Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Mengenal Sesama Muslim: Kajian Objektif Sejarah Syiah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
March 10, 2026
in Kolom
0
Mengenal Sesama Muslim: Kajian Objektif Sejarah Syiah

Para peziarah memadati makam Imam Husain di Karbala. (karbala-intel.net)

0
SHARES
38
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pengantar: Prasangka sebagai Akar Perpecahan

Perpecahan umat Islam seringkali berakar dari kesalahpahaman antar firqah, golongan, aliran, dan mazhab. Kesalahpahaman itu sendiri bermula dari minimnya saling mengenal dan silaturahim. Ketika perkenalan absen, yang tumbuh justru prasangka. Maka tidaklah mengherankan bila Al-Qur’an sejak jauh hari telah membunyikan alarm peringatan: inna ba’dha zanni itsmun — sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa.

Sebagai bagian dari jamaah Rifa’iyah, kita pernah merasakan pahitnya disalahpahami oleh sesama muslim dari golongan lain. Tuduhan sesat dan berbagai label negatif pernah disematkan kepada kita. Namun pengalaman itu justru harus menjadi pelajaran berharga: bahwa diperlakukan buruk bukan alasan untuk memendam dendam. Sebaliknya, ia adalah cermin yang mengingatkan kita untuk tidak memperlakukan sesama muslim dengan keburukan dan prasangka yang sama.

Islam sejatinya mendorong umatnya untuk saling mengenal lintas golongan dan mazhab, karena dari situlah kasih sayang dan silaturahim dapat tumbuh. Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah grand design penciptaan: keberagaman hadir bukan untuk memisahkan, melainkan untuk mempertemukan. Semangat itulah yang mendorong tulisan ini — sebuah kajian objektif yang bertujuan agar umat Islam saling mengenal, tidak mudah berprasangka, dan terhindar dari kesalahpahaman yang tidak perlu.

I. Akar Sejarah: Dari Mana Syiah Bermula?

Sejarah Syiah sering kali dipahami melalui dikotomi yang tajam antara narasi keagamaan dan realitas politik awal Islam. Secara terminologis, Syiah berawal dari kata Shi’atu Ali yang berarti pengikut atau faksi Ali ibn Abi Thalib. Namun transformasi faksi politik ini menjadi sebuah mazhab teologi dan hukum yang mapan memerlukan kajian mendalam terhadap sumber-sumber primer. Kajian sejarah yang objektif mengharuskan penelusuran terhadap peristiwa-peristiwa kunci seperti Ghadir Khumm, Saqifah Bani Sa’idah, tragedi Karbala, hingga periode kodifikasi hadis yang menghasilkan Kutub al-Arba’ah.

A. Pertanyaan Fundamental: Siapa yang Paling Berhak Memimpin?

Perpecahan utama dalam sejarah Islam bermula dari pertanyaan yang sangat mendasar: siapa yang paling berhak memimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M? Dalam perspektif Syiah, kepemimpinan bukan sekadar urusan administratif yang bisa diselesaikan melalui musyawarah manusia, melainkan perpanjangan dari otoritas kenabian yang ditetapkan melalui nash atau penunjukan ilahi. Prinsip ini dikenal sebagai Imamah, yang menjadi rukun fundamental dalam teologi Syiah Itsna ’Asyariyah.

1. Ghadir Khumm: Tradisi yang Diperebutkan

Tradisi Ghadir Khumm menempati posisi sentral dalam klaim legitimasi Syiah. Peristiwa ini terjadi pada 18 Dzulhijjah tahun 10 H, saat Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’. Di sebuah lembah bernama Khumm, Nabi memerintahkan rombongan untuk berhenti dan menyampaikan khutbah yang puncaknya adalah pernyataan: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya (maula), maka Ali adalah pemimpinnya.” Syiah menafsirkan kata maula sebagai pemimpin dengan otoritas politik dan spiritual yang absolut, didukung oleh turunnya ayat Al-Ma’idah 67 yang memerintahkan penyampaian pesan tersebut dan ayat 3 yang menyatakan kesempurnaan agama setelah peristiwa itu.

