Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Maulid Bukan Panggung untuk Kebodohan Berkedok Kreativitas

Opini

Tim Redaksi by Tim Redaksi
September 17, 2026
in Kolom
0
Maulid Bukan Panggung untuk Kebodohan Berkedok Kreativitas
0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang harus ditegaskan tanpa basa-basi: pertunjukan dalam Simbang Kulon Night Carnival 2026 tidak layak dibenarkan hanya karena diklaim sebagai budaya, kreativitas, atau bagian dari perayaan Maulid. Visualisasi sosok menyeramkan, simbol yang diasosiasikan dengan okultisme, serta adegan penyembelihan kambing dalam sebuah acara yang membawa nama Maulid Nabi adalah bentuk ekspresi yang tidak sesuai dengan nilai, adab, dan semangat peringatan kelahiran Rasulullah SAW. MUI bahkan secara tegas menyatakan bahwa pertunjukan semacam itu bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan peringatan Maulid. (MUI – Majelis Ulama Indonesia)

Yang lebih memprihatinkan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi cara berpikir di baliknya. Peserta mengakui bahwa mereka kurang memahami referensi yang digunakan dan mengambil inspirasi dari YouTube karena dianggap unik. Panitia pun mengaku tidak mengetahui secara rinci konsep pertunjukan tersebut. (detikcom) Ini bukan sekadar kekurangan teknis. Ini adalah persoalan literasi. Bagaimana mungkin sebuah pertunjukan yang telah dipersiapkan, dikostumkan, dikoreografikan, dan ditampilkan di ruang publik tidak melalui pertimbangan serius mengenai makna simbol yang digunakan?

Di sinilah istilah “kreativitas” tidak boleh dijadikan tameng untuk membenarkan kebodohan. Kreativitas tanpa pengetahuan adalah kecerobohan. Budaya tanpa kritik adalah pengulangan. Dan ekspresi keagamaan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi penyimpangan dari nilai agama yang justru hendak dibawa.

Lebih buruk lagi, ketika seluruhnya dibungkus dengan nama Islam dan Maulid, publik kemudian dipaksa menerima bahwa apa pun yang dilakukan dalam konteks tersebut adalah bagian dari budaya yang harus dihormati. Tidak. Ada batas yang harus ditegakkan. Islam tidak membutuhkan pembelaan yang membenarkan segala bentuk ekspresi hanya karena pelakunya mengaku sedang merayakan agama. Justru karena membawa nama Islam, standar etik dan intelektualnya harus lebih tinggi.

Maulid seharusnya menjadi ruang untuk menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah: akhlak, ilmu, kasih sayang, shalawat, nasihat, dan penghormatan kepada kehidupan. MUI menegaskan bahwa peringatan Maulid semestinya diwujudkan melalui kegiatan yang mendidik dan mencerminkan akhlak Nabi, bukan melalui simbol-simbol yang menakutkan atau menyerupai praktik yang bertentangan dengan nilai Islam. (MUI – Majelis Ulama Indonesia)

Maka persoalannya bukan lagi “bolehkah berkesenian dalam Islam?” Tentu seni dan budaya dapat menjadi bagian dari ekspresi masyarakat. Persoalannya adalah: mengapa ekspresi yang dipilih justru menghasilkan simbol yang bertentangan dengan identitas acara, menghilangkan kekhidmatan Maulid, dan akhirnya membuat nama Islam kembali menjadi bahan perbincangan negatif?

Di tengah begitu banyak persoalan yang membuat umat Islam harus menunjukkan kedewasaan intelektual, kejadian semacam ini justru memperlihatkan wajah sebaliknya: ingin berpesta, tetapi kehilangan pertimbangan; ingin disebut kreatif, tetapi tidak memahami simbol; ingin membawa nama budaya Islam, tetapi gagal menjaga martabat Islam itu sendiri.

Dan inilah bagian yang paling memalukan: Islam tidak sedang kekurangan ajaran yang indah. Yang sering kurang adalah kedewasaan umatnya dalam mengekspresikan ajaran tersebut.

Tidak semua yang ramai adalah dakwah. Tidak semua yang disebut budaya layak dipertahankan. Tidak semua yang disebut kreativitas pantas diberi ruang. Dan tidak semua yang dilakukan atas nama Maulid otomatis menjadi representasi Islam.

Jika sebuah ekspresi justru membuat nilai Maulid kehilangan makna, maka ekspresi itu harus dikritik dan ditolak, bukan dilindungi dengan alasan toleransi terhadap kreativitas.

Islam harus menunjukkan kedewasaan, bukan kehilangan arah. Maulid harus menjadi ruang pengagungan terhadap Rasulullah, bukan panggung bagi kebodohan simbolik. Membawa nama Islam berarti membawa tanggung jawab untuk berpikir sebelum bertindak.

Sebab ketika kebodohan diberi panggung, kreativitas dijadikan pembenaran, dan agama dijadikan label pelindung, yang rusak bukan hanya sebuah acara. Yang dipertaruhkan adalah martabat Islam di ruang publik.

Baca Juga: Korupsi: Kejahatan terhadap Kemaslahatan Umat


Penulis: Sa’duddin Muhammad, S.Psi., M.Psi. (@sa_didu)
Editor: Yusril Mahendra

Tags: budaya islamkreativitasMaulidMaulid NabiMaulid Nabi MuhammadPekalonganperingatan MaulidSimbang Kulon Night Carnival 2026
Previous Post

Menyamakan Istri dengan Ibu, Apakah Jatuh Talak?

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Yusril Mahendra, Warga Sipil.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.