Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan hanya perjalanan agung Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha, tetapi juga rangkaian ujian makna yang sarat pesan bagi umat manusia. Dalam khazanah karya ulama Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i menghadirkan sepenggal kisah Isra’ Mi’raj dalam bentuk nadzam yang bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin pilihan hidup.
Dalam Nadzam Arja, beliau menuturkan dialog simbolik yang terjadi di tengah perjalanan Nabi ﷺ bersama Malaikat Jibril:
“Mongko nuli takon Kanjeng Nabi utusan
Ing Jabarail sinten kang kinawaruhan
Tiyang undang-undang tengah dedalan”
Nabi bertanya tentang suara panggilan yang terdengar di tengah perjalanan. Jibril menjelaskan bahwa panggilan-panggilan itu bukan suara biasa, melainkan lambang jalan hidup yang akan dihadapi umat Nabi kelak.
“Suoro kang dhihin rinungu anane
Ature Jabaroil partelane
Pangundang kang wonten tengene
Puniko pangundange Yahudi nyatane.”
Panggilan dari arah kanan melambangkan jalan Yahudi. Jika Nabi menjawab panggilan itu, Jibril menjelaskan, umatnya kelak akan condong mengikuti jalan tersebut. Begitu pula panggilan dari kiri yang melambangkan jalan Nasrani:
“Anapun pangundang kang kiwo dihajat
Mongko puniko tiyang Nasrani jelunat.”
Namun Nabi ﷺ tidak menjawab satu pun dari panggilan itu. Sikap diam Nabi bukanlah kebingungan, melainkan keteguhan. Sebab, menjawab salah satu berarti umatnya akan kehilangan kejernihan iman dan terjebak pada jalan yang menyimpang dari kebenaran hakiki.
Puncak ujian justru datang dalam bentuk yang paling menggoda: dunia.
“Anapun tiyang estri wontene
Ngundang-undang ing wingkingane
Sanding tuan sarta pahes nyatane
Mongko inggih puniko dunya rupane.”
Dunia digambarkan sebagai perempuan berhias indah, mengundang Nabi dari arah belakang dengan pesona dan kedekatan. Ia tidak mengancam, tidak pula memaksa. Dunia hanya menawarkan kenyamanan, keindahan, dan kebersamaan. Namun di balik itu tersimpan bahaya yang paling halus: melalaikan tujuan akhir.
“Lamon tuan jawabo ing pangundangan
Mongko yekti umat tuan sasar sedayan
Dados asih milih ing kadunyan
Mengo saking sawarga urip kelanggengan.”
Jika Nabi menjawab panggilan tersebut, umatnya akan tersesat, lebih mencintai dunia, kehidupan fana, dan berpaling dari kehidupan kekal di akhirat.
Di sinilah letak refleksi terdalam dari kisah ini. Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang naiknya Nabi ke langit, tetapi tentang keteguhan memilih jalan lurus di tengah tarik-menarik ideologi, keyakinan, dan gemerlap dunia. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa keselamatan iman tidak cukup dengan mengetahui yang benar, tetapi juga dengan menolak panggilan-panggilan yang tampak indah namun menyesatkan.
KH. Ahmad Rifa’i melalui nadzam ini seolah mengingatkan kita: umat Nabi Muhammad ﷺ akan selalu diuji oleh tiga panggilan besar—panggilan pemikiran yang menyimpang, keyakinan yang kabur, dan cinta dunia yang berlebihan. Keselamatan hanya dapat diraih dengan keteguhan, kehati-hatian, dan orientasi akhirat.
Isra’ Mi’raj, dengan demikian, adalah perjalanan spiritual yang terus berulang dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap pilihan adalah undangan. Dan iman sejati diuji bukan saat kebenaran tampak jelas, tetapi saat godaan datang dengan wajah yang paling memikat.
(Disarikan dari KH. Ahmad Rifa’i, Nadzam Arja, halaman 7–8)
Baca Juga: Alim yang Adil: Tanggung Jawab Ilmu di Tengah Keterbatasan
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


