Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Sejarah

Biografi KH. Muhammad Bajuri Kretegan (Bagian 2)

Tim Redaksi by Tim Redaksi
February 4, 2026
in Sejarah, Tokoh
0
Biografi KH. Muhammad Bajuri Kretegan (Bagian 1)
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nasab dan keturunan

Secara struktural nasab dan keturunan beliau adalah sebagai berikut:

Mangkunegara

  1. Mangku
  2. Musthofa
  3. Abdul Mutholib

Abdul Muthalib

  1. Kartubi
  2. Madirjo
  3. Muslim

Muslim (K.H.M. Bajuri)

  1. Sujinah
  2. Sufiah (Hj. Khadijah)
  3. Suntariyah (Hj. Azizah)

Keterangan:

  • Nama Mangku bukan nama sebenarnya.
  • Putra Abdul Muthalib dengan istri Khalimah.
  • Putra K.H.M. Bajuri dengan istri Marjonah.

Dari struktur nasab dan keturunan beliau dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Mangkunegara adalah seorang pejabat penting di kerajaan Solo. Sehingga dia masih termasuk berdarah biru (jajaran orang keraton). Pada saat itu pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia berekspansi (memperluas jajahan) kekuasaan di negara Indonesia. Kerajaan Solo termasuk sasaran dari penjajahan pemerintah Belanda. Menurut sejarah kerajaan Solo pada saat itu sudah memeluk Islam. Dari peperangan akhirnya penjajah Belanda menguasai kerajaan Solo. Tetapi Mangkunegara tidak menerima penjajah Belanda sehingga dia melarikan diri menuju ke arah utara dan menuju ke sebuah desa yaitu dusun Mlangkok yang berada di kecamatan Tersono. Setelah menetap lama, beliau dikaruniai keturunan 3 orang putra yaitu:

  1. Mangku (bukan nama sebenarnya)
  2. Abdul Mutholib
  3. Mustofa

Dari tulisan ini hanya akan dibatasi pada keturunan Abdul Mutholib yang nanti akan bersambung terhadap seorang tokoh masyarakat yang mampu mengubah dan menciptakan kebiasaan masyarakat lebih islami, yaitu Muhammad Bajuri. Dari Abdul Mutholib dikaruniai 5 orang putra yaitu:

  1. Kartubi
  2. Ahmad Harjo
  3. (Tidak diketahui)
  4. Muslim
  5. (Tidak diketahui)

Tetapi kelima putra Abdul Mutholib mempunyai ibu yang berlainan karena Abdul Mutholib mempunyai 3 orang istri yang salah satu di antaranya namanya adalah Khalimah yang dikaruniai putra bernama Muslim (K.H.M. Bajuri) dan dari Muslim dikaruniai 3 orang putri yaitu:

  1. Sujinah
  2. Sufiah (Hj. Khadijah)
  3. Suntariyah (Hj. Azizah)

Kelahiran Muhammad Bajuri

Dari referensi yang kami peroleh dan sudah menjadi kesepakatan para murid dan keturunannya, beliau dilahirkan pada hari Kamis Manis. Mengenai tanggal kelahirannya tidak ada referensi yang jelas. Tahun kelahiran beliau adalah 1881 M. Data tersebut diperoleh dari putri beliau yang ketiga yaitu Suntariyah. Sebagaimana dikisahkan oleh Suntariyah bahwa beliau berumur seratus kurang tiga tahun atau 97 tahun. Sedangkan beliau meninggal pada tahun 1975 M sehingga dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa beliau lahir pada tanggal 14 Agustus 1878 M.

Beliau dilahirkan di desa Karanganyar kec. Limpung kabupaten Batang. Data tersebut diperoleh dari ibu Kustiyah dan ibu So’ari keturunan ketiga dari Abdul Mutholib. Beliau diberi nama oleh ayahnya dengan nama Muslim.

Masa Kecil Muhammad Bajuri

Sebagaimana anak-anak kecil yang lain, beliau pada saat itu dididik oleh orang tuanya dengan nilai-nilai agama, sehingga sejak kecil sudah terkondisikan dengan suasana yang islami baik di tingkatan keluarga maupun tingkatan masyarakat setempat. Secara khusus beliau juga dididik oleh H. Ali (tokoh masyarakat setempat yang mempunyai kualitas pemahaman yang tinggi, selain itu H. Ali juga mendidik Umroh). Dari didikan H. Ali dan bapaknya, beliau tumbuh menjadi anak yang berkualitas dari segi agama, terlebih dengan kecerdasan yang beliau miliki. Menginjak usia remaja sesuai dengan kewajiban seorang muslim beliau dikhitan, sehingga masa kecil beliau telah sempurna mulai dari pendidikan agama yang diajarkan oleh bapaknya dan H. Ali sampai beliau mengaplikasikan syari’at Allah dengan mengikuti sunah rasul yaitu khitan.

Masa Remaja Muhammad Bajuri

Sebagaimana telah disampaikan di awal bahwa sejak kecil beliau sudah terdidik oleh agama Islam, sehingga masa remaja pun terbiasa dengan kondisi yang islami. Pada saat lebih kurang umur 13 tahun beliau diizinkan oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu khusus mempelajari kitab-kitab tarajumah yang disusun oleh K.H. Ahmad Rifa’i. Sebagaimana diketahui bahwa kandungan dari kitab tarajumah sendiri secara integral membahas tiga masalah pokok yaitu:

  1. Bab usul (aqidah)
  2. Bab fiqih
  3. Bab tasawuf

Sehingga dari ketiga masalah tersebut akan tercermin dalam tsaqofah Islamiah beliau dari sikap beliau dalam mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

Atas dasar firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu”, dan sabda Rasulullah SAW “mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslimin dan muslimat”, maka beliau mulai menuntut ilmu agama di pondok pesantren salafy yang berada di dusun Bekinking (Rejosari) kecamatan Cepiring kabupaten Kendal. Beliau menuntut ilmu dengan murid syaikh K.H. Ahmad Rifa’i yang memiliki kualitas dan kapasitas keislaman yang tinggi yaitu syaikh K.H. Abdul Qohar.

Syaikh K.H. Abdul Qohar

Beliau adalah murid syaikh K.H. Ahmad Rifa’i. Beliau termasuk salah seorang murid dari 14 murid syaikh K.H. Ahmad Rifa’i yang dididik sebagai kader pemula jama’ah Rifa’iyah. Ke-14 murid itulah yang dianggap kader dengan ukuran kesetiaan dan paling menguasai ilmu tarajumah. Ilmu tarajumah ialah ajaran K.H. Ahmad Rifa’i yang sumbernya dari kitab Al-Qur’an, dan As-Sunnah dan termasuk ijma’ dan qiyas. Selain menguasai kitab-kitab tarajumah, ke-14 murid itu juga paling banyak menyalin kitab-kitab tarajumah dan mampu mengajarkannya. Dengan kriteria tersebut, K.H. Abdul Qohar mempunyai legitimasi untuk mengajarkan kitab tarajumah dan membuka pesantren.

