Tidak semua perjalanan menuju kebaikan dimulai dari rencana yang rapi. Ada yang bermula dari satu permintaan pendek di hari Kamis, lalu bergulir menjadi sebuah Jumat yang panjang: sebuah bak mobil doplak yang biasa mengangkut paving, siang itu mengangkut sekelompok santri menuju majelis shalawat.
Kamis, 5 November 2026, sehari sebelum keberangkatan, Mas Farel selaku ketua pengurus Nariyahan menyampaikan sebuah permintaan agar Kepala Madrasah berkenan menjadi perantara peminjaman mobil doplak untuk transportasi siswa yang akan mengikuti acara Nariyahan pada Jumat, 6 November. Permintaan yang sederhana, namun di baliknya ada pemandangan yang tidak sederhana: remaja-remaja yang baru saja dipercaya memimpin organisasi sedang belajar mengurus sendiri hajat mereka — dari mencari kendaraan hingga memastikan semua teman bisa berangkat bersama.
Pelajaran kepemimpinan, seperti biasa, selalu dimulai dari hal-hal sekecil itu.
Sekilas Acara
| Hari / Tanggal | Jumat, 6 November 2026 |
| Kegiatan | Safari Nariyahan — Nariyahan perdana sejak terpilihnya pengurus baru |
| Tuan rumah | Mas Syafa Ali Afghan, Pandanarum, Tirto, Pekalongan |
| Peserta | Siswa MA Rifa’iyah Kedungwuni yang juga santri Pondok Pesantren INSAP, guru pendamping, dan tuan rumah |
| Transportasi | Mobil doplak Putro Joyo, berangkat dari Paesan pukul 10.30 WIB |
| Mulai acara | Pukul 13.00 WIB |
| Rangkaian | Syiiran Tarajumah (rukun salat) → Tahlilan → Nariyahan 21 kali → Mauidhoh hasanah → Pembentukan Pengurus Baru Nariyahan |
I. Silaturahim yang Dijadikan Kurikulum
Safari Nariyahan bukan sekadar majelis shalawat yang berpindah-pindah tempat. Ia adalah pendidikan silaturahim. Dengan berkeliling dari rumah ke rumah, setiap siswa diberi kesempatan mengenal keluarga teman-temannya — halaman rumahnya, orang tuanya, cara sebuah keluarga menyambut tamu. Di ruang kelas, seorang siswa hanyalah satu nama di daftar absen. Di rumahnya sendiri, ia adalah anak dari sebuah keluarga, cucu dari sebuah kampung, penerus dari sebuah silsilah.
Giliran kali ini jatuh di kediaman Mas Syafa Ali Afghan, di Pandanarum, Tirto, Pekalongan. Dalam bahasa sosiologi, inilah modal sosial yang dirawat dengan sengaja: kepercayaan antarkeluarga, jaringan antarsiswa, dan rasa memiliki yang tidak bisa dipindahkan lewat ceramah — hanya bisa ditumbuhkan lewat perjumpaan.
II. Ikhtiar Mencintai Rasulullah
Di atas semua itu, Nariyahan adalah ikhtiar mencintai Rasulullah, sebagaimana dianjurkan oleh Allah sendiri melalui firman-Nya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Ayat ini menarik karena ia tidak berhenti pada pengakuan. Cinta kepada Allah diuji dengan satu kata kerja: ikutilah. Mencintai Rasulullah bukan hanya soal bibir yang bershalawat, tetapi juga langkah yang mau berjalan di jalan beliau — termasuk langkah menempuh perjalanan, meluangkan waktu, dan menyisihkan tenaga untuk duduk bersama dalam sebuah majelis.
Dari situ pula tumbuh rasa saling menyayangi di antara siswa, guru, dan wali murid. Mereka saling memperhatikan dan mengorbankan harta, tenaga, pikiran, serta waktu untuk bersama-sama bershalawat. Harapannya sederhana namun dalam: semoga getaran shalawat itu memancarkan kebaikan bagi kita semua.
III. Bak Doplak yang Menjadi Kendaraan Syafaat
Pukul 10.30 WIB Ustadz Muhammad Furqon beranjak dari Paesan Tengah menuju Pandanarum. Kendaraannya bukan bus pariwisata, melainkan mobil doplak bertuliskan Putro Joyo — perusahaan paving milik H. Hairuddin, salah seorang pengurus Yayasan Pendidikan dan Sosial INSAP. Di baknya duduk serombongan siswa MA Rifa’iyah Kedungwuni yang sekaligus santri Pondok Pesantren INSAP.
Sebelum pemberangkatan, Imaduddin, salah seorang pengurus Nariyahan, lebih dulu membersihkan doplak itu — demi kebersihan dan kenyamanan teman-temannya. Sebuah pekerjaan kecil yang jarang masuk dokumentasi, tetapi di situlah kepemimpinan yang sesungguhnya bermula: pada kesediaan menjadi orang pertama yang melayani.
Ada ironi yang manis di sini. Sebuah perusahaan paving adalah pembuat jalan; dan hari itu kendaraannya membawa anak-anak yang sedang belajar menata jalan mereka sendiri menuju Rasulullah.

