Di penghujung Ramadan ini, saat kita sibuk menyiapkan baju baru dan hidangan lebaran, mari sejenak menengok ke belakang. Ada sebuah kisah yang bergetar di aspal dan debu kota tercinta kita, Pekalongan.
Sekitar 167 tahun yang lalu, ketika gema takbir Syawal seharusnya membawa tawa, suasana di Penjara Pekalongan justru mencekam. Antara 3 hingga 16 Syawal 1275 H (7-19 Mei 1859 M), seorang kyai, pejuang dan guru bangsa, KH Ahmad Rifa’i, dipaksa mendekam di sana. Beliau diinterogasi, ditekan, dan dikurung selama 13 hari hanya karena satu alasan: Beliau menolak untuk bungkam di hadapan penjajah.
Bayangkan, di saat umat Islam merayakan kemenangan, sang Kyai justru sedang bertaruh nyawa demi harga diri dan iman kita hari ini.
Surat Cinta dari Pengasingan
Lihatlah lembaran Tanbih yang beliau wariskan. Kalimatnya bukan sekadar deretan huruf Arab Pegon , melainkan detak jantung perjuangan. Beliau berpesan dengan sangat lembut namun tegas:

“Muga-muga anak muridku sakabehane pada asih nemen-nemeni maham ingdalem kitabku Tarajjumah Syar’iyyah kang wus ono negoro Jawa”
(Semoga anak muridku semuanya benar-benar cinta dan sungguh-sungguh dalam memahami dan mempelajari Kitab Tarajjumah yang sudah ada di Jawa).
Beliau tidak meminta kita membalas dendam pada sejarah. Beliau hanya meminta kita “Asih” (mencintai) ilmu. Beliau ingin kita membaca, memahami, dan menghidupkan kitab Tarajumah agar hati kita tidak kosong, agar langkah kita punya arah, dan agar keberkahan para Wali Allah selalu mengalir di nadi kita.
Panggilan untuk Pemuda Rifa’iyah
Darah pejuang itu mengalir di tubuh kalian. Pekalongan bukan hanya kota batik, tapi kota yang pernah menjadi saksi bisu keteguhan seorang Rifa’i.
Menjelang lebaran ini, mari kita “nyekar” secara spiritual. Bukan hanya mendatangi makam, tapi menghidupkan kembali pemikiran beliau. Jangan biarkan kitab-kitab itu hanya menjadi pajangan di lemari. Buka kembali wasiat beliau, pelajari Tarajumah, dan teguhkan langkah sebagai pemuda yang sadar sejarah.
Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa pada para pahlawannya, dan murid yang setia adalah murid yang menghidupkan ajaran gurunya.
Selamat menjemput kemenangan di hari raya, dengan jiwa yang lebih tangguh dan pemikiran yang lebih merdeka.
Benteh, 15 Maret 2026
Baca Juga: Ketika Surat Menjadi Senjata: Perjuangan Tanpa Kekerasan Jamaah Rifa’iyah
Penulis: Agus Muhammad Shodiq
Editor: Sofarul Wildan Akhmad


