Suatu hari, Mahas, bocah sembilan tahun, bertanya pada ayahnya dengan polos, “Yah, kok orang-orang salaman sama Ayah beda-beda ya? Ada yang cium tangan, ada yang enggak. Ada yang jabat tangan sambil ditepuk-tepuk, bahkan ada yang sampai pelukan.”
Ayahnya tersenyum, lalu menjawab dengan sabar, “Karena mereka memang berbeda, Nak. Yang cium tangan biasanya santri atau murid Ayah, itu cara mereka menghormati gurunya. Yang berjabat tangan sambil saling tepuk lengan dan pelukan, itu teman-teman Ayah. Dan ada juga orang yang lebih dituakan, makanya kadang Ayah yang cium tangan mereka.”
“Kok bisa begitu, ya?” tanya Mahas lagi, masih penasaran.
Saya sering mengajak siswa untuk merenungkan hal sederhana ini saat mengajar sosiologi, khususnya tentang kelas sosial. “Coba perhatikan, bagaimana caramu berjabat tangan dengan orang tuamu, temanmu, gurumu, atau orang asing yang baru kamu temui. Dari cara itu saja, sebenarnya kita sudah bisa melihat bahwa kelas sosial itu nyata adanya.”
Dengan kata lain, dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, kita sudah memperlakukan orang berbeda-beda berdasarkan kedudukan mereka di masyarakat.
Bayangkan saat kamu bertemu teman lama. Pasti salamannya erat, lama tak mau dilepas karena rindu. Tangan saling ditepuk berkali-kali, pertanda kalian setara, sederajat. Tapi coba bandingkan kalau temanmu itu sudah jadi orang terkenal—pasti caramu menyapa di depan umum akan berbeda.
Atau saat bersalaman dengan orang tua. Kamu akan sungkem, atau setidaknya mencium tangan mereka, sebagai wujud penghormatan. Itu tanda bahwa dalam pandanganmu, mereka berada di tempat yang lebih tinggi.
Semua ini menunjukkan bahwa stratifikasi sosial memang sudah melekat dalam kehidupan kita.
Apa yang Membentuk Kelas Sosial?
Menurut teori sosiologi, kelas sosial terbentuk dari apa yang dihargai oleh masyarakat. Ada masyarakat yang lebih menghargai kekayaan daripada ilmu, maka orang kaya akan lebih disegani daripada seorang ulama atau ilmuwan. Ada pula masyarakat yang memuliakan ilmu agama, maka kiai atau guru spiritual akan mendapat tempat terhormat.
Orang tua, misalnya, dipandang agama sebagai “harta pusaka keluarga”. Makanya wajar kalau kita sebagai anak memperlakukan mereka dengan penuh kemuliaan. Derajat mereka di mata kita memang lebih tinggi. Ingat kan, saat naik mobil bersama keluarga? Jok depan selalu untuk yang paling sepuh—baik sepuh dalam usia maupun dalam ilmu.
Begitu juga cara bersalaman dengan kiai. Ada unsur harapan untuk mendapat berkah, makanya kadang kita salaman dengan penuh khidmat, bahkan dengan cara wolak-walik. Kiai dihormati karena masyarakat menjunjung tinggi nilai agama, dan kiai adalah pengemban nilai-nilai itu.
Kelas Sosial di Berbagai Tempat
Kenyataan tentang kelas sosial ini tampak jelas dalam berbagai situasi. Perhatikan saja saat ada pengajian atau acara besar. Orang-orang yang dihormati pasti diperlakukan istimewa—tempat duduknya beda, sambutannya beda, suguhan dan bingkisannya pun beda.
Peribahasa Jawa mengatakan, desa mawa cara, negara mawa tata—setiap tempat punya caranya sendiri dalam menentukan kelas sosial. Di masyarakat Dayak, misalnya, kepala suku lebih dihormati daripada kiai, karena di sana kesaktian lebih dihargai daripada penguasaan dalil agama.
Dalam dunia transportasi dan pariwisata, penentu kelas sosial cuma satu: uang. Siapa yang mampu bayar tiket mahal, dia duduk di kelas eksekutif. Meski kamu tokoh masyarakat, kalau cuma sanggup bayar kelas ekonomi, ya tetap di kelas ekonomi. Di hotel pun begitu—bintang lima tentu lebih mewah dari bintang tiga, dan orang yang menginap di sana terkesan lebih “tinggi” derajatnya.
Yang memprihatinkan, dunia kesehatan dan pendidikan pun tidak jauh beda. Mereka hadir bukan untuk melayani semua orang secara setara, tapi justru membeda-bedakan. Di pendidikan, ada istilah “sekolah plus”, “IT”, atau “program khusus” yang menandai stratifikasi. Siswa SMA Al-Azhar terlihat lebih bergengsi dibanding siswa madrasah swasta.