Bapak Iswadi Ilham, selaku Waka Kesiswaan sudah lebih dulu berangkat menuju rumah Afghan. Selepas melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqomah, Paesan Tengah, Kedungwuni, Pekalongan, Ahmad Saifullah selaku Kepala Madrasah bersama dua anak dan istrinya melaju ke arah yang sama. Menuju ridlo Allah dan syafaat Rasulullah.
IV. Halaman yang Luas, Kenangan yang Dekat
Memasuki halaman rumah Afghan yang luas, pandangan tertuju ke sisi barat: bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berdiri di sana, dan di sampingnya sebuah mushola. Melihat mushola itu, rasa kangen datang menghantui. Banyak kenangan di sana. Pada beberapa silaturahim sebelumnya, tuan rumah selalu mengajak salat berjamaah di tempat itu. Selepas itu baru makan Entok Goreng dengan sambal yang khas.
Begitulah sebuah tempat bekerja sebagai ingatan. Mushola kecil bisa menyimpan lebih banyak cerita daripada bangunan yang megah, karena di sanalah kebersamaan pernah ditegakkan dalam barisan shaf yang rapat, dalam koor amin harapan kepada Allah semata.
Kedatangan Pak Ahmad Saifullah disambut para siswa dengan baik. Mereka menyalami bergantian, dengan senyuman. Tak ada pelajaran adab yang lebih efektif daripada adab yang dipraktikkan.

V. Kitab Tarajumah dan Zaman yang Berganti
Ada satu hal yang sudah disiapkan jauh sebelumnya. Sengaja Kepala Madrasah membawa banyak kitab Ri’ayah awal. Sebabnya, saat pemberangkatan, Bu Uswatun Hasanah, pembina ekstrakurikuler Nariyahan Putri, sudah mengingatkan agar para siswa membawa kitab Tarajumah. Jawaban para siswa pun sederhana saja: “Kalau keluarganya Afghan Rifa’iyah, pasti punya kitab tarajumah, Bu.”
Begitulah anak-anak sekarang — mereka punya ciri zamannya. Jawaban itu lahir dari logika yang polos dan, jujur saja, cukup masuk akal: tuan rumahnya keluarga Rifa’iyah, maka kitabnya pasti ada.
Bagaimana kita merespons mereka? Barangkali harus dimulai dari sebuah premis: setiap generasi berbeda karakternya, sehingga ukuran baik dan buruk di dalam batin kita pun harus berbeda. Pada generasi sebelumnya, pernyataan semacam itu mungkin dianggap sebagai pembangkangan. Pada generasi ini, ia lebih tepat dibaca sebagai cara berpikir yang lugas — dan tugas pendidik bukan menghukumnya, melainkan menyiapkan diri: menyiapkan kitabnya.
Di teras, siswa yang masih berdiri segera merapat, menata diri dalam majelis yang penuh keberkahan. Kitab Tarajumah dikeluarkan dari tas Kepala Madrasah dan dibagikan kepada para siswa untuk dijadikan rujukan syiiran — ada yang menyebutnya kabalan, ada pula yang menyebutnya nazaman.

VI. Syiiran: Ilmu yang Didendangkan
Ketika acara hendak dimulai, sound system belum menyala. Tetapi jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, maka acara dimulai segera. Alasannya sederhana: semakin lama acara dimulai, semakin lama kegiatan usai; dan semakin lama kegiatan usai, semakin besar kemungkinan para santri pulang ke pondok melewati batas waktu yang telah ditentukan.
Biasanya, bila rebana tersedia, para siswa gemar mendendangkan shalawat. Namun hari itu syiiran dipilih dengan sengaja: agar ilmu ushul, fiqih, dan tasawuf yang didendangkan dapat kembali diingat dan melekat di dalam hati.
Syiiran hari itu menembangkan pembagian rukun salat:
“Rukune sholat wolulas tinamune, iku dibagi telung duman…”
(Rukun salat yang jumlahnya delapan belas itu, dibagi menjadi tiga bagian…)
Santri mulai mengikuti lantunan itu bersama-sama, dan bait tersebut diulang hingga tiga kali. Di tengah gemuruh syiiran, mic akhirnya bisa memperbesar suara, dan kidung itu pun semakin membahana.
Mungkin inilah cara paling tua sekaligus paling efektif mengajarkan fiqih kepada remaja: tidak lewat papan tulis, melainkan lewat nada. Hafalan yang dinyanyikan bersama tidak terasa sebagai beban; ia diam-diam menetap di dada, siap dipanggil kembali kapan saja seorang santri berdiri untuk salat.