Meskipun peristiwa ini diakui keberadaannya oleh banyak sejarawan dari berbagai kalangan, interpretasi terhadap kata maula tetap menjadi titik perbedaan. Maria Dakake mencatat bahwa konsep walayah (kepemimpinan/loyalitas) dalam konteks ini awalnya berfungsi sebagai pengikat solidaritas komunal bagi mereka yang setia kepada Ali, dan seiring waktu berkembang menjadi doktrin teologis tentang karisma Imam yang maksum.

2. Saqifah Bani Sa’idah: Pragmatisme Politik

Berseberangan dengan narasi Ghadir Khumm adalah peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah, yang terjadi segera setelah wafatnya Nabi saat Ali ibn Abi Thalib sedang sibuk mempersiapkan pemakaman. Pertemuan itu melibatkan kaum Ansar yang ingin menentukan pemimpin dari kalangan mereka sendiri guna mencegah kekosongan kekuasaan, namun kemudian dihadiri oleh Abu Bakar dan Umar ibn Khattab dari kaum Muhajirin. Argumen utama Muhajirin adalah keutamaan suku Quraisy dan kedekatan dengan Nabi, yang akhirnya berujung pada pembaiatan Abu Bakar.

Analisis sejarah menunjukkan bahwa Saqifah adalah hasil dari pragmatisme politik untuk menjaga stabilitas umat yang baru terbentuk. Bagi pendukung Ali, pengecualian keluarga Nabi (Ahlul Bait) dari proses ini dipandang sebagai pengabaian terhadap wasiat di Ghadir Khumm. Ketegangan antara prinsip musyawarah (shura) dan penunjukan langsung (nass) inilah yang menjadi cikal bakal polarisasi Sunni dan Syiah.

II. Kerangka Teologi: Apa yang Diyakini Syiah?

Untuk memahami Syiah secara adil, penting untuk mengenal kerangka teologinya. Syiah mengembangkan kerangka berpikir yang menempatkan keadilan Tuhan dan akal manusia sebagai pilar penting. Terdapat lima prinsip dasar (Ushuluddin) yang membedakannya dari doktrin Sunni secara formal.

Prinsip Penjelasan Implikasi Teologis
Tauhid Keesaan Allah yang mutlak Menolak penguasaan manusia atas satu sama lain.
Nubuwwah Kenabian sebagai panduan moral Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
Imamah Kepemimpinan ilahi Otoritas melalui penunjukan (nash), bukan sekedar musyawarah.
Al-’Adl Keadilan Tuhan Tuhan tidak bertindak zalim; manusia memiliki kebebasan berkehendak.
Ma’ad Hari Kebangkitan Pertanggungjawaban di akhirat.

Perbedaan ini juga merambah ke ranah sumber hukum. Syiah menambahkan ’Aql (akal) sebagai sumber hukum primer bersama Al-Qur’an dan Sunnah. Penggunaan akal dalam Syiah bersifat sistematis untuk memahami aturan Tuhan dalam konteks logika, berbeda dengan penggunaan Qiyas (analogi) yang lebih dominan dalam beberapa mazhab Sunni. Hal ini tercermin dalam praktik ijtihad yang terus terbuka di kalangan ulama Syiah, di mana seorang mujtahid dipandang sebagai wakil Imam yang gaib untuk memberikan bimbingan hukum.

III. Masa Khalifah Ali dan Kristalisasi Identitas Syiah

Ali ibn Abi Thalib akhirnya menjabat sebagai khalifah keempat setelah terbunuhnya Utsman ibn Affan pada 656 M. Namun masa kepemimpinannya ditandai oleh konflik bersenjata internal yang hebat, yang secara historis dikenal sebagai Fitnah Kubra. Periode ini sangat krusial karena saat itulah istilah “Syiah” mulai digunakan secara signifikan untuk merujuk pada faksi pendukung Ali dalam pertempuran melawan Aisyah, Thalhah, dan Zubair (Perang Jamal), serta melawan Muawiyah (Perang Siffin).

A. Perang Siffin dan Dampak Tahkim

Perang Siffin (37 H) merupakan momen di mana identitas Syiah diuji melalui isu arbitrase atau tahkim. Ketika pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak sebagai ajakan damai, pasukan Ali terpecah. Kelompok yang menolak perdamaian kemudian memisahkan diri menjadi Khawarij, sementara mereka yang tetap setia kepada Ali membentuk basis pendukung yang lebih ideologis di Irak, khususnya di Kufa. Pembunuhan Ali oleh seorang anggota Khawarij pada tahun 661 M menandai berakhirnya Kekhalifahan Khulafa Rashidun dan dimulainya Dinasti Umayyah.

