Dalam menjalani kehidupan, manusia kerap merasa terhimpit oleh kerumitan. Banyak perkara tampak berat sebelum disentuh, terasa menakutkan sebelum dimulai. Padahal, para ulama sejak lama telah menurunkan rumus-rumus sederhana agar hidup tidak selalu terasa sesak. Salah satunya dapat kita temukan dalam Kitab Thoriqoh karya K.H. Ahmad Rifa’i.
Beliau menuliskan sebuah prinsip hidup yang sangat membumi:
“Sawuse dilakoni anane kang gampang
Ingkang angel iku dadi temuli lapang.”
Setelah dilakukan perkara yang mudah, sesulit apa pun urusan itu, perlahan akan terasa lapang. Kalimat ini seakan menegur kecenderungan manusia yang sering ingin melompat pada hal besar, namun enggan memulai dari langkah kecil.
Memulai dari yang Mudah
K.H. Ahmad Rifa’i mengajarkan bahwa kemudahan tidak selalu hadir sebelum usaha, melainkan justru lahir setelah langkah pertama diayunkan. Sesuatu yang tampak sulit bukan karena hakikatnya berat, tetapi karena belum disentuh oleh ikhtiar.
Prinsip ini ditegaskan kembali dalam bait berikut:
“Gholib penggawe angel iku dadi ringan
Sawuse dilakoni kang gampang ginawaruhan.”
Biasanya, perkara sulit akan menjadi ringan jika kita mendahulukan hal-hal yang mudah. Dalam konteks kehidupan modern, nasihat ini terasa sangat relevan. Banyak orang berhenti bukan karena tak mampu, melainkan karena terlalu lama memikirkan beratnya jalan, bukan memulai perjalanannya.
Optimisme dan Keberanian Melangkah
Lebih jauh, K.H. Ahmad Rifa’i mengaitkan kemudahan dengan keberanian untuk terus maju:
“Soyo maju lakune iku soyo padang
Sabab kebabat upamane alas kawilang.”
Semakin maju langkah seseorang, semakin jelas arah yang dituju. Seperti membabat alas, awalnya penuh semak dan gelap, tetapi sedikit demi sedikit terbuka jalan. Hidup tidak menunggu kita siap sepenuhnya; hidup menuntut kita berjalan agar kejelasan hadir.
Optimisme dalam ajaran ini bukanlah angan-angan kosong, melainkan keyakinan yang lahir dari gerak dan usaha.
Gerak sebagai Kunci Kemudahan
Dalam bait lain, K.H. Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa kemudahan adalah buah dari pergerakan:
“Iku wus dadi adat tinemu kedhohiran
Gampange penggawe sakwuse ono linakonan.”
Sudah menjadi sunnatullah, sesuatu akan terasa mudah setelah dijalani. Diam hanya akan mempertebal rasa sulit, sementara bergerak—meski pelan—akan membuka jalan.
Hal ini berlaku untuk semua aspek kehidupan, sebagaimana ditegaskan dalam bait panjang beliau:
“Penggawe dunyo tuwin ibadah kawilang
Iku gampange sakwuse tinemu digulang-gulang.”
Baik urusan dunia maupun ibadah, keduanya akan terasa ringan jika dilakukan secara terus-menerus. Konsistensi lebih menentukan daripada ledakan semangat sesaat.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, nasihat sederhana ini terasa seperti oase: bahwa kunci menghadapi hidup bukan pada menghilangkan kesulitan, melainkan pada kesediaan untuk melangkah, meski dari yang paling mudah.
Baca Juga: Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menanam Nilai Kehidupan
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra


