Dukuh Kretegan dan Tokoh Masyarakatnya
Sebelum mengetahui lebih detail riwayat Syaikh Muhammad Bajuri dan perjuangannya dalam berdakwah menegakkan nilai-nilai Islam di Dukuh Kretegan, alangkah baiknya mengetahui kondisi dusun Kretegan sebelum, sesaat, dan sesudah beliau menetap di dukuh tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui komparasi atau perbandingan kondisi masyarakat terutama dalam memahami dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam aplikasi kehidupan. Selain itu akan diketahui kondisi sosio-kultural masyarakat pasca keberadaan beliau di dukuh Kretegan. Sengaja penulis lebih banyak mengemukakan dukuh Kretegan dibandingkan desa Karangmalang (sebelum dan saat Syaikh KH. Muhammad Bajuri menetap di dukuh Kretegan, dukuh tersebut termasuk dalam wilayah desa Karangmalang Kulon yang kemudian diubah menjadi desa Karangsari) karena wilayah dakwah beliau lebih memfokuskan di dukuh Kretegan dibandingkan di desa Karangmalang Kulon secara keseluruhan.
Secara singkat akan diuraikan asal-usul dukuh Kretegan, letak geografis, tokoh masyarakat, kondisi perkembangan, nilai-nilai keislaman, kondisi sosio-kultural, dan Kretegan sebagai pusat kajian kitab Rifa’iyah.
Asal-usul Dukuh Kretegan
Penjelasan mengenai asal-usul dukuh Kretegan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sosio-kultural dukuh Kretegan dengan penyebaran Islam di dukuh tersebut. Dari beberapa referensi cerita yang kami peroleh, dukuh Kretegan awalnya adalah sebuah hutan, yang kondisinya belum ada penduduk yang menempati. Kemudian ada seorang yang bernama Diah membuka hutan yang akan dijadikan sebuah desa. Saat beliau membuka hutan, ada anak harimau yang terjebak dalam kubangan yang ada dalam hutan tersebut. Kemudian beliau membawa anak harimau tersebut ke rumahnya yang dibangun di hutan, dan merawatnya. Selang beberapa hari sang induk harimau mengetahui bahwa anaknya ditemukan dan dirawat oleh seorang yang ada dalam hutan itu. Sehingga sang induk menemui orang itu dan berniat memintanya kembali. Akhirnya anak tersebut diberikan ke induknya. Tetapi beberapa hari kemudian, induknya datang dan mengganti anak harimau yang diminta dari Diah dengan hewan lain yang diberikan untuk bekal makanan Diah.
Selang beberapa tahun kemudian beliau akhirnya mempunyai beberapa anak di antaranya:
- Timin
- Jamir (alias Sardan)
- Dasimin
- Sitam
Sehingga keadaan desa semakin ramai. Apalagi beberapa tahun kemudian ditambah cucu-cucu beliau.
Islam mulai menampakkan syiarnya ketika keturunan beliau mulai banyak yang menuntut ilmu dan yang putri menikah dengan para remaja alim dari desa-desa tetangga. Oleh karena itu, perlu diketahui silsilah keturunan dari Diah sampai perkembangan syiar Islam di dukuh Kretegan.
Adapun silsilah dari keturunan Diah adalah sebagai berikut:
Diah
- Timin
- Jamir (Sardan)
- Dasimin
- Sitam
Timin
- Kuntjung
- Kati
- Dulman
- Sarbun
Sardan
- Patemi
- Suyati
- Kadari
- Imam K.
Marli
- Umar (Karnawi)
- Ghoni
- Liah
- Saruni
- Sema’un
Kati
- Sol
- Muzaenah
Letak Geografis Dukuh Kretegan
Dukuh Kretegan pada tahun 1900-an berada di wilayah desa Karangmalang Kulon yang berkecamatan di Weleri, Kabupaten Kendal. Dukuh Kretegan yang notabene berada di desa Karangmalang Kulon tersebut berada di posisi yang cukup strategis, berada di pertengahan kecamatan Weleri. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan desa Sendangdawuhan, sebelah barat berbatasan dengan dukuh Bantaran. Dengan posisi tersebut akan berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan dakwah di dukuh Kretegan. Dukuh Kretegan mudah dijangkau oleh sarana transportasi angkutan sehingga mobilitas penduduk relatif besar, dengan demikian peningkatan perekonomian penduduk semakin besar. Selain itu, dengan kemudahan sarana transportasi perkembangan dakwah di dukuh Kretegan semakin meningkat. Banyak orang alim dari luar desa yang datang dan kemudian menetap di dukuh Kretegan sehingga lebih menghidupkan kondisi islami di dukuh Kretegan. Selain posisi yang strategis, sebagai wilayah dukuh Kretegan adalah persawahan sehingga sebagian besar mata pencahariannya adalah petani. Banyak para petani dukuh Kretegan yang sukses. Hal ini ditandai dengan sebagian penduduk yang mempunyai sawah yang luas. Dari mata pencaharian inilah mengangkat perekonomian penduduk dukuh Kretegan. Dan ini adalah faktor utama perkembangan dakwah di dukuh Kretegan yang kelak akan menjadi pusat kajian kitab Rifa’iyah dan mencetak kader-kader Rifa’iyah yang sebagian besar menjadi tokoh masyarakat di daerah masing-masing.