B. Perjanjian Damai Hasan ibn Ali

Setelah Ali gugur dalam keadaan syahid, putranya Hasan ibn Ali dibaiat sebagai khalifah di Kufah. Namun, menyadari kelemahan pasukannya akibat pengkhianatan dan tekanan dari pihak Muawiyah, Hasan memilih melakukan perjanjian damai guna mencegah pertumpahan darah lebih lanjut di kalangan Muslim. Sejarawan seperti al-Tabari dan al-Ya’qubi mencatat perjanjian ini dengan variasi rincian yang mencerminkan kompleksitas politik masa itu.

Syarat-syarat perjanjian Hasan-Muawiyah yang sering dikutip dalam sumber-sumber primer meliputi:

  1. Muawiyah harus memerintah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan tradisi khalifah yang saleh.
  2. Muawiyah tidak memiliki hak menunjuk penerus; kepemimpinan harus dikembalikan kepada musyawarah umat setelahnya.
  3. Keamanan nyawa dan harta benda seluruh umat Islam, terutama pengikut Ali, harus dijamin.
  4. Penghentian praktik pencacian terhadap Ali ibn Abi Thalib di mimbar-mimbar masjid.

Meskipun Hasan mengundurkan diri dari kekuasaan politik, tindakan ini dalam teologi Syiah dipandang sebagai langkah heroik untuk menyelamatkan eksistensi Islam. Namun sejarah mencatat bahwa Muawiyah melanggar banyak poin perjanjian ini, terutama dengan menunjuk putranya Yazid sebagai penerus, yang kemudian memicu tragedi besar di Karbala.

IV. Tragedi Karbala: Katalisator Identitas Syiah

Kematian Husain ibn Ali di Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H (680 M) adalah katalisator paling kuat dalam pembentukan identitas Syiah. Husain menolak memberikan legitimasi kepada pemerintahan Yazid ibn Muawiyah yang ia pandang sebagai penguasa lalim. Pengepungan Husain dan keluarganya oleh ribuan pasukan Umayyah berakhir dengan pembantaian yang menyisakan luka mendalam dalam ingatan kolektif umat Islam.

Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dhahab menekankan bahwa tragedi Karbala mengubah gerakan, dari sekadar oposisi politik menjadi kekuatan perlawanan yang terorganisir dengan simbolisme syahid yang kuat. Kematian Husain melahirkan konsep “ingatan penuh dosa” di kalangan penduduk Kufah yang merasa bersalah karena gagal membantunya, yang kemudian mewujud dalam gerakan Tawwabin (Para Penyesal) pimpinan Sulaiman bin Shard pada tahun 65 H.

Dampak jangka panjang Karbala terhadap perkembangan Syiah meliputi tiga hal penting:

  • Penyebaran ke Persia: Pasca-Karbala, paham Syiah mulai menyebar luas di kalangan bangsa Persia yang merasa senasib dalam penindasan oleh dominasi Arab Umayyah.
  • Ritual Keagamaan: Munculnya tradisi duka cita dan drama Ta’ziyah untuk memperingati pengorbanan Husain, yang berfungsi memperkuat ikatan emosional antar jamaah.
  • Legitimasi Perlawanan: Karbala menjadi template moral bagi setiap gerakan Syiah di masa depan untuk melawan tirani, apa pun risikonya.

V. Zaman Intelektual: Imam al-Baqir dan al-Sadiq

Pasca-Karbala, fokus Syiah bergeser dari revolusi politik bersenjata menuju penguatan fondasi intelektual dan hukum di bawah bimbingan Imam kelima Muhammad al-Baqir dan Imam keenam Ja’far al-Sadiq. Masa kepemimpinan Imam Ja’far al-Sadiq (w. 148 H) dianggap sebagai zaman keemasan bagi pemikiran Syiah karena ia memanfaatkan masa transisi kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah untuk mengajar secara terbuka di Madinah.

A. Kodifikasi Fiqh Ja’fari

Imam Ja’far al-Sadiq menyusun sistem hukum yang kemudian dikenal sebagai Mazhab Ja’fari. Karakteristik utama mazhab ini adalah penekanan pada ijtihad berbasis akal, penggunaan hadis yang ditransmisikan melalui jalur Ahlul Bait, serta pengakuan terhadap praktik-praktik tertentu seperti mut’ah (pernikahan kontrak) dan taqiyah (penyembunyian identitas dalam kondisi bahaya). Salah satu murid Imam al-Sadiq yang paling berpengaruh adalah Hisham ibn al-Hakam, seorang pakar teologi yang membela doktrin Imamah menggunakan logika argumentatif dan terlibat dalam banyak debat dengan kaum Mu’tazilah.

Para murid terkemuka Imam al-Sadiq dan kontribusi mereka:

Nama Murid Keahlian dan Kontribusi
Zurarah ibn A’yan Perawi hadis terkemuka dan pakar fiqh
Hisham ibn al-Hakam Teolog yang menyusun argumentasi rasional tentang kepemimpinan Imam
Jabir ibn Hayyan Ilmuwan dan murid Imam al-Sadiq yang dikenal luas
Abu Hanifah Pendiri mazhab Hanafi yang berguru kepada Imam al-Sadiq

Fakta bahwa Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi yang sangat dihormati di kalangan Sunni, pernah berguru kepada Imam al-Sadiq menunjukkan bahwa batas antara dua tradisi ini jauh lebih cair dari yang sering dibayangkan. Syiah bukan sekadar gerakan sekte, melainkan sebuah universitas besar yang memengaruhi perkembangan ilmu hukum dan teologi Islam secara universal.

VI. Sumber Primer Syiah: Bagaimana Hadis Dikodifikasi?

Objektivitas dalam memahami Syiah sangat bergantung pada pemahaman tentang bagaimana hadis dikumpulkan dan diverifikasi. Berbeda dengan klaim bahwa penulisan hadis dilarang pada awal Islam, Syiah percaya bahwa tradisi tulis telah ada sejak masa Nabi.

A. Ushul Arba’miah: Fondasi Awal

Pada masa Imam-imam awal, murid-murid mereka mencatat sabda dan fatwa para Imam dalam buku-buku kecil yang disebut Asl (jamak: Usul). Terdapat sekitar 400 catatan primer yang dikenal sebagai Ushul Arba’miah, mencakup berbagai topik mulai dari tauhid, hukum, hingga tafsir Al-Qur’an. Catatan-catatan inilah yang menjadi bahan baku utama bagi penyusunan kitab-kitab hadis besar di kemudian hari.

B. Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Utama

Pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah, para ulama besar Syiah melakukan seleksi dan kategorisasi terhadap ribuan hadis dari Usul tersebut menjadi empat kompilasi kanonik yang dikenal sebagai Kutub al-Arba’ah.

Nama Kitab Penulis Wafat Fokus Utama
Al-Kafi Muhammad ibn Ya’qub al-Kulayni 329 H Akidah, hukum, dan khutbah
Man La Yahduruhu al-Faqih Muhammad ibn Babawayh (Al-Saduq) 381 H Panduan hukum bagi masyarakat awam
Tahdhib al-Ahkam Muhammad ibn al-Hasan al-Tusi 460 H Komentar atas hadis-hadis hukum
Al-Istibsar Muhammad ibn al-Hasan al-Tusi 460 H Penyelesaian hadis yang tampak kontradiktif

Al-Kulayni menyusun Al-Kafi selama lebih dari 20 tahun di Bagdad, bertepatan dengan periode Ghaybah Sughra (Kegaiban Kecil) Imam kedua belas. Hal ini memberikan keunikan tersendiri karena ia merupakan kontemporer dari empat wakil khusus Imam, sehingga koleksinya dianggap memiliki kedekatan waktu yang signifikan dengan sumber otoritasnya.

