu datang? KH. Muhammad Abidun mengutip Imam Al-Ghazali yang membagi jalan masuknya ilmu ke dalam kalbu menjadi dua jalur.

Jalur pertama datang dari luar — melalui mata dan telinga, melalui pengajaran guru, melalui majelis-majelis seperti yang sedang berlangsung malam itu. Inilah jalur yang paling mudah, terbuka bagi siapa saja yang diberi akal dan fisik yang sehat.

Jalur kedua datang dari dalam — ilham yang ditancapkan langsung ke dalam kalbu tanpa perantara guru, yang disebut ilmu laduni. Namun jalur ini, ditegaskan berkali-kali, bukan jalan pintas yang bisa dipilih sesuka hati. Ia menuntut mujahadah — tirakat panjang meninggalkan yang haram, menjauhi yang syubhat, membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengibaratkan hati sebagai sebuah kolam. Air yang mengisinya — yakni ilmu — bisa datang dari sungai dan hujan (jalur luar), bisa pula muncul dari mata air di dasar tanah (jalur dalam). Air dari sumber bawah tanah itu memang lebih jernih. Namun karena sulitnya jalur itu ditempuh, seorang penuntut ilmu tetap wajib menempuh jalur syariat: mengaji kepada para ulama, bukan berdiam diri menanti wangsit sambil malas mendekat kepada majelis ilmu.

Ponsel Pintar yang Kita Lupakan

Salah satu bagian yang paling segar malam itu adalah ketika KH. Muhammad Abidun menerjemahkan konsep-konsep tasawuf klasik ke dalam bahasa yang begitu dekat dengan keseharian jemaah.

Manusia, katanya, sesungguhnya diciptakan sebagai makhluk yang sangat canggih — sungguh Allah muliakan anak cucu Adam. Ibaratnya seperti ponsel pintar dengan spesifikasi tertinggi. Namun bila ponsel itu dipenuhi virus, dijejali aplikasi sampah dan berkas-berkas yang tak perlu, maka performanya melambat, sering macet, bahkan tak jarang hang di tengah pemakaian. Begitu pula hati manusia — secanggih apa pun ia diciptakan, bila dipenuhi dosa dan kelalaian, ia akan kehilangan kepekaannya sendiri.

Analogi lain yang disampaikan adalah tentang tata kelola diri, mengutip Imam Al-Ghazali: kalbu diibaratkan sebagai raja, akal sebagai perdana menteri, ghadab (amarah) sebagai aparat keamanan, dan syahwat sebagai gubernur atau bupati. Jika gubernur tak diawasi, ia akan korup. Jika aparat tak dikendalikan akal, ia akan sewenang-wenang. Namun bila sang raja — kalbu — memerintah dengan baik melalui akal yang tegak pada koridornya, seluruh “rakyat” dalam diri manusia, yakni anggota tubuhnya, akan ikut tertib dengan sendirinya.

Ketika Jemaah Bertanya

Sesi tanya jawab malam itu menghadirkan dua pertanyaan yang, meski sederhana, menyentuh inti dari seluruh kajian.

Pertanyaan pertama datang dari seorang jemaah: bagaimana cara menghidupkan hati yang telah mati, dan bagaimana mengobati hati yang sakit? “Ibarat orang sakit, tentu butuh dokter spesialis. Bagaimana caranya?” tanyanya.

KH. Muhammad Abidun menjawab dengan tiga tahap yang disepakati hampir seluruh ulama sebagai jalan pembuka. Yang pertama, taubat — pintu masuk yang tak bisa ditawar. Beliau mengisahkan kembali perjalanan Umar bin Khattab, yang pada mulanya berangkat membawa pedang dengan niat membunuh Nabi, namun ketika mendengar lantunan Surah Thaha yang dibaca saudara perempuannya sendiri, hatinya luluh seketika. Dari titik itulah ia berbalik arah, menghadap Nabi, dan menyatakan keislamannya. Sebuah pengingat bahwa hati yang tampak paling keras sekalipun bisa berbalik dalam sekejap, bila Allah menghendaki.

Tahap kedua adalah mencari guru — alim, adil, dan mursyid. Ibarat penyakit yang butuh dokter spesialis, penyakit hati pun butuh pembimbing yang benar-benar mengenal Allah, bukan sekadar ulama yang masyhur namanya namun belum sampai pada makrifat yang sesungguhnya.

Tahap ketiga adalah dzikir, dengan mengutip pesan Nabi bahwa hati manusia bisa berkarat sebagaimana besi berkarat, dan pengasahnya tidak lain adalah mengingat Allah. Beliau menyebut urutan yang biasa diajarkan Imam Ibnu Athaillah: memperbanyak istighfar, memperbanyak sholawat, lalu kalimat laa ilaaha illallah. Seiring waktu, dzikir yang semula sekadar di lisan akan berpindah dengan sendirinya menjadi dzikir yang hadir di hati.

Manisnya yang Tak Bisa Dibeli

Pertanyaan kedua datang dari seorang jemaah lain, dengan perumpamaan yang jujur dan menggelitik: bagaimana caranya tahu bahwa kita benar-benar telah merasakan manisnya ibadah — seperti seseorang yang tahu persis manisnya buah durian karena pernah mencicipinya?

KH. Muhammad Abidun mengutip Umar bin Khattab, yang pernah berkata bahwa ada dua hal yang bila tak ada di dunia ini, ia lebih memilih untuk tidak berlama-lama hidup: pertemuan dengan saudara seiman (silaturahim), dan salat malam. Keduanya adalah dua bentuk kenikmatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan oleh yang menjalaninya.

Ada pula kutipan dari Rabiah al-Adawiyah, seorang perempuan waliyullah dari kalangan tabi’in, yang mengaku tak pernah bersedih di dunia ini kecuali pada satu momen saja: ketika malam hendak berganti pagi — karena waktu bermunajat kepada Allah akan segera berlalu.

Jawaban akhirnya kembali pada satu titik yang sama sepanjang malam itu: tidak ada jalan pintas menuju kenikmatan ibadah, selain membersihkan hati dan bersungguh-sungguh dalam mujahadah. Kenikmatan itu adalah bonus dari Allah, bukan hasil kalkulasi usaha manusia semata. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah menempuh jalannya dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah — sebagaimana janji-Nya kepada orang-orang yang bermujahadah di jalan-Nya, bahwa mereka pasti akan ditunjukkan jalan menuju-Nya.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Al-Ankabuut: 69)

Menutup Malam, Membawa Pulang Satu Pertanyaan

Sesi malam itu ditutup dengan doa dan lantunan sholawat bersama. Namun yang tertinggal dari majelis itu bukan sekadar catatan tentang tiga jenis hati atau dalil-dalil yang dikutip satu per satu. Yang tertinggal adalah satu pertanyaan sederhana yang dibawa pulang setiap jemaah malam itu ke rumah masing-masing: seperti apa keadaan hati saya sendiri malam ini — mati, sakit, atau selamat?

Dan barangkali, di situlah letak keberkahan sesungguhnya dari sebuah kekosongan jadwal yang tak terduga. Ketika seorang kiai yang “didesak” naik mimbar justru menyampaikan pesan yang paling dibutuhkan jemaahnya malam itu: bahwa perjalanan menuju Allah tidak pernah dimulai dari kefasihan berbicara, ketinggian jabatan, atau kelengkapan sanad semata — melainkan dari satu titik yang paling sunyi dan paling menentukan dalam diri setiap manusia: kaca hati yang bersih dari debu.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca juga: Menyalakan Kembali Api Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i


Penulis: Ahmad Saefullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: ikhlasKajian KitabKH Muhammad Abidun Zuhrimembersihkan hatiniatpenyakit hatipenyucian jiwaRiayatul HimmahRifaiyah
Previous Post

Khutbah Jumat: Fajar Yang Berulang

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.