“aran ikhlas iku maring Allah nejane, aja amrih ati ing liyane Pangerane.”
(KH. Ahmad Rifai, Abyan Al-Hawa’ij Juz 5)
Sore itu, di sebuah warung kopi pinggir jalan Kedungwuni, Mas Partela duduk termenung sambil mengaduk kopinya yang sudah dingin. Lima tahun sudah ia merintis usaha konveksi kecil-kecilan. Setiap hari bangun sebelum subuh, memproses dari bahan sampai menjadi celana, bahkan kadang tidur hanya lima jam sehari. Tapi kenapa sepertinya usaha masih jalan di tempat? Sementara tetangganya yang baru buka usaha setahun lalu sudah tempel PCX dan mobil.
“Apa yang salah dengan saya?” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu bukan hanya milik Partela. Di sudut-sudut kota, di gang-gang kampung, di ruang-ruang kantor—pertanyaan serupa bergema. Mahasiswa yang sudah belajar mati-matian tapi nilainya stagnan. Pegawai yang bekerja lembur, tapi promosi tak kunjung datang. Ibu rumah tangga yang mengurus keluarga sepenuh hati tapi seringkali tidak mendapat perhatian.
Yang melelahkan bukan soal capeknya berusaha. Yang melelahkan adalah ketika kita sudah berjuang sekian lama, tapi seakan belum terjadi apa-apa.
Ekspektasi yang Membebani: Ketika Hidup Tidak Tunduk pada Rumus Keadilan
Kita sering mengira hidup bekerja seperti transaksi di warung: aku berbuat baik, lalu dunia akan mengembalikan yang setimpal. Aku kerja keras, maka aku pasti berhasil. Aku jujur, maka aku akan dipercaya. Seolah ada rumus yang pasti.
Namun, psikolog Martin Seligman dari University of Pennsylvania menemukan bahwa manusia memiliki kecenderungan percaya bahwa tindakan mereka harus menghasilkan konsekuensi yang dapat diprediksi[1]. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi secara berulang, muncullah apa yang disebut learned helplessness—keyakinan bahwa usaha kita tidak ada artinya, sehingga kita berhenti mencoba[2].
Lebih jauh, psikolog Melvin Lerner menjelaskan melalui teori just-world hypothesis bahwa manusia memiliki kebutuhan kuat untuk percaya bahwa dunia itu adil—bahwa orang baik akan mendapat kebaikan, dan orang jahat akan mendapat balasan setimpal[3]. Keyakinan ini membantu kita merasa aman dan terkendali. Tapi ketika realitas menunjukkan sebaliknya, kita tidak hanya kecewa pada dunia, tetapi juga mulai menyalahkan diri sendiri: “Pasti ada yang salah dengan saya.”
Inilah paradoksnya: ekspektasi yang seharusnya memotivasi, justru menjadi beban yang menekan.
Ikhlas dalam Islam: Melepas, Bukan Menyerah
Dalam tradisi Islam, ada konsep yang menawarkan jalan keluar dari dilema ini: ikhlas.
Ikhlas sering disalahpahami sebagai “pasrah” atau “tidak berharap apa-apa.” Padahal ikhlas bukan berhenti berharap—ikhlas adalah berhenti menukar kebaikan dengan ekspektasi. Ikhlas adalah memurnikan niat, sehingga yang kita cari bukan hasil yang terlihat, tapi ridha Allah yang tersembunyi[4].
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.'” (QS. Az-Zumar: 11)
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima amal hanya yang dikerjakan dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya.”[5] Ini bukan berarti kita tidak boleh mengharapkan hasil—tetapi hasil itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, sementara kita fokus pada kualitas usaha kita.
Ikhlas adalah kesadaran bahwa hasil hidup tidak datang serentak dengan usaha. Ada jeda. Ada masa tunggu. Ada proses yang tidak terlihat. Ketika kita melihat tanaman yang kita tanam seakan tidak tumbuh, sebenarnya ada akar yang selalu bergerak menyerap nutrisi yang menumbuhkan.
Sains Membenarkan: Cognitive Detachment sebagai Strategi Regulasi Emosi
Menariknya, neurosains modern menemukan mekanisme serupa. Dalam penelitian tentang regulasi emosi, para ilmuwan menemukan strategi yang disebut cognitive detachment atau “pelepasan kognitif”[6].
