Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Makna Tujuh Langit dalam Isra’ Mi’raj

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
December 22, 2025
in Kolom
0
Makna Tujuh Langit dalam Isra’ Mi’raj
0
SHARES
36
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang mengandung hikmah mendalam. Perjalanan vertikal melalui tujuh langit ini bukan sekadar kisah supernatural, melainkan peta spiritual bagi setiap muslim dalam menempuh jalan menuju Allah SWT.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab Arja tentang perjalanan Isra’ Mi’raj, di dalamnya banyak peristiwa yang bisa kita petik sebagai ibrah. Perjalanan ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, sejalan dengan tradisi ulama Nusantara dalam mengambil ibrah dari peristiwa agung ini.

Peristiwa Isra’ dinyatakan dalam QS. Al-Isra’ [17]: 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak berjalan sendiri, tetapi diperjalankan (kang ngelakoaken nyata Allah Pangeran, ing kawulane Nabi Muhammad utusan).

Secara logika, peristiwa itu pasti terjadi. Ibarat semut yang ikut di dalam mobil seseorang. Jangan dilihat kecepatan semutnya dalam berjalan, tetapi lihatlah sopir dan laju mobilnya.

Peristiwa Mi’raj diabadikan dalam QS. An-Najm [53]: 13-18:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ○ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ ○ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ ○ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ ○ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ○ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu sekali lagi, di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dan tidak (pula) melampaui batas. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Dalam kitab Arja disebutkan:

“Maka anggawa Jabarail/Jibril ing Nabi lumakune, kelawan suwiwine menduwur nyatane, hingga dateng ing langit dunya anane…”

Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ… فَأَتَيْتُ السَّمَاءَ الدُّنْيَا، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ…

“Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Aku didatangkan Buraq… kemudian aku datang ke langit dunia (pertama), lalu Jibril meminta izin dibukakan. Ditanyakan: Siapa engkau? Dia menjawab: Jibril. Ditanyakan: Siapa yang bersamamu? Dia menjawab: Muhammad…’“

(HR. Bukhari, Muslim)

Langit Pertama: Nabi Adam AS

Di Langit Pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Diceritakan dalam kitab Arja bahwa di sisi kanan Adam ada pintu, juga di sebelah kirinya. Apabila menengok ke kanan, Nabi Adam tersenyum bahagia, dan apabila menengok ke pintu kiri, Nabi Adam menangis sedih, karena ternyata pintu kanan surga, pintu kiri neraka. Beliau menyaksikan masing-masing nasib anak cucunya, sebagaimana narasi Hadits Nabi:

فَرَأَيْتُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَإِذَا هُوَ يَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَيَضْحَكُ، وَيَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَيَبْكِي

“Maka aku melihat Adam as., tiba-tiba dia melihat ke kanannya lalu tertawa, dan melihat ke kirinya lalu menangis.” (HR. Bukhari)

Dari hal tersebut, kita memetik pelajaran tentang pentingnya takwa, ngelakoni perintah, ninggal cegah supaya kita selamat dunia akhirat. Juga sebagai wujud kasih sayang Bani Adam kepada Simbah Adam. Mungkinkah kita mencintai beliau, sementara perilaku kita berpotensi menyedihkan beliau?

Juga pelajaran kepemimpinan bagi setiap mukalaf; setiap perbuatan sadarnya pasti akan dipertanggungjawabkan sampai di surga atau neraka.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)

Langit Kedua: Nabi Isa & Yahya AS

Maka munggah meleh Nabi utusan, sarta Jabarail maksih rerewangan.
Teka langit pindo wesi kededehan…
Maka takon Kanjeng Nabi utusan ing Jabarail sinten tiyange winestanan
Kalihe punika Jabarail aturan, puniku Nabi Isa saudara Tuan, kang putra Maryam lan Nabi Yahya Namane kang putra Nabi Zakariya tinamune

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ… فَإِذَا يَحْيَى وَعِيسَى، وَهُمَا ابْنَا الْخَالَةِ

“Kemudian dia (Jibril) menaikkanku ke langit kedua… maka di sana ada Yahya dan Isa, keduanya adalah anak dari dua saudara perempuan.” (HR. Bukhari)

Menurut Mufasir, berkumpulnya Isa dan Yahya di satu langit karena keduanya bersama dalam zuhud, kesabaran, dan kesucian diri.

Yang bisa kita pelajari dari Nabi Yahya AS:

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا ○ وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا

“…Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasih dari sisi Kami dan kesucian. Dan dia adalah orang yang bertakwa.” (QS. Maryam [19]: 12-13)

Pelajaran dari ayat tersebut: bahwa setiap anak mempunyai keistimewaan bawaan dari Allah berupa hikmah, kecerdasan, minat, bakat, potensi, maziyah dan fadhilah masing-masing. Sehingga pendidikan harus mengacu kepada karepe Allah kepada setiap ciptaan-Nya, bukan karepe menteri, guru, atau kurikulum.

Tidak mungkinkah kita melatih kuda untuk terbang, dan mendidik bekicot untuk lari sprint?

Pelajaran dari Nabi Isa AS adalah selalu berbakti kepada ibu kandungnya. Bahkan, beliau atas kehendak Allah sudah membela ibunya, menghalau fitnah ketika masih dalam kandungan.

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam [19]: 32)

Langit Ketiga: Nabi Yusuf AS

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ… فَإِذَا يُوسُفُ، قَالَ: هَذَا يُوسُفُ، قِيلَ: إِنَّهُ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Kemudian dia menaikkanku ke langit ketiga… maka di sana ada Yusuf. Dikatakan bahwa dia diberi setengah dari ketampanan (yang ada di dunia).”

