Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Berita

Hujan Berkah di Malam Rajaban Jajarwayang

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
January 9, 2026
in Berita, Kolom
0
Hujan Berkah di Malam Rajaban Jajarwayang
0
SHARES
132
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pekalongan – Gerimis membasahi Pekalongan sore itu. Panitia Peringatan Isra Mi‘raj di Jajarwayang, Bojong, berlalu-lalang dengan payung, menyambut tamu yang berdatangan. Ada kekhawatiran di antara mereka: akankah jamaah tetap hadir di tengah hujan dan bertepatan dengan ziarah kubra Rifa’iyah?

Kekhawatiran itu sirna. Malam Rabu, 6 Januari 2026, Masjid Baitul Muttaqin Jajarwayang sesak oleh jamaah. Sebagian langsung datang usai seharian berziarah ke makam leluhur di Brebes, Tegal, dan Pemalang.

Tradisi Safari Rajaban yang Bertahan

Safari Rajaban bukan sekadar peringatan biasa bagi warga Rifa’iyah. Menurut KH. Amruddin Nasikhun, sesepuh Rifa’iyah Pekalongan, menerangkan bahwa tradisi Safari Rajaban sejak 1975 menjadi penanda silaturahim dan penguatan ajaran Islam ala KH. Ahmad Rifa’i. Beberapa ranting Rifa’iyah di Pekalongan bahkan menyelenggarakan dua kali: untuk kaum bapak dan kaum ibu.

Namun tahun ini, peringatan Rajaban kaum bapak di wilayah Pekalongan lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. “Alasan pembiayaan,” jawab sebagian besar warga Rifa’iyah yang ditanya.

Ketika ditanya oleh penulis, K. Umrodin, sesepuh Gorek Kampil Wiradesa, mengenang, “Dulu pas Rajaban di tempat saya, satu rumah bisa membuat 50 hingga 200 besek untuk acara Rajabiyah. Tidak hanya itu, warga sekitar yang bukan warga Rifa’iyah juga turut membantu membuat besek.”

Gelak Tawa di Tengah Hujan

Panggung menghadap selatan dengan backdrop bertuliskan “Rajaban Jajarwayang – Peringatan Isra Mi‘raj Nabi Muhammad SAW”. Di depannya, kursi empuk tersusun untuk para kiai, tokoh masyarakat, dan sesepuh—kehadiran mereka dianggap berkah tersendiri.

Isa Abdallah, wakil panitia, membuka sambutannya dengan gaya stand-up comedy yang mengundang tawa. “Waspada di tengah jamaah Rajaban ini ada pasukan muser yang menyusup,” Isa, seorang pengusaha konveksi yang juga ustadz, bercanda tentang anak-anak yang punya potensi menggelapkan besek. Suasana langsung cair.

“Kami dag-dig-dug, apakah dengan adanya ziarah kubra, warga masih sempat datang ke sini, maka panitia mengadakan besek dengan jumlah terbatas,” ujarnya jujur, disambut senyum jamaah. Karena memang di hari sebelumnya, hari Selasa, sebagian warga mengikuti ziarah massal sebagai bagian dari program PP Rifa’iyah. “Barangkali nanti ada jamaah yang hadir tidak kebagian besek, jangan protes ya. Ha… ha… ha…,” pungkasnya sambil tersenyum tipis, tersungging dari pemuda humoris ini.

Ustadz Muhammad Fathul Hidayatullah dari Babalan melantunkan Al-Qur’an dengan merdu. Suaranya, didukung sound system yang jernih, seolah menarik hati setiap yang mendengar untuk mendekat. Apalagi penampilan kostum putih-putih, didukung dengan wajah yang handsome.

Nasihat Para Pengasuh: Ilmu Tanpa Amal, Amal Tanpa Ilmu

Ustadz Munaji Masawi, pengasuh Majelis Ta‘lim Baitul Muttaqin, tampil dengan kerendahan hati.
“Sebenarnya yang lebih pantas memberi sambutan adalah K. Shohibul Imdan atau K. Abadi, tetapi mereka mengatakan: itu sudah biasa, jamaah sekarang mencari yang luar biasa. Karena mereka lebih sepuh dari saya, maka saya tidak bisa membantahnya.”

Kemudian ustadz yang kini tinggal di Karanganyar, Batang, ini mengutip maqolah dari Kitab Ta‘lim al-Muta‘allim:

فَسَــادٌ كَبِيْرٌ عَــــالِمٌ مُـتَهَتِّــــكٌ ۞ وَ اَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

“Gedene kerusakan wong alim tan ngelakoni, luwih gede kerusakane tinimbang wong bodho ngamal ngelakoni.”

Kerusakan akibat orang berilmu yang tak mengamalkan ilmunya jauh lebih besar daripada orang bodoh yang beramal tanpa ilmu.