Detachment adalah kemampuan untuk menciptakan jarak psikologis antara diri kita dengan situasi yang memicu stres—tanpa mengabaikannya. Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa ketika seseorang mempraktikkan detachment, aktivitas amygdala (pusat emosi dan stres) menurun, sementara korteks prefrontal dorsolateral (pusat kontrol kognitif) meningkat[7].
Dengan kata lain, detachment membantu otak kita keluar dari “mode ancaman”—kondisi di mana kita terus-menerus merasa dalam bahaya karena hidup tidak berjalan sesuai rencana. Praktik ini terbukti lebih efektif daripada distraksi atau penekanan emosi dalam mengelola kekecewaan jangka panjang[8].
Secara neurologis, ikhlas dalam Islam mirip dengan cognitive detachment: melepaskan hubungan antara usaha dan hasil agar pikiran tidak terus hidup dalam tuntutan dan kekecewaan. Kamu tetap berusaha, tapi tidak lagi terjebak dalam ekspektasi yang menyiksa.
Masa Dormansi: Pertumbuhan yang Tidak Terlihat
Dalam ilmu biologi, ada fenomena yang disebut seed dormancy (masa dormansi benih). Ini adalah periode di mana benih tampak tidak tumbuh, bahkan ketika kondisi lingkungan sudah ideal untuk berkecambah[9].
Apakah benih itu mati? Tidak.
Di bawah tanah yang gelap dan sunyi, benih sedang melakukan proses internal yang kompleks: mematahkan lapisan pelindung, mengaktifkan hormon pertumbuhan, membangun struktur akar yang kuat[10]. Proses ini tidak terlihat dari luar, tapi sangat vital. Tanpa masa dormansi, benih akan tumbuh di waktu yang salah—saat musim tidak mendukung—dan akhirnya mati.
Hidup manusia juga punya “masa dormansi”, periode di mana kita sudah bekerja keras, tapi hasil belum terlihat. Bukan berarti usaha kita sia-sia. Bisa jadi, di bawah permukaan yang tidak terlihat, sedang terjadi pembentukan fondasi yang kuat—mental, karakter, jaringan, keterampilan—yang kelak akan menopang kesuksesan kita. Sehingga kita tahan banting.
Ikhlas adalah memahami bahwa proses dan hasil tidak berjalan dalam garis waktu yang sama. Ada jeda antara menabur dan menuai. Dan jeda itu bukan kosong—dia penuh dengan pertumbuhan tersembunyi.
Rasa Tidak Adil: Produk dari Perbandingan yang Tidak Pernah Selesai
Salah satu penyebab terberat dari perasaan “hidup tidak adil” adalah perbandingan sosial.
Kita melihat teman kuliah yang langsung dapat kerja, sementara kita masih nganggur. Kita lihat saudara yang bisnisnya lancar, sementara kita masih hutang. Kita lihat teman yang bahagia bersama anak istrinya, sementara kita masih sendiri.
Tapi yang kita lihat hanyalah hasil akhir mereka, bukan proses mereka. Kita tidak tahu berapa kali mereka gagal sebelum berhasil. Kita tidak tahu berapa malam mereka menangis sebelum tertawa. Kita tidak tahu harga apa yang mereka bayar untuk peran mereka hari ini.
Perbandingan adalah pencuri keikhlasan. Karena ketika kita sibuk membandingkan, kita kehilangan fokus pada perjalanan kita sendiri. Kita mulai merasa tertinggal, padahal mungkin kita sedang berada di jalur yang berbeda—jalur yang lebih lambat, tapi jalur alternatif.
Ikhlas mengajarkan kita untuk menghormati timing Allah. Setiap orang punya waktunya sendiri. Dan keterlambatan menurut kita, mungkin adalah ketepatan menurut Allah.
Dari Pola Kontrol ke Pola Percaya
Psikologi modern mengakui bahwa salah satu sumber stres terbesar adalah illusion of control—ilusi bahwa kita bisa mengontrol semua hasil dalam hidup[11]. Ketika ilusi ini hancur, kita merasa tidak berdaya.
Ikhlas adalah pergeseran dari pola kontrol ke pola percaya. Bukan berarti kita pasif—kita tetap bergerak, tetap berusaha, tetap berdoa. Tapi kita tidak lagi hidup dengan delusi bahwa segalanya ada di tangan kita, segalanya bisa kita kontrol dan kita arahkan. Ada Tangan yang lebih Besar yang mengatur, yang melihat apa yang tidak kita lihat, yang tahu apa yang tidak kita tahu.