C. Nahj al-Balaghah: Puncak Retorika Ali

Sumber primer lain yang sangat dihormati adalah Nahj al-Balaghah (Puncak Kefasihan), sebuah koleksi khutbah, surat, dan kata-kata hikmah yang diatribusikan kepada Ali ibn Abi Thalib, dikompilasi oleh al-Sharif al-Radi pada abad ke-11 M. Meskipun dikritik oleh beberapa sarjana karena tidak mencantumkan rantai perawi secara lengkap, penelitian modern oleh Abdul Zahra’ al-Hussaini telah berhasil menemukan sumber-sumber alternatif dari sejarawan Sunni dan Syiah terdahulu yang mengonfirmasi keaslian sebagian besar isinya. Isi kitab ini mencakup teori politik, keadilan sosial, dan filsafat ketuhanan yang sangat maju pada masanya.

VII. Cabang-Cabang Syiah: Memahami Keberagaman Internal

Perjalanan sejarah Syiah juga ditandai dengan perpecahan internal yang melahirkan berbagai sekte, masing-masing dengan karakteristik unik dan sumber primernya sendiri. Memahami keragaman ini penting agar kita tidak memukul rata semua kelompok Syiah sebagai satu entitas tunggal.

A. Syiah Zaidiyah: Mazhab yang Paling Dekat dengan Sunni

Zaidiyah memisahkan diri setelah kematian Imam keempat, Ali Zayn al-Abidin, dengan mengikuti Zayd ibn Ali yang melakukan pemberontakan melawan dinasti Umayyah di Kufah. Zaidiyah menolak konsep Imam yang maksum atau tersembunyi; mereka percaya bahwa siapa pun keturunan Fatimah yang saleh dan berani memimpin perlawanan berhak menjadi Imam. Pengaruh Zaidiyah secara historis sangat kuat di wilayah Tabaristan (Iran utara) dan Yaman, di mana mereka mendirikan imamah yang bertahan hingga abad ke-20.

B. Syiah Ismailiyah: Dimensi Esoteris

Ismailiyah muncul setelah wafatnya Imam al-Sadiq, dengan mengakui putranya Isma’il sebagai Imam ketujuh. Mereka kemudian terbagi menjadi faksi-faksi seperti Fatimiyah, Nizari (pengikut Aga Khan), dan Musta’li (Bohra). Ismailiyah sangat menekankan interpretasi batin (ta’wil) terhadap Al-Qur’an dan memiliki tradisi intelektual yang kaya dalam bidang filsafat Neoplatonik.

C. Syiah Itsna ’Asyariyah: Kelompok Terbesar

Ini adalah kelompok Syiah terbesar saat ini, yang percaya pada garis keturunan dua belas Imam yang maksum. Mereka menekankan kegaiban Imam terakhir yang akan kembali sebagai Mahdi untuk menegakkan keadilan. Konsolidasi sekte ini terjadi terutama pada masa Minor Occultation (260–329 H), di mana para teolog Syiah mulai merumuskan doktrin kegaiban untuk menjawab keraguan umat setelah wafatnya Imam kesebelas tanpa penerus yang terlihat secara publik.

VIII. Sejarawan Universal: Sumber Silang untuk Objektivitas

Untuk mendapatkan gambaran yang objektif, sejarawan sering merujuk pada karya-karya sejarawan Muslim klasik yang dikenal memiliki integritas ilmiah tinggi. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, justru dari sini kita bisa melakukan verifikasi silang yang jujur.

  • Al-Thabari (w. 923 M): Dalam monumentalnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, ia mencatat sejarah awal Islam dengan menyajikan berbagai versi narasi tanpa melakukan intervensi berlebihan. Al-Thabari menggunakan sumber-sumber awal seperti Abu Mikhnaf untuk menggambarkan peristiwa Karbala dan konflik Siffin.
  • Al-Mas’udi (w. 956 M): Dikenal sebagai “Herodotus dari Arab”, karyanya Muruj al-Dhahab memberikan analisis sosiologis terhadap gerakan Syiah. Mas’udi sendiri sering dianggap memiliki kecenderungan Syiah, namun karyanya dihargai secara universal karena kedalaman informasinya.
  • Ibn al-Nadim (w. 995 M): Penulis al-Fihrist, sebuah katalog buku abad ke-10 yang memberikan bukti empiris tentang banyaknya karya literatur Syiah yang telah ada pada masanya. Ia mencatat bibliografi lengkap ulama-ulama Syiah, membuktikan kontribusi besar mereka dalam kehidupan intelektual Bagdad.

