Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Ketika Segalanya Ada, Tapi Hati Masih Gelisah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
February 18, 2026
in Kolom
0
hati gelisah meski berkecukupan

Seorang laki-laki berdiri sendiri di tepi tebing. (Freepik/bublikhaus)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Paradoks Kecukupan di Tengah Kelimpahan

Pernahkah kamu merasa aneh dengan dirimu sendiri? Di satu sisi, kamu tahu hidupmu sudah jauh lebih baik dari dulu. Punya pekerjaan, rumah yang layak, makan tiga kali sehari tanpa khawatir, anak-istri bersanding. Tapi di sisi lain, ada semacam kegelisahan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada yang kurang, padahal kamu tidak bisa menyebutkan apa yang kurang itu.

Kamu bukan sendiri. Ini bukan tanda kamu kurang bersyukur. Ini justru pertanda bahwa ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi dalam dirimu.

Ketika Garis Finish Terus Bergerak

Lebih dari 2000 tahun lalu, filosof Yunani bernama Epicurus sudah mengingatkan satu hal sederhana: keinginan manusia tidak pernah berhenti, bukan karena kebutuhan bertambah, melainkan karena batasnya kabur. Ia membedakan antara kebutuhan yang alami—seperti makan, tempat tinggal, rasa aman—dengan keinginan yang dipelajari, yang kita serap dari lingkungan, budaya, dan perbandingan sosial.

Masalahnya, manusia modern jarang lapar pada hal yang alami. Kita lapar pada pembanding. Kita tidak lagi mengukur hidup dari apa yang kita butuhkan, tapi dari apa yang dimiliki orang lain. Standar kecukupan kita bukan lagi soal “apakah aku sudah cukup makan?”, tapi “apakah aku sudah semaju teman seangkatanku?”

Di titik tertentu, kita tidak lagi mengejar kenyamanan. Kita mengejar rasa cukup. Dan ironisnya, rasa itu tidak pernah datang dari penambahan.

Insatiable Desire: Keinginan Tanpa Titik Henti

Kaum Stoa menyebut fenomena ini sebagai insatiable desire—keinginan yang tidak punya titik henti karena ia bergantung pada hal-hal di luar diri. Bukan soal berapa banyak harta, seberapa tinggi status, atau seberapa besar pencapaian. Tapi soal pikiran yang terus memindahkan garis finish.

Kita merasa sudah sampai. Lalu pikiran bertanya: “Cuma segini?”

Kita dapat promosi. Pikiran berbisik: “Tapi dia sudah jadi direktur.”

Kita punya rumah. Pikiran mengingatkan: “Tapi rumahnya masih lebih besar.”

Dalam perspektif Islam, keadaan ini sudah diingatkan dengan sangat gamblang. Allah berfirman:

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (banyaknya harta dan anak).” (QS. At-Takatsur: 1)

Ayat ini menohok. At-takatsur bukan sekadar soal menumpuk harta, tapi soal mentalitas mengejar “lebih banyak” tanpa henti. Melalaikan berarti kita jadi lupa untuk apa semua ini. Lupa esensi. Lupa tujuan hidup yang sebenarnya.

Ukuran yang Salah

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan:

مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

“Barangsiapa yang bangun pagi dan dunia menjadi kesibukan utamanya, maka Allah akan menjadikan kefakiran (rasa kekurangan) di antara kedua matanya.”

Ini bukan laknat. Ini konsekuensi psikologis yang logis. Ketika dunia menjadi tolok ukur, maka kita akan selalu merasa kurang. Sebab dunia ini tak terbatas sementara umur kita terbatas. Kita akan selalu kalah dalam perlombaan yang tidak pernah selesai.

Rasa tidak cukup di sini bukan tanda kurang bersyukur. Ini tanda bahwa hidup sedang diukur dengan alat yang salah.

Berhenti Menawar Hidup

Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah (penuh) harta, niscaya ia menginginkan lembah ketiga. Dan tidak akan pernah memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kubur). Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”

Hadis ini bukan larangan untuk berusaha atau mencari rezeki. Ini peringatan tentang sifat dasar manusia yang cenderung tidak pernah merasa cukup jika tidak ada kesadaran spiritual yang mengendalikannya.

Bagian terakhir hadis itu penting: “Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” Artinya, ada jalan keluar. Ada cara untuk keluar dari siklus ini. Caranya bukan dengan berhenti berusaha, tapi dengan berhenti menawar hidup dengan versi diri yang belum tentu kita butuhkan.

Untuk Siapa Semua Ini?

Mungkin ketenangan muncul saat kita berhenti bertanya: “Apa lagi yang ada buatku nanti?” dan mulai jujur bertanya: “Untuk siapa semua ini?”

Pertanyaan ini mengubah segalanya. Karena pertanyaan ini memindahkan pusat gravitasi dari perbandingan eksternal ke makna internal. Dari akumulasi ke kontribusi. Dari “aku punya apa” menjadi “aku ada untuk apa.”

Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam menuliskan:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا

“Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat, maka ia telah menjadikan dirinya terbuka untuk hilangnya nikmat itu. Dan barangsiapa mensyukurinya, maka ia telah mengikatnya dengan tali pengikat.”

Syukur di sini bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur adalah kesadaran penuh bahwa apa yang kita miliki adalah titipan, bukan milik. Adalah anugerah, bukan hasil kerja keras semata. Dan dengan kesadaran itu, kita berhenti membanding-bandingkan, karena kita tahu setiap orang punya porsi dan ujiannya masing-masing.

Cukup Bukan Tentang Memiliki Lebih Banyak

Kecukupan sejati bukan soal angka di rekening bank. Bukan soal ukuran rumah atau merek mobil. Kecukupan adalah kondisi hati yang tenang karena tahu batas, yang jernih karena tahu tujuan, yang damai karena tidak lagi berperang dengan diri sendiri.

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Hayatan thayyibah—kehidupan yang baik—bukan dijanjikan kepada yang paling kaya, paling sukses, atau paling terkenal. Tapi kepada yang beriman dan beramal saleh. Kepada yang hidupnya punya arah, punya makna, punya nilai yang melampaui akumulasi materi.

Penutup: Kembali ke Esensi

Jadi, kalau kamu merasa punya segalanya tapi tetap gelisah, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Jangan juga buru-buru mencari “sesuatu yang lain” untuk ditambahkan. Mungkin yang kamu butuhkan bukan penambahan, tapi pengurangan. Bukan lebih banyak, tapi lebih jelas.

Mulailah dengan pertanyaan sederhana:

  • Untuk siapa semua yang kumiliki ini?
  • Apa yang benar-benar kubutuhkan, bukan yang kuinginkan karena melihat orang lain?
  • Jika besok adalah hari terakhirku, apakah aku akan menyesali cara aku menghabiskan hari ini?

Kecukupan bukan destinasi. Ia adalah cara pandang. Dan cara pandang itu bisa dimulai dari sekarang, dari apa yang sudah ada, bukan dari apa yang belum kamu punya.

خَيْرُ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Semoga kita diberi ketenangan hati dan kejelasan pandangan. Aamiin.

Referensi: Putri Amalia Baswedan (Instagram)

Baca Juga: Belajar Kelas Sosial dari Cara Kita Berjabat Tangan


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: kebahagiaan sejatikecukupan hidupketenangan batinketenangan hatimakna hidupmakna kebahagiaanparadoks kecukupanrasa cukup
Previous Post

Rifa’iyah Hadiri Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 H di Jakarta

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id