(HR. Muslim)

Setampan apa pun seseorang, kalau tidak disertai iman dan akhlak, maka ketampanannya tidak bermanfaat apa pun bagi keselamatannya.

Seandainya Nabi Yusuf AS tidak teguh dalam keimanan kepada Allah, maka ia sebatas budak seks dari Zulaikha. Bukan seorang Nabi yang selalu diteladani sepanjang sejarah.

Sudah maklum diketahui bahwa Nabi Yusuf AS digoda oleh permaisuri Zulaikha, tetapi Nabi Yusuf teguh dalam iman, walaupun harus menjalani konsekuensinya di jeruji besi.

Sebagaimana pendapat Mufasir, Nabi Yusuf ditempatkan di langit ketiga karena dia diuji dengan kecantikan dan jabatan, tetapi dia bersabar dan menjaga kesucian.

Kesucian Yusuf

Allah SWT berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّـفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَ بْوَا بَ وَقَا لَتْ هَيْتَ لَـكَ ۗ قَا لَ مَعَا ذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْۤ اَحْسَنَ مَثْوَايَ ۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.’“

(QS. Yusuf [12]: 23)

Hadits tentang Pengendalian Syahwat

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… dan seorang laki-laki yang diajak (berbuat zina) oleh wanita berkedudukan dan cantik, lalu dia berkata: Aku takut kepada Allah.” (HR. Bukhari)

Langit Keempat: Nabi Idris AS

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ… فَإِذَا إِدْرِيسُ

“Kemudian dia menaikkanku ke langit keempat… maka di sana ada Idris.”

(HR. Bukhari)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا ○ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris dalam Kitab ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan (shiddiq) dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

(QS. Maryam [19]: 56-57)

Menurut Mufasir, Nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi karena ilmu dan amalnya, dan dia adalah orang pertama yang menulis dengan pena.

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Langit Kelima: Nabi Harun AS

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ… فَإِذَا هَارُونُ

“Kemudian dia menaikkanku ke langit kelima… maka di sana ada Harun.”

(HR. Bukhari)

Kepemimpinan Harun

وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي ○ هَارُونَ أَخِي ○ اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ○ وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku. Teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.”

(QS. Thaha [20]: 29-32)

Menurut Mufasir, Harun dicintai kaumnya karena kesabarannya dan kelembutan sikapnya, berbeda dengan Musa yang keras dalam kebenaran. Sehingga Harun AS merupakan kelengkapan dan penyeimbang bagi Musa AS.

Langit Keenam: Nabi Musa AS

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ… فَإِذَا مُوسَى، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ… فَلَمَّا جَاوَزْتُهُ بَكَى، فَقِيلَ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: أَبْكِي لِأَنَّ غُلَامًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي

“Kemudian dia menaikkanku ke langit keenam… maka di sana ada Musa. Aku memberi salam kepadanya, dia berkata: Selamat datang, saudara yang saleh dan nabi yang saleh… Ketika aku melewatinya, dia menangis. Ditanyakan: Mengapa engkau menangis? Dia menjawab: Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku, yang masuk surga dari umatnya lebih banyak daripada yang masuk dari umatku.” (HR. Bukhari)

Tangisan Musa bukan kedengkian, tetapi kekaguman dan harapan mendapat keutamaan serupa.

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Maka pisahkanlah kami dengan orang-orang yang fasik.’“

(QS. Al-Ma’idah [5]: 25)

Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim AS

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ… فَإِذَا إِبْرَاهِيمُ مُسْتَنِدًا بِظَهْرِهِ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

“Kemudian dia menaikkanku ke langit ketujuh… maka di sana Ibrahim bersandar pada Baitul Ma’mur.” (HR. Bukhari)

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan, dan aku bukanlah dari golongan orang musyrik.” (QS. Al-An’am [6]: 79)

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin:

إبراهيم خليل الرحمن، جُعل في السماء السابعة لأنه أعلى الأنبياء درجة في التوحيد والتسليم المطلق

“Ibrahim adalah Kekasih ar-Rahman, ditempatkan di langit ketujuh karena dia nabi yang tertinggi dalam tauhid dan penyerahan total.”

Sidratul Muntaha: Pohon Kehidupan

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهُ كَالْقِلَالِ… ثُمَّ رُفِعْتُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

“Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha, maka daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya seperti guci besar… kemudian aku diangkat ke Baitul Ma’mur.” (HR. Muslim)

Sidratul Muntaha sebagai pohon besar dari sumber mata air sungai-sungai di surga. Sebenarnya, hukum tersebut juga berlaku di bumi. Bahwa pohon merupakan sumber air dan oksigen sebagai unsur kehidupan.

Tetapi manusia merusaknya, artinya ia sadar atau tidak sadar tengah bunuh diri pada kehidupan diri dan kehidupan kolektifnya. Itulah sejatinya kebodohan dan kejahatan.


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: Hikmah Isra’ Mi’rajIsra' Mi'rajKH. Ahmad RifaiKitab ArjaNabi Muhammad SAWTujuh Langit
Previous Post

Dari Penggembira ke Juara Umum, Madin Rifaiyah Senet Ukir Prestasi Gemilang

Next Post

Dunia: Bekal, Pencitraan, atau Sekadar Kesenangan?

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
makna dunia

Dunia: Bekal, Pencitraan, atau Sekadar Kesenangan?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id