Dan dalam kepercayaan itu, ada ketenangan.
Partela akhirnya memutuskan untuk terus bekerja—bukan untuk membuktikan diri, bukan untuk menyaingi tetangga, bukan iri terhadap temannya tapi karena dia percaya bahwa setiap jahitan yang dia buat, setiap pelanggan yang dia layani dengan baik, adalah bagian dari proses yang lebih besar. Proses yang hasilnya bukan dia yang menentukan.
Tiga tahun kemudian, usahanya memang belum sebesar tetangganya. Tapi dia punya pelanggan setia yang mempercayainya. Dia punya nama baik di komunitasnya. Dia punya ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Dan yang terpenting: dia punya ikhlas.
Penutup: Hidup Tidak Selalu Memberi Imbalan pada yang Paling Rajin
Hidup tidak selalu memberi imbalan pada yang paling rajin, tapi selalu memberi makna pada yang paling mau belajar.
Keterlambatan bukan hukuman. Keterlambatan adalah ruang belajar. Ruang untuk memperkuat akar sebelum badai datang. Ruang untuk membersihkan niat sebelum kesuksesan mengotorinya. Ruang untuk memahami bahwa yang kita kejar selama ini mungkin bukan yang kita butuhkan.
Ikhlas bukan menyerah pada keadaan. Ikhlas adalah menyerahkan hasil pada Allah, sambil tetap memberi yang terbaik dalam prosesnya.
Kamu tetap bergerak, tapi tidak lagi untuk membuktikan, melainkan untuk memahami.
Karena mungkin, yang kamu sebut sebagai keterlambatan adalah cara Allah menyelamatkanmu dari versi hidup yang belum siap kamu jalani.
Referensi
- Seligman, M. E. P., & Maier, S. F. (1967). Failure to escape traumatic shock. Journal of Experimental Psychology, 74(1), 1-9. https://doi.org/10.1037/h0024514
- Maier, S. F., & Seligman, M. E. P. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Psychological Review, 123(4), 349-367. https://doi.org/10.1037/rev0000033
- Lerner, M. J. (1980). The belief in a just world: A fundamental delusion. Plenum Press. https://doi.org/10.1007/978-1-4899-0448-5
- Al-Ghazali, A. H. (1990). Ihya Ulumuddin (Reviving the Religious Sciences). Dar al-Minhaj. (Original work published c. 1100)
- Hadits Riwayat An-Nasa’i dalam Sunan An-Nasa’i, Kitab al-Jihad, Bab: Man Qatala Li Takuna Kalimatul Lahi Hiyal Ulya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahih An-Nasa’i.
- Powers, J. P., & LaBar, K. S. (2019). Regulating emotion through distancing: A taxonomy, neurocognitive model, and supporting meta-analysis. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 96, 155-173. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2018.04.023
- Dörfel, D., Lamke, J. P., Hummel, F., Wagner, U., Erk, S., & Walter, H. (2014). Common and differential neural networks of emotion regulation by detachment, reinterpretation, distraction, and expressive suppression: A comparative fMRI investigation. NeuroImage, 101, 298-309. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2014.06.051
- Walter, H., von Kalckreuth, A., Schardt, D., Stephan, A., Goschke, T., & Erk, S. (2009). The temporal dynamics of voluntary emotion regulation. PLoS ONE, 4(8), e6726. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0006726
- Finch-Savage, W. E., & Leubner-Metzger, G. (2006). Seed dormancy and the control of germination. New Phytologist, 171(3), 501-523. https://doi.org/10.1111/j.1469-8137.2006.01787.x
- Bewley, J. D., Bradford, K. J., Hilhorst, H. W. M., & Nonogaki, H. (2013). Seeds: Physiology of development, germination and dormancy (3rd ed.). Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4614-4693-4
- Thompson, S. C. (1999). Illusions of control: How we overestimate our personal influence. Current Directions in Psychological Science, 8(6), 187-190. https://doi.org/10.1111/1467-8721.00044
Baca Juga: Ketika Sibuk Mengoreksi Orang Lain, Siapa yang Mengoreksi Dirimu?
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Ahmad Zahid Ali & Yusril Mahendra