Ustadz yang dikenal dengan nama media sosial Munaj Oziel ini melanjutkan jejak ayahnya, KH. Ma‘ruf Sabrawi, ulama kesohor di kalangan Rifa’iyah. Ia menekankan pentingnya konteks dalam memberi nasihat—empan papan dalam bahasa Jawa. “Nasihat tanpa mempertimbangkan konteks ibarat mendorong orang di pinggir jurang,” katanya mengutip sang ayah.

Pesan Mendalam dari KH. Imbuh Jumali

Puncak acara adalah mau‘idhah hasanah dari KH. Imbuh Jumali, Dewan Syura PP Rifa’iyah dan Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Shalihin Washalihat, Temanggung. Beliau membuka dengan tawadhu:
“Warga Pekalongan sudah lebih dari cukup untuk menimba ilmu kepada para masyayikh di sini. Jadi sebenarnya tidak perlu jauh-jauh memanggil dari Temanggung.”

KH. Imbuh menjelaskan Kitab Arja yang memuat 904 bait syair tentang Isra Mi‘raj dan doa. Inti ajarannya adalah ketakwaan—menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Beliau menyoroti struktur dosa yang jarang dibahas:
“Dosa meninggalkan zakat adalah dosanya orang kaya. Dosa menyembunyikan ilmu adalah dosanya orang pintar. Unggul dalam ilmu dan harta justru berpotensi maksiat—itulah yang perlu diwaspadai.”

Kiai yang dikenal sekaligus sebagai seorang petani ini mengulas tentang konsistensi menjadi warga Rifa’iyah. Beliau mengibaratkan dirinya,
“Kalau di KTP tertulis pekerjaan saya sebagai seorang petani, ya tiap hari saya konsisten menjalani aktivitas di sawah, alas. Jangan sampai KTP-nya petani, tapi kenyataan hariannya berbeda.”

Hal tersebut menjadi piweling bagi warga Rifa’iyah, terutama para tokohnya, agar konsisten dalam keistikamahan menjadi warga Rifa’iyah. Sebagai seorang Rifa’iyah, tentu minimal mengkaji sepuluh bismillah (sepuluh kitab karangan KH. Ahmad Rifa’i). Hal tersebut merujuk istilah dari KH. Ahmad Rifa’i: nemoake sifate nama. Dalam bahasa sederhana, hidup sejatinya adalah istiqamah menjalani sesuatu yang telah disematkan dan ditakdirkan oleh Allah. Ibarat hewan, jangan sampai ditakdirkan menjadi kambing, tetapi dalam kenyataan tiap hari jeguk layaknya anjing.

Mbah Imbuh—demikian masyarakat menyebutnya—layaknya sang mesiah memberi penerangan pemahaman kepada jamaah tentang arti penting memilih dan waspada di zaman yang penuh fitnah.
“Bersama siapa pun, di tengah masyarakat yang bagaimanapun macam-macamnya, di tengah gempuran maksiat yang vulgar, kita wenang milih untuk tidak melanggar ketentuan dari Allah.”

Beliau menekankan pentingnya menjadi mukmin yang berdaulat, mampu memilihkan untuk dirinya jalan terbaik menuju Allah, walaupun di tengah jalan banyak godaan, rintangan, dan hambatan.

Sebagaimana digariskan dalam Kitab Tarajumah karangan KH. Ahmad Rifa’i, misalnya dalam menghadapi majelis haram:
“Kalau kita bisa mengubahnya, maka hadir. Tapi kalau tidak, memilih untuk absen. Demikian ketentuan yang mudah dipahami dari Mbah Rifa’i,” ungkap kiai yang telah memasuki kepala tujuh ini.

Di dalam Kitab Tarajumah Irsyad juga disebutkan tentang arti pentingnya kewaspadaan:

“Ora tentu wong sembahyang iku wedi ing Pangerane, tinemu anane wong shalat gedhe dosane.”

Dalam bait tersebut tersirat pepeling untuk mewaspadai ketaatan sekaligus kemaksiatan. Belum tentu orang shalat itu karena takwa, tetapi sering kali justru menjalani maksiat karena shalatnya awur-awuran tanpa ilmu. Hal ini juga gamblang disebut dalam QS. Al-Ma‘un: “Maka celakalah orang yang shalat,” yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.

Ketika kita sudah bisa memasang alarm kewaspadaan ora tentu (la ilaha), tidak kecelik dengan yang tampak, tidak terjebak dengan blunder amaliah kita, maka berangsur kita berusaha menemukan tinemune, menemukan hakikatnya, atau dalam bahasa tauhid menemukan illallah-nya.