Menuntut ilmu di pondok pesantren

Beliau menuntut ilmu di pondok pesantren selama kurang lebih 7 tahun. Di pondok beliau banyak mempelajari kitab-kitab karangan syaikh K.H. Ahmad Rifa’i. Di antara kitab-kitab yang telah beliau pelajari adalah:

  1. Ri’ayatul Himmah
  2. Abyanal Hawaij
  3. Khusnul Mitholab
  4. Asnal Miqosod
  5. Tasrihatal Muhtaj
  6. Tabyinal Islah
  7. Tadzkiyah
  8. Muslikhat
  9. Tahsinah
  10. Wadzihah

Selain dari sepuluh kitab tersebut masih banyak kitab-kitab tarajumah yang beliau pelajari termasuk beberapa bismillah yang dikarang oleh K.H. Ahmad Rifa’i. Tetapi dari nasehat syaikh K.H. Muhammad Bajuri kepada para muridnya, sebelum mengkaji harus bisa merampungkan sepuluh kitab di atas.

Di pondok pesantren beliau termasuk orang yang tekun dan cerdas, sehingga beliau termasuk orang istimewa/mempunyai kedekatan lebih besar dengan syaikh K.H. Abdul Qohar dibandingkan murid yang lainnya. Selain itu, beliau sering tidak makan (puasa sunnah), karena kondisi perekonomian keluarga beliau yang tidak mencukupi. Bahkan dikisahkan beliau ke pondok pesantren Bekinking dengan tidak membawa uang saku. Tetapi beliau lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berdzikir dan mengamalkan wirid ya Fattah ya Rozzaq, sehingga pada suatu ketika datang camat Patebon dengan istrinya datang ke pesantren K.H. Abdul Qohar. Pada saat itu istri camat lagi sakit perut dan meminta syaikh Abdul Qohar untuk disembuhkan. Tetapi dari syaikh Abdul Qohar dilimpahkan ke Muhammad Bajuri untuk mengobati sakit perut istri camat tersebut dengan dibacakan surat Al-Fatihah sebanyak 21 kali. Dengan izin Allah SWT, istri camat akhirnya sembuh dan beliau diberi shodaqoh sehingga mampu membiayai sampai setengah tahun. Tetapi pada hakikatnya dari kebiasaan beliau menahan lapar dengan melakukan puasa sunah tersebut, taqarub ilallah (kedekatan kepada Allah) semakin tinggi dan sikap tawadzu’nya semakin tinggi. Apalagi ditambah tingkat pemahaman beliau terhadap kitab-kitab karangan syaikh Ahmad Rifa’i semakin meningkat.

Selain menuntut ilmu di pondok pesantren Bekinking, beliau juga menuntut ilmu dengan mengkaji kitab Arab (kitab kuning) di dukuh Jambu. Beliau berguru dengan Asmawi yang mempunyai kapasitas ilmu agama yang tinggi. Oleh karena itu, beliau tidak hanya paham terhadap kitab-kitab tarajumah tetapi juga paham terhadap kitab-kitab Arab.

Ketika beliau berada di pondok pesantren Bekinking, beliau mempunyai banyak teman tidak hanya satu angkatan dengan beliau, tetapi juga dengan kakak angkatan termasuk dengan Abdul Rasyid. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan dan kecepatan beliau dalam memahami kitab-kitab tarajumah. Selain itu beliau tidak pernah menganggap rendah teman-teman beliau walaupun beliau lebih cerdas dibandingkan dengan teman-temannya. Hal ini menarik simpati teman-temannya termasuk di antaranya Abdul Rasyid putra dari H. Umar, tokoh masyarakat dukuh Kretegan. Sehingga Abdul Rasyid mengajak beliau untuk bersama-sama mensyiarkan Islam di dukuh Kretegan. Akhirnya beliau menyepakati dan bersama Abdul Rasyid pulang ke dukuh Kretegan untuk menyebarkan syari’at Islam.

Menikah dengan Marjonah

Setelah menyelesaikan belajarnya di pondok salafy Bekinking, Cepiring, Kendal, beliau diajak oleh Abdul Rasyid untuk menyebarkan Islam di dukuh Kretegan. Sesampai di Kretegan beliau dikenalkan oleh ayahnya Abdul Rasyid yaitu H. Umar. Karena rasa simpati terhadap Muhammad Bajuri, akhirnya beliau dinikahkan dengan putri H. Umar yang bernama Marjonah. Ada perbedaan pendapat mengenai kisah pernikahan beliau, ada yang mengatakan bahwa Muslim (Muhammad Bajuri) diajak oleh H. Umar sewaktu di pondok pesantren untuk di boyong ke dukuh Kretegan untuk dinikahkan dengan putrinya. Tetapi pada dasarnya ada kesepakatan bahwa beliau dinikahkan dengan putri H. Umar karena melihat kecerdasan beliau terhadap ilmu agama sehingga dimaksudkan bisa menyebarkan syari’at Islam di dukuh Kretegan.

Beliau menikah sekitar tahun 1904 M. Acara pernikahan dilaksanakan sesuai dengan syari’at Islam. Pada saat itu Marjonah baru berusia 15 tahun. Setelah prosesi pernikahan beliau sementara tinggal dengan mertuanya yaitu H. Umar.

Aktivitas di dukuh Kretegan

Setelah prosesi pernikahan, beliau mulai menetap di dukuh Kretegan untuk memulai meramaikan syi’ar Islam di dukuh Kretegan. Oleh karena itu beliau mulai menetap terpisah dengan mertuanya yaitu berada di dukuh Kretegan bagian selatan tepatnya di tempatnya ibu Muzainah. Selain itu di sebelah rumah beliau juga dibangun mushola, sehingga sudah mulai diadakan sholat fardhu berjama’ah dan kajian rutin, materi yang beliau sampaikan berasal dari kitab-kitab tarajumah. Sistem kajian yang digunakan adalah kajian bandungan. Sebagian besar yang mengikuti kajian dengan beliau adalah orang-orang tua yang berasal dari daerah Kretegan.

Setelah menetap lama, beliau dikaruniai 3 orang putri yang masing-masing bernama:

  1. Sujinah
  2. Sufiah (Hj. Khadijah)
  3. Suntariyah (Hj. Azizah)

Sujinah adalah anak pertama dari beliau. Sehingga dengan kelahiran seorang putri tersebut, beliau mulai termotivasi untuk lebih semangat menyebarkan Islam di dukuh Kretegan. Begitu juga dengan kelahiran putri kedua yaitu Sufiah dan putri ketiga Suntariyah, aktivitas beliau bertambah padat. Selain bekerja untuk menghidupi keluarganya juga harus tetap menegakkan syiar Islam.

Beliau seorang tokoh masyarakat yang tidak hanya mensyiarkan Islam tetapi beliau juga tekun dalam bekerja. Pekerjaan yang beliau tekuni adalah sebagai seorang tukang kayu. Dengan pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu akan melatih beliau dalam sikap sabar dan teliti. Dan beliau termasuk seorang tukang kayu yang mempunyai ketekunan yang baik sehingga banyak menerima pekerjaan dari masyarakat. Selang satu tahun setengah setelah kelahiran putri ketiganya, beliau diliputi duka yang mendalam dengan meninggalnya istri beliau yaitu Marjonah. Oleh karena itu, beliau mempunyai fungsi ganda selain mensyiarkan Islam, beliau juga harus mengurusi ketiga putrinya. Sehingga pada akhirnya ketiga putri beliau diasuh dan dididik oleh saudara-saudaranya di rumah H. Umar. Dengan kebijaksanaan beliau, semua harta warisan yang ditinggalkan oleh istrinya diberikan kepada putri-putrinya dan beliau hanya mengambil sedikit sebagai bekal sementara. Beliau tetap bekerja sebagai tukang kayu. Sebenarnya beliau juga ditawari untuk menikahi saudara istrinya tetapi beliau tidak berkenan dan kehendak dari H. Umar agar beliau tidak bekerja karena harta kekayaannya cukup untuk membiayai hidup beliau. Beliau hanya disuruh untuk berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat, tetapi beliau juga tidak berkenan sehingga beliau tetap meneruskan pekerjaannya sebagai tukang kayu.

Dari data yang ada dapat disimpulkan bahwa dakwah pertama beliau hanya sebatas di lingkungan dukuh Kretegan, belum menyeluruh sampai ke luar desa.

Pindah Rumah

Dari hasil kerja keras beliau akhirnya membuahkan hasil dengan membeli rumah yang terletak di tengah-tengah dukuh Kretegan (sekarang ditempati oleh Ky. Ashari). Selain itu di depan rumah beliau dibangun mushola dua lantai. Beliau tetap melanjutkan aktivitas beliau berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam yang disampaikan melalui kitab-kitab tarajumah. Dari mushola tersebut kelak akan menjadi pusat kajian kitab tarajumah karangan syaikh H. Ahmad Rifa’i, yang sebagian santri dari syaikh K.H. Muhammad Bajuri berasal dari luar kota bahkan sampai luar provinsi.

Membangun Masjid

Sesaat setelah istrinya meninggal, H. Umar melibatkan beliau untuk membangun sebuah masjid yang bisa digunakan untuk sholat Jum’at dan pusat dakwah. Perlu diketahui bahwa sebelum ada masjid, sholat Jum’ah belum pernah diselenggarakan dan tidak mengikuti kebiasaan dari luar desa, karena termaktub dalam kitab tarajumah karangan syaikh Ahmad Rifa’i bahwa sholat Jum’at perlu ada bilangan (wilangan) minimal empat bilangan (untuk qaul dho’if). Wilangan adalah orang yang mengetahui dan memahami segala tatacara sholat Jum’at sedangkan di desa yang lain tidak yang memakai wilangan sholat Jum’at. Akhirnya setelah pembangunan masjid selesai, untuk menghormati jasa H. Umar masjid tersebut diberi nama Al Umar. Pembangunan masjid tersebut terjadi pada sekitar tahun 1916 M dan untuk pembangunan pertama menggunakan bangunan kayu.

Menikah yang kedua kalinya

Selang beberapa tahun setelah perpindahan beliau ke rumah baru, beliau menikah dengan Siti Khotijah yang berasal dari desa Pojoksari kecamatan Weleri (sekarang kecamatan Rowosari) Kendal. Dari pernikahan yang kedua ini beliau tidak dikaruniai seorang putra.

Aktivitas di Rumah baru

Setelah prosesi pernikahan, beliau dan istrinya tinggal di rumah yang baru di depan rumah beliau juga ada bangunan mushola berlantai dua.

Pada awalnya beliau memulai aktivitas kajian di mushola yang baru dengan para santrinya yang berasal dari Kretegan. Kajian berjalan seperti biasanya sebagaimana yang berlangsung di rumah yang lama. Setelah cukup lama beliau mengadakan aktivitas kajian, semakin banyak para santri yang berminat untuk mengkaji kitab-kitab tarajumah terutama para santri yang berasal dari dukuh Kretegan sendiri. Kajian yang telah beliau laksanakan berlangsung dua kali setiap pekan secara rutin, yakni setiap Ahad malam (malam Senin) dan Rabu malam (malam Kamis).

Kedatangan para santri dari desa tetangga

Kajian yang diadakan setiap Ahad malam dan Rabu malam semakin lama semakin berkembang. Tidak hanya santri dari dukuh Kretegan yang mengikuti kajian dengan beliau, tetapi dari desa tetangga sudah mulai berdatangan, bahkan dari lain kecamatan sudah mulai mengikuti kajian beliau. Di antaranya santri dari dukuh Bantaran, Siwalan, Kebonsari, dan Cepokomulyo. Dari kedatangan santri tersebut, maka kajian semakin ramai dan dukuh Kretegan sudah mulai menampakkan syiar Islamnya.

Kedatangan para santri luar kecamatan juga menuntut untuk disediakan tempat tinggal, sehingga kebanyakan para santri dari luar kecamatan mulai mondok di dukuh Kretegan tepatnya di mushola depan rumah beliau. Tetapi aktivitas kajian belum terlalu padat. Sehingga beliau masih bisa beraktivitas yang lain yaitu bekerja mencari nafkah.

Tetap bekerja sebagai seorang tukang kayu dan tebas pari (pembeli padi)

Sebagaimana telah kami sampaikan bahwa beliau masih meluangkan waktunya untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau masih beraktivitas sebagai tukang kayu sekaligus memanfaatkannya untuk berdakwah. Beliau tidak pernah memisahkan antara aktivitas keagamaan dengan aktivitas keduniaan. Contohnya ketika beliau sedang bekerja sebagai tukang, beliau menyempatkan untuk melayani masyarakat yang menanyakan tentang problematika agama. Bahkan ketika ada yang sedang dandan omah (membangun rumah) beliau terkadang datang dengan membawa kitab dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Karena kedekatan beliau dengan masyarakat kecil, membuat masyarakat tidak canggung untuk bertanya dengan beliau. Ini juga termasuk salah satu metode beliau dalam berdakwah kepada masyarakat.

Selain bekerja sebagai tukang kayu, beliau juga mulai bekerja sebagai tukang tebas pari (pembeli padi). Beliau tidak mempunyai sawah tetapi dari aktivitas beliau sebagai seorang pembeli padi maka secara bertahap beliau bisa membeli sawah dengan sistem oyotan. Dari sawah tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dengan ketekunan dan kesabaran beliau di dalam bekerja, akhirnya membuahkan hasil yang cukup besar. Beliau dipercaya oleh dinas pertanian untuk membeli hasil panen yang berada di sebelah utara dusun Siwalan. Bahkan beliau tidak harus membayar dengan cara kontan. Padahal pada saat itu, banyak para pembeli padi yang akan membeli padi tersebut dengan membayar kontan. Tetapi dengan kepercayaan tersebut, semua pembeli yang akan membeli harus melewati beliau, sehingga dengan kondisi tersebut beliau tidak memerlukan modal yang besar tetapi mempunyai keuntungan yang cukup besar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi para santri untuk mengkaji kitab tarajumah kepada beliau

