PEKALONGAN, Rifaiyah.or.id – Wilayah pesisir Jawa Tengah kembali menghadapi tantangan alam yang serius. Sejak Kamis, 15 Januari 2026, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur tanpa henti selama lebih dari 12 jam telah mengakibatkan banjir melanda wilayah Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, hingga Kabupaten Batang. curah hujan ekstrem membuat debit air meningkat cepat, merendam pemukiman warga, dan melumpuhkan sejumlah aktivitas ekonomi.
Kronologi Kejadian dan Titik Terdampak
Hujan mulai turun merata di wilayah Pantura sejak pukul 16.00 WIB. Menjelang dini hari, saluran drainase perkotaan tidak lagi mampu menampung volume air. Di Kota Pekalongan, wilayah yang paling terdampak meliputi Kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara. Kelurahan Tirto, Pasirkratonkramat, Bendan Kergon, serta Kelurahan Bandengan dilaporkan menjadi titik dengan genangan tertinggi, mencapai 40 hingga 100 sentimeter.
Dampak Sosial dan Evakuasi Warga
Berdasarkan data sementara dari BPBD setempat, diperkirakan lebih dari 1000 rumah terendam dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Petugas gabungan dari TNI, Polri, dan relawan menyisir gang-gang sempit menggunakan perahu karet untuk menjemput warga lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak yang terjebak di dalam rumah.
Posko pengungsian utama telah didirikan di beberapa lokasi strategis seperti , gedung serbaguna kelurahan, dan sejumlah sekolah yang posisinya lebih tinggi. Namun, kondisi di pengungsian mulai mengkhawatirkan karena keterbatasan logistik berupa selimut, popok bayi, dan obat-obatan. Penyakit kulit dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) mulai dikeluhkan oleh para pengungsi, terutama anak-anak.
Jalur Pantura Terganggu
Dampak banjir tidak hanya menyasar pemukiman, tetapi juga mengganggu urat nadi transportasi nasional. Ruas jalan raya Pantura yang menghubungkan Pekalongan dan Batang sempat mengalami kemacetan panjang. Genangan air setinggi 30-50 cm di ruas jalan utama membuat banyak kendaraan roda dua mengalami mogok mesin setelah memaksakan diri menerjang banjir.
Pihak Satlantas Polres Pekalongan Kota pun sempat melakukan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan kendaraan kecil ke jalur alternatif atau masuk ke jalan tol guna menghindari titik genangan terdalam. “Kami menghimbau para pengguna jalan untuk tetap waspada, terutama terhadap lubang-lubang jalan yang tidak terlihat karena tertutup genangan air,” jelas petugas di lapangan.
Faktor Penyebab: Drainase dan Penurunan Muka Tanah
Pakar lingkungan menyebutkan bahwa banjir di wilayah Pekalongan-Batang bukan semata-mata karena faktor cuaca. Masalah klasik seperti penurunan muka tanah (land subsidence) di pesisir utara Jawa memperparah keadaan. Hal ini menyebabkan air hujan yang turun sulit mengalir ke laut, terutama saat berbarengan dengan pasang air laut.
Meskipun pemerintah daerah telah mengoperasikan sejumlah pompa air, kapasitas pompa tersebut tampaknya masih kalah cepat dengan volume air yang masuk. Warga berharap adanya solusi permanen, seperti penguatan tanggul raksasa dan normalisasi sungai-sungai utama yang kini mulai mengalami pendangkalan serius.
Himbauan BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa potensi hujan lebat masih akan terjadi dalam dua hingga tiga h
ari ke depan di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Masyarakat diminta untuk tetap siaga, terutama saat malam hari jika intensitas hujan kembali meningkat.
“Kami meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dan segera melakukan evakuasi mandiri jika melihat debit air di depan rumah mulai naik secara signifikan,” tutup perwakilan BPBD.

Menyikapi bencana banjir yang melanda wilayah pesisir utara Jawa Tengah, khususnya di Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang, Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP. AMRI) secara resmi menginisiasi gerakan kemanusiaan bertajuk “AMRI Peduli, AMRI Berbagi”.
Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap kondisi darurat yang menimpa ribuan warga, termasuk keluarga besar Rifa’iyah yang terdampak signifikan oleh luapan air dan fenomena rob. Melalui maklumat ini, PP. AMRI mengajak seluruh kader, simpatisan, dan masyarakat luas untuk menyisihkan sebagian rezekinya guna meringankan beban saudara-saudara kita di Pekalongan dan Batang. Kepedulian kita adalah harapan bagi mereka untuk kembali bangkit.
Penulis: Sofarul Wildan Akhmad
Editor: Ahmad Zahid Ali