Tokoh Masyarakat Dukuh Kretegan
Dalam buku ini dibatasi tokoh masyarakat yang berperan dalam mengembangkan nilai-nilai Islam di dukuh Kretegan.
- Kamilah
Dari referensi yang kami peroleh, beliau berasal dari desa Pidodo. Beliau adalah orang pertama kali yang mengkaji kitab Tarajumah di dukuh Kretegan. Metode kajian yang beliau sampaikan masih sederhana yaitu dengan ngaji syarat-syaratan. Dari awal inilah mulai ada beberapa orang yang hafal syarat-syaratan.
Beliau taslim (menyatakan keislamannya) dengan Mbah KH. Busro Wonosobo yang sejajar dengan Mbah KH. Abdul Qohar (Bekiking Cepiring Kendal). Dengan keberadaan beliau, dukuh Kretegan mulai tumbuh nilai-nilai keislamannya.
- Karnawi (H. Umar)
Beliau adalah satu-satunya tokoh masyarakat yang mempunyai harta kekayaan yang melimpah. Beliau diubah namanya menjadi H. Umar setelah menunaikan ibadah haji di tanah suci. Dari beliaulah dakwah Islam mulai berkembang di dukuh Kretegan. Beliau tidak secara langsung berdakwah di masyarakat, tetapi beliau orang kaya yang mempunyai keluarga besar. Dengan kekayaannya itu beliau menarik orang-orang pintar terutama orang-orang alim kitab dari desa tetangga untuk menetap di dukuh Kretegan. Orang-orang alim tersebut dinikahkan dengan putri-putrinya. Ini adalah metode beliau untuk mengembangkan agama Islam di dukuh Kretegan.
Selain menarik orang-orang alim untuk tinggal dan menetap di dukuh Kretegan, beliau juga mengajak dan memotivasi anak-anaknya untuk menuntut ilmu Islam di pondok pesantren, sehingga dari keluarga beliau juga terbentuk keluarga yang islami. Selain mengumpulkan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas untuk mengembangkan ajaran Islam di dukuh Kretegan, beliau juga melakukan pembangunan masjid di dukuh Kretegan yang kemudian dinamakan masjid Al-Umar. Masjid ini adalah masjid pertama kali yang berdiri di dukuh Kretegan dan sampai sekarang masih eksis keberadaannya walaupun sudah direnovasi beberapa kali.
H. Umar mempunyai istri yang bernama Kuntjung. Beliau dikaruniai empat orang putra dan putri, dengan satu orang putra bernama Abdul Rasyid dan tiga orang putri bernama Siti Asiyah, Marjonah, dan Rumyati. Dari keempat anaknya, syiar Islam di dukuh Kretegan mulai menggema.
- Abdul Rasyid
Beliau adalah anak pertama dari H. Umar. Beliau menuntut ilmu kepada murid pertama KH. Ahmad Rifa’i yaitu KH. Abdul Qohar (Bekiking Rejosari Cepiring Kendal). Di pesantren tersebut beliau bersama Muslim (KH. Muhammad Bajuri). Setelah beliau memahami berbagai kitab Tarajumah karya Syaikh KH. Ahmad Rifa’i, beliau memutuskan untuk pulang (boyong). Di dukuh Kretegan beliau mengajar anak-anak kecil di masjid setiap ba’da Maghrib. Sehingga setiap ba’da Maghrib kondisi masjid diramaikan oleh anak-anak kecil yang sedang mempelajari kitab. Kondisi saat itu sungguh telah menampakkan syiar Islam terutama di kalangan anak-anak kecil.