Kewaspadaan hidup manusia bersumber pada syahadat tauhid. Maka mempelajari ilmu ushuluddin merupakan kewajiban mendesak bagi setiap muslim. Dengan mengetahui aqa’id seket, kita berusaha sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkannya, maka hidup menjadi tenang, karena segala hal yang menimpa manusia ditakdirkan oleh Allah dan telah tertulis sejak zaman azali.

“Apabila kita tidak berpijak pada tauhid, maka hidup akan susah, serba iri melihat orang lain, padahal semuanya sudah dalam catatan takdir Allah. Apa yang sudah dicatat itu akan mendatangi kita pada saatnya, tak usah diharapkan dan dikhawatirkan. Kalau seorang kiai menyaksikan kiai lainnya, justru bersyukur, karena mereka membantu meringankan kita dalam beramar ma‘ruf dan nahi munkar.”

Demikian ungkap kiai yang pernah berguru kepada KH. Abdul Malik Ambarawa ini.

Selanjutnya, kiai menekankan pentingnya keseimbangan dalam hidup. Keseimbangan merupakan tanda bahwa kehidupan dipandu oleh akal. Misalnya dalam bekerja:
“Kalau kita tidak mau bekerja, itu berasal dari nafsu karena melalaikan kewajiban menafkahi keluarga. Sebaliknya, bekerja sampai melupakan kewajiban lainnya juga ekspresi nafsu. Kerja ya kerja, tapi tahu kapan memulai dan kapan harus berhenti. Maka pentingnya keseimbangan, karena hidup seimbang itu tanda bahwa kehidupan kita dalam kendali akal.”

Ungkapan ini terasa relevan dengan masyarakat Pekalongan yang hari-hari ini bekerja seperti tak kenal waktu.

Sebelum mengakhiri, sang kiai menyatakan dengan rendah hati bahwa masyarakat Pekalongan sudah cukup terdidik dalam ilmu agama, sehingga untuk menjelaskan agama tak perlu disyarahkan panjang lebar, cukup langsung pada intinya. Berbeda dengan masyarakat di tempat beliau yang masih awam, sehingga ketika menyebut Masjidil Haram justru memantik pertanyaan, “Harame masjid lan harame asu niku bedane nopo?” disambut gelak tawa hadirin.

Kadang juga masyarakat bertanya, “Ketika berwudu kenapa yang dibasuh muka, padahal yang mengeluarkan kentut anus?” Sontak tawa membahana.

Acara dipungkasi dengan doa oleh K. Affan Dzul Fadhal yang beberapa hari sebelumnya sempat sakit. Alhamdulillah, pada Peringatan Rajaban Jajarwayang beliau sudah sehat walafiat. Mudah-mudahan semua ini menjadi pertanda bahwa masyarakat Jajarwayang selalu diberkahi oleh Allah, sehingga doa Ustadz Munaji terijabah: masyarakat Jajarwayang senantiasa hidup rukun dan damai.

Cahaya di Tengah Kegelapan Zaman

Malam itu hujan terus mengguyur. Namun di dalam masjid, hati para jamaah hangat. Mereka datang bukan untuk mencari kepastian duniawi, melainkan penyejuk di tengah zaman yang kian rusak.

Seperti yang diungkapkan panitia, para pengasuh Majelis Ta‘lim Baitul Muttaqin—K. Affan Dzul Fadhal, K. Muhammad Abadi, K. Amrullah, Ustadz Munaji, K. Shohibul Imdad—ibarat cahaya yang selalu menerangi, ibarat air yang senantiasa menyejukkan.

Tradisi Rajaban yang bertahan sejak puluhan tahun lalu bukan sekadar peringatan seremonial. Ia adalah bukti komitmen iman, ikhtiar menjaga silaturahim, dan upaya menghidupkan ajaran Islam yang membumi—ajaran yang tidak hanya dikaji, tetapi diamalkan.

Di tengah tantangan ekonomi dan zaman yang terus berubah, semangat warga Rifa’iyah tetap menyala. Seperti hujan yang membasahi bumi Pekalongan malam itu: membawa berkah bagi siapa saja yang mau membuka hati.

Paesan Tengah, 9 Januari 2026

Baca Juga: Makna Tujuh Langit dalam Isra’ Mi’raj


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Isra' Mi'rajMalam RajabanPeringatan Isra Mi’rajRajabanRajaban JajarwayangRifaiyah PekalonganSafari RajabanTradisi Rajabanwarga Rifaiyah
Previous Post

Langkah Awal yang Menjanjikan, Rifa’iyah Kalimantan Barat Siap Menguatkan Syiar Tarajumah

Next Post

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 22: Iman kepada Takdir (Bagian 2)

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 22: Iman kepada Takdir (Bagian 2)

Penjelasan Kitab Ri’ayah al-Himmah 22: Iman kepada Takdir (Bagian 2)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id