  1. Beliau adalah satu-satunya kader Rifa’iyah yang mempunyai kapasitas ilmu tarajumah yang sudah diakui pemahamannya. Selain itu beliau tidak hanya memahami ilmu tarajumah secara teoretik saja, tetapi beliau langsung menerapkan dalam bentuk aktivitas kehidupan sehari-hari. Dan hal ini adalah faktor utama yang mendorong masyarakat untuk mengkaji tarajumah dengan beliau.
  2. Tidak ada cacatnya di masyarakat. Dengan mengaplikasikan ilmu yang telah beliau pahami, segala aktivitas beliau sesuai dengan syari’at yang telah digariskan dalam agama Islam. Dari penuturan murid beliau dan masyarakat, beliau tidak pernah melakukan aktivitas yang melanggar syari’at Islam. Bahkan sikap beliau di masyarakat dijadikan sebagai teladan penerapan syari’at Islam. Sehingga beliau tidak ada cacatnya di masyarakat, terutama masyarakat dukuh Kretegan. Bahkan para pencuri dan garong pun sangat menghormati beliau.
  3. Diniatkan untuk mendidik masyarakat. Ini adalah sifat yang jarang dimiliki oleh tokoh masyarakat. Beliau tidak pernah, bahkan tidak sempat terbesit di pikirannya untuk mempunyai sifat memanfaatkan posisi untuk kepentingan duniawi, apalagi untuk melanggengkan kekuasaan. Aktivitas beliau hanya diniatkan untuk mengabdikan dirinya untuk kepentingan menegakkan kepentingan agama Allah. Hal ini terlihat di dalam aktivitas beliau tidak pernah membedakan masyarakat kecil dan penguasa ataupun orang kaya. Bagaimana sikap beliau ketika diundang untuk mengisi tausyiah ketika ada hajatan di rumah masyarakat orang biasa (rakyat kecil). Beliau selalu datang tepat waktu dan paling awal, bahkan ketika beliau diundang secara mendadak oleh masyarakat biasa, ketika tidak ada acara, langsung memenuhi undangan tersebut tanpa ada perasaan marah. Beliau mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat. Hal ini juga tampak dari aktivitas beliau ketika bulan Ramadhan. Beliau selalu menyediakan buka bersama walaupun seadanya, misalnya dengan cengkaruk ataupun bubur. Masih banyak aktivitas beliau yang patut dijadikan teladan untuk kita terutama tokoh masyarakat.
  4. Sifat sangat berat untuk diaplikasikan di dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sudah wajar, karena fitrah manusia yang disertai hawa nafsu. Tetapi dengan luasnya tsaqofah Islamiyah serta pemahaman terhadap agama Islam, beliau mampu merealisasikan nilai-nilai Islam ini di dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan keluarganya.
  5. Tidak hubbudunya. Salah satu yang membuat ketertarikan para santri untuk mondok di tempat beliau adalah sifat zuhud yang beliau miliki. Beliau tidak menarik iuran untuk kepentingan pribadi. Para santri hanya menggunakan bekalnya untuk kepentingan sendiri selama mondok. Bahkan beliau sering memberikan makanan kepada para santrinya, ketika beliau sedang mempunyai makanan. Beliau hanya mengorientasikan seluruh harta kekayaan sebagai fasilitator untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perencanaan K.H. M. Bajuri dalam alur kehidupannya

Ada tiga tahapan yang telah beliau jalankan yang membuat beliau mampu menegakkan pilar-pilar Islam terutama di dukuh Kretegan dan daerah-daerah tarajumah lainnya.

  1. Menuntut ilmu (tholabul ilmi)

Beliau telah menuntut ilmu sejak kecil, mulai dari pendidikan orang tua sampai menuntut ilmu ke pondok pesantren yang dipimpin oleh K.H. Abdul Qohar dan Mbah Asmawi Jambu. Dari pendidikannya tersebut memberikan pemahaman beliau tentang tsaqofah Islamiyah semakin tinggi.

  1. Mencari rizki Allah (Tholabul Ma’isyah)

Setelah menyelesaikan aktivitas menuntut ilmu di ponpes selama kurang lebih tujuh tahun, beliau melanjutkan aktivitasnya dengan mencari rizki untuk memenuhi aktivitas setelah berkeluarga termasuk kebutuhan hidup. Beliau menjadi seorang tukang kayu dan pembeli padi. Dari bekal yang telah beliau kumpulkan digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan menginvestasikan untuk membeli sawah secara oyotan yang nantinya digunakan sebagai bekal beliau dalam berdakwah menegakkan syari’at Islam. Perlu ditekankan bahwa beliau tidak pernah memisahkan aktivitas tholabul ma’isyah dengan dakwah di masyarakat. Keduanya berjalan secara sinergis. Oleh karena itu, beliau sama sekali tidak pernah mencontohkan bahwa antara tholabul ma’isyah dan berdakwah dilakukan secara terpisah. Karena persepsi yang selama ini berjalan keduanya tampak terpisah. Sehingga ketika sedang dalam tahapan tholabul ma’isyah, tidak akan pernah berdakwah menegakkan nilai-nilai Islam bahkan mengaplikasikan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari sangat berat.

  1. Istiqomah

Ini adalah salah satu yang paling sulit untuk dilaksanakan. Karena sudah menjadi sunatullah, manusia mengalami kejenuhan dalam beraktivitas. Tetapi beliau senantiasa menjaga sikap ini dalam menegakkan agama Allah. Karena sudah membuat planning yang matang dalam berdakwah menegakkan kalimah Allah, kajian yang beliau sampaikan tidak pernah libur, kecuali ada sesuatu yang syar’i membuat beliau uzur. Dengan keistiqomahan beliau, membuat motivasi para santrinya untuk lebih giat dalam mendalami ilmu agamanya. Selain itu ditopang perekonomian beliau yang sudah mapan, beliau mampu mengembangkan syi’ar Islam secara istiqomah. Karena beliau sudah tidak pernah memprioritaskan harta sebagai fasilitator untuk kepentingan dakwahnya.

Naik haji dengan istrinya

Dengan keberhasilan beliau bekerja sebagai pembeli padi, beliau akhirnya memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama istrinya. Beliau berangkat haji sekitar tahun 1930 M. Data ini diperoleh dari murid dan keturunan beliau. Beliau menunaikan haji bersama orang-orang Jakarta. Dalam menunaikan ibadah haji beliau taqlid kepada Ibnu Hajar sehingga banyak dari rombongan yang tidak sepakat dengan sikap/tata cara beliau yang berbeda dengan rombongan yang lain. Tetapi perbedaan itu tidak sampai menimbulkan permasalahan yang serius.