- Mursyid (KH. M. Sidiq)
Beliau berasal dari desa Cepoko Mulyo, Gemuh, Kendal. Beliau adalah suami Siti Asiyah, putri dari H. Umar. Beliau termasuk alim kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i. Di dukuh Kretegan beliau mulai mengajarkan kitab Tarajumah kepada penduduk dukuh Kretegan. Beliau juga termasuk salah seorang yang mengembangkan agama Islam di dukuh Kretegan.
- Muslim (KH. Muhammad Bajuri)
Beliau berasal dari desa Karanganyar, Limpung, Batang. Ayah beliau bernama Abdul Mutholib. Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren yang dipimpin oleh KH. Abdul Qohar, beliau diboyong ke dukuh Kretegan oleh H. Umar, tokoh masyarakat dukuh Kretegan, untuk dinikahkan dengan putrinya yaitu Marjonah. Pada awalnya beliau mulai membuka tempat pengajian di rumahnya, tetapi setelah istrinya meninggal, beliau membuat rumah sendiri dan mulai membuka pengajian kitab-kitab Tarajumah di mushola yang berada di sebelah rumahnya. Dari pengajian itu berkembang menjadi sebuah pondok pesantren yang para santrinya banyak berasal dari dukuh Kretegan sendiri dan sebagian kecil berasal dari desa-desa tetangga termasuk di antaranya dukuh Bantaran, Siwalan, dan desa Cepoko Mulyo. Dengan kesabaran dan keistiqomahan beliau kemudian berkembang menjadi pondok pesantren besar yang sebagian para santri berasal dari luar kota di antaranya Wonosobo, Temanggung, Pati, Pekalongan, Ambarawa, Comal, Pemalang, Semarang, dan kota-kota lain. Sehingga pada saat itulah dukuh Kretegan menjadi pusat kajian kitab Tarajumah yang menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas yang tinggi di dalam memahami dan menerapkan syari’at Islam. Dan sebagian para lulusan pondok pesantren di dukuh Kretegan menjadi tokoh masyarakat sentral di daerahnya masing-masing. Secara lebih terperinci tentang beliau, insya Allah akan dipaparkan riwayat hidup beliau dan perjuangan beliau dalam menyampaikan dan menerapkan syari’at Islam, selain itu akan dipaparkan metode dakwah beliau dalam menyampaikan syari’at Islam.
- Abdullah
Beliau adalah putra pertama dari H. Abdul Rasyid. Setelah menuntut ilmu di pondok pesantren, beliau mulai menyampaikan ilmunya di dukuh Kretegan terutama kepada para santri yang mengkaji kitab-kitab Tarajumah. Banyak para santri yang mondok di pesantren dukuh Kretegan ikut kajian dengan beliau yang diselenggarakan di rumahnya.
- Abdul Malik
Syiar Islam mulai menampakkan gaungnya di dukuh Kretegan ketika beliau mulai tinggal di dukuh Kretegan. Beliau berasal dari dukuh Blara’an, Damarsari, Cepiring. Beliau adalah suami dari Siti Qomariyah binti H. M. Sidiq. Beliau mulai mengajarkan kitab salaf (kitab kuning) pertama kali di dukuh Kretegan. Dari kajian beliaulah mulai berdatangan para santri dari daerah-daerah tetangga bahkan ada yang dari luar kota. Beliau juga sempat mendampingi KH. Muhammad Bajuri yang saat itu sudah mulai mengkaji kitab di mushola. Setelah wafatnya H. Abdullah, putra H. Abdurasyid, beliau mulai pindah ke masjid dan mulai mengkaji di masjid Al-Umar.