IX. Syiah di Indonesia dan Perkembangan Modern

Sejarah Syiah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan identitas yang terus berevolusi. Di Indonesia, keberadaan Syiah tercatat melalui beberapa gelombang: mulai dari masuknya pengaruh awal bersamaan dengan kedatangan Islam (yang terlihat dalam tradisi Tabuik di Pariaman), hingga gelombang pasca-revolusi Islam Iran 1979 yang membawa semangat intelektualisme baru.

Studi akademis modern oleh Wilferd Madelung dalam The Succession to Muhammad telah membuka kembali diskusi tentang keabsahan klaim-klaim sejarah Syiah dengan cara yang lebih simpatik dan berbasis data tekstual. Madelung berpendapat bahwa narasi Syiah tentang hak keluarga Nabi memiliki dasar yang kuat dalam pola suksesi keluarga nabi-nabi terdahulu yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Sementara itu, Hossein Modarressi menyoroti betapa sulitnya masa kegaiban awal, di mana komunitas Syiah harus berjuang melawan serangan teologis dari Mu’tazilah dan Zaidiyah sambil melakukan konsolidasi internal yang luar biasa.

Di tingkat nasional, perkenalan antara pemimpin Syiah Indonesia dengan pemimpin Rifa’iyah dua puluh lima tahun lalu patut dicatat sebagai contoh nyata silaturahim lintas mazhab. Berawal dari undangan seminar Pusat Kajian Tasawuf Tazkiyah Sejati kepada KH. Ahmad Syadzirin Amin, terungkaplah bahwa pendirinya adalah KH. Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Dari pertemuan yang tampak biasa itulah jembatan persaudaraan lintas mazhab mulai terbangun secara konkret.

X. Deklarasi Makkah: Tonggak Sejarah Sunni-Syiah

Semangat saling mengenal dan bersatu bergema di tingkat dunia melalui sebuah peristiwa bersejarah. Pada Sabtu, 21 Oktober 2006, di Makkah Al-Mukarramah, tokoh-tokoh Sunni dan Syiah dari Irak serta delapan negara Islam lainnya satu per satu membubuhkan tanda tangan mereka pada dokumen monumental: Deklarasi Makkah. Di belakang mereka terpampang gambar Ka’bah yang dikelilingi ratusan ribu jamaah yang sedang bertawaf. Momen agung itu disiarkan langsung oleh Al-Jazirah ke seluruh penjuru dunia.

Inilah muktamar besar pertama Sunni dan Syiah sejak tahun 1947 — sebuah rekonsiliasi yang telah lama dinantikan. Deklarasi itu menegaskan prinsip-prinsip mendasar berikut:

Pertama: Seorang Muslim adalah siapa saja yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Prinsip ini berlaku sama bagi Sunni dan Syiah tanpa pengecualian.

Kedua: Persamaan antara kedua mazhab jauh lebih banyak dibanding perbedaannya. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan pendapat dan interpretasi, bukan perbedaan esensial dalam akidah maupun rukun Islam.

Ketiga: Dari segi syariah, tidak dibenarkan satu mazhab mengucilkan, membid’ahkan, atau dengan cara apa pun melemparkan kecaman terhadap keimanan pengikut mazhab yang lain.

Deklarasi Makkah mengajarkan kepada kita bahwa persatuan bukan berarti penyeragaman. Ia adalah kemampuan untuk berdiri bersama di atas fondasi yang sama, sambil tetap menghormati kekhasan masing-masing. Dan itu semua dimulai dari satu langkah sederhana yang sering kita remehkan: saling mengenal.

Kesimpulan: Islam Satu, Cara Pandang Beragam

Analisis objektif terhadap sejarah Syiah dari sumber-sumber primer menunjukkan bahwa Syiah bukanlah fenomena sempalan yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian integral dari dialektika politik dan spiritual umat Islam sejak hari pertama wafatnya Nabi. Identitas ini terbentuk melalui serangkaian pengabdian kepada prinsip keadilan, kesetiaan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait), dan penggunaan akal dalam memahami syariat.

Tragedi sejarah seperti Karbala tidak hanya menjadi momen duka, tetapi bertransformasi menjadi energi spiritual yang mendorong kemajuan hukum dan teologi. Melalui Kutub al-Arba’ah dan tradisi intelektual yang dipelopori oleh para Imam, Syiah berhasil melestarikan warisan pemikiran yang tetap relevan hingga hari ini.