Di rumah sakit, kelas-kelas pelayanan berdasarkan kemampuan bayar sangat terang-terangan. Ini yang kemudian membuat kita bertanya: apakah ini sesuai dengan nilai-nilai agama yang kita anut?
Perspektif Agama tentang Perbedaan
Sejak awal penciptaan, memang berlaku hukum perbedaan: tinggi-rendah, besar-kecil, kaya-miskin, pintar-bodoh. Al-Quran menyebutkan:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” (QS. Az-Zukhruf: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, hukum alam yang memang dikehendaki. Dalam interaksi manusia, perbedaan ini melahirkan stratifikasi sosial. Tapi tujuannya bukan untuk saling membanggakan diri atau menindas, melainkan untuk saling melengkapi—seperti jari-jari tangan yang berbeda namun saling membutuhkan.
Bayangkan kalau semua jari sama seperti ibu jari—betapa sulitnya menjalani hidup! Karl Marx pernah mengimpikan masyarakat tanpa kelas sosial, tapi saya yakin itu tidak akan pernah terwujud, karena bertentangan dengan kodrat penciptaan.
Perbedaan kelas memang keniscayaan. Tapi bukan berarti kita boleh sombong karena posisi atau status sosial. Kehidupan ini adalah buah kerja sama antarmanusia dan makhluk lainnya. Kita semua saling bergantung.
Siapa yang Paling Mulia?
Lalu, kalau perbedaan itu keniscayaan, ukuran apa yang seharusnya dipakai untuk menilai kemuliaan seseorang?
Al-Quran memberikan jawaban tegas dalam surat Al-Hujurat:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Jadi, kalau mengikuti nilai agama, yang paling mulia itu bukan yang paling kaya, bukan yang paling berkuasa, tapi yang paling bertakwa.
Pertanyaannya: apakah kenyataan di masyarakat kita sudah mencerminkan ini? Ketika yang kaya justru paling disegani, berarti kita sedang membelakangi nilai agama. Tapi siapa yang bisa menilai ketakwaan? Dengan metode apa? Otoritas siapa?
Belajar dari Masyarakat Jawa Kuno
Masyarakat Jawa kuno punya cara sendiri. Mereka mengenal kelas sosial: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tapi menurut sejarawan Agus Sunyoto, pembagian ini bukan berdasarkan kekayaan atau kekuasaan, melainkan sikap zuhud—kerelaan melepas dunia.
Brahmana adalah mereka yang sudah meninggalkan kepemilikan duniawi. Para resi, empu, wali—mereka tinggal di gua, tanpa rumah mewah atau kendaraan. Justru merekalah yang sering dimintai nasihat oleh raja, karena dianggap dekat dengan Tuhan.
Ksatria, para abdi kerajaan, adalah mereka yang dibebaskan dari urusan kepemilikan pribadi. Semua fasilitas mereka adalah milik kerajaan. Kalau mereka mulai berdagang atau mengejar harta, maka derajatnya turun dari Ksatria ke Sudra.
Konsep ini menarik: kemuliaan justru terletak pada kemampuan melepaskan dunia, bukan menguasainya.
Pandangan KH. Ahmad Rifa’i
Di masa penjajahan Hindia Belanda, pemerintah kolonial membagi masyarakat menjadi tiga golongan: Eropa (dan yang disamakan), Timur Asing, dan Pribumi. Golongan pribumi—bangsa kita sendiri—justru ditempatkan paling bawah.
KH. Ahmad Rifa’i tidak bisa menerima ini. Beliau punya pandangan sendiri tentang stratifikasi sosial. Dalam kitab Tanbih al-Ummah, beliau menulis:
“Sarirane mukmin adil luhur derajat
Tinimbang saking kepala negara maksiat”
Artinya: “Seorang mukmin yang adil lebih mulia derajatnya daripada kepala negara yang bermaksiat.”
Ini pesan yang sangat kuat. Kemuliaan sejati bukan ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau kekuasaan—tapi oleh keadilan dan ketakwaan.
Pertanyaannya sekarang: bagaimana dengan kita? Apakah cara kita memperlakukan orang lain sudah mencerminkan nilai-nilai ini? Atau kita masih terjebak dalam ukuran-ukuran duniawi yang semu?
Mari kita renungkan kembali—dari hal sesederhana cara kita berjabat tangan.
Baca Juga: Rajaban: Ketika Silaturahmi Menjadi Roh Kehidupan
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra


