Dalam khazanah karya ulama Nusantara, nama KH. Ahmad Rifa’i dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menegur penyimpangan moral dan spiritual. Melalui kitab Tafriqoh, beliau tidak hanya membahas persoalan hukum, tetapi juga mengupas penyakit hati yang kerap menjangkiti orang berilmu.
Pada halaman 271, beliau menuliskan syair yang begitu tajam:
“Gholib alim kepingin den alem
Yen den alem guyu mesem-mesem
Iku marang dunyo luweh banget kesem
Dirubung dene menungso luweh banget ayem.”
“Lamon den engetaken mongko nuli nesu
Iku alim lakune koyo asu
Cekak nadzore atine bisu
Lubo dunyo ibadahe kesusu.”
“Ora gelem alim yen kekumpulan menungso
Caturane kalah meneng ora wedi sikso
Sebab isin yen kungkulan karo menungso
Ilmune lan amale ora diroso.”
Alim yang Haus Pujian
Syair ini menggambarkan sosok alim yang gemar dipuji. Ketika dihormati dan dielu-elukan, ia tersenyum lebar. Hatinya merasa tenteram ketika dikerumuni manusia. Namun, ketenteraman itu bukan karena mencari ridha Allah, melainkan karena nikmatnya sanjungan dunia.
Tak Tahan Dikritik
Lebih tajam lagi, KH. Ahmad Rifa’i menggambarkan bagaimana sosok alim semacam ini akan marah ketika diingatkan. Ia tidak mampu menerima nasihat. Bahkan, perumpamaan yang digunakan sangat keras: lakunya seperti anjing.
Artinya, ia mengikuti hawa nafsunya, pendek pandangannya (cekak nadzore), dan hatinya menjadi bisu terhadap kebenaran. Ibadahnya tergesa-gesa, bukan karena khusyuk, melainkan karena sibuk mengejar citra.
Ilmu Tanpa Rasa
Syair bagian akhir menjelaskan sebab utama penyakit tersebut: ilmu dan amalnya tidak benar-benar dirasakan. Ia malu jika harus berkumpul dan berdiskusi dengan sesama, karena khawatir kekurangannya terbuka. Diamnya bukan karena takut siksa Allah, tetapi karena takut harga dirinya jatuh di hadapan manusia.
Inilah ironi yang sering terjadi: ilmu tinggi, tetapi hati belum terisi.
Refleksi untuk Kita
Teguran ini bukan hanya untuk para ulama atau tokoh agama, tetapi untuk siapa saja yang merasa memiliki kelebihan ilmu. Apakah kita senang ketika dipuji? Apakah kita tersinggung ketika dikritik? Apakah ibadah kita benar-benar karena Allah, atau karena ingin dipandang baik?
Pesan dalam Tafriqoh ini menjadi cermin agar ilmu melahirkan tawadhu’, bukan kesombongan. Sebab, hakikat alim bukanlah yang banyak dipuji manusia, melainkan yang hatinya tunduk kepada Allah dan lapang menerima nasihat.
Semoga kita dijauhkan dari ilmu yang tidak membuahkan rasa, dan amal yang hanya mengejar tepuk tangan dunia.
Baca Juga: Merasa Paling Alim dan Benar
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