Objektivitas sejarah ini mengajarkan kita bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam masalah kepemimpinan dan metodologi hadis, kedua arus utama Islam — Sunni dan Syiah — berbagi akar yang sama dalam Al-Qur’an dan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW, namun dengan cara pandang yang berbeda dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam struktur masyarakat. Inilah yang harus menjadi fondasi saling mengenal: bukan mencari persamaan dengan menghapus perbedaan, melainkan memahami perbedaan dengan kasih sayang.

Daftar Referensi

  1. ResearchGate — Sunni-Shia Division in Islam: Its Origin, Development, Political & Socio-Economic Implications & Contemporary Relations.
  2. Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu — Keragaman Dalam Islam: Pokok Ajaran Syiah, Perbedaan Dengan Sunni, Dan Jalur.
  3. Modarressi — Crisis and Consolidation in The Formative Period of Shiite Islam (Scribd).
  4. Jurnal Raden Fatah — Historiografi Hadis dalam Aliran Islam: Mengulas Sejarah Penulisan dan Penghimpunan Hadis Sunni Syiah.
  5. TwelverShia.net — Shiʾi Scholars and the Authenticity of their Texts.
  6. Wikipedia — The Four Books (Kutub al-Arba’ah).
  7. CREST Research — Sunni and Shi’a Islam: Differences and Relationships.
  8. The Zahra Trust USA — The Hadith of Ghadir: The Completion of Religion.
  9. YouTube — Sunni vs Shia Split | Saqifa Incident and Ghadeer Khum Explained.
  10. Academia.edu — Sunni-Shia Relations: An Historical Perspective.
  11. Princeton NES — The Charismatic Community: Shi’ite Identity in Early Islam (Dakake).
  12. Garmian University — The emergence of political trends in Saqifah Bani Sa’ida.
  13. Open Library — The Succession to Muhammad (Wilferd Madelung).
  14. STKIP Bima — Suni Dan Syiah (Titik Perbedaan Dan Perseteruan).
  15. Scribd — Ja’fari School (Islamic Jurisprudence).
  16. Al-Islam.org — The Formation of the Ja’fari Shi’a Islamic School of Law.
  17. Kalamullah.com — The History of al-Tabari (Volume 16).
  18. TMJ News Network — Hasan ibn Ali, Muawiya, and the Peace Treaty that Preserved Islam.
  19. Jurnal Harmoni Kemenag — Syiah: Sejarah Timbul dan Perkembangannya di Indonesia.
  20. Jurnal IAIN Pontianak — Sejarah Kemunculan dan Perkembangan Syi’ah.
  21. Al-Islam.org — The Terms of the Peace Treaty | Imam Hasan and Caliphate.
  22. TPMAP — The Alawite Revolts Against the Umayyads in al-… (Al-Mas’udi, Muruj al-Dhahab).
  23. St Andrews Encyclopaedia of Theology — Isma’ili Shi’ism.
  24. Wikipedia — Hisham ibn al-Hakam.
  25. Muslim Heritage — Manuscript Review: The Catalogue (Al Fihrist), by Al-Nadim.
  26. Iqra Online — Authentication of the Four Canonical Books.
  27. Nahjul-Balagha.net — Reliability of Nahjul Balaghah.
  28. Scribd — A Critical Study of Nahj Al-Balaghah.
  29. Scribd — Zaidiyyah (Shia Islam, Monotheistic Religions).
  30. Wikipedia — Ismailism.
  31. Wikipedia — al-Fihrist (Ibn al-Nadim).

Baca Juga: Putus Lobane, Merdeka Sejati


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: sejarah islamsejarah syiahsyiahsyiah dan sunnitragedi karbala
Previous Post

Safari Ramadan PP AMRI di Tanabaya–Mangli Pemalang, Perkuat Silaturahim dan Inisiasi Kaderisasi

Next Post

Nyawa atau Harta? Analisis Maqasid Syari’ah atas Kasus Pencurian karena Lapar

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Nyawa atau Harta? Analisis Maqasid Syari’ah atas Kasus Pencurian karena Lapar

Nyawa atau Harta? Analisis Maqasid Syari’ah atas Kasus Pencurian karena Lapar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id