Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, segala puji hanya milik Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, Tuhan yang menciptakan manusia dalam keadaan merdeka dan memuliakan mereka dengan akal serta martabat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam, pemimpin umat yang senantiasa mendahulukan kemuliaan bangsa dan agama di atas kepentingan sesaat.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk memperdalam takwa kepada Allah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal, bukan hanya untuk kehidupan akhirat, tetapi juga untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kehormatan Bangsa adalah Amanah Ilahi
Jamaah Jum’at yang berbahagia, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan — al-’izzah — adalah milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum beriman.
Kemuliaan itu bukan sesuatu yang dapat dipinjam dari kekuatan asing, bukan pula sesuatu yang dapat dibeli dengan mengorbankan prinsip. Kemuliaan sejati lahir dari kemandirian sikap, kejernihan pikir, dan keberanian untuk berpijak pada nilai-nilai yang benar.
Hari ini, kita dihadapkan pada sebuah kabar yang mengundang renungan mendalam: Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan hingga 8.000 pasukan dalam kerangka ‘Board of Peace’ yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebagai bagian dari rencana stabilisasi Gaza. Lebih dari itu, Indonesia telah ikut menandatangani piagam inisiatif tersebut.
Sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, sebagai bangsa yang konstitusinya menyatakan dengan tegas bahwa ‘kemerdekaan adalah hak segala bangsa’ dan ‘penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,’ langkah ini memerlukan renungan yang serius dan bertanggung jawab.
Prinsip ‘Bebas Aktif’: Warisan Luhur yang Wajib Dijaga
Jamaah yang dimuliakan Allah, sejak Konferensi Bandung tahun 1955, Indonesia telah meneguhkan diri sebagai kekuatan moral dunia — bangsa yang berdiri di atas prinsip kemandirian, ditilik dari sejarahnya sejak sunda wiwitan, atlantis, bangsa Indonesia adalah jenis bangsa imam. Dalam ungkapan KH. Ahmad Rifa’i: Imam iku dudu wong anut, bukan sekadar buntut kopat-kapit yang siap diciprati tinja. Bukan sekadar bangsa follower (pengikut) agenda pihak manapun. Doktrin ‘Bebas Aktif’ bukan sekadar strategi diplomatik, melainkan cerminan dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan keadilan dan keberanian berkata benar.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Hadits mulia ini mengajarkan bahwa keberanian bersikap mandiri — bahkan di hadapan kekuatan besar — adalah bentuk perjuangan tertinggi. Indonesia selama ini dikenal dan dihormati dunia justru karena keberaniannya bersikap mandiri: tidak memihak blok Barat secara membabi buta, tidak pula tunduk kepada tekanan Timur.
Imam Al-Ghazali rahimahullāh dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulûmiddîn berkata:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ عَزِيزًا فِي الدُّنْيَا فَلَا يَطْلُبِ الْعِزَّةَ مِنَ النَّاسِ، فَإِنَّ الْعِزَّةَ كُلَّهَا لِلَّهِ، وَإِنَّمَا تُنَالُ بِطَاعَتِهِ لَا بِمُوَافَقَةِ أَهْوَاءِ الْخَلْقِ
“Barang siapa ingin mulia di dunia, janganlah ia mencari kemuliaan dari manusia. Sebab seluruh kemuliaan adalah milik Allah. Kemuliaan itu diraih dengan taat kepada-Nya, bukan dengan mengikuti keinginan dan hawa nafsu makhluk.”
Ikut serta dalam kerangka ‘Board of Peace’ yang diidentikkan secara kuat dengan satu figur pemimpin asing yang dikenal dengan diplomasi transaksional — tanpa mandat multilateral yang jelas dari PBB — berpotensi menggeser Indonesia dari posisi ‘wasit yang netral’ menjadi ‘peserta dalam arsitektur keamanan yang dibentuk oleh kepentingan asing.’
Amanah Terhadap Palestina: Ujian Keimanan dan Konstitusi
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, Palestina bukan sekadar isu geopolitik. Ia adalah amanah suci yang terpatri dalam sanubari setiap Muslim. Allah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat yang mulia ini menjadi cermin bagi kita semua. Orang-orang lemah di Palestina — lelaki, perempuan, dan anak-anak tak berdosa — terus berdoa kepada Allah agar ada yang membela mereka. Pertanyaannya: apakah keterlibatan Indonesia dalam ‘Board of Peace’ ini sungguh-sungguh membela mereka, atau justru memperlemah posisi mereka?
Kita perlu mencermati rekam jejak. Sang pemrakarsa — Presiden Trump — adalah figur yang memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Yerusalem, yang oleh masyarakat Muslim sedunia dipandang sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Palestina. Ia pula yang merumuskan ‘Rencana Abad Ini’ yang oleh banyak pengamat dianggap tidak memberikan jaminan kedaulatan penuh bagi Palestina.
Jika ‘Board of Peace’ ini berjalan tanpa jaminan yang tegas atas kedaulatan Palestina, maka Indonesia berisiko dikaitkan dengan sebuah proses yang dipersepsikan luas sebagai perdamaian yang dipaksakan dari luar — bukan perdamaian yang adil dan bermartabat.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, saling mencintai, dan saling merasakan seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh lainnya ikut merasakan dengan tidak tidur (berjaga) dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengingatkan kita: penderitaan saudara-saudara kita di Gaza adalah penderitaan kita. Namun kepedulian yang tulus harus diwujudkan dengan cara yang benar — yang sungguh-sungguh berpihak pada keadilan, bukan sekadar formalitas diplomatik yang justru melegitimasi ketidakadilan.