Dari nama-nama tokoh tersebut di atas dapat dibuat alur perjalanan dakwah di dukuh Kretegan sebagai berikut:
– Kamilah
– Karnawi (H. Umar)
– Mursyid (H. M. Sidiq)
– H. Abdul Rasyid
– Muslim (H. M. Bajuri)
– H. Abdullah
– H. Abdul Malik
Dari ketujuh tokoh masyarakat tersebut masih mempunyai hubungan dalam satu keluarga. Hal ini membuktikan bahwa faktor utama yang menentukan keberhasilan perkembangan dakwah di dukuh Kretegan adalah usaha H. Umar di dalam menarik orang-orang alim dari luar desa dengan cara mendekatkan saudara-saudaranya melalui hubungan pernikahan. Selain itu juga ditopang dengan kondisi perekonomian yang kuat dari keluarga H. Umar. Untuk itu perlu diketahui silsilah dari keluarga beliau sebagai berikut:
Umar
1) H. Abdul Rasyid
2) Siti Asiyah
3) Marjonah
4) Rumyati
Abdul Rasyid
1) H. Abdullah
2) H. Ma’sum
3) H. Munawar
4) H. Fajari
5) Siti Maryam
6) Juwariyah
7) Syahid
8) Markumi
9) Jamhuri
10) H. Nur Muhammad
11) Nadzri
Siti Asiyah + H. M. Sidiq
1) H. Nawawi
2) Mu’minah
3) Siti Qomariyah
Marjonah + H. M. Bajuri
1) Sujinah
2) Sufiah (Hj. Khadijah)
3) Suntariyah (Hj. Azizah)
Siti Qomariyah + H. Abdul Malik
Keterangan: Nama yang dicetak tebal adalah tokoh masyarakat yang telah berjasa dalam mengembangkan nilai Islam di dukuh Kretegan.
Kondisi Nilai-nilai Keislaman Dukuh Kretegan
Di dalam kajian yang kami sampaikan, dibatasi pada kondisi sesaat sebelum berkembangnya dakwah Islam di dukuh Kretegan. Sebelum dakwah Islam eksis di dukuh Kretegan, masyarakat sudah mulai mengkaji kitab-kitab Tarajumah yang disampaikan oleh Kamilah dan Sarmadi, sehingga nilai-nilai Islam sudah mulai ditegakkan. Di sisi lain, di dukuh Kretegan dikenal sebagai tempat atau markas para pencuri dan garong. Sebutan ini sampai dikenal di desa-desa tetangga. Sehingga image yang berkembang di masyarakat dukuh Kretegan secara umum belum mengamalkan nilai-nilai Islam dengan baik.
Baru setelah dakwah berkembang, kondisi masyarakat sudah mulai menunjukkan perubahan dalam menerapkan syari’at Islam. Apalagi ketika Syaikh KH. M. Bajuri mulai mendirikan pondok pesantren, banyak masyarakat yang sudah mulai menyadari untuk mempelajari kitab-kitab Tarajumah karangan KH. Ahmad Rifa’i ini. Sehingga secara bertahap nilai-nilai Islam sudah mulai dijunjung tinggi oleh masyarakat. Para pencuri dan garong pun menaruh hormat dengan kewibawaan kepemimpinan Syaikh KH. M. Bajuri dalam menyebarkan syari’at Islam. Para pencuri dan garong mulai sadar akan pentingnya nilai-nilai Islam. Hal ini disebabkan oleh kepribadian beliau yang benar-benar menjadikan Islam sebagai diinullah, tidak hanya sebatas agama. Perlu diketahui bahwa dengan memahami Islam sebagai diinullah maka pemeluk Islam tidak hanya menjadikan Islam agama ritual yang hanya melaksanakan ibadah-ibadah mahdhoh sebagaimana yang Allah SWT syari’atkan terkait hubungan antara manusia dengan Sang Khaliq, tetapi Islam benar-benar ditampakkan dari sikap dan perilaku umatnya yang secara nyata dilaksanakan di dalam setiap aktivitas kehidupannya. Karena memang Islam mengatur setiap aktivitas kehidupan dari yang terkecil sampai mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Khaliq. Ketika nilai-nilai Islam benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan, niscaya tidak ada kemelaratan dan kesulitan, yang ada hanyalah hidup yang serba cukup dan kebahagiaan, sebagaimana firman Allah SWT “Islam adalah rahmat bagi semesta alam”.
Sejak perkembangan dakwah itulah nilai-nilai Islam mulai berkembang dan secara bertahap diaplikasikan di dalam kehidupan. Masyarakat Kretegan sudah mulai menjaga interaksi antara pria dan wanita, para wanita sudah mulai menutup aurat (hampir seluruh wanita dukuh Kretegan yang sudah baligh memakai penutup aurat). Dengan kondisi seperti itulah, persepsi yang berkembang di desa-desa tetangga kurang baik. Ada yang mengatakan orang-orang Kretegan adalah orang-orang yang kolot, susah mengikuti perkembangan zaman dan susah untuk maju. Memang apabila nilai-nilai Islam ditegakkan akan semakin jauh terhadap kondisi kebiasaan jahiliah yang ada. Misalnya kebiasaan menanggap wayang kulit yang di situ banyak aktivitas maksiat ataupun organ tunggal yang banyak menimbulkan fitnah dan kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Kondisi para remaja menunjukkan peningkatan dalam menjalankan aktivitas keislaman. Banyak para remaja yang mengkaji dan menjalankan aktivitas keislaman dengan baik. Hal ini berlangsung selama perkembangan dakwah di dukuh Kretegan.
