Jika hari ini kita bertanya kepada banyak anak muda tentang nama-nama influencer populer di media sosial, mereka dapat menjawab dengan cepat. Mereka mengetahui aktivitas hariannya, gaya hidupnya, bahkan masalah pribadinya. Namun ketika ditanya siapa ulama besar di daerahnya sendiri, tidak sedikit yang kesulitan menjawab.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera generasi muda. Ini adalah pergeseran otoritas yang sangat serius. Kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam cara anak muda memilih figur panutan, sumber pengetahuan, dan rujukan nilai kehidupan. Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi? Apakah anak muda tidak lagi membutuhkan ulama? Tentu tidak. Yang berubah bukan kebutuhan terhadap bimbingan, melainkan cara mereka menemukan dan mengonsumsi bimbingan tersebut. Anak muda tetap membutuhkan figur yang mampu menjawab keresahan hidupnya. Masalahnya, ruang itu kini lebih cepat diisi oleh influencer daripada ulama.
Dunia digital telah mengubah peta otoritas sosial. Dahulu seseorang menjadi berpengaruh karena kedalaman ilmu, keteladanan, dan pengabdiannya kepada masyarakat. Kini, sering kali pengaruh ditentukan oleh jumlah pengikut, tingkat keterlibatan, dan kemampuan menarik perhatian publik. Di era algoritma, perhatian adalah mata uang baru. Yang paling sering muncul di layar akan lebih dikenal daripada yang paling berilmu. Yang paling viral sering kali lebih berpengaruh daripada yang paling bijaksana.
Inilah realitas yang sedang kita hadapi. Media sosial tidak bekerja berdasarkan kedalaman gagasan. Media sosial bekerja berdasarkan kecepatan, emosi, visual, dan interaksi. Konten yang menghibur lebih mudah menyebar daripada konten yang mendidik. Konten yang memancing emosi lebih cepat viral daripada konten yang mengajak berpikir. Akibatnya, influencer memperoleh keuntungan besar dari sistem yang memang dirancang untuk memperbanyak perhatian publik. Sementara itu, banyak ulama masih berdakwah dengan paradigma lama dalam ekosistem yang sudah berubah total. Mimbar tetap penting. Pengajian tetap penting. Kitab tetap penting. Namun generasi muda hari ini hidup di ruang yang berbeda. Mereka menghabiskan berjam-jam di TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya. Ketika ulama tidak hadir secara efektif di ruang tersebut, maka ruang kosong itu akan diisi oleh aktor lain.
Karena itu, fenomena meningkatnya pengaruh influencer tidak boleh hanya dipandang sebagai kesalahan generasi muda. Kita juga perlu bertanya secara kritis: apakah institusi keagamaan cukup cepat membaca perubahan zaman? Jangan-jangan masalahnya bukan karena anak muda menjauhi ulama, tetapi karena ulama dan lembaga keagamaan terlambat mendatangi dunia anak muda.
Fakta menariknya, banyak influencer berhasil membangun kedekatan emosional dengan pengikutnya. Mereka berbicara dengan bahasa yang sederhana, berbagi pengalaman sehari-hari, menunjukkan sisi manusiawinya, dan tampil seolah menjadi teman dekat pengikutnya. Dalam kajian komunikasi digital, hubungan semacam ini dikenal sebagai hubungan parasosial, yaitu keterikatan emosional yang sangat kuat meskipun tidak pernah bertemu secara langsung. Di sinilah letak keunggulan influencer. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan. Mereka membangun kedekatan. Mereka tidak hanya memberikan informasi. Mereka menciptakan perasaan memiliki hubungan. Sedangkan sebagian ulama masih ditempatkan dalam posisi yang sangat formal dan berjarak. Dihormati, tetapi tidak selalu terasa dekat. Dikenal sebagai otoritas, tetapi belum tentu menjadi figur yang hadir dalam keseharian anak muda.
Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan budaya yang sangat mendalam. Generasi muda hari ini tumbuh dalam budaya visual. Mereka lebih banyak belajar melalui video daripada teks. Mereka lebih menyukai narasi singkat daripada uraian panjang. Mereka lebih tertarik pada dialog interaktif daripada ceramah satu arah. Jika dakwah tidak mampu beradaptasi dengan perubahan pola komunikasi ini, maka jarak antara generasi muda dan otoritas keagamaan akan semakin melebar.
Namun yang lebih mengkhawatirkan bukanlah popularitas influencer itu sendiri. Yang berbahaya adalah ketika popularitas dianggap identik dengan kebenaran. Ketika jumlah pengikut dijadikan ukuran kualitas ilmu. Ketika viralitas dianggap lebih penting daripada validitas. Ketika kemampuan berbicara dianggap lebih penting daripada kedalaman pengetahuan. Pada titik itulah masyarakat berisiko mengalami krisis otoritas. Seseorang bisa memengaruhi jutaan orang tanpa memiliki kompetensi yang memadai. Sebuah pendapat bisa dipercaya luas hanya karena tampil menarik di layar. Di sinilah lahir tantangan besar bagi dunia keagamaan dan pendidikan Islam.
Kita menyaksikan generasi yang sangat terhubung secara digital, tetapi sering kali kurang terhubung dengan sumber-sumber keilmuan yang otoritatif. Mereka memiliki akses informasi yang tidak terbatas, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk membedakan antara pengetahuan yang benar dan sekadar konten yang menarik.
Karena itu, masalah utama sesungguhnya bukan influencer. Masalah utamanya adalah literasi. Influencer akan selalu ada. Teknologi akan terus berkembang. Algoritma akan terus berubah. Tetapi generasi yang memiliki literasi kuat tidak akan mudah kehilangan arah. Mereka mampu menikmati media sosial tanpa menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Di sinilah tugas besar ulama, pesantren, sekolah, keluarga, dan organisasi keagamaan. Mereka harus hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai pembimbing generasi digital. Ulama tidak boleh hanya menjadi tokoh mimbar. Ulama harus menjadi pemimpin opini di ruang digital. Pesantren tidak boleh hanya mencetak ahli kitab. Pesantren juga harus melahirkan komunikator publik yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam bahasa zaman. Organisasi Islam tidak boleh sekadar sibuk dengan rutinitas struktural. Mereka harus aktif membangun ekosistem konten yang edukatif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan anak muda. Sebab kita sedang hidup dalam masa ketika pertempuran terbesar bukan lagi perebutan wilayah geografis, melainkan perebutan perhatian. Dan siapa yang menguasai perhatian generasi muda, dialah yang akan memengaruhi masa depan.
Karena itu, pertanyaan “mengapa anak muda lebih mengenal influencer daripada ulama?” sesungguhnya bukan kritik terhadap anak muda. Ini adalah cermin bagi semua pihak. Cermin yang memperlihatkan bahwa otoritas tidak lagi diwariskan secara otomatis. Kepercayaan tidak lagi lahir hanya karena gelar. Pengaruh tidak lagi muncul hanya karena posisi sosial. Semua harus diperjuangkan dalam ruang baru bernama dunia digital.
Ulama tetap dibutuhkan. Bahkan mungkin lebih dibutuhkan daripada sebelumnya. Tetapi kebutuhan itu harus dijawab dengan keberanian untuk beradaptasi, berinovasi, dan hadir di tempat generasi muda berada. Jika tidak, kita akan terus menyaksikan ironi yang menyedihkan: generasi yang mengenal kehidupan influencer hingga detail terkecil, tetapi tidak mengenal ulama yang seharusnya menjadi penuntun arah hidupnya. Dan jika keadaan itu dibiarkan, yang hilang bukan sekadar pengaruh ulama, melainkan kualitas moral dan intelektual generasi yang akan menentukan masa depan bangsa.
Baca Juga: Mahasiswa Rifa’iyah: Aset Strategis yang Terabaikan?
Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra

