Dalam perjalanan menempuh jalan agama, manusia sering kali merasa aman hanya karena berada di lingkungan yang tampak religius. Padahal, tidak semua yang berlabel “alim”, “sufi”, atau “penceramah” benar-benar mengantarkan pada keselamatan iman. Di sinilah KH. Ahmad Rifa’i memberikan peringatan yang sangat tajam dan relevan lintas zaman.
Beliau menulis:
أضرّ الإنسان صحبة عالم غافل وصوفي جاهل وواعظ مداخن
Artinya, yang paling membahayakan manusia adalah bergaul dengan orang alim yang lalai, sufi yang jahil, dan penceramah yang menyesatkan.
Peringatan ini kemudian diperjelas dalam bait berbahasa Jawa:
“Luwih madhorote menungso rusak agamane
Iku kekancan anut ing alim lali atine
Lubo dunyo mengo saking Allah ridhone
Lan kekancan ing wong tasawuf sepi ilmune
Lan kekancan ing wong kang biso pitutur
Kang pitambuh ngenggoni doso ngelantur.”
Alim yang Lupa Hati
KH. Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa kerusakan agama seseorang sering bermula dari salah memilih panutan. Alim yang lalai—yakni orang berilmu tetapi hatinya terpaut pada dunia—dapat menyesatkan tanpa disadari. Ilmunya ada, tetapi tidak membimbing kepada rida Allah, justru menormalisasi ambisi, kepentingan, dan kelalaian.
Tasawuf Tanpa Ilmu
Tasawuf sejatinya adalah jalan penyucian hati. Namun, jika tasawuf dipisahkan dari ilmu syariat, ia berubah menjadi ritual kosong. Wong tasawuf sepi ilmune adalah gambaran orang yang berbicara soal rasa dan pengalaman batin, tetapi abai terhadap hukum dan tuntunan agama. Mengikuti mereka berisiko menjauhkan seseorang dari kebenaran yang lurus.
Penceramah yang Menyesatkan
Yang paling berbahaya adalah wong kang biso pitutur, orang yang pandai berbicara, tetapi ucapannya justru menjadi sebab bertambahnya dosa. Retorika indah tanpa keteladanan dan kejujuran hanya akan meninabobokan hati, membuat maksiat terasa wajar dan kebenaran menjadi kabur.
Refleksi untuk Zaman Sekarang
Nasihat KH. Ahmad Rifa’i ini terasa sangat aktual di tengah banjir informasi, ceramah, dan figur agama di era digital. Tidak semua yang viral membawa kebenaran, dan tidak semua yang tampak saleh benar-benar membimbing kepada Allah.
Agama tidak rusak karena kurangnya simbol, tetapi karena kelalaian hati, kebodohan yang dibungkus spiritualitas, dan kepandaian berbicara tanpa tanggung jawab moral.
Maka, kehati-hatian dalam memilih guru, teman, dan panutan adalah bagian dari menjaga iman. Sebab, pergaulan yang salah bukan hanya merusak akhlak, tetapi bisa menghancurkan agama secara perlahan.
(Disarikan dari KH. Ahmad Rifa’i, Bayan, Juz 2, Korasan 15)
Baca Juga: Jalan Kebenaran dan Amanah Ilmu
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