Setelah para tokoh masyarakat meninggal, kondisi di atas masih berjalan seperti biasanya, namun mendekati era millennium ini pergeseran nilai-nilai keislaman khususnya para remaja semakin tamak. Hal ini terjadi karena beberapa faktor di antaranya:
- Mulai menurunnya frekuensi/keseringan para remaja dalam mengikuti kajian kitab terutama kitab Tarajumah. Para remaja sudah mulai malas mengkaji kitab-kitab karangan Syaikh Ahmad Rifa’i. Selain itu mereka juga jarang mendapat sentuhan ruhiyah berupa nilai-nilai Islam. Memang sangat disayangkan kondisi seperti ini berlawanan arah dengan kondisi saat KH. Muhammad Bajuri masih hidup. Hal ini disebabkan media informasi termasuk televisi yang semakin cepat berkembang di pedesaan. Apalagi acara-acaranya sebagian besar mengekspos/memperlihatkan kebudayaan-kebudayaan barat yang jauh dari nilai-nilai Islam. Selain itu, kurang adanya kedekatan dalam berkomunikasi antara tokoh masyarakat dan para remaja. Tokoh masyarakat diharapkan bisa mendidik para remaja melalui kajian-kajian/pertemuan-pertemuan, hal ini tampak pada kehidupan Syaikh K.H.M. Bajuri di mana cara remaja mengaji bersama dalam satu tempat di mushola yang diawasi langsung oleh beliau, sehingga dalam kajian itu juga bermanfaat untuk para remaja yang menanyakan masalah-masalah tentang remaja.
- Perhatian orang tua yang sangat kurang terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama terhadap anak-anaknya. Para orang tua cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya karena merasa anak-anaknya sudah bisa bertanggung jawab terhadap setiap aktivitas yang dilaksanakannya. Seharusnya pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya dilakukan secara kontinyu/berkelanjutan. Karena setiap anak membutuhkan perhatian dari orang tua, bahkan usia remaja pun masih merindukan perhatian orang tua.
- Sebagian para remaja setelah menyelesaikan pendidikan formal tidak mendalami ilmu agama maupun ilmu-ilmu yang lainnya. Mereka bekerja merantau. Perubahan orientasi pun terjadi dari bekerja merantau tersebut. Bekerja yang seharusnya untuk meningkatkan perekonomian tetapi justru digunakan untuk sesuatu yang kurang, selain itu, sebagian remaja setelah merantau justru pulang dengan membawa nilai-nilai asing yang nota bene mengadopsi kebudayaan barat. Bahkan dengan mengikuti kebiasaan tersebut merasa bangga dan tidak merasa bersalah. Hal ini tidak sepatutnya dilakukan oleh para remaja yang nota bene sebagai generasi penerus syiar Islam. Marilah kita sama-sama melihat perjuangan H. Umar yang sebagian kekayaannya digunakan untuk menolong agama Allah. Dan itulah sepatutnya orientasi yang harus dimiliki oleh setiap remaja yang sedang mencari penghasilan, diniatkan untuk menolong agama Allah.
Dari beberapa faktor tersebut timbul kekhawatiran nilai-nilai Islam yang selama ini menjadi warisan terbaik dari tokoh-tokoh masyarakat secara bertahap akan tersisihkan oleh kebudayaan-kebudayaan barat yang notabene kembali ke kebudayaan jahiliyah Quraisy yang dikemas secara modern. Oleh karena itu, marilah bersama antara tokoh masyarakat, remaja dan para pemuda bersama-sama mengembalikan nilai-nilai Islam yang sudah mulai meredup ini.
