Grobogan — Haul Akbar Syekh Abdul Mannan ke-94, Syekh Muhammad Nawawi ke-43, serta para masyayikh Desa Rejosari digelar pada Senin, 26 Januari 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Jami’ Baitul Mannan, Desa Rejosari, Kabupaten Grobogan.
Haul Akbar Syekh Abdul Mannan ke-94, Syekh Muhammad Nawawi ke-43, serta para masyayikh Desa Rejosari kembali digelar dengan khidmat dan penuh makna. Ribuan jamaah dari berbagai daerah menghadiri kegiatan tahunan ini sebagai wujud takzim, doa, dan upaya meneladani perjuangan para ulama yang telah mewariskan ajaran Islam berbasis ilmu, akhlak, dan keteladanan.
Acara haul tidak hanya menjadi ruang spiritual untuk mendoakan para masyayikh, tetapi juga menjadi momentum penting memperkuat kembali fondasi keislaman umat melalui mau‘idhoh hasanah yang sarat nilai. Pada kesempatan tersebut, Mau‘idhoh Hasanah disampaikan oleh KH. Ahmad Asnawi (Kudus) dan K. Abdul Kholik Syafi‘i, M.Pd. (Pati). Dua tokoh tersrbut sama-sama menegaskan satu benang merah: agama harus ditegakkan dengan ilmu, uswah, dan keikhlasan.
Ulama sebagai Penjaga Umat dengan Ilmu
Dalam mau‘idhohnya, K. Abdul Kholik Syafi‘i menegaskan bahwa ulama merupakan pilar utama tegaknya peradaban Islam. Keramat ulama bukan terletak pada kemampuan supranatural, melainkan pada perannya dalam menjaga umat melalui ilmu. Dengan ilmu itulah akidah diluruskan, ibadah dibenarkan, dan akhlak dibina agar selamat dunia dan akhirat.

Syekh Abdul Mannan, Syekh Muhammad Nawawi, dan para masyayikh Rejosari dipandang sebagai contoh nyata ulama yang berhasil menjalankan fungsi tersebut. Jejak perjuangan mereka masih hidup hingga kini melalui santri-santri dan masyarakat yang tetap menjaga iman, ibadah, serta tradisi keilmuan Rifa‘iyah.
Beliau juga menekankan prinsip fundamental Islam: al-‘ilmu qabla al-‘amal. Amal tanpa ilmu berisiko tertolak, sementara ilmu yang diamalkan dengan benar menjadi jalan keselamatan.
Salat, Ilmu, dan Pentingnya Keteladanan
Sementara itu, KH. Ahmad Asnawi menyoroti persoalan mendasar umat, yakni ibadah yang dilakukan tanpa pemahaman dan keteladanan yang benar. Salat sebagai ibadah terbesar tidak cukup dijalankan secara formal, tetapi harus berangkat dari ilmu yang sahih dan dicontohkan sebagaimana tuntunan Rasulullah ﷺ.

Beliau menekankan bahwa metode dakwah tidak cukup hanya dengan mau‘idhoh atau nasihat lisan. Yang lebih dibutuhkan adalah uswah hasanah, keteladanan nyata dalam praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari. Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna, dan para sahabat merupakan perwujudan konkret dari keteladanan tersebut.
Dalam konteks kekinian, KH. Ahmad Asnawi mengingatkan bahaya beragama secara setengah-setengah: sunah ditinggalkan karena dianggap tidak wajib, sementara perkara makruh dikerjakan karena tidak haram. Pola ini, menurut beliau, menjadi tanda melemahnya kualitas iman umat di akhir zaman.
Syariat, Tarekat, dan Hakikat sebagai Jalan Utuh Beragama
Kedua mau‘idhoh sama-sama menegaskan pentingnya tiga pilar ilmu dalam tradisi ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah, khususnya dalam ajaran para masyayikh Rifa‘iyah, yaitu syariat, tarekat, dan hakikat.
Syariat menjadi fondasi sahnya ibadah melalui pemenuhan rukun dan syarat. Tarekat mengarahkan hati agar setiap amal dilakukan dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah. Sementara hakikat menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh ketaatan adalah karunia Allah, bukan semata hasil kepandaian manusia.
Melalui jalan inilah para ulama terdahulu membentuk generasi santri yang kuat iman, lurus ibadah, dan tenang batinnya.
Keikhlasan Ulama dan Lestarinya Perjuangan
K. Abdul Kholik Syafi‘i juga menyingkap rahasia mengapa para ulama terdahulu mampu melahirkan murid-murid besar dan perjuangan yang berkelanjutan: keikhlasan. Keikhlasan dalam mengajar, berdakwah, dan berjuang tanpa pamrih duniawi menjadikan ilmu mereka hidup dan terus diwariskan lintas generasi.
Keteguhan Syekh Abdul Mannan dan para ulama Rifa‘iyah dalam menyampaikan ajaran agama, bahkan di tengah tekanan kolonial, menjadi teladan bahwa dakwah membutuhkan keberanian, konsistensi, dan tawakal kepada Allah.
Meneguhkan Spirit Haul
Haul Akbar ini juga dimeriahkan dengan lantunan hadroh dari Hadroh Ghondo Wangi dan Gandrung Nabi Penawangan (GNP), yang menambah kekhidmatan suasana. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, haul menjadi sarana menyambung sanad keilmuan, memperkuat ukhuwah, dan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan ulama. Melalui doa, zikir, dan mau‘idhoh, jamaah diajak untuk kembali menata orientasi hidup: menomorsatukan iman, memperbaiki ibadah, dan membersihkan hati.
Dengan meneladani Syekh Abdul Mannan, Syekh Muhammad Nawawi, dan para masyayikh Rejosari, umat diharapkan mampu melanjutkan warisan Islam yang berlandaskan ilmu, keteladanan, dan keikhlasan—sebagaimana diajarkan para ulama pendahulu.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra
Sumber: LIVE HAUL SYEKH ABDUL MANAN KE 94 & SYEKH MUHAMMAD NAWAWI KE 43| REJOSARI 26 JANUARI 2026