Kewajiban Musyawarah dan Pengawasan Demokratis
Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)
Keputusan untuk mengirimkan 8.000 prajurit ke luar negeri adalah keputusan yang bukan hanya menyangkut strategi militer, tetapi menyangkut nyawa putra-putri bangsa, menyangkut anggaran negara yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat, dan menyangkut harkat martabat bangsa di mata dunia.
Para analis mencatat bahwa keputusan besar ini belum melalui perdebatan publik yang memadai. Ketiadaan pengawasan demokratis yang kuat atas komitmen militer berskala besar ini sangat mengkhawatirkan. Dalam tradisi Islam, musyawarah bukan kemewahan — ia adalah kewajiban. Bahkan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang memperoleh wahyu dari langit tetap meminta pendapat para sahabatnya dalam urusan-urusan penting.
Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata:
وَاجِبٌ عَلَى وُلَاةِ الْأُمُورِ أَنْ يَسْتَشِيرُوا أَهْلَ الْعِلْمِ وَالرَّأْيِ فِي الْأُمُورِ الْعَامَّةِ، فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ بِالشُّورَى وَجَعَلَهَا مِنْ صِفَاتِ الْمُؤْمِنِينَ
“Wajib atas para pemimpin (penguasa) untuk bermusyawarah dengan para ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki pandangan (bijak) dalam urusan-urusan umum. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan musyawarah dan menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang beriman.”
Tanpa transparansi yang sesungguhnya, kebijakan luar negeri berisiko menjadi permainan elit yang terputus dari denyut nadi rakyat. Dan jika terjadi demikian, para pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban — tidak hanya di hadapan rakyat, tetapi di hadapan Allah Yang Mahamengetahui.
Risiko Militer dan Ekonomi yang Tak Boleh Diabaikan
Saudara-saudaraku sekalian, Allah Ta’âlâ berfirman tentang pentingnya perhitungan yang matang:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انفِرُوا جَمِيعًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan perang) dalam kelompok-kelompok atau majulah bersama-sama.” (QS. An-Nisa: 71)
Ayat ini mengajarkan bahwa kesiapan dan kewaspadaan adalah prasyarat mutlak sebelum terjun ke medan yang penuh bahaya. Mengirimkan 8.000 prajurit terbaik ke Gaza — salah satu zona konflik paling berbahaya di dunia — berarti mengalihkan kekuatan militer inti yang semestinya siaga menjaga kedaulatan Indonesia sendiri, termasuk di Laut Natuna Utara yang kini kian rawan tekanan.
Para analis juga mengingatkan besarnya beban logistik dan finansial. Mempertahankan ribuan pasukan di wilayah yang hancur dan sangat termiliterisasi memerlukan infrastruktur yang luar biasa besar. Di saat ekonomi dalam negeri membutuhkan stimulus dan anggaran pertahanan memerlukan modernisasi, alokasi sumber daya besar untuk misi luar negeri dengan manfaat strategis yang belum jelas harus mendapat pengkajian yang sangat serius.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk apa yang ada setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sejati adalah kemampuan menghitung konsekuensi jangka panjang, bukan tergiur oleh gemerlap kehadiran di panggung kekuatan global.
Penutup Khutbah Pertama
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, Indonesia telah mewarisi tradisi diplomatik yang agung: menjadi jembatan bagi perdamaian, bukan alat bagi kepentingan asing. Kemuliaan itu bukan untuk dijual demi kedekatan sesaat dengan tokoh yang berkuasa. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullāh dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami mengatakan:
لَا يَجُوزُ لِلدَّوْلَةِ الْمُسْلِمَةِ أَنْ تَتَنَازَلَ عَنْ سِيَادَتِهَا وَكَرَامَتِهَا فِي سَبِيلِ مَصَالِحَ مَادِّيَّةٍ أَوْ سِيَاسِيَّةٍ عَابِرَةٍ
“Tidak boleh bagi negara Muslim untuk melepaskan kedaulatannya dan kehormatannya demi kepentingan-kepentingan material atau politik yang bersifat sementara.”
Semoga Allah memberi petunjuk kepada para pemimpin kita, melindungi saudara-saudara kita di Palestina, dan menjaga martabat bangsa Indonesia. Āmîn yā Rabbal ‘ālamîn.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الصَّادِقِ الْأَمِينِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ هِيَ الْعُدَّةُ الْكُبْرَى فِي مَوَاجَهَةِ الْفِتَنِ وَالشَّدَائِدِ
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ الْكِرَامُ
إِنَّ كَرَامَةَ الْأُمَّةِ وَسِيَادَتَهَا أَمَانَةٌ عَظِيمَةٌ لَا يَجُوزُ التَّفْرِيطُ فِيهَا. فَالسِّيَاسَةُ الْخَارِجِيَّةُ الرَّشِيدَةُ هِيَ تِلْكَ الَّتِي تَنْبَعُ مِنْ صَمِيمِ الْمَصْلَحَةِ الْوَطَنِيَّةِ، لَا مِنَ التَّبَعِيَّةِ لِأَهْوَاءِ الْقُوَى الْأَجْنَبِيَّةِ. وَلَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَأَرِهِمُ الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْهُمُ اتِّبَاعَهُ، وَأَرِهِمُ الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْهُمُ اجْتِنَابَهُ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ فُكَّ أَسْرَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالضَّيْمَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا بَلَدَنَا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ وَبَلَاءٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُسْتَقِلًّا كَرِيمًا، يَقُومُ بِالْعَدْلِ وَيَنْصُرُ الْمَظْلُومِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
آمِيـن يَا رَبَّ الْعَالَمِيـن
Download file pdf: Khutbah Jumat: Memuliakan Harga Diri Bangsa – Antara Kepentingan Nasional dan Godaan Kuasa Asing
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