Kondisi Sosio-kultural Masyarakat Kretegan
Ada perbedaan signifikan kondisi sosiokultural masa sebelum dan sesudah KH. M. Bajuri. Secara umum kondisi masyarakat dukuh Kretegan sebelum KH. M. Bajuri mengalami keterbelakangan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan interaksi antara masyarakat dukuh Kretegan dengan desa tetangga yang kurang harmonis. Hal ini disebabkan perbedaan pemikiran dan pemahaman antara masyarakat dengan desa tetangga. Sebenarnya hal ini juga terjadi pada masa KH. A. Rifa’i. Sebagian besar masyarakat tetangga tidak menyukai kebiasaan-kebiasaan beribadah yang dilakukan oleh masyarakat dukuh Kretegan. Padahal kalau sama-sama memahami bahwa landasan/dasar yang digunakan dalam beribadah adalah berasal dari sumber yang sama. Selain itu, sikap masyarakat dukuh Kretegan yang menganggap ilmu pengetahuan selain ilmu agama tidak penting. Sehingga tidak ada sama sekali yang menuntut ilmu pengetahuan selain ilmu agama termasuk di sekolah-sekolah formal seperti SLTP dan SMU. Karena pada saat itu persepsi yang berkembang di masyarakat ilmu pengetahuan selain agama adalah sekuler dan cenderung menjauhkan diri terhadap Sang Khaliq Allah SWT. Padahal kenyataannya ilmu pengetahuan selain ilmu agama digunakan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Contoh riil, dengan bersekolah akan membentuk pemikiran yang lebih nyata dan sistematis yang nantinya akan menghasilkan pekerjaan yang baik yang diharapkan akan memberikan kemudahan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, kondisi masyarakat pada saat itu tidak memperbolehkan menjadi pegawai pemerintah seperti kepala desa atau guru-guru sekolah formal. Hal itu juga terjadi pada masa K.H.A. Rifa’i. Bahkan dalam kitab Tarajumah tidak diperbolehkan untuk berurusan dengan para priyayi (pejabat). Kalau dianalisis lebih jauh, konteks pemahaman yang disampaikan oleh K.H.A. Rifa’i dengan pemahaman masyarakat saat itu sangat berbeda. Karena memang pada saat masa KH. A. Rifa’i semua pegawai sampai tingkat desa lebih memihak kepada pemerintah Belanda yang notabene pemerintah kafir dan senantiasa menindas rakyat kecil. Sehingga gambaran seperti inilah yang ada dalam pemikiran masyarakat pada saat itu, yang akhirnya tidak ada generasi Rifa’iyah yang berada di sekolah formal.
Sekali lagi kami tegaskan bahwa antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan di bangku sekolah formal mempunyai hubungan yang sangat erat. Contoh nyata, di dalam ilmu biologi baru-baru ini ditemukan ayat-ayat Al-Quran (untaian ayat-ayat Al-Quran) di dalam kromosom yang berada dalam tubuh manusia. Ayat-ayat tersebut ditemukan oleh ilmuwan Muslim yaitu Ahmad Khan dari Pakistan.
Setelah masa KH. M. Bajuri, pemahaman secara bertahap mengenai kebutuhan ilmu pengetahuan selain ilmu agama sangat dibutuhkan, sehingga sudah ada yang mulai menuntut ilmu pengetahuan yang lain. Di bidang pemerintahan sudah mulai ada beberapa masyarakat yang berkecimpung di bidang pemerintahan. Mereka sudah memahami peran seorang umaro’ sangat penting di dalam menegakkan syari’at Allah SWT. Dengan menduduki pemerintahan akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Masyarakat Kretegan juga sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat tetangga. Perbedaan yang selama ini diperdebatkan sudah mulai saling memahami bahwa perbedaan yang ditonjolkan hanya berada pada masalah furu’ (cabang) tidak sampai mengarah pada akidah.
Sebagai Pusat Kajian Kitab Rifa’iyah
Sejak keberadaan KH. M. Bajuri di dukuh Kretegan, banyak santri dari daerah luar kota berdatangan untuk menimba ilmu dengan beliau. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketertarikan para santri untuk mondok di tempat beliau, di antaranya:
- Beliau adalah murid generasi kedua dari K.H.A. Rifa’i yang menimba ilmu dengan Syaikh KH. Abdul Qohar.
- Beliau terkenal dengan kecerdasannya sehingga mendapatkan ijazah/izin dari Syaikh KH. Abdul Qohar untuk mengajarkan kitab Tarajumah karangan KH. A. Rifa’i.
- Pemahaman beliau yang tinggi terhadap kitab-kitab Tarajumah.
- Sikap beliau yang benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai Islam di setiap aktivitas sehari-harinya.
Baca Juga: Biografi Kyai Muhammad Ilyas bin ‘Ilmah, Santri Militan KH. Ahmad Rifa’i
Penulis: Ali Khumaeni & Muh. Nur Arifudin
Editor: Yusril Mahendra