VII. Tahlil dan Nariyah, Doa dari Generasi Baru
Tak lama setelah syiiran usai, Pak Ali Sabilillah tiba bersama putranya, Mas Uqi. Acara berikutnya adalah tahlilan yang dipimpin langsung oleh siswa — Farel Aditya. Hingga akhirnya tibalah giliran Pak Ali Sabilillah memimpin Nariyahan.
Nariyahan diawali dengan wasilah, istighfar, dan pembacaan syahadat, kemudian dilanjutkan dengan shalawat Nariyah sebanyak 21 kali. Shalawat itu berbunyi:
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نِالَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ فيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan salam yang utuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, terbuka segala kesulitan, terpenuhi segala hajat, tercapai segala harapan dan akhir hidup yang baik, dan dengan wajah beliau yang mulia hujan dimohonkan; serta kepada keluarga dan sahabat beliau, pada setiap kedipan mata dan hembusan napas, sebanyak bilangan segala yang Engkau ketahui.
Biasanya, setelah Nariyahan diisi sambutan-sambutan: dari pengurus Nariyahan maupun dari siswa selaku shohibul hajat, dan sesorah siswa. Namun karena ini Nariyahan perdana sejak terpilihnya pengurus yang baru, sambutan-sambutan itu belum dijalankan. Ada saatnya setiap kepengurusan baru belajar berjalan sebelum belajar berpidato; dan hari itu para pengurus muda cukup berbicara lewat kerja: kendaraan tersedia, majelis tertata, dan acara berjalan.

Baca Juga: Reportase Inspiratif: Sembilan Ribu Hati, Satu Nama
VIII. Mauidhoh: Kita Ada karena Perjuangan Leluhur
Acara inti diisi mauidhoh hasanah yang mengulas perjuangan Mbah Ahmad Rifai dalam menyemai ilmu di berbagai daerah melalui majelis-majelis selapanan — pertemuan berkala yang digelar setiap selapan, tiga puluh lima hari sekali. Salah satunya berlangsung di Wonoyoso, di kediaman K. Asnawi, Wonoyoso Buaran.
Dari majelis-majelis itulah muncul para penerus KH. Ahmad Rifai yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Pemalang, Pekalongan, dan Batang. Di antaranya K. Abu Salim di Paesan Tengah — kampung tempat madrasah ini berdiri hari ini; K. Hasan di Semampir dan Wiyanggong; serta K. Ilyas di Kampil, Wiradesa.
“Kita ada karena perjuangan leluhur kita.”
Lalu sebuah kisah disampaikan. Dahulu K. Agus Salim mengajar sambil dihantui perampasan kitab. Beliau terpaksa mengajar di samping kandang kambing untuk mengelabui penjajah.
Bayangkan kontrasnya. Ilmu yang dulu harus disembunyikan di samping kandang kambing, hari itu dilantunkan lantang di teras sebuah rumah, diperbesar pengeras suara, dan dibagikan dari tas ke tangan anak-anak yang tak lagi perlu cemas kitabnya dirampas. Kitab yang dahulu dijaga dengan taruhan keselamatan, kini cukup diingat untuk dibawa.
IX. Pulang dengan Bekal
Pada akhirnya, Safari Nariyahan hari itu mengajarkan hal-hal yang tak bisa dituntaskan dalam satu jam pelajaran. Bahwa silaturahim bisa dijadikan kurikulum. Bahwa cinta kepada Rasulullah tumbuh paling subur ketika dirawat bersama — oleh siswa, guru, dan keluarga yang rela mengorbankan harta, tenaga, pikiran, dan waktunya. Bahwa generasi yang berganti tidak harus berarti jarak yang melebar, selama orang tua dan guru mau memulai dari premis yang tepat. Dan bahwa ilmu yang sampai kepada kita hari ini pernah diperjuangkan di samping kandang kambing.
Bagi para pengurus Nariyahan yang baru — Imaduddin, dan kawan-kawan — hari itu adalah ujian pertama kepemimpinan, dan mereka memulainya dengan baik: dari urusan kendaraan hingga urusan menyalami tuan rumah.
Dan bagi kita yang lebih tua, hari itu menyisakan satu pertanyaan yang pantas dibawa pulang: sudahkah kita menyiapkan “kitab”-nya — bukan hanya kitab dalam arti lembaran, tetapi keteladanan, kesabaran, dan ruang bagi anak-anak kita untuk mencintai Rasulullah dengan caranya sendiri, di zamannya sendiri?
Seperti paving yang disusun satu per satu hingga menjadi jalan, seperti bait syiiran yang diulang hingga melekat, seperti shalawat yang dibaca berkali-kali hingga menjadi kebiasaan hati — begitulah cinta kepada Rasulullah dirawat: sedikit demi sedikit, bersama-sama, sampai ia menjadi jalan.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Catatan Istilah
| Nariyahan | Majelis pembacaan shalawat Nariyah, di sini dijalankan keliling dari rumah ke rumah sebagai safari. |
| Syiiran | Pelantunan bait-bait ilmu secara bersama-sama; disebut pula kabalan atau nazaman. |
| Tarajumah | Kitab-kitab Rifa’iyah berisi ajaran ushul, fiqih, dan tasawuf dalam bait berbahasa Jawa. |
| Selapanan | Pertemuan berkala yang digelar setiap selapan (35 hari). |
| Shohibul hajat | Tuan rumah atau pemilik hajat. |
| SPPG | Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. |
Reportase Feature disusun dari catatan lapangan Ahmad Saifullah, S.Sos., Kepala MA Rifa’iyah Kedungwuni, Pekalongan. Jumat 6 November 2026
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