Melanjutkan aktivitas syi’ar Islam

Setelah menunaikan ibadah haji, beliau kembali melanjutkan syi’ar Islam seperti yang telah beliau lakukan sebelumnya. Tetapi secara bertahap banyak santri yang mulai berdatangan tidak hanya dari desa tetangga ataupun luar kecamatan, tetapi dari luar kota pun mulai berdatangan. Di antaranya berasal dari daerah Wonosobo, Kedu, Pati, Pekalongan, Comal, Ambarawa, Wiyanggong, Mbremi, dan lain-lain. Data yang kami terima, santri yang mondok pada perkembangan syi’ar Islam di antaranya:

  1. Cepoko Mulyo: Ky. Muslihat, Ky. Tholib, Ky. Muhdlori dll.
  2. Wonosobo: K.H. Amin Ridho, Ky. Bahar, Ky. Muhtar, Ky. Mahfudz, Ky. Ahmad, Abdurrahman, Ky. Yamin dll.
  3. Kedu/Temanggung: Ky. Sualman, Ky. Sukemi, Ky. Su’ud. Dll.
  4. Pati: Ky. Subahir, Ky. Yahya, Ky. Zuhri, Ky. Saparin dll.
  5. Pekalongan: Ky. Nasihun, Ky. Rohmat, Ky. Sapi’i, Ky. Samuri, Wage, Anwar, Ky. Sadzirin Amin, Ky. Abdul Aziz dll.
  6. Comal: Ky. Ma’un, Ky. Casmari dll.
  7. Ambarawa: Ky. Muhlisin, Ky. Nahrowi Ky. Mursyid, Ky. Dasnuri dll.
  8. Wiyanggong: Ky. Mubari, Ky. Sapuan dll.
  9. Mbremi: Ky. Ismail, Ky. Rokhani dll.

Data tersebut bukan dari keseluruhan para santri yang mondok ke dukuh Kretegan, masih banyak murid beliau yang tidak tercantum dalam buku ini. Hal ini bukan karena alasan tertentu, tetapi data tersebut sebatas pengetahuan penulis.

Dengan kedatangan para santri dari luar kota yang mondok di dukuh Kretegan, maka syi’ar Islam benar-benar sudah tampak. Dukuh Kretegan sebagai pusat kajian ilmu tarajumah mulai menggema, khususnya di kalangan warga tarajumah. Siapapun yang akan mempelajari ilmu tarajumah karangan syaikh K.H. Ahmad Rifa’i maka akan bisa mendalami secara menyeluruh di dukuh Kretegan.

Kondisi pondok pesantren

Dengan kedatangan para santri dari luar kota, maka mushola yang digunakan sebagai aktivitas kajian juga digunakan sebagai tempat pondokan para santri. Lantai dasar mushola digunakan untuk keperluan pribadi seperti mandi, memasak, tempat wudhu, sedangkan lantai atas untuk keperluan kajian, sholat berjama’ah. Oleh karena itu, mushola pada saat itu dijadikan tempat yang sangat penting, baik itu digunakan untuk kajian, diskusi (bahtsul masa’il) tentang masalah-masalah yang berkembang di masyarakat, menuntut ilmu agama, maupun tempat membaca.

Para santri semakin banyak sedangkan kapasitas mushola sebagai tempat mondok para santri tidak mencukupi sehingga sebagian para santri juga mondok di ibu Turi, sebelah barat rumah beliau. Kondisi saat itu sudah terkondisikan suasana yang mencerminkan nilai-nilai islami.

Pondok pesantren yang ada di dukuh Kretegan belum mempunyai nama tetapi esensinya sudah tampak. Kajian-kajian ilmu agama tidak hanya ilmu tarajumah tetapi juga kitab kuning.

Sinergisitas tokoh masyarakat

Dari kuantitas jumlah santri yang banyak, para santri tidak hanya mengikuti kajian khusus di tempat beliau saja, tetapi mereka sudah mulai terdistribusi/menyebar ke tokoh-tokoh masyarakat yang ada di dukuh Kretegan. Di antara tokoh masyarakat yang mengisi kajian kepada para santri adalah: syaikh K.H.M. Bajuri, K.H. Abdul Malik, K.H. Abdullah, K.H. Abdul Rasyid, dan K.H. Ahmad Jaelani Al Hafidz. Para santri mengaji di rumah-rumah tokoh masyarakat selain mengaji di mushola dan masjid.

Dari tokoh masyarakat tersebut, sudah terjalin hubungan yang sangat erat baik itu dalam berkomunikasi dan berdiskusi dalam memecahkan masalah yang ada di masyarakat maupun dalam kajian kitab. Contoh kecil, ketika M. Bajuri sedang mengadakan kajian kitab tarajumah, maka para tokoh masyarakat juga mengikuti kajian beliau. Hal ini menambah motivasi para santri dan masyarakat dalam menuntut ilmu dengan tokoh-tokoh masyarakat tersebut. Dan juga para tokoh masyarakat mempunyai spesifikasi yang berbeda dalam mengkaji kitab, ada yang khusus menangani kitab tarajumah, kitab kuning, maupun kitab untuk anak-anak.

Sistem pondok pesantren

Pada saat itu, pondok pesantren masih dijalankan secara konvensional dengan metode tradisional yaitu dengan cara para santri mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan di mushola, masjid, dan rumah-rumah tokoh masyarakat.

Ketika di mushola, K.H.M. Bajuri mengadakan kajian setiap Ahad malam dan Rabu malam. Kebanyakan yang mengikuti kajian dengan beliau adalah orang tua-tua yang berasal dari dukuh Kretegan sendiri dan orang-orang tua yang berasal dari desa tetangga di antaranya dari dukuh Siwalan, Aram-aram, dan desa Kebonsari. Selain orang-orang tua, ada anak-anak muda yang mengaji dengan beliau di antaranya Ahmad Hadi dari Siwalan.

K.H.M. Bajuri juga mengadakan kajian di rumahnya yang sebagian besar diikuti oleh para santri. Kegiatan kajian dimulai jam delapan sampai menjelang sholat Dhuhur. Di antara kitab yang diajarkan beliau adalah kitab-kitab tarajumah yang sudah beliau pelajari ketika di pondok pesantren Bekinking Rejosari Cepiring. Setelah istirahat sholat Dhuhur dilanjutkan kajian kitab-kitab tarajumah sampai sholat Ashar kemudian istirahat sampai sholat Maghrib.

Selain mengkaji kitab tarajumah di tempat syaikh K.H.M. Bajuri, para santri juga mengkaji ke rumah K.H. Abdullah. Setiap ba’da Maghrib juga diadakan kajian di dua tempat. Di mushola pondok pesantren digunakan untuk muhafadhoh dengan Ky. Ajmal dan Ky. Hasyim, yang keduanya adalah murid dari syaikh K.H.M. Bajuri. Terkadang juga beliau mendampingi muhafadhoh itu. Selain itu di masjid juga diadakan kajian untuk anak-anak yang diajar langsung oleh K.H. Abdul Rasyid. Untuk mempelajari kitab kuning, para santri juga mengikuti kajian yang diajar oleh K.H. Abdul Malik yang diselenggarakan di masjid Al Umar, selain itu syaikh K.H.M. Bajuri juga mengadakan kajian kitab kuning kepada para santrinya.

Pada saat itu, roda syi’ar Islam benar-benar berjalan dengan cepat, sehingga kondisi Islam dukuh Kretegan terbentuk dengan baik. Selain itu, K.H. Ridwan dari Cepoko Mulyo juga mengikuti kajian dengan K.H.M. Bajuri. Beliau adalah suami Sujinah putri K.H.M. Bajuri. Jadi K.H. Ridwan adalah menantu beliau.

