WONOSOBO – Estafet kepemimpinan santri Rifa’iyah di Kabupaten Wonosobo resmi berganti. Khakam Alwi, santri asal Pondok Pesantren Al Busyro, terpilih menjadi Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Santri Rifa’iyah (PD ISR) Kabupaten Wonosobo periode 2026–2027. Prosesi pelantikan ini digelar bersamaan dengan agenda Halalbihalal di Masjid Baitul Falah, Krajan, Tempursari, Sapuran, pada Senin (30/3/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 200 santri Rifa’iyah yang datang dari berbagai pondok pesantren di wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sebanyak 14 pengurus baru resmi dilantik untuk mengemban amanah organisasi selama satu tahun ke depan.
Santri dan Akar Sejarah Indonesia
Sekretaris Jenderal PD Rifa’iyah Kabupaten Wonosobo, Ust. Syafi’ Anang Hidayatullah, yang hadir mewakili pimpinan daerah sekaligus melantik pengurus, memberikan pesan mendalam dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa santri bukan sekadar pencari ilmu agama, melainkan pilar pembentuk negara.
“Santri memiliki peran besar dalam membangun Indonesia. Pesantren sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir, seperti PIP Tremas, Sidogiri, Lirboyo, hingga Bangkalan. Pejuang kita seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, hingga Guru Besar Rifa’iyah KH. Ahmad Rifa’i adalah representasi kalangan santri,” tegas Ust. Syafi’.
Ia berharap, kepengurusan baru ini mampu meneruskan spirit perjuangan para pendahulu dalam menjaga keutuhan bangsa.
Esensi Kemenangan dan Ketaatan
Melengkapi khidmatnya acara, Ags. H. Ahmad Fauzi, Pengasuh PP Tanbihul Ghofillin Sambek, hadir memberikan Mauidhoh Hasanah. Dalam ceramahnya, beliau menyoroti makna Idulfitri yang sering kali dimaknai secara dangkal.
“Kemenangan di hari raya ini bukanlah kemenangan layaknya memenangkan permainan Mobile Legends. Kemenangan yang sesungguhnya adalah meningkatnya ketaatan kepada Allah SWT,” ujar beliau di hadapan ratusan santri.
Gus Fauzi juga membedah makna fitr yang bisa berarti ‘kembali makan’ (iftar) atau ‘kembali suci’ (fitrah). Beliau mengingatkan bahwa level puasa santri ada yang sudah mencapai tingkatan khawas, yakni tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan.
“Maksiatnya orang awam dan santri itu berbeda nilainya di mata Allah, meski hakikatnya sama,” tambahnya.
Sebagai seorang santri, harus memiliki tiga karakter: syukur, sabar, dan ikhlas.
Acara yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan sesi musyafahah atau bersalam-salaman sebagai simbol mempererat tali silaturahmi antar santri dari berbagai daerah.
Baca Juga: Kapan Niat Ibadah Harus Menyebut “Fardhu”?
Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra







