Ajaran tentang akhlak seorang mukmin dalam karya Tafriqoh memberikan gambaran yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya sikap hidup seorang beriman. Nilai utama yang ditekankan adalah andap asor—rendah hati—yang menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat.
Hakikat Mukmin: Rendah Hati dan Taat Syariat
“Haqe mukmin andap asor sarirane
Ingdalem tingkah polahe anut ing Syara’ pakone
Netepi wajib ngedohi ing kama’siyatane
Ngalindung ing Allah saking kesalahane.”
Seorang mukmin sejati adalah pribadi yang rendah hati dalam dirinya. Segala tingkah laku dan perbuatannya selalu mengikuti aturan syariat. Ia menjaga kewajiban dan menjauhi maksiat, serta senantiasa berlindung kepada Allah dari segala kesalahan.
Sikap ini menunjukkan bahwa keimanan bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari yang penuh kehati-hatian dan ketundukan kepada aturan agama.
Bahaya Kesombongan dalam Pergaulan
“Ojo koyo lakune wong berandalan
Yen lelungguhan cecaturan takaburan
Ora keno den kalahaken dene liyan
Rumoso bener dewe tinimbang karo liyan.”
Berbeda dengan mukmin sejati, orang yang jauh dari nilai iman cenderung bersikap sombong. Dalam pergaulan, ia merasa paling benar dan tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Kesombongan ini sering tampak dalam percakapan dan sikap sehari-hari.
Padahal, sifat merasa paling benar adalah pintu menuju kerusakan hati. Ia menutup diri dari kebenaran dan sulit menerima nasihat.
Dampak Menolak Kebenaran
“Sumerep dadi kafir imane lebur
Tan gugu ing sabenere Syara’ pitutur
Budek picek moto ati lamur
Diwehi ilmu manfaat akhirat mungkur.”
Ketika seseorang menolak petunjuk syariat, maka imannya dapat rusak bahkan hilang. Ia menjadi seperti orang yang “buta dan tuli”—tidak mampu melihat kebenaran meskipun telah diberi ilmu.
Ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju keselamatan akhirat justru ditinggalkan. Ini adalah tanda hati yang telah tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu.
Hasad terhadap Ulama: Tanda Penyakit Hati
“Hasud ing alim adil pituturane
Rumoso pinter kalah ilmune
Alim adil anut ing Allah pakone
Nutur sahe iman lan sahe kabecikane.”
Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah hasad (iri) kepada ulama yang adil. Orang yang iri merasa dirinya lebih pintar, padahal ilmunya tidak sebanding.
Ulama yang lurus justru selalu mengikuti perintah Allah dan membimbing umat kepada keimanan serta kebaikan. Membenci atau meremehkan mereka hanya akan menjauhkan seseorang dari kebenaran.
Penutup
Ajaran ini menegaskan bahwa inti dari keimanan adalah kerendahan hati, ketaatan, dan kesiapan menerima kebenaran. Sebaliknya, kesombongan, penolakan terhadap syariat, dan iri hati kepada orang saleh adalah jalan menuju kerusakan iman.
Sebagai refleksi, setiap diri perlu bertanya: apakah kita sudah menjadi mukmin yang andap asor, atau justru terjebak dalam sikap merasa paling benar?
(Disarikan dari KH. Ahmad Rifa’i, Tafriqoh, hlm. 275)
Baca Juga: Kritik untuk Alim yang Haus Pujian
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