Setelah istrinya meninggal, K.H. Ridwan pindah ke dukuh Bantaran dan mendirikan mushola (sekarang sudah direnovasi menjadi masjid Al Hikmah). Di dukuh Bantaran beliau mulai menyebarkan Islam sehingga dukuh Bantaran juga sudah mulai menampakkan syi’ar Islamnya.

Dengan kontinuitas dan keistiqomahan para tokoh masyarakat terutama syaikh K.H.M. Bajuri dalam menyampaikan risalah dakwah ini menghasilkan kader-kader yang berkualitas khususnya dalam mengembangkan ajaran tarajumah yang telah dibawa oleh syaikh K.H.M. Bajuri.

Aktivitas bulan Ramadhan

Setiap bulan Ramadhan diadakan aktivitas kajian pasaran, aktivitas kajian dilakukan selama sehari penuh. Kajian dimulai dari pukul delapan sampai sholat Dhuhur, dan dilanjutkan kajian sampai sholat Ashar, setelah sholat Ashar juga ada kajian sampai menjelang berbuka puasa. Kemudian setelah sholat Tarawih juga ada kajian sampai tengah malam (jam dua belas malam).

Kajian pasaran diikuti oleh para orang tua yang biasa mengaji dengan beliau, para santri yang telah mondok di pondok pesantren beliau, dan para pendatang yang khusus untuk mengikuti kajian pasaran yang dilakukan khusus selama bulan Ramadhan.

Ada aktivitas unik yang dilakukan oleh beliau selama bulan Ramadhan. Sehabis kajian menjelang buka puasa, beliau senantiasa menyiapkan buka puasa untuk para santri yang mengaji dengan beliau. Buka bersama dilakukan setiap hari di rumah beliau. Hal ini menciptakan suasana kekeluargaan antara tokoh masyarakat dengan masyarakatnya. Dan anehnya beliau tidak pernah meminta kepada setiap santri yang ikut mengaji untuk mempersiapkan makanan buka puasa masing-masing. Beliau senantiasa melakukan seperti itu dengan niat yang ikhlas untuk bershodaqoh kepada para masyarakat.

Hubungan dengan keluarga

Beliau adalah seorang pemimpin keluarga yang sangat bertanggung jawab dalam menata rumah tangga. Hal ini dibuktikan dengan kerja keras beliau walaupun sudah menjadi seorang tokoh masyarakat.

Beliau juga sangat memperhatikan kondisi putra-putri dan cucu-cucunya. Hal ini tampak dikisahkan oleh para cucunya bahwa beliau sering menjenguk para cucu-cucunya walaupun sudah berbeda rumah. Dengan memberikan sesuatu (kadang berupa makanan dan uang sekadarnya) kepada para cucunya. Hal ini menimbulkan kesan yang berbeda di hati cucu-cucunya dengan kehadiran beliau di tengah-tengah keluarganya.

Hubungan dengan tokoh masyarakat desa tetangga

K.H.M. Bajuri mempunyai sikap dan perilaku yang mencerminkan tokoh masyarakat yang tidak hanya memahami ajaran kitab tarajumah dari segi teoritis saja, tetapi beliau juga sudah mengaplikasikan/mengamalkan segala aktivitas yang dianjurkan oleh syari’at Islam. Selain sebagai tokoh masyarakat dukuh Kretegan yang memberikan tausyiah/kajian kepada para santri dan penduduknya, beliau juga terlibat dalam aktivitas eksternal (kegiatan di luar dukuh Kretegan). Beliau sering berdiskusi dengan para tokoh masyarakat dari desa tetangga, hal ini menambah wawasan beliau dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Beliau bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh masyarakat desa tetangga dalam menyelesaikan problem di masyarakat. Hal ini akan meningkatkan hubungan yang erat di antara para tokoh masyarakat antar desa. Misalnya, beliau tabarukan dalam kajian tafsir dengan tokoh masyarakat dari desa Gebanganom yang bernama K.H.R. Hazbullah. Beliau juga membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat dukuh Gilisari yaitu K.H.R. Mas’ud. Dari hubungan tersebut membuka komunikasi beliau dengan para tokoh masyarakat di luar tarajumah. Banyak santri Hazbullah yang akhirnya berdiskusi dengan beliau mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Dari aktivitas itu, menambah kewibawaan beliau di tengah-tengah tokoh masyarakat di luar tarajumah yang akhirnya memberikan persepsi kepada selain tarajumah bahwa tarajumah bukan ajaran yang berbeda dengan ajaran yang selama ini dipegang oleh masyarakat luar.

Di dalam menjalin hubungan dengan para tokoh masyarakat, beliau meniru metode yang dilakukan Sunan Ampel yaitu dengan cara mendekati orang-orang yang berwibawa di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dilakukan karena semata-mata untuk tholabul ilmi dengan orang-orang yang lebih ‘alim. Sehingga tidak ada dalam pemikiran beliau bahwa ilmu yang telah beliau miliki terasa cukup. Selain itu, dengan menjalin hubungan dengan para tokoh masyarakat dari luar tarajumah, akan memberikan kemudahan beliau dalam mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi di luar tarajumah.

Hubungan dengan aparat pemerintah

Selain menjalin hubungan dengan para tokoh masyarakat dari luar tarajumah, beliau juga membangun komunikasi dengan aparat pemerintah dari tingkat terkecil yang direpresentasikan di tingkat pedesaan sampai tingkatan yang besar yaitu tingkat kabupaten. Beliau menjalankan fungsi kontrol pemerintah pedesaan khususnya di desa Karang Malang Kulon (sekarang desa Karangsari). Beliau sering terlibat di dalam pembicaraan-pembicaraan di tingkat desa, sering mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan di kelurahan. Usulan-usulan yang beliau sampaikan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyelesaikan masalah, terutama masalah-masalah yang menyangkut aktivitas keagamaan, misalnya kajian-kajian yang diselenggarakan di dukuh Kretegan. Beliau mengusulkan agar tidak ada gangguan dalam mensyiarkan Islam di dukuh Kretegan, sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa pemerintahan saat itu, kegiatan-kegiatan keagamaan diawasi oleh pemerintah dengan ketat. Hal ini secara filosofis dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sejarah bahwa perlawanan terhadap pemerintah dipelopori oleh para tokoh masyarakat yang mempunyai semangat keagamaan yang kuat. Dari keterlibatan beliau di dalam memutuskan kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut, memberikan peluang kepada beliau untuk lebih mudah dalam mensyiarkan aktivitas keagamaan di tengah-tengah masyarakat dukuh Kretegan.

Selain menjalin komunikasi dengan aparat desa, beliau juga aktif dalam menjalin hubungan dengan aparat pemerintah kecamatan dan kabupaten. Misalnya, hubungan beliau sangat dekat dengan K.H. Masyhud, tokoh pejuang kemerdekaan dari luar tarajumah. Dengan kedekatannya itu akan memberikan kemudahan beliau dalam menjalin hubungan dengan pemerintah kecamatan pada khususnya. Hal ini juga memberikan peranan penting dalam memberikan dukungan untuk tetap eksis dalam mensyiarkan Islam khususnya di dukuh Kretegan.

Syaikh K.H.M. Bajuri terlibat dalam kegiatan pemerintahan. Beliau mendukung terhadap salah satu partai yang notabene sebagai partai yang mempunyai pengaruh besar terhadap kebijakan-kebijakan yang mengatur masyarakat. Hal itu beliau lakukan bukan semata-mata atas dasar mengejar motivasi dunia, dengan mendapatkan kenikmatan dunia, tetapi untuk mendapatkan dukungan dan legitimasi dari pemerintah untuk tetap mensyiarkan Islam khususnya di kalangan tarajumah. Kedekatannya dengan pemerintah memberikan kebebasan dalam mensyiarkan agama Islam. Hal itu nampak pada setiap aktivitas keagamaan yang telah dilakukan pada saat itu. Kalau dari organisasi lain akan mengadakan aktivitas keagamaan harus mendapatkan izin dari pemerintah dengan tata administrasi yang rumit, tetapi dengan kedekatan beliau dengan pemerintah, beliau bebas untuk mengadakan aktivitas keagamaan.

Metode yang beliau lakukan tidak semata-mata sejalan dengan aktivitas pemerintah. Sehingga dengan keberadaan beliau dalam menjalin hubungan dengan pemerintah, beliau bertindak sebagai fungsi kontrol dengan mengawasi aktivitas yang dilakukan pemerintah.

Metode dakwah syaikh K.H.M. Bajuri

Berawal dari firman Allah SWT Qs Al Imran: 187, yang artinya “Perhatikanlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah menerima kitab Allah, harus menerangkannya kepada semua orang, dan jangan menyembunyikannya. Tiba-tiba mereka membuang janji itu di belakang punggung mereka, dan mereka menukarkan janji itu dengan kekayaan dunia yang sedikit. Maka sungguh busuk apa yang mereka terima itu.”, dan dari sabda Rasulullah SAW, “Sampaikan dari ajaranku walau hanya satu ayat, dan ceritakan hal Bani Israel dan tidak berdosa, dan siapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menempatkan diri dalam neraka” (HR: Bukhari dari Abdullah bin Amr RA.) maka beliau setelah menuntut ilmu mulai menyampaikan ilmu yang telah beliau terima kepada masyarakat. Tetapi diperlukan suatu metode untuk menyampaikan dakwah agar masyarakat mau menerima risalah dakwah yang telah diamanahkan oleh Allah SWT ini. Ada beberapa metode yang telah dijalankan oleh syaikh K.H.M. Bajuri dan patut menjadi contoh dan suri teladan bagi penerus setelah beliau.

  1. Beliau menyampaikan risalah dakwah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits “Sesungguhnya ulama di muka bumi ini adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan dia (bintang), ummat ditunjukkan jika dalam kegelapan, baik di darat maupun di laut.” (HR: Al Ajury, dari Anas RA., hadits hasan). Beliau menyampaikan ilmu dengan mengadakan kajian-kajian kitab tarajumah (kitab yang telah diterjemahkan oleh K.H. Ahmad Rifa’i ke dalam bahasa Jawa dari bahasa Arab).
  2. Segala sesuatu yang beliau sampaikan selalu dibuktikan dengan sikap dan perilaku beliau dalam berhubungan dengan masyarakat. Di antara sifat yang beliau tampakkan yang dituturkan oleh para santrinya yaitu sikap tawadzu’, sabar, zuhud, syukur, dan istiqomah.
  3. Beliau memposisikan diri sebagai pelayan umat. Beliau sering melakukan silaturahmi kepada keluarga dan masyarakat sehingga mengetahui kondisi yang terjadi di dalam masyarakat. Bagaimana sikap beliau ketika dimintai bantuan masyarakat selalu menepati janjinya, beliau selalu menghadiri acara yang diadakan masyarakat dengan tepat waktu.
  4. Beliau menyampaikan dengan hikmah dan mauidloh hasanah. Ketika ada masalah yang muncul dalam masyarakat beliau tidak langsung menghakimi dengan pendapatnya. Tetapi ditawarkan terlebih dahulu pendapatnya, bahkan beliau minta pertimbangan terhadap penanya. Misalnya, ketika ada seorang yang bertanya tentang telur yang sudah membusuk (kuwu’an) hukumnya haram atau halal. Beliau tidak langsung menghukumi halal atau haram, tetapi beliau mengembalikan kepada penanya, baru ketika penanya sudah menyampaikan pendapatnya beliau mencocokkan dengan hukum yang ada di dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul, ijma’, qiyas.

Mendirikan yayasan Rifa’iyah

Setelah perkembangan dakwah di dukuh Kretegan mengalami perkembangan yang cukup pesat, beliau mulai mendirikan yayasan di tingkat kabupaten Kendal. Yayasan Rifa’iyah didirikan pada tahun 1961 M, tiga tahun setelah yayasan pendidikan Rifa’iyah didirikan di Tegal dan baru dideklarasikan pada tahun 1965 M. Sebagai tempat deklarasi di tingkat kabupaten Kendal berada di rumah lurah Ali (sekarang di tempati Ibu Juriyah). Pada saat pelantikan, banyak kader-kader Rifa’iyah berdatangan dari penjuru kabupaten Kendal.

Puncak perkembangan dakwah Islam di dukuh Kretegan

Pada kurun waktu 1960-an sampai 1975, perkembangan dakwah di dukuh Kretegan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Para santri dari daerah-daerah luar provinsi mulai berdatangan untuk menimba ilmu dengan beliau. Di antaranya banyak dari daerah Jawa Barat. Perkembangan yang cukup pesat didukung oleh partisipasi tokoh masyarakat dan masyarakat dukuh Kretegan dalam menjaga kondisi yang islami di dukuh Kretegan.

Dakwah mengalami penurunan

Setelah tahun 1975 M dakwah Islam di dukuh Kretegan mulai mengalami penurunan (Penurunan dari segi jumlah santri yang mondok). Tetapi pada dasarnya aktivitas kajian masih berjalan seperti biasanya. Hal utama yang menyebabkan menurunnya dakwah adalah meninggalnya syaikh K.H.M. Bajuri pada usia 97 tahun. Sehingga semua aktivitas kajian di mushola digantikan oleh Matyuri (H. Fadlulloh yang merupakan cucu dari beliau), penurunan yang terjadi tidak terlalu drastis pada saat itu. Setelah beberapa kurun waktu aktivitas kajian masih berjalan seperti biasanya. Kajian kitab tarajumah karangan syaikh K.H. Ahmad Rifa’i masih berjalan, demikian juga kajian-kajian kitab Arab.

Dari beberapa hal tersebut, perlu sebuah komitmen bersama antara tokoh masyarakat dukuh Kretegan dan Bantaran, serta masyarakat untuk kembali menciptakan kondisi yang religius sebagaimana terjadi pada masa syaikh K.H.M. Bajuri.

Meninggalnya syaikh K.H.M. Bajuri

Beliau meninggal dunia pada usia 97 tahun, tepatnya hari Kamis Kliwon tanggal 14 Agustus 1975 M atau bulan Sya’ban tahun 1395 H, dan dimakamkan di dukuh Kretegan Karangsari Rowosari.

Peninggalan syaikh K.H.M. Bajuri

Dari data sementara yang kami peroleh, ada beberapa harta peninggalan beliau yang masih eksis keberadaannya, di antaranya:

  1. Peci berwarna putih dengan tepi dalam berwarna hijau yang digunakan tatkala sholat dan mengajar para santrinya.
  2. Sorban berwarna putih bergambarkan bulan bintang bertuliskan Makkatul Mukaramah yang dipakai tatkala sholat.
  3. Baju gamis (baju berukuran panjang) berwarna putih keruh yang dipakai tatkala sholat Jum’at dan musyawarah.
  4. Sorban beraneka warna yang dipakai tatkala sholat.
  5. Seng berbentuk peci digunakan untuk menjemur peci.
  6. Beberapa kitab berbahasa Arab di antaranya:
    1. Kitab Hasiyah Al Bajuri
    2. Kitab Hadits Al Buhori Asindi
    3. Hasiyah I’anatu Tholibin
    4. Hasiyah Al Banana Sarah Jam’ul Jawami’
    5. Kitab Fathuk Mubin Syarah Ummul Barahim
    6. Kitab At Tilmisani
    7. Kitab Miftah Fi Sathi Ma’rifatil Islam
    8. Kitab Sittin Masalah Li Syaikh Imam Ibnu Al Habsyi Ahmad Azzahid. Kitab-kitab tersebut digunakan untuk muqobalah kitab tarajumah karangan syaikh K.H. Ahmad Rifa’i.
  7. Kitab-kitab tarajumah di antaranya:
    1. Abyanal Hawaij
    2. Ri’ayatul Himmah
    3. Asnal Miqosod
    4. Tasrihatal Muhtaj
    5. Husnul Mitholab
    6. Sarihiul Iman
    7. Arja Syafa’ah
    8. Taisir
    9. Wadikhah
    10. Tabyinal Islah

Referensi

Adabi Darban, Ahmad. 1987. Rifa’iyah Gerakan Sosial Keagamaan di Pedesaan Jawa Tengah Tahun 1850-1982, Tesis S2. Yogyakarta.

Hasyim, Umar. 1983. Mencari Ulama Pewaris Para Nabi. Surabaya: Bina Ilmu.

Kartodirjo, Sartono. 1990. Gerakan KH. Ahmad Rifa’i: Kesinambungan dan Perubahannya. Seminar Nasional. Yogyakarta.

Riwayat K.H.M. Bajuri yang termaktub dalam halaman depan kitab Hasiyah Al Bajuri kepunyaan beliau.

Interview (dialog):

– K.H. Ali Munawir Tanjunganom

– K.H. Rois Yahya Dahlan Pati

– K.H. Ahmad Hadi Siwalan

– Ky. Masyhuri Tanjunganom

– Ky. Al Munawirun Tanjunganom

– Ky. Ashari Kretegan

– Ky. Ali Mustaghfirin Kretegan

– Bp. Muhali Kretegan

– Ibu So’ari Limpung

– Ibu Kustiyah Donorejo Limpung

– Bp. Muhamidun Limpung

– Saudaraku Zainul Mutaqin Kretegan

Silsilah K.H.M. Bajuri sampai Buyut/Cicit

Syaikh K.H.M. Bajuri

  1. Sujinah
  2. Supi’ah (Hj. Khadijah)
  3. Suntariyah (Hj. Azizah)

Cucu-cucu beliau

Sujinah + H.M. Ridwan

  1. Masturi

Supiah + Mathori

  1. Muzaenah
  2. Pulanah
  3. Khoiriyah
  4. Jupri
  5. Ashari

Suntariyah + Sukhaeri

  1. Qomariyah
  2. Matyuri (H. Fadlulloh)
  3. Nadzinah
  4. Mashuri
  5. Masduqi
  6. Joharti (Hj. Joharti)
  7. Maskur
  8. Rohmadi
  9. Rujiatun
  10. Sobirin

Keterangan: Sujinah mempunyai 1 putri bernama Masturi kemudian meninggal dan H. Ridwan menikah lagi dengan Ibu Katijah.

Cicit-cicit/buyut beliau

Muzaenah + Rodhi

  1. Amah
  2. Nuri
  3. Khuzam
  4. Mafiah
  5. Kuzin
  6. Rosidah
  7. Sukutiyah

Pulanah + Sholihin

  1. H. Muhamidun
  2. Fahruzain
  3. Ilyas
  4. Zainatun
  5. Rukayah
  6. Fauziyah

Jupri + Nur Yanah

  1. Wakhisatun
  2. Sri Rokhati
  3. Mu’adzin
  4. Aminajib
  5. A’ang Khunaifi

Ashari + Ruji’atun

  1. Siti Alifah
  2. Ali Maftuhin
  3. Nur Khalimatu Rohmah
  4. Siti Khudzaifah
  5. Muh Nur Arifudin
  6. M. Ali Muftasihin
  7. Nisrohatun Zaeniah
  8. Ibadullah
  9. Chotibul Umam
  10. Siti Isna Muflikhatin

Qomariyah + As’ad

  1. Munadhiroh
  2. Nur Fadhol
  3. Fadlulloh + Sofiyah + Sholihah
  4. Badriyah
  5. Zuhriyah
  6. Hj. Tasriyah
  7. Ali Mustaghfirin
  8. Ali Maghfur
  9. Ruwahati
  10. Siti Afifah
  11. Zainul Mutaqin
  12. Al Khafidz Ainul Yaqin
  13. Sholahudin Habibi
  14. Samsul Arifin
  15. Zainatul Ubaidah
  16. Lazimatus Syarifah

Mashuri + Khuzaenah

  1. Muhlas
  2. Khoiriyah
  3. Badawi
  4. Rochibah
  5. Aziz
  6. Zuhdi
  7. Kisrowiyah
  8. Nur Khusaini
  9. Masrotun

Masduki + Ri’ayati

  1. Ahmad Rozi

Hj. Joharti + Habibulloh

  1. Nur Azizah
  2. H. Fahrozi
  3. Hj. Umi Zubaidah
  4. Istianah

Maskur + Johar

  1. Khadifatus Sayiah
  2. Maslakhatul Umah
  3. Iddah
  4. Eni
  5. Sulim Atiqoh
  6. Ali
  7. Hawin

Rohmadi + Sopar

  1. Dzu Izah
  2. Surur
  3. Farihin
  4. Umi Maftukhah
  5. Hamzah
  6. Eni

Baca Sebelumnya: Biografi KH. Muhammad Bajuri Kretegan (Bagian 1)


Penulis: Ali Khumaeni & Muh. Nur Arifudin
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KendalKH. Muhammad BajuriKitab TarajumahKreteganrifaiyah kendal
Previous Post

Biografi KH. Muhammad Bajuri Kretegan (Bagian 1)

Next Post

Kyai Asnawi Wonoyoso dan Warisan Dakwah Rifa’iyah di Tanah Pekalongan

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Next Post
Kyai Asnawi Wonoyoso dan Warisan Dakwah Rifa’iyah di Tanah Pekalongan

Kyai Asnawi Wonoyoso dan Warisan Dakwah Rifa’iyah di Tanah Pekalongan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id